Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 43


__ADS_3

Hari ini Bagas akan mengunjungi ibunya, ia berniat akan bertanya baik-baik agar ibu mau cerita tentang keberadaan Diana, kenapa sampai ibunya pun tega berpura-pura tidak tau.


Pukul sepuluh pagi Bagas sampai di pekarangan rumah ibunya. Ia turun dan melihat pintu rumah terbuka, ia masuk dengan mengucap salam dan berteriak memanggil ibunya.


"Iya gas, ada apa? Ibu lagi liat tv."


"Bu?"


"Iya ada apa? Duduk lah, dan cerita."


"Kenapa ibu tega enggak ngasih tau Bagas yang sebenarnya?"


"Maksud kamu apa gas?"


"Ibu tau kan sebenarnya Diana ada di desa?"


Ibu tercekat, ia bingung harus bagaimana. Walaupun anaknya salah, tapi mau bagaimana pun Bagas tetap lah anaknya.


"Kamu tau dari mana? Apa Eva yang ngasih tau ke kamu?"


"Eva? Untuk bicara sepatah dua kata saja mungkin dia udah enggak mau bu, apa lagi sampai ngasih tau Diana ada dimana."


Ibu diam mendengarkan, membiarkan Bagas sendiri yang bercerita.


"Anak itu bu, anak pembawa si*l itu bu, dia yang ngasih tau ke Bagas?"


Apa mungkin yang di maksud Bagas adalah Rama. Tapi bagaimana mungkin? Batin ibunya.


"Maksud kamu apa gas?"


Bagas kemudian menceritakan semua hal yang terjadi kemarin. Ibu hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya saja ibunya sempat emosi mendengar di akhir ceritanya kalau Rama ada niatan untuk terus mendekati Diana. Sungguh ia sebagai mertua sangat tidak rela, sebab lelaki itu masih sedarah dengan Bagas. Dan notabenya adalah anak pelakor.


Semoga Diana masih mendengarkan nasehat ku kemarin, untuk tidak mau lagi dekat dengan Rama, walaupun dengan alasan teman.


"Kamu harus yakin kalau Diana tidak akan terbuai dengannya."


"Tapi bu, posisinya mereka dekat sekarang, tempat tinggal mereka dekat bu. Untuk mengawasi pun aku enggak bisa bu."


Memeluk ibunya dan menangis seperti anak kecil.


Ibu mengelus pundak anaknya, mencoba menguatkan.


...***...


Hari ini Risah sudah mulai menjalani hari-harinya di rumah. Ia sudah mengundurkan diri dan hanya melakukan aktivitas nya di rumah. Saat ini Risah duduk bersama ibunya, ia bermaksud akan jujur.


"Bu." Panggilnya lembut, sebelumnya ia tidak pernah bersikap baik pada ibunya.


"Iya nak, ada apa?"


"Bu maafkan aku, maafkan aku bu."


Mendekat dan memeluk ibunya.


Selama ini, apa pun masalah yang Risah hadapi ia tidak pernah menceritakan dan mengaduh ke ibunya. Tapi kali ini beda, ia harus bertentangan dengan hukum.


"Bu, maafkan aku selama ini tidak pernah nurut apa kata ibu, tidak pernah mendengar nasehat ibu. Andai, andai waktu itu aku nerima perjodohan yang di lakukan oleh ibu. Pasti nasibku tidak jadi seperti ini."


"Sudah lah, semua sudah terjadi. Yang terpenting kamu jaga kandungan kamu baik-baik. Masalah Bagas, biarkan lah, mungkin saat ini dia belum bisa menerima semua, tapi saat anak itu lahir dia pasti akan menerima."


"Tapi bu, masalahnya itu."


"Kenapa? Apa Bagas tidak mengakui bahwa itu anaknya?"


Risah mengangguk. Dan menghapus sisa air matanya yang jatuh.


"Anak ini memang bukan anaknya Bagas bu. Ini semua salah aku bu."


Ibunya langsung berdiri kaget, dan menampar wajah Risah. Selama ini, sebesar apa pun kesalahan anaknya ia tidak pernah main tangan. Karena itu sangat kasar menurutnya. Tapi ini beda.


"Ampun bu. Maafkan aku."


"Kamu sudah menghancurkan rumah tangganya, kamu sudah membuat istrinya sakit, apa kamu tidak sadar? Ayah mu dulu juga melakukan hal seperti ini kepada ibu, bahkan ibu rela menerima tapi ayahmu tetap meninggalkan kita Risah. Sakit Risah, sakit. Tapi sekarang kamu melakukan itu kepada orang lain, melakukan hal yang sama yang di lakukan ayahmu. Bahkan ibu rasa ini sudah lebih dari perbuatan ayahmu!!" Bentak seorang ibu yang sebelumnya tidak pernah bicara kasar, ibu yang terkesan lembut.


"Maaf bu."


Hanya kata itu yang mampu Risah ucap berulang kali.


"Siapa ayah anak yang kamu kandung sebenarnya?"


Risah hanya menunduk.


"Jawab ibu Risah jawab." Ibu terkulai lemah, menangis dan terduduk. Rasanya kecewa ini sudah tidak lagi bisa di ucapkan dengan kata-kata.


"Atasan Risah di kantor bu."


"Kenapa bukan dia yang bertanggung jawab? Kenapa? Kenapa malah kamu bawa ibu ke rumah Bagas?"


"Dia enggak mau bu, dia hanya mau biayain semuanya. Saat itu aku masih dibutakan cinta bu, aku cintanya sama Bagas bu."


Plak..

__ADS_1


Satu tamparan keras lagi melayang di pipi kanan Risah. Risah hanya bisa menangis.


"Ibu menyesal telah melahirkan kamu!!!"


"Ibu."


Risah merasa anak yang sangat tidak berguna saat ini, ia bahkan tidak menyangka ibunya mampu mengatakan itu semua.


"Sekarang katakan, dimana rumah ayah anak dalam kandungamu?"


"Ibu mau apa?"


Risah mendongakkan wajahnya.


"Kita kesana sekarang, selesaikan ini semua sebelum terlambat."


"Enggak bu, aku enggak mau. Udah bu, aku rela di benci semua orang saat ini karena memang aku yang salah bu." Memohon di kaki ibunya.


"Apa Bagas sudah tau ini semua?"


"Sudah bu, dia akan menuntut aku di pengadilan."


"Kalau begitu ikut ibu sekarang."


Risah di tarik kasar oleh ibunya. Ia hanya bisa pasrah dengan semua yang akan ia hadapi.


Ibu terus berjalan memegang tangan Risah. Hingga ke tepi jalan raya, dan menunggu angkutan umum yang lewat.


"Katakanlah dimana alamatnya Risah. Saat ini ibu sudah cukup sabar dengan sifat kamu, tapi kali ini harus berujung dengan hukum. Kamu tau itu kan."


Risah menyebutkan alamat rumah yang saat ini di tinggali anak dan istrinya juga Darma. Rumah mereka terletak cukup jauh, sehingga harus dua kali menaiki angkutan umum. Ada banyak pasang mata di dalam angkutan umum yang terus menatap ia dan ibunya.


Tapi untuk saat ini ibunya tidak menghiraukan berbagai macam pikiran orang lain, yang ia hanya pikirkan bagaimana nasib anaknya kedepan. Risah yang pasrah hanya menunduk, malunya juga tak seberapa dengan semua masalah yang akan ia hadapi ke depan.


Saat sampai di komplek perumahan mewah, Risah menunjuk salah satu rumah mewah tersebut. Ibu yang masih kurang yakin pun bertanya pada salah satu orang yang ada disana.


"Siapa nama lelaki itu."


Bisik ibunya.


"Darma."


"Darma mas, apa benar ini rumahnya?"


"Oh iya bu benar, tapi sepertinya orangnya lagi bekerja, tapi ada istri dan anaknya kok di rumah."


Terang lelaki yang ibu Risah tanya.


Lelaki itu menjawab dengan anggukan dan tersenyum ramah. Lalu lanjut berjalan di daerah komplek.


Ibu menekan bel rumah itu, dan tampak wanita tinggi semampai dengan warna rambut yang ke emas-emasan keluar dari hunian itu. Ia sepertinya tampak bingung dan mengerutkan dahinya.


"Siapa ya?"


Tanyanya dan membuka pintu gerbang miliknya.


"Boleh masuk mbak, saya teman kerjanya pak Darma."


Akhirnya Risah bersuara, ia tau ibunya pasti bingung akan memberi alasan apa supaya bisa masuk.


"Tapi suami saya lagi enggak ada di rumah. Lagi kerja, kalau anda rekan kerjanya kenapa datang kesini dan tidak bekerja?"


Tanyanya sedikit ketus, istri Darma adalah wanita yang terkenal tegas dan mulutnya pedas bagai cabai.


"Ada perlu, setidaknya kamu bisa mendengarkan nya, maaf siapa nama kamu?"


Tanya ibu Risah.


"Oh gitu, masuk lah. Nama saya Luna."


Mereka berjalan masuk ke rumah, dan melewati taman depan rumah yang ditanami berbagai macam jenis bunga, sangat luas juga rapi. Ya bagaimana layaknya rumah orang kaya pada umunya.


Mereka duduk di luar rumah, dekat teras. Tapi terasnya saja sudah ada sofa, benar-benar wow sih. Ini luarnya saja, beda dalamnya lagi, tapi tidak bisa melihat karena hanya duduk di luar.


"Jadi ada apa ya mbak, dan ini siapanya?"


Pertanyaan yang tertuju pada ibu Risah.


"Saya ibunya, panggil ibu saja."


"Oh baik."


"Maaf sebelumnya, pasti nak Luna akan emosi, tapi." Melihat ke arah Risah. "Apa sebelumnya suami Luna pernah selingkuh?"


Luna langsung merubah raut mukanya yang memang tidak suka dengan pertanyaan ini.


"Kenapa bisa anda bertanya seperti itu?"


"Sebelumnya suami saya tidak pernah bermasalah, apa lagi sampai selingkuh. Kenapa? Apa anak ibu ini adalah selingkuhan suami saya, dan saat ini sedang hamil? Terus datang untuk meminta tanggung jawab, begitu? heh.." Tertawa renyah seperti mengejek.


"Iya benar." Jawab ibu Risah.

__ADS_1


Luna spontan menatap lekat wajah ibu dan wajah Risah. Kemudian ia berdiri dari duduknya.


"Sekarang juga kalian pergi dari rumah saya."


"Enggak masalah nak Luna mengusir kami, tapi satu hal. Sampaikan ini pada suami mu, yang sudah menghancurkan rumah tangga orang lain demi menyelamatkan rumah tangganya. Ingat satu hal, sebaik-baiknya menyimpan bangkai, pasti akan tetap tercium oleh orang lain." Berdiri dan menarik tangan Risah. "Ayo kita pergi dari sini."


Entah karena emosi atau apa, ibunya berubah drastis sejak mendengar hal yang sangat mengecewakan baginya.


Luna yang juga saat ini emosi langsung menghubungi suaminya. Dengan berkata kasar ia menyuruh suaminya pulang sekarang juga.


Kemudian Luna berlari mengejar ibu dan Risah yang masih berjalan sampai gerbang rumahnya.


"Tunggu!!"


Teriaknya dan berjalan mendekat.


"Suamiku sudah dalam perjalanan pulang. Tunggu lah disini, kalau memang itu benar kalian tidak mungkin takut."


Risah menatap ibu, ibunya tau kalau saat ini Risah sangat takut. Ibu hanya menjawab dengan anggukan, dengan berat hati Risah berbalik ke rumah itu lagi.


Dan kali ini Luna mengajak Risah dan ibunya masuk ke dalam rumah. Karena tau hal ini akan rumit, takut di dengar orang lain. Untungnya hari ini ART nya lagi pulang kampung, anaknya juga ke luar kota bersama keluarga. Jadi hanya Luna yang ada di rumah.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan minum."


Ternyata saat begini masih ada itikad baiknya, pikir ibunya Risah.


Hampir satu jam menunggu, dan akhirnya terdengar suara deru mesin mobil menyambangi rumah itu. Tangan Risah berkeringat dan bergetar. Ia berkali-kali menatap ibunya dengan tatapan takut.


"Tenang, ada ibu." Ucapnya dan mengelus tangan anaknya.


"Sayang, aku pulang." Ucap Darma yang telah memasuki rumah. Ia belum menyadari kehadiran Risah disana.


Luna berjalan menyambut suaminya pulang. Wajahnya susah di tebak, tersenyum lalu berubah dingin. Berjalan terus mendekat Darma, dan plak. Tamparan keras berhasil ia layangkan ke wajah Darma.


"Sayang, apa maksudmu!! Kenapa kau menampar suamimu!!" Bentaknya dengan keras.


"Baj**gan!!! Siapa wanita itu, ha!!" Tunjuk Luna ke arah sofa besar miliknya, dimana Risah dan ibunya duduk.


Darma menoleh dan berjalan mendekat ke sofa. Spontan ia membulatkan matanya melihat pemandangan ini, yang seumur hidupnya tidak pernah terbayangkan.


"Kenapa kamu disini." Ucapnya berbisik dan menggertakan giginya.


"Ha, kamu bertanya kenapa mereka disini? Kenapa kamu bertanya, seharusnya aku yang bertanya sama kamu sayang ku, mereka ini siapa, dan bisa sampai kesini karena hal apa? Jawab?"


Darma menggaruk kepalanya sendiri, ia bingung harus bagaimana. Bahkan ia sangat takut pada istrinya saat ini.


"Jelaskan atau aku."


"Iya iya, aku akan jelaskan."


Mereka pun ikut duduk diantara Risah dan ibunya.


"Katakan." Ucap Luna dingin.


"Katakan apa sayang, mereka seharusnya yang berkata."


Masih mengelak, dan melirik Risah dengan tajam.


Dasar wanita ja**ng. Beraninya datang kesini, aku bahkan tidak tau kalau dia bakal senekat ini. Batin Darma.


"Aku udah mendengar semua dari mereka, ya awalnya aku hanya menebak, tapi ternyata itu benar."


"Maksud kamu apa sih sayang. Aku enggak ngerti, jangan bicara berbelit-belit."


"Oh, jadi kamu pura-pura tidak tau. Wanita ini lagi hamil anak kamu kan?"


Risah mendongakkan wajahnya, melihat reaksi Darma. Darma kebingungan, dan membuang pandangannya.


"Katakan! Atau aku akan menelfon papa."


"Iya iya, maaf sayang aku khilaf maaf. Maafkan aku, jangan adukan hal ini sama papa kamu sayang. Aku udah bayar dia, aku udah ngasih uang yang cukup banyak untuk kehidupannya. Tapi malah dia yang datang dan minta tanggung jawab lagi."


Luna adalah seorang anak konglomerat. Ia menikah dengan Darma karena dasar cinta, ia bahkan tak mempermasalahkan status pekerjaan Darma yang masih dalam kategori rendah untuk keluarganya. Kehidupan mewah yang mereka nikmati saat ini adalah jelas bantuan dari keluarga Luna. Sebab itu Darma sangat takut dengan istrinya, apa lagi kalau sudah di ancam dengan menyebut nama papa.


"Kamu harus bertanggung jawab!!" Bentak Luna.


"Maksud kamu aku harus menikah sama dia gitu? Ya enggak mungkin lah sayang."


"Apanya yang enggak mungkin? Dia sudah hamil!!"


Wanita ini jelas berbeda jauh dengan istrinya Bagas. Aku yakin sekali kalau istrinya Bagas adalah orang baik, Luna juga orang baik, tapi sifatnya kasar. Memang cocok juga lelaki seperti ini mendapat istri sepertinya. Batin ibu Risah yang saat ini hanya menonton pertengkaran di antara Luna dan Darma.


"Memang enggak mungkin mbak, karena saat ini pihak yang di rugikan akan segera menuntut." Ucap Risah.


"Maksudnya?" Luna bertanya.


"Aku hamil anaknya, tapi aku sudah meminta pertanggung jawaban orang lain, hingga rumah tangganya berantakan. Ini salahku yang tidak berani datang kesini waktu itu, dan saat ini mereka yang hancur akan menuntut karena sudah mempunyai bukti!!"


Luna terkulai lemas dan langsung tak sadarkan diri. Memang setelah mendengar semuanya, tidak ada satupun air mata yang keluar darinya. Namun jantung yang berpacu sangat tidak normal, membuat seluruh tubuhnya tidak merespon dengan baik, dan akhirnya ia pingsan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2