Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 64


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Diana juga sudah tidak ngidam yang aneh-aneh. Hanya aja masih sering tiba-tiba emosi ketika mengingat kejadian yang lalu.


Pikirannya kembali normal, kandungannya saat ini sudah memasuki bulan ke 5. Dan ia juga rutin cek up ke dokter kandungan. Tentu kali ini dengan di temani suami.


"Gimana dok? Apa jenis kelaminnya udah kelihatan?" Bagas sangat nampak antusias ingin sekali melihat jenis kelamin bayinya.


"Sudah. Mau di kasih tau atau rahasia?" Dokter tersenyum ramah.


"Dokter, jangan! Dokter bisikan ke saya aja, biar suami saya penasaran." Dokter kembali tersenyum dan menatap Bagas.


"Turuti saja perintah istri saya dok." Pasrah.


Diana hanya ingin Bagas tidak kecewa jika bayi mereka yang lahir nanti laki-laki lagi. Diana tau kalau Bagas sangat menginginkan bayi perempuan. Jadi lebih baik dia yang tau lebih dulu, dan menyembunyikan sampai waktu persalinan tiba.


"Oke dokter, terima kasih." Setelah dokter membisikan sesuatu.


"Ini vitaminnya." Menyerahkan beberapa butir obat. "Diminum sampai habis ya."


"Terima kasih dokter." Mereka meninggalkan ruangan dokter kandungan, dan bersiap pulang kerumah. Juga bersiap akan pergi ke pernikahan Rama.


Hari ini, jam 1 siang Rama akan menikah, ia tidak pesta mewah seperti para pengantin lainnya. Karena ini juga permintaan dari mempelai wanita. Hanya di hadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat.


"Yah, jadi ana pakai apa dong? Kebaya atau gamis?"


"Ya sayang suka yang mana?" Bertanya dan terus fokus menyetir. Tidak ada Alif saat ini, karena sudah seminggu ia di rumah Anton, dengan alasan Mita ngidam selalu ingin lihat Alif. Dan hari ini mereka juga akan berangkat bersama ke pernikahan Rama.


"Ana suka kebaya sih, cuma kan enggak mungkin muat, kandungan juga udah membesar." Membelai perutnya halus, dan tampak anaknya yang aktif langsung menendang, seperti tau saja kalau sedang di bicarakan.


"Kalau ayah sih, lebih suka kamu enggak pakai apa-apa." Tanpa senyum sedikit pun Bagas bicara.


"Ayah serius?" Bagas langsung mengangguk.


"Ya udah."


"Ya udah." menjawab juga.


"Apa sih yah. Ya udah nanti ana enggak usah pakai baju aja, biar di lihat orang. Nanti kalau di tanya, ini suamiku tercinta yang nyuruh." Melipat kedua tangannya di dada.


"Nah, kalau itu khusus di rumah aja sayang, hehe. Ya udah kita beli baju dulu gimana? Itu di depan ada butik." Menunjuk salah satu toko baju yang lumayan terkenal dan mewah.


"Kamu pilih baju yang sesuai untuk ibu hamil." Mencubit manja pipi istrinya.


"Serius, ayah ada uang?"


"Rezeki ada sayang, bonus ayah keluar."


"Ih kok enggak ngasih tau ana sih. Mau disimpan sendiri gitu iya?" Malah marah.


"Sayang, harusnya ngucapin Alhamdulillah gitu, kan ayah dapat rezeki. Baru tadi malam masuk ke rekening. Ayah mau ngasih tau sayang Uda tidur. Eh tadi pagi mau bilang juga lupa, karena kita langsung berangkat buat cek up. Udah jangan marah, ayo turun udah sampai." Membuka pintu mobilnya dan turun lebih dulu untuk membukakan pintu buat sang istri.


"Silahkan tuan putri." Bergaya bak pengawal yang membungkukkan tubuhnya.


"Malu tau yah ada orang yang liat."


"Ah iya? Mana?" Melihat sekeliling. Bagas langsung kikuk karena orang yang melihatnya nampak menertawakan.


"Kok enggak bilang sih sayang, ayah malu tau." Berjalan memasuki butik.


Diana hanya menutup mulutnya sendiri yang menertawakan suaminya.


Hampir satu jam Diana memilih baju yang cocok untuknya, dan yang pas dan cocok tentu harganya juga fantastis. Tapi Bagas menyanggupi untuk membayar.


Mereka pulang ke rumah. Dan langsung bersiap untuk pergi. Tentu mereka ke rumah Anton lebih dulu, agar pergi bersama.


Diana nampak terlihat cantik memakai gaun ibu hamil, dan pansus yang ia kenakan senada dengan tas yang ia pakai.


"Kamu cantik sekali sayang." Berbicara dengan jujur melalui hati.


"Memang cantik, cantik aja pernah di selingkuhi, apa lagi jelek." Berjalan lebih dulu untuk masuk ke mobil. Bagas langsung terdiam dan tak berbicara lagi, setelah perkataan Diana yang memang telak untuknya.


Setelah sampai, ternyata Anton juga sudah menunggu di luar gerbang. Jadi Bagas tidak lagi mampir, dan langsung putar balik arah mobilnya.


"Alif mana mas?" Berbicara melalui jendela yang ia buka.


"Ini." Menoleh ke arah Alif. "Alif mau sama ayah atau pakde?"


"Mau sama pakde aja."


Tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ia lihat, sedang memutar video anak yang belajar mengaji.


"Udah ayo jalan, mas di belakang aja. Kan kamu yang tau jalannya. Alif enggak mau tuh. Dia mau sama kami aja." Kembali menutup jendelanya rapat.

__ADS_1


2 jam perjalanan, jam 12 lewat 10 menit mereka sampai. Tentu di sana sudah ada Eva dan ibu. Yang berangkat bersama Rama. Mereka turun dan masuk ke dalam secara bersama.


"Bang udah sampai? Kirain enggak datang." Menyambut kedatangan Bagas.


"Datang lah. Mas Andre udah ada datang belum?" Bertanya pada Rama.


"Tadi udah di telepon sama Eva. Katanya lagi di jalan, bentar lagi sampai mungkin. Ya udah ayo bang masuk, mas ayo duduk di dalam." Tak lupa ia juga mengapa Rama.


Masuk dan duduk ikut bersama ibunya.


"Ibu kenapa? Apa ibu sakit?" Diana yang lebih peka ternyata, melihat raut wajah mertuanya tampak tidak sehat, padahal sudah dihiasi dengan make up.


Sontak Bagas dan Eva langsung menatap wajah ibunya.


"Enggak na. Ibu sehat-sehat aja kok?"


Jawabnya dan tak lupa tersenyum.


Apa perasaanku aja ya? Kok kayaknya ibu pucat sih, walau udah pake make up tetap kelihatan. Matanya juga sayu.


Tapi Diana tidak ingin membahas lagi, karena takut malah anak-anaknya jadi khawatir.


"Mas, itu mas Andre udah datang." Menunjuk ke arah pintu. Ia datang sendiri.


"Masuk bang." Ucap Rama mempersilahkan Andre untuk masuk.


"Abang sendiri?" Tanya Rama.


"Iya anak-anak enggak bisa ikut, mereka juga pergi liburan sama neneknya." Duduk dan ikut bergabung bersama keluarganya.


Rama sungguh bahagia saat ini, karena sekarang keluarga barunya sudah menerima kehadirannya.


Saat ini, Rama sudah berpakaian rapi. Ia memakai kemeja putih dan di balut jas hitam, tak lupa kopiah di kepalanya sebagai tanda orang muslim.


Jam satu tepat waktunya acara ijab qobul di mulai. Semua yang ada di ruangan sangat ini sudah senyap, hanya ada suara ustadz yang memberi nasehat untuk kedua mempelai, bagaimana nantinya bila sudah berumah tangga. Apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan seorang istri dan juga suaminya.


Setelah selesai dengan pembelajaran mengucap Ijab Qobul. Baru lah segera di laksanakan. Wajah Rama tampak menegang, juga ada keringat dingin yang jatuh di dahinya.


"Santai, jangan gerogi gitu." Bagas berbisik untuk memberi semangat pada Rama.


Rama mengangguk dan menarik nafas perlahan.


"Siap pak."


"Bismillah.. Aku nikah kan kepadamu anak kandungku Nabila Putri binti Septian dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunaiii.."


"Aku terima nikah Nabila Putri binti Septian dengan mas kawin tersebut, tunaiii..."


"Gimana para saksi sah?"


"Sah.." Ucap para saksi dengan serentak..


"Alhamdulillah." Ustadz mulai mendoakan kedua pengantin dengan hikmat, seluruh kerabat dan keluarga ikut mengaminkan agar doanya dapat terkabul.


Ucapan selamat dari para kerabat beserta keluarga terus berdatangan. Rama bisa mengembangkan senyumnya kali ini, tanpa adanya wajah tegang lagi.


"Bu, ibu makan ya?" Ucap Rama dengan lembut.


"Nanti saja sebentar lagi, kamu aja yang makan. Dari tadi kamu belum makan kan?" Rama menggeleng.


"Ya udah makan dulu sana, ajak istri kamu sekalian."


"Iya bu. Ibu jangan sampai nggak makan ya."


Memegang lembut tangan ibu Ramini.


"Iya sudah sana."


Sore hari ketika semua sudah berpamitan untuk pulang. Begitu juga dengan keluarga ibu Ramini. Mereka juga harus pulang, karena mengingat perjalanan yang cukup jauh dan menempuh jarak 2 jam perjalanan.


"Rama, ibu pulang ya?"


"Iya, ibu hati-hati." Ibu Ramini akan pulang bersama dengan Bagas. Seharusnya dengan Andre tapi ibu lebih memilih ikut dengan Bagas.


"Ma, dengar pesan ibu ya. Meskipun kamu bukan anak kandung ibu, tapi kamu adalah anak kandung dari almarhum suamiku. Ibu mau, kamu tidak mencontoh perbuatannya dulu, seperti saudara laki-lakimu yang lain. Ibu harap kamu akan selalu setia kepada istrimu apapun keadaanya. Jika dia salah, maka tegur dia. Jangan kamu mencari wanita lain di luar hanya untuk mengerti dirimu. Semua masalah akan ada jalan keluar, jika di hadapi dengan kepala dingin. Belajar lah dari masa lalu, agar di masa depan kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama." Ucapnya lembut dengan mata yang berkaca-kaca. Sebelumnya ia juga sudah memberi nasehat ini kepada anak-anaknya sewaktu menikah dulu. Tapi, tidak ada yang melaksanakan dengan baik, dan harapan ibu Ramini saat ini, semoga Rama mau mendengarkannya.


"Iya bu, semua akan Rama ingat." Memeluk ibu Ramini.


"Bang, Eva pulang ya? Selamat juga." Menyalim tangan abangnya.


"Kamu jaga ibu ya va. Kalau enggak sibuk, Abang bakal sering datang kesana."

__ADS_1


Eva mengangguk.


Di susul dengan yang lain untuk pamit pulang. Dan kini mereka pun sudah berada di dalam mobil masing-masing, sudah siap untuk melanjutkan perjalanan pulang.


"Gas, ibu ikut ke rumah kamu ya. Pengen nginep disana?"


"Ibu serius?" Kali ini Diana yang menjawab.


"Iya na, boleh kan?"


"Boleh lah bu. Bahkan kalau ibu mau setiap hari juga enggak apa."


"Ya jangan lah kak, nanti aku gimana?" Ternyata masih ada Eva, bahkan Diana melupakannya.


"Iya ya sampai lupa."


"Ya udah, tapi ibu kan enggak bawa ganti baju?"


Tutur Bagas lembut.


"Kita mampir ke rumah dulu lah mas, aku juga ikut nginep lah. Mana mungkin aku di rumah sendiri, takut ah." Benar juga apa yang di katakan Eva.


"Ya udah kalau gitu kita mampir kerumah ibu dulu nanti."


Saat sudah tiba di rumah ibunya, Eva segera turun untuk mengambil beberapa baju ganti untuknya dan ibunya.


"Bu, kenapa ibu mendadak ingin menginap? Ada apa Bu? Ini tidak biasanya, malah kalau aku ngajak ibu ke rumah ibu menolak. Apa ibu merasa sepi di rumah?" Tanya Bagas dengan hati-hati.


"Ibu hanya ingin menikmati waktu lebih lama bersama kalian anak-anak ibu. Sekali dalam setahun bagi ibu sudah cukup gas, rasanya rindu berkumpul." Membuang pandangannya ke arah luar.


"Nenek mau ikut Alif pulang?" Tanya Alif yang saat ini sudah kembali bersama bundanya.


"Iya Alif, boleh kan kalau nenek ikut?"


"Boleh, nanti nenek tidur sama Alif ya? Soalnya Alif tidur sendirian." Ibu Ramini langsung menatap Bagas dan Diana.


"Iya bu. Alif sekarang udah tidur sendiri, soalnya ana kan bakal lahiran, nanti tempat tidurnya nggak cukup, lagian mulai dari sekarang Alif di latih bu. Agar terbiasa nantinya."


Diana menjelaskan, agar ibu mertuanya tidak salah paham atas ucapan anaknya.


"Sudah mas." Eva yang kembali dari rumah dan membawa dua tas yang berisi baju miliknya dan ibunya.


"Ya udah. Enggak ada yang perlu di bawa lagi kan?"


"Enggak kok mas, udah semua." Kembali melihat barang bawaannya.


"Kita cuma satu hari aja kan bu?" Tanya Eva.


"Belum tau, tunggu ibu puas disana." Tersenyum, ibu Ramini hanya menggoda Eva.


"Ah, aku bawa bajunya enggak banyak bu."


"Ada baju kakak kok va, kalau soal dalaman kan bisa di beli nanti. Lagian kenapa sih kalau nginapnya sampai satu Minggu atau sebulan? Wah, pasti kamu ada janji nih ya sama pacar kamu."


Goda Diana.


"Ih apaan sih kak, nggak lah." Eva mengelak.


"Bener va, kamu Uda punya pacar?" Tanya Bagas yang tadinya fokus sekarang ikut nimbrung.


"Enggak mas, cuma teman doang."


"Kalau iya juga enggak apa va. Coba kamu bawa dan kenalkan sama ibu. Selagi ibu masih ada, ibu juga pengen lihat kamu hidup bahagia sama pasangan kamu." Ucap ibunya.


"Jangan gitu ah bu. Aku masih pengen sama ibu. Belum siap buat nikah."


"Yang nyuruh kamu nikah siapa va, ibu kan bilang cuma minta dikenalkan." Protes Bagas.


"Iya iya. Nanti kalau kita pulang ke rumah, bakal Eva bawa kok." Nah, ngaku juga akhirnya.


"Ciee Eva." Goda Diana lagi.


"Ngapain mesti nunggu pulang kerumah va? Kan di ruang mas mu juga bisa, malah lengkap lagi ada kita. Sekalian bisa di kenalin."


"Ya udah, nanti aku suruh orangnya datang."


Satu lagi nih, anak bontot dari keluarga ibu Ramini yang sudah dewasa. Belum pernah sekalipun membawa pasangan ke rumah. Sekali di tantang langsung berani.


Bersambung..


Jangan lupa mampir ya "Dia Bimaku" Butuh dukungan kalian juga, makasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2