Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 67


__ADS_3

Ruang kosong ini menjadi saksi dimana kejahatan sudah direncanakan. Dimana dua orang saling membutuhkan, tenaga dan uang. Uang adalah jadi alasan orang lain untuk melakukan hal apapun. Apa lagi di saat terdesak, istrinya harus di operasi dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan berat hati ia mau melakukannya.


"Maaf dari mana anda tau kalau istri saya sakit dan saya butuh banyak uang?" Bertanya pada sosok lelaki yang akan menyuruhnya melakukan hal nekat itu.


"Bukankah itu berbahaya? Kalau saya di penjara bagaimana?" Masih tetap meragu.


"Tenang, saya akan tanggung jawab." Suara tawa kembali terdengar.


"Tapi."


"Mau atau tidak?" Pertanyaan terakhir setelah membahas ini cukup lama.


"Saya mau." Akhirnya memilih jalan yang salah demi kesembuhan istrinya.


"Oke, sore ini akan segera saya kirim uangnya dan hari ini juga kamu datang kesana, sesuai perintah saya." Tertawa lagi.


Semua rencana telah ia siapkan dengan matang. Dengan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tentu ini semua karena dendam.


"Kabarin saya kalau sudah kamu selesaikan."


Lelaki itu keluar dan kembali merapikan jasnya. Meninggalkan orang suruhannya, tinggal menunggu kabar apa yang akan ia dengar nantinya.


***


"Pak, kenapa saya harus di bawa ke kantor polisi?" Dengan nafas yang tidak teratur dan degup jantung yang bergemuruh.


"Mana saya tau! Bukan kah saya sudah bilang kamu harus menutupi seluruh wajahmu." Bentaknya, masih duduk santai di kursi ke bersarannya.


"Tapi, anda sudah menjamin keselamatan saya, bagaimana nasib anak dan istri saya nanti?"


Satu hari setelah tugas yang ia kerjakan selesai, ia kembali datang dan meminta bantuan karena akan di tangkap petugas. Berita itu sudah terdengar karena tetangganya menelfon ada dua orang petugas yang datang mencarinya ke rumah.


"Tolong saya, mungkin pihak berwajib akan segera datang kesini!!" Berlutut dan memohon.


"Kamu sekarang pergi dari sini." Ucapnya sedikit panik setelah menerima telfon kalau ada yang mencarinya.


Wajahnya juga nampak khawatir, karena ia sendiri tak menyangka kalau rencananya akan gagal.


Dia adalah lelaki yang menjebak Bagas, dengan tujuan balas dendam. Tapi kenapa? Apa masalahnya? Dan siapa dia?


"Jangan bergerak, segera ikut kami ke kantor!!" Langsung menodong pistol, dan segera membawa OB itu pergi.


Ya memang dia lah orangnya, orang baik yang sangat membutuhkan uang. Karena alasan tertentu.


"Pak, jangan bawa saya, tapi saya hanya di suruh pak." Memohon, tapi petugas tetap menyeretnya keluar.


"Kamu bisa jelaskan ke kantor polisi nantinya."


Lelaki itu terus menangis, membayangkan bagaimana nasib anak dan istrinya nanti. Polisi langsung menelfon pihak yang bersangkutan, yakni Bagas.


Saat sampai, terlihat Bagas dan Anton sudah sampai lebih dulu. Semuanya berkumpul.

__ADS_1


Lelaki yang berkerja dengan status sebagai OB itu, menunduk tidak berani menatap Bagas.


"Katakan memang benar kamu yang melakukannya?" Petugas mulai mengintrogasi.


"Sa saya hanya disuruh pak, saya di bayar. Karena saya sangat membutuhkan uang. Istri saya akan melakukan operasi pak." Dengan suara bergetar ia berbicara.


"Siapa? Siapa orangnya?" Bagas yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Jangan gegabah kita dengar dulu dia berbicara." Anton berbisik.


"Direktur pak, direktur yang nyuruh saya."


Bagas langsung berdiri dari duduknya, emosi tidak terkendali.


Mana mungkin! Mana mungkin dia tega berbuat seperti itu!!!


"Kamu jangan menuduh?" Bagas masih tidak percaya.


"Saudara Bagas, silahkan duduk dulu." Perintah yang tegas dan tidak bisa di bantah.


Petugas langsung memberi perintah kepada anggota yang lain, untuk segera membawa orang yang namanya sudah di sebut.


"Sekarang juga!" Perintah tegas kembali ia katakan.


Alhasil, Bagas, Anton dan juga tersangka harus menunggu kedatangan otak dari kejadian ini.


"Katakan."


Bagas tau OB itu akan mengatakan sesuatu kepadanya.


Tapi kenapa dia memanggil aku untuk bekerja kembali. Apa maksudnya ini.


Bagas tidak bertanya lagi, nampaknya yang di tanya memang tidak tau saat ini mereka hanya diam. Menunggu pelaku utama datang. 2 jam menunggu dan petugas datang bersama direktur. Ia masuk dan melirik ke arah Bagas dengan senyum mengejek.


Apa maksudnya?


"Kamu diam, biar dia menjelaskan." Peringatan Anton sebelum Bagas terbawa emosi lagi.


"Apa benar anda yang menyuruhnya untuk melakukan ini?" Menunjuk ke arah OB.


"Kalau dia bicara begitu, saya bisa apa pak?" Tidak ada wajah ketegangan disana. Anton yang semula memperingatkan Bagas agar jangan emosi, malah kini ia sendiri yang terbawa emosi. Melihat orang yang melakukan kejahatan masih bisa santai ketika di tanya oleh petugas.


Ada yang tidak beres sepertinya.


"Apa maksud anda melakukan ini?" Bertanya lagi.


"Saya tidak suka para baji**an ini menyakiti keponakan saya." Bagas sontak membulatkan matanya, maksudnya siapa yang keponakannya?


"Jelaskan lebih detail." Menunggu dan siap mencatat setiap ungkapan yang akan di ucapkan tersangka utama.


"Baik, akan saya jelaskan. Darma, yang telah membuat keponakan saya hamil, dan dia." Menunjuk ke arah Bagas. "Dia tega menuntut dan memenjarakan tanpa mengerti kondisinya bagaimana. Keponakan saya juga harus keguguran, seharusnya ia memulihkan kondisinya, tapi saat itu juga ia harus berada dalam jeruji besi. Saya melakukan ini, setidaknya agar dia juga tau, bagaimana rasanya berada di dalam sel tahanan." Wajahnya memerah menahan emosi.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu kaget kalau Risah adalah keponakan saya?" Tertawa. "Saya adalah adik kandung ayahnya, apa kamu tidak berpikir, wanita seperti Risah bisa bekerja di kantor dengan jabatan yang tidak rendah, walaupun kuliahnya tidak sampai selesai. Saya tau kalau dulu beredar berita miring, tapi saya tutup telinga demi membantunya. Tentu sampai saat ini Risah tidak tau kalau saya adalah pamannya. Yang tau hanya ibunya, ibunya yang meminta saya menolongnya agar Risah bisa bekerja. Hahaha, kasian sekali nasib kamu Risah." Mirip dengan psikopat setelah tertawa wajahnya bisa langsung berubah jadi sendu.


"Saya rasa cukup, ini memang tindak kriminal dan sekarang anda saya tahan, tunggu sampai sidang memutuskan hukuman untuk anda." Bersiap membawa direktur ke dalam sel tahanan.


Dan untuk OB itu, Anton menjaminnya. Ya, lagi-lagi Anton, Anton harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sehingga ia bisa menjadi tahanan luar yang setiap seminggu sekali melapor ke kantor polisi dan tanda tangan. Tapi jika semasa ia menjadi tahanan luar, sekali saja membuat kesalahan yang bisa melibatkan kepolisian, maka hukumannya akan semakin berat.


"Mas, terima kasih banyak. Maaf kan saya, maaf." Berlutut di hadapan kaki Anton.


"Bangun lah, pulang sekarang temui istrimu."


"Terima kasih mas."


OB tersebut langsung mencari angkutan umum untuk ia pulang ke rumah. Untuk pekerjaan juga sudah tidak lagi terpikir olehnya, yang terpenting ia masih bisa melihat istri dan anaknya.


"Mas, jadi waktu itu yang Risah datang saat sidang putusan, dia baru saja keguguran?" Bagas bertanya setelah di dalam mobil dalam perjalanan pulang.


"Iya mungkin." Ternyata Anton masih menutupinya dari Bagas.


"Apa aku bersalah mas?"


"Dari awal kamu sudah salah. Ya mungkin semua ini adalah karma yang harus kamu jalani, rasa bersalah!" Tak mengalihkan pandangannya dari jalan raya, untuk terus fokus mengemudi.


Bagas terdiam mencerna semua perkataan Anton.


Bukan maksudku kembali memikirkan Risah. Tapi saat ini memang benar apa kata mas Anton, karma ku datang, yaitu rasa bersalah yang tak bisa hilang dari pikiran ku.


***


Seminggu sudah setelah kejadian itu, dan direktur juga hanya dua hari di dalam sel tahanan, setelah itu dia sudah bebas. Tetapi untuk pimpinan kantor ia percayakan kepada sekretaris nya. Sementara direktur pergi keluar negeri, entah apa tujuannya juga semua orang tidak tau. Tentu ia bisa bebas, dengan menggunakan uang.


Bagas sekarang juga sudah tidak lagi bekerja di kantor, kali ini ia benar-benar mengundurkan diri, tanpa menulis surat dan datang ke kantor. Setelah hari dimana ia diseret paksa oleh polisi dari kantor, Bagas tidak lagi pernah menginjak kakinya disana.


Siang ini, acara pernikahan Eva akan dilaksanakan. Secepat itu? Iya, setelah Bagas sudah menyelesaikan semua masalahnya dengan pihak berwajib, Eva mengutarakan isi hatinya. Yakni mau menerima lamaran itu. Tiga hari lalu keluarga Abim telah datang. Dan, hari ini pernikahan akan segera di langsungkan. Itu adalah bukti bahwa Abim memang memiliki keseriusan dan mantap dengan semua perkataannya waktu itu.


Acara pernikahannya juga sama seperti Rama. Hanya keluarga saja yang datang. Tidak ada orang lain yang di undang, ini memang jelas permintaan kedua mempelai. Semua juga sama-sama di sepakati sehingga tidak menimbulkan ricuh di akhir nantinya.


"Yah, ayah tampan sekali pakai batik itu." Memuji dengan mata berbinar. "Bahkan lebih tampan dari mempelai pria." Memuji lagi.


"Iya sayang, makasih. Ayo kita masuk."


Kali ini, Anton tidak bisa hadir, karena sudah banyak pekerjaan yang ia tunda karena membantu adik iparnya. Tentu Mita juga tidak akan hadir tanpa suami tercintanya itu.


Setelah semua sudah berkumpul, dan berbincang pada kerabat masing-masing. Tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan, dan sontak jadi sunyi karena tidak ada yang berbicara lagi.


"Cantik sekali, ya ampun." Begitu lah setiap kata yang di ucap oleh para keluarga yang hadir. Kekaguman melihat pengantin wanita yang memang sangat memancarkan aura keindahannya di hari ini.


Eva duduk di samping Abim dengan menunduk malu. Abim tersenyum melihatnya, kedua lesung pipinya langsung bisa terlihat jika ia sudah tersenyum.


Doa mulai terdengar setelah ijab qobul telah di ucapkan, satu tarikan nafas dan hanya satu kali mengucap Abim mampu memperistri Eva. Dengan lembut ia mengecup kening wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


Sampai di sore hari, semua kembali pulang. Bagas memutuskan untuk menginap malam ini, hanya menginap bukan menganggu malam pertama pengantin. Diana juga setuju, apa lagi saat ini Bagas belum bekerja, jadi tidak akan ada waktu yang mengejar nya.

__ADS_1


***


Hai, hai. Beberapa BAB lagi novel ini tamat ya, bakal pisah sama mas Anton dan Diana dong. maaf ya, kalau di novel ini masih banyak kekurangan aku dalam menulis, karena ini merupakan novel pertamaku yang di baca jutaan orang. Dulu, sewaktu SD aku juga udah nulis cerpen gtu, di buku. Sampai SMA juga, tapi baru kali ini berani nulis untuk di baca semua orang. Huh, ada rasa takut juga kalau udah dikomentar yang kasar gtu, sempet down juga. Tapi makasih banyak yaπŸ™πŸ™πŸ™ Untuk kedepannya aku bakal belajar lagi supaya jadi penulis yang baik. Dan novel di "Dia Bimaku" Sangat jauh berbeda dengan novel ini. Karena sebenarnya, hal ini ibuku sendiri yang mengalami, hehe jadi kalau ada yang bilang wanita sudah di selingkuhi masih mau itu tandanya bodoh, bukan dia bukan bodoh, ibuku tidak bodoh. Hanya memikirkan perasaan anak-anaknya. Makasih ya sekali lagiπŸ™πŸ™


__ADS_2