Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 50


__ADS_3

Pagi ini Diana pamit kepada mertuanya, untuk segera kembali ke desa. Tetapi Alif tak kunjung di antar oleh Bagas. Jika harus menunggu lagi Diana akan merasa tidak enak dengan supir yang sudah menunggu, bahkan saat ini mereka sarapan juga sudah sempat bilang hanya beberapa menit. Lalu Alif juga tak kunjung datang.


Apa sebaiknya aku pulang sendiri aja ya? Lagian Alif juga dengan ayahnya, tak mungkin kan menjadi masalah. Biar mas Anton yang nanti mengantar pulang.


"Kak? Kenapa melamun?"


Tegur Eva yang saat ini menyantap sarapan paginya bersama Diana.


"Eh enggak, Alif kenapa belum di antar, apa kakak tinggal aja Alif ya va? Soalnya kan kamu tau sendiri tadi, kalau supirnya udah nunggu. Dan kita hanya bilang sarapan sebentar."


"Emangnya kakak bakal balik lagi ke desa?"


"Iya va, rasanya kakak masih pengen sedikit lebih lama disana, toh mas mu belum ada usaha buat kami kembali lagi. Kakak masih pengen nikmati suasana pedesaan yang asri."


"Kalau menurut aku sih, enggak masalah kalau Alif di tinggal. Toh hasil CT SCAN Ibu juga enggak ada masalah, dan besok boleh pulang. Hanya tinggal control aja. Jadi kalau mas Bagas repot bisa aku bantu jaga kak."


"Kamu serius?"


"Iya kak, tenang aja. Ibu kalau sakit enggak rewel kok."


"Ya udah, kakak selesai sarapan langsung pamit sama ibu ya, kamu jaga ibu dengan baik disini."


Eva mengangguk dan kembali menyantap sarapannya.


"Bu, ana pamit ya? Nanti kalau ibu udah pulang ke rumah, ana bakal jenguk ibu lagi kok."


"Iya na. Tapi?"


"Tapi apa bu?"


"Apakah semua akan berujung seperti keluarganya Andre?"


Tersenyum hangat mendengar ucapan mertuanya.


"Insyaallah enggak bu. Cuma Diana minta maaf untuk saat ini, memang belum bisa kembali. Dan sepenuhnya belum bisa kembali percaya, yang ada nanti malah konflik di setiap harinya. Bu, ana melakukan ini semua bukan tanpa sebab, yang pertama ini pelajaran untuknya. Yang kedua, jika Bagas memang benar akan berubah dan menyesal, ketika saat jauh dari ana dia tidak akan lagi mendekati wanita lain. Kenapa, karena dulu sewaktu semua masih baik-baik aja, Bagas bisa selingkuh bu, walaupun ana ada di dekatnya, memberi perhatian untuknya, tapi sekarang, dia jauh dari ana, jika ia memang niat dan sangat menyesali perbuatannya, di saat seperti ini, ana jauh dan tidak lagi memberi perhatian, pasti Bagas tidak akan tergoda dengan wanita lain. Dalam bentuk apa pun, dan dalam keadaan lemah sekalipun. Ibu mengerti maksud ana kan? Bukan kah disaat kondisi keluarga kecil kami berantakan seperti ini, akan semakin banyak penggoda yang akan mengganggu, terutama untuk ana, diberi ujian mampu tidak menolak laki-laki lain yang berusaha memberi perhatian dan mendekat."


"Kamu sangat pintar dalam menyikapi suatu masalah na." Memeluk menantunya dan menangis.


"Ana harap ibu di beri umur panjang, hingga bayi di kandungan ana lahir dan bahkan sampai anak-anak ana kelak tumbuh dewasa."


"Amin."


Mencium punggung tangan mertuanya.


"Ana pamit, ibu jangan telat makan, jangan lupa minum obat. Kalau ada apa-apa hubungi ana melalui nomor telepon yang ada sama Eva ya bu."


Berjalan meninggalkan area rumah sakit menuju parkiran, dan disana supir sudah menunggu. Ada rasa ragu di benaknya ketika melangkah pergi tanpa anaknya. Sebenarnya sangat ingin menunggu tapi Supir juga memiliki kerjaan yang lain, pikirnya.


"Sudah mas, kita berangkat sekarang."


"Anaknya enggak di bawa mbak?"


"Oh dia lagi sama ayahnya. Saya pulang sendiri mas."


Ayahnya? Apa mereka bercerai.


Ada beberapa pikiran yang mengusik sang supir, tapi jelas ia tidak berani bertanya, karena itu sifatnya lancang.


"Hallo mas, Assalamualaikum. Ada apa?"


"(Kamu udah pulang na?)"


"Udah mas, ini lagi di jalan. Udah keluar kecamatan. Kenapa mas?"


"(Mas baru aja sampai rumah sakit jenguk mertua kamu. Eh malah katanya kamu udah pulang sekitar satu jam yang lalu. Kenapa cepat sekali, apa enggak bisa nunggu kami sebentar? Bahkan kamu juga enggak ngasih kabar, tanggung jawab, kakakmu marah-marah)."


"Ha? Ya ampun, maaf mas. Kemarin panik liat keadaan ibu. Jadi lupa buat ngabarin."


"(Bahkan Alif juga kamu tinggal kan?)"


"Iya mas, dia kan sama ayahnya. Biarlah, ana juga enggak mau egois soal anak."


"(Ya udah, jadi nanti Alif gimana? Mau mas yang antar atau Bagas sendiri?)"


"Bagas mas, eh maksudnya mas aja lah."


"(Jawaban pertama yang mas anggap benar, ya udah mas tutup ya)."


"Hallo, mas, mas?"


Sambungan telfon sudah di matikan sebelum ana kembali protes.


"Kebiasaan deh, ih."


Gerutunya di dalam mobil.


"Kenapa mbak?"


"Oh enggak apa mas. Biasa mas Anton kan nyebelin. Saya tidur ya mas, kalau udah sampai bangunkan saya."


"Baik mbak."


...***...

__ADS_1


Di rumah sakit setelah kepergian Diana.


"Assalamualaikum."


Ucap Anton dan Mita ketika memasuki ruangan rawat inap.


"Walaikum salam, jawab Eva."


Menyambut hangat.


"Kak Diana baru aja pulang, mungkin baru sekitar satu jam yang lalu."


"Iya memang tadi supir yang mas suru udah bilang kalau pagi berangkatnya, soalnya ada lagi yang harus di antar sore nanti. Tapi ana juga enggak pamit sama kami."


"Mungkin dia juga segan karena supir sudah menunggu."


Sahut ibu Ramini agar Mita yang murung tidak kecewa melihat adiknya sudah pulang.


"Iya bu. Ibu gimana sekarang keadaanya?"


Berjalan mendekat ke ranjang.


"Alhamdulillah sudah kembali normal mit, kamu sehat kan? Sudah lama sekali enggak jumpa ibu."


"Iya bu. Lupa bahkan kapan terakhir kali kita jumpa ya bu." Tertawa kecil.


"Mita?" Menatap wajah Mita dengan serius. "Maafkan anak ibu ya, udah buat sakit hati adikmu."


Mengelus lengan mertua adiknya.


"Semua sudah terjadi. Kita cukup berdoa saja bu, supaya masalahnya cepat selesai. Dan itu akan menjadi pelajaran terbesar buat Bagas. Semoga tidak akan terulang lagi bu."


Mita memang orang yang sungguh sabar, tidak suka emosi, karena menurutnya semua masalah juga akan ada jalan keluarnya. Tanpa harus menggunakan otot, tapi menggunakan otak. Ini semua juga di ajarkan oleh suaminya.


"Pakde, bude."


Suara tak asing yang mereka dengar.


"Alif."


Mita berjalan langsung memeluk Alif.


"Uh, bude rindu sayang." Mencubit pipi keponakannya.


"Alif juga bude."


"Sama pakde enggak nih?"


"Iya pakde, sama kok."


Tanyanya dan meletakan bubur untuk ibunya yang ia beli di jalan, bubur ayam kesukaan ibunya.


"Kak Diana udah pulang mas."


Jawab Eva.


"Udah pulang?"


Menatap Anton dan Mita secara bergantian. Mereka menjawab dengan anggukan.


Kenapa masih menghindar dariku sih sayang. Ya Allah aku merasa makhluk paling hina saat ini, yang sangat di benci oleh istriku.


Wajah Bagas berubah sendu.


"Alif di tinggal sama bunda yah? Alif mau sama bunda yah, Alif mau main sama om Rama."


"Alif."


Tegur Bagas yang frustasi mendengar ucapan anaknya.


"Besok kamu antar saja Alif gas."


"Tapi mas."


"Sudah, antar saja. Buktinya ana sengaja ninggalin Alif, berarti kan dia mau kamu sendiri yang antar."


Jawab Mita dengan bijak.


Benar juga ya. Semoga bukan harapan palsu.


Suasana di ruangan sangat panas untuk Bagas. Karena Alif yang terus-menerus mengoceh tentang kebaikan Rama. Jelas ada rasa cemburu. Ia menyimpulkan bahwa selama di sana Diana tetap aktif komunikasi dengan Rama.


Percakapan itu hanya di dengar oleh Bagas, sementara yang lain berbincang hangat dengan ibunya.


"Kemarin juga waktu ibu mau pergi ke dokter om Rama yang antar ayah."


"Benarkah? Lalu, Alif suka?"


"Suka ayah, om Rama baik. Sering belikan Alif jajan."


"Ayah juga sering belikan Alif jajan, sering ajak Alif jalan-jalan. Apa ayah enggak baik?"


"Baik lah, ayah kan ayahnya Alif yang paling baik sedunia."

__ADS_1


Ucapnya bersemangat.


Kalau kamu udah besar sekarang nak, pasti kamu sangat benci ayah mu ini, dan bakal bilang ayah adalah ayah yang paling jahat sedunia.


"Kalau begitu cukup ayah aja yang boleh Alif sebut saat ini."


"Kenapa ayah?"


"Karena ayah enggak suka Alif terlalu dekat dengan orang lain. Apa Alif mau punya ayah seperti om Rama?"


"Mau ayah." Mengangguk cepat.


Mati lah aku. Apa aku salah memberi pernyataan untuknya.


Sungguh saat ini jantungnya berdegup kencang menahan emosi, mendengar semua perkataan anaknya. Seperti akan menjadi sebuah kenyataan. Bagas menghayal jika semua itu terjadi, entah bagaimana ia jalani hidup ke depannya.


Aku harus membawa Diana pulang. Harus!!!


"Gas, mas sama kak Mita pamit ya."


Tanpa Bagas sadari iparnya sudah lama berada disini, ia asik tenggelam dalam pikirannya sendiri, terbakar api cemburu.


"Oh iya mas. Mari aku antar ke depan, ayo Alif kita antar pakde sama bude."


"Jangan lupa hari Senin pagi udah stand by. Pengacara bakal nemenin kita kok."


"Iya mas, lebih cepat lebih baik. Rasanya udah enggak sabar."


"Apa Risah tidak pernah menghubungi kamu lagi?"


"Tidak mas."


"Ya udah, kalau gitu mas duluan ya."


"Duluan ya gas, dah Alif. Jangan nakal ya nak."


"Iya bude."


Anton dan Mita pun pergi meninggalkan rumah sakit, kini tinggal Bagas yang tidak sabar menunggu Senin dan menunggu esok hari, akan mengantar Alif kembali ke desa bersama bundanya.


...***...


Diana telah sampai di desa. Baru saja turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada supir, sudah melihat Rama yang berdiri di depan rumahnya.


Mau apa dia?


"Kamu ngapain disini bang?"


"Aku hanya ingin tau, bagaimana keadaan ibu Ramini. Kamu sendiri? Alif mana na?"


"Oh begitu, silahkan duduk. Iya Alif aku tinggal sama ayahnya."


Mereka duduk di teras rumah. Bahkan Diana belum membuka pintu rumah, dan masih membawa tas nya.


"Ibu sehat, dan kemungkinan besok sudah bisa pulang."


"Alhamdulillah, apa kamu bisa temani aku kesana na?"


"Ha?"


Diana sangat kaget, mendengar ucapan Rama yang seperti mengatakan tanpa adanya resiko.


"Kenapa na?"


"Maaf aku enggak bisa bang."


"Sekalian jemput Alif, bukan kah Alif tidak ikut pulang bersama mu?"


"Iya tapi nanti Alif bakal di antar mas dan kakakku."


"Tolong na, sekali ini saja."


Memohon dengan wajah yang memelas.


"Aku enggak bisa janji bang, tunggu aja sampai besok Alif di antar atau tidak."


Diam sebentar melihat reaksi Rama.


"Kalau tidak ada urusan lagi aku masuk ya bang. Aku capek, mau istirahat."


"Baik lah, aku tunggu kamu besok ya na."


Diana berjalan masuk tanpa menjawab perkataan Rama.


Aku enggak mau ah, kemarin saja rasanya sudah tidak enak sekali dengan mereka. Apa lagi kali ini jika harus pergi berdua dengannya. Aku bilang saja besok kalau aku sakit, dan perutku kembali mual.


Diana bertekad akan menolak Rama jika besok ia benar datang kesini dan kembali meminta di temani pergi untuk berjumpa mertuanya.


Lagian ada-ada saja. Sepertinya dia sengaja membuat keluarga Bagas membenci ku. Niat baiknya adalah akan bertemu ibu, tapi niat buruknya akan menjatuhkan nama baikku di hadapan mereka semua. Ah pusing sendiri aku mikirnya.


Diana kembali tertidur dengan lelap setelah menggerutu. Rasanya tidak puas hanya tidur di dalam mobil, jadi ia memutuskan untuk kembali tidur di kasur yang empuk.


Bersambung dulu ya..

__ADS_1


Kalian semua boleh berkomentar, tapi jangan memakai bahasa2 kasar, karena setiap komentar kalian akan tetap author baca. Rasanya tuh gimana ya, duhhh🙏


__ADS_2