
Eva kembali bersama dengan Alif yang membawa beberapa jajanan di tangannya. Ia melihat orang-orang di meja makan telah selesai dengan urusan perut.
Loh kok pada makan? Malah anteng lagi, apa enggak jadi perang tadi? Langsung melirik ke arah Rama yang wajahnya tidak tegang seperti tadi.
"Kamu bawa Alif kemana va? Kenapa lama sekali? Bahkan kami sudah selesai makan." Tegur ibu dengan lembut.
"Ah iya bu, kirain masih lama tadi adegannya?" Kikuk sendiri dengan jawaban yang ia berikan.
"Sudah, kamu ajak Alif makan sekarang, mau makan disini atau di ruang TV."
"Di sini aja lah bu." Menduduki kursi yang masih kosong.
Eva makan di tengah orang yang kini menatapnya. Ia juga bingung, perkara masalahnya sudah sampai dimana, selesai atau belum jelas ia tidak tau.
"Kenapa?" Berbicara dan menghentikan aktivitas mengunyahnya, menatap semua orang yang kini melihatnya makan.
"Pelan-pelan lah va makannya, enggak ada yang minta kok." Bagas menegur adiknya.
"Oh." Kembali melanjutkan makannya. Alif juga ikut makan, dan tentu disuapi oleh ayahnya.
"Mini, sebaiknya kamu buka surat itu, bukankah sekarang hatimu sudah lebih tenang? Mumpung semua anakmu berkumpul disini." Usul Mak Ros.
Mengangguk setuju. Dan setelah Eva selesai makan, ibunya kembali mengajak untuk duduk di ruang tamu. Urusan piring Diana yang mengerjakan. Awalnya Eva ingin sekali membantu, tapi Diana berkata bahwa dalam hal ini ia harus tau, karena mereka yang lebih penting dari dirinya saat ini.
Kembali duduk ditengah-tengah anaknya.
Kali ini ibu Ramini lebih santai saat membuka surat itu, tidak seperti beberapa jam lalu. Mungkin karena semuanya sudah selesai. Surat yang berada di dalam amplop yang sudah kucel, jelas lah karena sudah lama sekali surat itu di tulis oleh pemiliknya.
"Ibu bacakan dengan kuat ya." Rama memberanikan diri bersuara.
Apa? Ibu? Eva protes dalam hati.
Di atas surat tertera tanggal dan tahun surat itu ditulis.
Isi surat.
*Untuk Ramini, aku berharap saat kamu membaca surat ini kamu sudah memaafkan ku. Dan menerima anakku sebagai bagian dari keluarga mu. Aku tau, itu sangat berat untuk mu, tapi semua berawal dari kesalahan ku. Yang bermain api dengan suamimu. Aku tau, maka dari itu sebelumnya aku meminta maaf. Karena aku sendiri tidak tau, siapa yang lebih dulu akan dipanggil oleh yang maha kuasa.
Benar, Bima adalah anak kandungku, dan dia adalah hasil dari perselingkuhan ku dengan suamimu. Semua kulakukan karena aku sangat ingin mempunyai anak, bertahun-tahun aku menjalani hidup tanpa seorang sungguh membuatku sakit, melihatmu yang di karuniai dua orang anak waktu itu sangat membuatku iri, sehingga berpikiran untuk merebut suamimu dan memiliki anak darinya.
Aku sangat bahagia ketika aku mulai mengandung anakku Rama. Tapi, aku juga tau pasti semua orang akan curiga terhadap ku, karena memang suamiku sudah di vonis tidak dapat memiliki anak. Mini, aku sungguh minta maaf. Dan kalau aku yang di panggil lebih dulu pada Allah, aku mohon, aku titip anakku. Walau berat untukmu dan untuk keluargamu menerimanya, tapi hanya kamu yang bisa menjaganya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi, tentu keluarga ku sendiri tidak mau mengurusnya nanti, karena mereka juga tau Rama itu sebenarnya anak siapa.
Aku mohon mini, ijinkanlah Rama ikut bersamamu. Rama tidak bersalah, aku lah yang bersalah karena ambisi ku sendiri. Aku mohon mini, maafkan aku dan terima lah Rama.
Mini, suamimu sangat mencintai mu. Walaupun ia sudah berpaling, tetapi ia bahkan tidak mau waktu itu ku ajak pergi meninggalkan mu. Sungguh, aku adalah wanita yang penuh dosa, tapi semua sudah kurasakan. Di saat aku terpuruk tidak ada satupun orang yang peduli, termasuk keluarga ku sendiri.
Sekali lagi maafkan aku mini*.
Isi surat end.
Ibu Ramini terdiam setelah membacakan surat itu. Begitu juga dengan yang lain. Hanya ada satu orang yang mengeluarkan suara isak tangisnya. Jelas itu adalah Rama.
"Kenapa, kenapa aku harus terlahir sebagai anak haram? Kenapa." Menutup kedua wajahnya dengan tangan.
"Jika aku boleh memilih, lebih baik aku tidak usah terlahir ke dunia."
"Rama, tidak ada yang namanya anak haram, semua anak yang lahir suci dihadapan Allah, sudah. Jangan meratapi nasib, lebih baik memperbaikinya." Nasehat Mak Ros, dan mengelus punggung Rama.
"Tapi Mak, aku sekarang malu melihat kelakuan ibuku." Menggeleng kan kepalanya.
"Sudah, harusnya kamu bersyukur, keluarga ibu Ramini telah menerima kamu, menerima kalau kamu memang saudara kandung anaknya."
"Maaf mak." Mencoba istighfar atas apa yang telah ia ucapkan.
"Jadi bagaimana mini? Apa kamu sudah lebih baik sekarang?" Tanya mak Ros dengan lembut.
__ADS_1
"Aku telah menerimanya, insyaallah aku ikhlas. Aku akan lebih berdosa jika tidak memaafkan orang yang telah tiada. Kini tinggal aku yang menunggu ajal ku, kembali bersama suamiku."
"Ibu, ibu bicara apa!" Andre yang sejak tadi hanya diam kembali protes saat ibunya mulai menyebut soal kematian.
"Andre, ingat pesan ibu. Pertahankan lah wanita yang selalu memaafkan kesalahan mu."
"Bu, Dira. Dira tidak pernah bersyukur setiap rezeki yang aku dapat, ia selalu berpikir kurang, kurang dan kurang. Jadi bukan salahku mencari penggantinya. Bu, ah sudahlah bu. Terserah kalian menganggap aku bagaimana saat ini, kalian belum tau aja gimana. Tapi ini semua udah jadi masalah aku bu." Iya enggan menceritakan kebusukan istrinya, mungkin ada sebab ia meninggal kan istrinya dan memilih wanita lain yang jauh lebih muda.
"Sudah mas. Sudah, kita sama, hanya aja istri kita berbeda."
"Iya, selesaikan lah masalah kalian dengan sendirinya. Karena semua juga kalian yang berbuat." Akhirnya Mak Ros angkat bicara.
"Ros, aku ingin pergi ke makam ibunya Rama. Bisakah kamu antar aku kesana?"
Mak Ros langsung mengangguk, dan menatap Rama.
...***...
"Ini, ini makam ibuku." Menunjuk salah satu kuburan yang telah ditumbuhi rumput kecil, nampak jika tidak ada yang berziarah ke makamnya.
"Apa kamu sering kesini?" Pertanyaan yang di lontarkan untuk Rama.
Hari ini, Ramini pergi ke makam bersama Eva dan juga Mak Ros. Tentu Rama juga ikut, karena ia yang hafal dimana letak makam ibunya. Bagas dan Andre tidak ikut, karena Bagas telah memulai pekerjaannya hari ini. Sementara Andre, ia juga memiliki urusan yang jauh lebih penting.
"Aku kesini kok bu, tapi jika aku keluar kota aku tidak sempat kesini." Memegang batu nisan ibunya.
"Ya udah. Mari kita doakan ibumu. Agar ia tenang dan ditempatkan di surganya Allah." ibu Ramini telah mempersiapkan Yasin, sengaja ia bawa untuk di baca dan mendoakan ibunya Rama.
Meski, dulu dia adalah perusak rumah tangganya, tapi ibu Ramini yakin, bahwa ibunya Rama telah menyesali kesalahannya sebelum kembali ke sang pencipta.
Aku mencoba ikhlas. Sungguh, tenang lah kamu disana.
Setelah selesai berziarah, Rama kembali mengantar ibu Ramini dan Eva pulang ke kota. Dan Mak Ros, tidak bisa ikut, karena ada warung yang harus ia buka hari ini.
"Ros terima kasih banyak, semua karena bantuan mu. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah." Memeluk hangat sahabatnya itu.
"Pasti, aku pulang ya Ros."
"Mak Ros, Eva juga pamit ya." Menyalim tangan mak Ros dengan sopan.
"Hati-hati." Ucapan terakhir setelah mereka memasuki mobil, siap untuk pulang.
"Bu, boleh kah aku menginap di rumah ibu malam ini? Karena besok aku kembali bekerja di luar kota." Ucap Rama dengan hati-hati.
"Boleh, gimana Eva?" Menanyakan hal ini dengan anaknya terlebih dahulu. Rama melihat dari kaca kemudi, ia ingin tau reaksi yang Eva berikan.
"Terserah ibu." Jawabnya, tak mengalihkan pandangannya dari luar jendela.
Aku tau va, sangat berat bagimu menerima ku sebagai keluarga mu. Tapi ini kenyatannya, aku adalah Abang mu, batin Rama.
Ibu menghela nafas.
"Rama, maaf. Mungkin lain waktu, Eva saat ini masih belum bisa menerimamu."
Rama hanya diam dan tak menjawab. Sedikit banyak ada rasa kecewa di hatinya.
Setelah beberapa jam perjalanan. Mereka sampai di rumah ibu Ramini. Eva dan ibu turun dari mobil dan di ikuti oleh Rama.
"Bu, tunggu."
"Iya, ada apa."
"Aku langsung pamit bu, maaf atas semuanya."
Ibu Ramini tersenyum. Rama langsung mencium tangan ibu Ramini, yang berstatus sebagai ibu tirinya saat ini.
__ADS_1
"Udah bang enggak usah pulang, ya udah nginap di rumah ibu aja." Eva berbalik badan.
"Kamu serius va?" Tanya Rama yang masih tak percaya mendengar itu langsung dari mulut adiknya.
"Iya, maaf kalau aku tadi bersikap tidak baik." Kembali berjalan memasuki rumahnya. Rama menatap ibu Ramini.
"Masuk lah nak." Tersenyum hangat.
"Terima kasih bu."
Malam ini, malam kehangatan bagi Rama. Kembali hidup bersama keluarga, keluarga yang sudah lama meninggalkan. Tentu semua ini berhubungan oleh Diana, karenanya jugalah, masa lalu yang harusnya menjadi dendam, bisa menjadi kehangatan yang saat ini orang lain rasakan.
Benar, benar kata pepatah. Jika ada suatu masalah, ambilah hikmah yang ada, karena tidak semua masalah akan tetap berujung dengan masalah.
Mengertilah, semua keadaan yang sangat buruk sekalipun akan kembali baik, jika hati kita ikhlas memaafkan. Dan ikhlas atas jalan yang Allah berikan.
Dan malam ini, Rama menjalin hubungan hangat dengan keluarga barunya.
"Bu, aku mau bicara."
Memegang tangan ibu Ramini.
"Katakanlah."
"Bu, sebenarnya aku sudah bertunangan, aku sudah mempunyai kekasih. Sebulan lagi ia akan pulang ke tanah air. Dan aku akan segera menikahinya." Berbicara dengan serius.
"Abang serius?" Eva tidak menyangka jika Rama pun telah mempunyai kekasih, bahkan sudah bertunangan.
Rama mengangguk.
"Ya udah, ingat Rama. Jangan mencontoh perbuatan yang tidak baik. Jangan pernah menyakiti hati wanita."
Pesan yang akan selalu Rama ingat.
"Iya bu. Tapi, aku ingin ibu hadir dan mengantarkan aku menikah nanti, aku ingin ibu mengantarkan ku sebagai keluarga dari mempelai pria."
"Baik, jika ibu masih di beri kesehatan ibu akan mengantarkan kamu."
"Makasih banyak bu." Memeluk ibu tirinya dengan penuh ketulusan.
"Apa hanya ibu?" Tanya Eva.
"Tentu kalian semua, kalian semua kan keluarga Abang sekarang va. Apa lagi kamu, kamu adik Abang." Mata Rama tampak berkaca setelah mengatakan hal itu.
"Baik, aku akan ikut. Tapi, kenalkan dulu calonnya lah."
"Boleh, dan itu pasti. Nanti akan Abang bawa kesini setelah untuk diperkenalkan." Mantap dengan keputusannya saat ini.
"Bu, bagaimana jika bang Rama tinggal disini aja?" Usul yang sangat ingin Rama bicarakan, bahkan Rama tak menyangka Eva punya inisiatif seperti itu. Padahal tadinya ia sangat tidak ingin menerima Rama. Tapi setelah tau rumah akan lebih terlihat kembali hidup dan ramai, ketika adanya keluarga, ia memutuskan untuk Rama tinggal disini.
"Apa itu boleh?" Tanya Rama menatap wajah ibunya saat ini.
"Bagaimana pun, rumah ini juga peninggalan ayah Eva, dan juga ayahmu. Jadi jika adikmu yang menginginkannya ibu juga memperbolehkan."
"Bu." Kembali Rama memeluk ibu Ramini. Kali ini Eva juga ikut memeluk mereka.
Kenapa aku sangat merasa di sayangi oleh keluarga sekarang, bahkan dulu keluarga ayahku dan ibuku, tidak pernah berbuat baik padaku.
Ada setetes air mata bahagia yang jatuh tanpa bisa ia tahan. Rasanya, ini seperti mimpi.
Dan, Eva langsung menghubungi saudaranya yang lain, meminta persetujuan atas apa yang telah ia ucapkan tadi. Dan Alhamdulillah mereka tidak keberatan, mereka juga berpikir positif saat ini, setidaknya masih ada yang menjaga ibunya di rumah, sebelum Rama menikah nanti.
Kenapa secepat itu Eva menerimanya? Iya, karena ia tidak terlalu tau kejadian yang dulu. Sebab ia belum lahir waktu itu, dan hanya mendengar semuanya dari ibu dan saudaranya. Jadi, ia tidak terlalu merasakan sakit seperti saudaranya yang lain.
Bersambung..
__ADS_1
Hai, hai, ayo mampir ya jangan lupa. Novel baru author udah up. Judulnya "Dia Bimaku" dijamin juga tak kalah menarik kok. Sudah up beberapa bab. Jangan lupa mampir ya💋💋