Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 28


__ADS_3

Diana berdiri dan membereskan seluruh pakaiannya ke dalam koper besar miliknya. Bahkan ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar dan apa keputusan yang mereka ambil.


Kali ini aku akan pergi.


Tak lama terdengar suara anaknya memanggil dari luar kamar. Diana membuka pintu dan melihat Alif yang berdiri di depannya. Ia menangis dan memeluk anaknya dengan erat.


"Bunda kenapa nangis? Ada tamu ayah di depan bunda, bunda enggak keluar?"


"Enggak sayang, Alif denger bunda ya nak. Alif mau ikut bunda atau ayah?"


Membungkuk dan menatap anaknya, sambil sesekali menghapus air mata yang terus saja jatuh tanpa bisa ia tahan.


"Alif ikut bunda."


Dan Alif pun ikut menangis, entahlah mungkin ia juga tau perasaan orang tuanya yang sedang kalut.


"Sstt. Anak baik enggak boleh nangis. Ya udah sekarang kita pergi ya sayang."


"Kita kemana bunda?"


"Udah Alif tunggu disini, bunda bereskan baju Alif dulu ya."


Alif berdiri menunggu Diana mengambil pakaian Alif, tetapi tidak semua yang ia bawa. Ia menatap ke sekeliling kamar dengan pandangan yang sayu karena matanya terasa sangat pedih.


Aku enggak tau bakal bisa melihat dan tidur di kamar ini lagi atau tidak, bahkan aku enggak tau sampai kapan aku harus merasakan sakit ini.


Air matanya terus saja jatuh. Kemudian ia keluar bersama Alif, tak lupa mengambil kunci mobilnya yang di berikan Anton.


Diana berjalan keluar rumah, dan melihat mereka yang di luar berbincang.


Mereka tercengang melihat Diana keluar sudah membawa koper berukuran besar, terutama Bagas. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan reaksi kagetnya.


Diana berhenti melangkah sejenak saat melewati orang-orang yang membuat hidupnya kacau.


"Aku permisi, kalian hiduplah dengan lebih baik lagi setelah ini. Biarkan Alif ikut bersamaku."


"Sayang kamu mau kemana? Alif? Alif mau ninggalin ayah nak."


Risah beserta orang tuanya hanya tertunduk merasa sangat bersalah. Tetapi bagi Risah hanya rasa bersalah, bukan penyesalan. Karena setelah ini ialah pemenangnya, pikirnya begitu.


"Bagas. Tolong biarkan aku pergi membawa Alif. Dan untukmu wanita perusak kebahagian orang lain! Jika benar itu adalah hasil dari zinah kalian, aku berdoa semoga anak tidak berdosa itu akan selamat dan hidup dengan damai. Tetapi jika itu ternyata anak orang lain, maka aku berdoa seumur hidupmu tidak akan pernah ada kata bahagia. Aku permisi, dan jangan pernah cari aku sebelum Allah memberi takdir untuk kita bertemu kembali, dalam situasi apapun."


Diana berbicara tanpa menoleh, hanya menatap ke arah depan dengan wajahnya di terpah angin. Ia kembali berjalan membawa Alif dan keluar mengambil mobil di garasi.


"Diana!! Berhenti!!"


Teriak Bagas.


Ketika ia akan berjalan mencegah Diana ibu Risah menahannya.


"Nak, biarlah dia pergi. Setelah ini barulah susul dia, karena jika di cegah sekarang juga percuma. Yang ada hanya pertengkaran kalian."


Bagas mendengus mendengar ucapan ibunya Risah.


Sialan, semua karena kamu Risah!! Karena kamu.


Diana menghentikan mobilnya sewaktu akan keluar jalan raya. Ia melihat Bu Salmah pulang dari belanja. Ia turun dan bermaksud akan pamit.


Bu Salmah kaget melihat wajah Diana yang pucat dan matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia turun dan langsung memeluk Bu Salmah.


"Na? Kenapa kamu nak?"


"Bu, Diana pamit ya. Makasih selama ini udah sering bantu Ana, udah mau dengerin curhatan Ana, Ana pamit ya Bu."


"Ada apa? Bicara sama Ibu, jangan begini na."


"Ana Uda enggak sanggup Bu. Jaga diri Bu, jaga kesehatan ya. Suatu saat Ibu akan tau alasan Diana pergi. Karena rumah kita hanya berjarak satu meter saja. Ana yakin ibu bakal mendengar."


"Apakah wanita tadi itu?"


Bu Salmah tampak ragu mengatakannya. Dan Diana pun mengangguk karena tau kemana arah pertanyaan Bu Salmah.


"Jadi kamu mau pergi kemana na?"


Tanyanya cemas.


"Untuk saat ini Diana akan ke rumah kakak. Mau tidak mau dia juga harus tau Bu. Tapi selanjutnya Diana akan pergi yang Bagas tidak bisa menemui Ana."


Bu Salmah kembali memeluk Diana. Dan ia pun meneteskan air matanya.


Kasian kamu nak. Beginilah sakitnya ketika sudah tidak ada orang tua, tidak tau kemana kita akan mengaduh dan pulang ketika sudah tidak sanggup menghadapi rumitnya rumah tangga. Batinnya.


"Pergilah nak, pergilah untuk menenangkan hatimu. Satu pesan dari Ibu dan ingat baik-baik. Besok, lusa atau suatu saat nanti, ketika hatimu sudah siap. Setidaknya dengarkan sedikit saja penjelasan dari Bagas."


"Iya Bu, terima kasih."


"Iya sama-sama nak. Alif mana?"

__ADS_1


"Ada di dalam mobil kok Bu."


Diana pun berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya. Sebelum itu ia sempat menoleh ke arah rumah yang entah sampai kapan bakal ia tinggalkan atau mungkin juga tidak akan kembali kesini.


Diana coba menenangkan diri, karena ia sedang menyetir. Bisa bahaya jika pikirannya kalut.


Mobil terus berjalan melewati ratusan kendaraan di jalan raya. Menuju ke rumah kakaknya untuk mengaduh beban yang selama ini ia pendam, bahkan lebih parah dari itu.


Sesampainya di depan gerbang Diana membunyikan klakson tiada henti, membuat sang pemilik rumah kalang kabut.


"Siapa sih itu mas, coba buka kok segitunya banget yang bunyikan klakson."


Anton pun berjalan ke depan untuk membuka gerbangnya. Ia hanya menggelengkan kepala setelah melihat siapa yang datang.


Diana memarkirkan mobilnya dan langsung turun bersama Alif. Tanpa menghiraukan Anton yang menatapnya dengan heran. Diana membuka jok belakang dan menurunkan koper besarnya, hal itu mengundang Anton datang dan mendekatinya.


"Na? Kenapa?"


Diana tidak menjawab hanya menoleh dan sesekali menghapus air mata yang kembali jatuh tanpa bisa di kontrol.


Bukan kah begitu jika orang yang tengah bersedih, jika hanya ditanya saja sudah mengundang kesedihannya kembali tanpa harus menjelaskan.


Anton mengambil Alif dan menggendongnya. Dan ia membiarkan Diana berjalan terlebih dahulu memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum kak."


Ucapnya lirih.


"Walaikumsalam na, kamu dat.."


Ucapannya terhenti kala melihat adiknya meneteskan air mata dan menyeret koper besarnya.


"Na kenapa?"


Mita berjalan menghampiri dan memeluk adiknya itu. Tangis Diana pecah kembali seperti saat dirumah tadi. Ia sesegukan dan belum bisa berkata dengan jelas.


"Duduklah, kakak ambilkan minum."


Mita kembali dengan membawa gelas berisi air putih untuk Diana. Dan kali ini mereka sudah berkumpul duduk di sofa.


"Katakan jika kamu sudah tenang."


Ucap Anton tegas.


Diana menarik nafas dengan perlahan, terasa sekali hidungnya sumbat.


Anton dan Mita yang mendengar pun merasakan sakit yang teramat, karena merasa adiknya sudah di khianati habis-habisan.


Mita yang lemas mendengar itu dari mulut adiknya sendiri dan menyenderkan tubuhnya di senderan kursi Sofanya.


"Alif main disana nak, ada mainan itu ambil ya."


Ucap Anton, ia sengaja menjauhkan Alif untuk menyikapi masalah ini.


"Jadi keputusan kamu gimana?"


Anton to the point. Sementara Mita hanya diam tak bisa berkata-kata lagi.


"Mas, Ana akan pergi jauh dari jangkauan Bagas. Jika Ana masih disini pasti cepat atau lambat ia akan datang kesini, jujur saat ini Ana belum siap mendengar apapun dan penjelasan apapun darinya. Karena Ana tau ujungnya tetap sama, ia akan menikah dengan Risah sebagai rasa tanggung jawab. Dan Ana juga belum menuntut untuk bercerai, karena, karena saat ini Ana mengandung."


Ucapnya menunduk di akhir kata.


"Apa??? Kamu hamil?"


Anton kaget.


"Sebenarnya belum periksa, tapi Ana udah telat seminggu."


"Bagas tau hal ini?"


"Tau mas, kan tadi udah Ana jelaskan kalau ia hari ini minta ijin enggak ke kantor karena mau temani Ana periksa."


"Ya kirain mas kan mau periksa karena kamu sakit, atau kurang gizi semenjak diet."


"Mas ah, serius lah mas kali ini."


Diana sedikit menarik sudut bibirnya tersenyum dengan candaan receh dari iparnya.


"Jadi, kesimpulannya kamu mau pergi kemana?"


"Ana enggak bisa kasih tau mas, intinya setiap saat Ana akan terus memberi kabar ke kalian."


"Lalu Alif?"


"Alif ikut Ana mas."


"Kamu enggak bekerja na, gimana mau biayai hidup kalian sehari-hari?"

__ADS_1


Kali ini mita bersuara.


"Ana masih punya tabungan kok kak, lagian Ana juga akan tinggal di daerah desa dan jauh dari kota sehingga tidak harus memakan biaya yang besar."


"Na, uang berapa pun akan habis, apalagi tidak ada penghasilan setiap harinya. Kamu yakin?"


Mita ragu akan keputusan adiknya ini.


"Udah jangan khawatir. Mas akan mengirimkan uang untuk kamu dan Alif."


Anton akhirnya memberi usul.


"Enggak mas, udah cukup Ana buat repot kalian."


"Terimalah na, memang harusnya kami lah yang di repot kan dalam hal ini, bukankah hanya kami yang kamu punya na?"


Ana terdiam cukup lama, mencerna kalimat kakaknya. Dan memang yang di katakan kakaknya kali ini adalah benar.


"Baiklah mas."


Anton dan Mita pun tersenyum.


"Tapi, mas mohon sama kamu. Jangan menyembunyikan soal kamu akan tinggal dimana. Karena itu malah bisa membahayakan kamu, bukankah kamu bilang saat ini kamu sedang mengandung, walaupun itu belum pasti?"


Ya Allah, hanya mereka yang aku punya saat ini. Kasih sayang mereka sangat tulus buatku dan anakku. Semoga keputusan yang aku ambil kali ini benar ya Allah. Diana.


"Iya mas, kalau begitu besok mas sama kak Mita bisa ikut antar Ana kan?"


Mereka pun mengangguk.


Dan malam ini ia bersama Alif akan menginap di rumah kakaknya dulu, esok pagi barulah akan berangkat sebelum Bagas terlebih dulu menjemputnya kesini. Karena tidak mungkin Bagas mempunyai tujuan lain, selain ke rumah iparnya.


...***...


Malam hari ketika akan tidur Diana teringat akan HP miliknya yang sedari tadi ia nonaktifkan. Ia turun dari tempat tidur dan berjalan membuka tasnya.


Ia kembali mengaktifkan HP, dan ada banyak sekali notif yang masuk berupa pesan atau pun panggilan, tentu ini dari Bagas.


Pesan yang beruntun mempertanyakan keberadaannya, tak lupa juga ada kata maaf. Dan kemudian juga pesan yang sama terus ia kirimkan.


Diana membaca dan kembali menangis, masih saja air matanya jatuh. Ia pun menonaktifkan HP nya lagi kemudian berjalan kembali ke tempat tidur.


Rasanya untuk terpejam saat ini sangat susah, bukankah biasanya setelah kelelahan menangis akan membuat orang bisa terlelap dengan cepat, tapi kenapa aku tak bisa. Ya Allah jika memang benar aku mengandung saat ini, maka sehatkan lah kami dimana pun kami berada nantinya, dan jadikan lah anakku, anak yang kuat dalam hal apapun.


Diana mencoba membaca surah pendek sebelum tidur, dan perlahan matanya mulai menutup dan terlelap bersama anaknya yang lebih dulu tidur.


Malam dini hari, Diana terbangun dengan nafas yang tidak beraturan dan tersengal.


Aku mimpi bertemu emak, tapi kenapa seperti mimpi buruk? Padahal seharusnya aku senang karena orang tuaku mengunjungi ku.


Dalam mimpi Diana.


Aku sedang duduk termenung di meja makan, dengan hidangan seadanya di meja makan. Tapi kenapa aku sendiri lalu kemana semua orang? Dan hidupku juga terasa hampa.


Tak lama aku mendengar suara orang berjalan menuju ke arah ku. Aku menoleh ternyata emak ku dengan membawa pisang di tangannya. Aku bertanya tapi ia tak menjawab hanya menampakkan wajah sendunya.


Aku sangat tau ini, aku tau jika beliau sudah begini pasti ia sedang ada masalah. Aku kembali bertanya


"Mak kenapa?"


Tapi dia tak menjawab dan hanya duduk diam menatap ke arahku. Lalu ia meneteskan air matanya, aku semakin tambah bingung. Lalu aku juga berada dirumah yang tak aku kenali, anakku juga tidak bersamaku.


Aku heran dengan keadaan ini, tapi ah sudahlah mungkin yang lain lagi keluar.


Aku menyantap hidangan yang di masak oleh emak, setelah aku selesai makan emak berdiri dan berjalan ke pintu ke luar rumah. Aku mengikutinya dan kulihat di luar rumah ada cahaya yang sangat besar, aku memanggil emak ku sekuat tenaga ku tapi sepertinya sia-sia suaraku bahkan nyaris tidak keluar.


Aku berjalan mendekat perlahan emak ku menjauh dengan cahaya yang ada, ia melambaikan tangan seperti memanggilku untuk datang bersamanya, dan ia merentangkan tangannya seperti akan memelukku.


Aku tidak bisa melangkah terlalu jauh lagi karena cahaya itu sangat menyilaukan mataku, kembali ku fokuskan pandanganku.


Aku melihat dan kali ini mendengar emakku bicara, "ayo na ikut emak" Iya hanya itu yang aku dengar dan ia kembali menangis dan melambaikan tangannya.


Aku hanya terdiam berdiri, tak lama cahaya itu menghilang bersama emak ku. Aku terduduk lemas seperti kehilangan seluruh tenaga ku, untuk bertumpu rasanya sudah tidak kuat, aku menangis sejadi-jadinya. Tapi kali ini tidak mengeluarkan suara, hanya air mata saja yang terus jatuh.


Yang aku tidak tau, aku menangis sedih entah karena apa, dan disini aku kembali tersadar bahwa emak ku kan sudah meninggal cukup lama. Aku mencoba istighfar dan kembali tersadar dalam dunia nyata.


Mimpi end.


Apakah maksud mimpi ku, emak mau aku pergi bersamanya? Karena ia tau kesedihan yang saat ini aku alami. Ya Allah bahkan setelah ia meninggal pun masih saja bisa merasakan kesedihan yang aku rasa. Lalu kan kata orang tua dulu kalau seandainya kita mau di ajak orang yang sudah meninggal dalam mimpi, itu sama saja kita juga akan menyusulnya. Ya Allah, kuatkan hati ku saat ini.


Diana terus berbaring menatap langit-langit kamar. Dengan beribu doa ia panjatkan untuk kebaikan hidupnya di masa depan.


Bersambung..


Mohon, mohon like nya jangan cuma di baca aja ya. Klik juga favorit supaya ada notif dan tau kalau saya update. Mohon bimbingannya.


Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2