
Bagas terus melewati masa kecanggungan selama berada dirumah kakak iparnya. Bagaimana tidak setiap kata yang ia ucapkan hanyalah kebohongan.
Kadang dia berpikir bahwa ini bukanlah dirinya, bukanlah dirinya yang selalu menutupi segala apapun yang terjadi terhadap istrinya. Semua sudah terlanjur, berhenti atau terus tetap saja akan membuat Diana patah hati.
"Sayang, kita pulang ya? Udah hampir sore ayah lelah pengen istirahat sebentar." Sambil berbisik ditelinga Diana.
Diana hanya menjawab dengan anggukan.
"Alif, kita pulang ya nak? Udah hampir sore."
"Iya lif, besok-besok bisa main kesini lagi, kasian ayah kamu capek mau istirahat." Sambung Anton.
"Tapi pakde, mainannya boleh Alif bawa pulang kan?" Tanyanya dan menatap Anton.
"Boleh dong sayang, mobil pakde kamu bawa pun boleh untuk mainan kamu dirumah."
semua sontak tertawa hanya Alif yang tidak mengerti dan menatap Anton bingung.
"Beneran pakde?"
"Iya boleh sayang, biar Alif sama bunda pengen kesini kapan pun jadi bisa." Kali ini ternyata dia serius loh.
"Mas, apaan sih ah. Enggak Alif pakde hanya bercanda, udah ayo kita pulang." Tegas sang bunda.
"Na, mas serius. Mas baru beli mobil lagi yang keluaran terbaru karena kemarin waktu mas keluar kota hasil pabrik mas yang diluar kota mendapat penjualan terbanyak.
Kamu bisa bawa mobil mas, jadi kalau kamu mau kemana-mana, atau kamu ingin datang kesini enggak perlu nunggu Bagas. Lagian untuk apa tiga mobil ada di rumah, mas mau jual sayang, yaudah lebih baik di pakai kamu aja, enggak apa."
Bagas merasa ini seperti mas Anton memberi peluang untuk Diana selalu ingin pergi keluar rumah. Tentu ia tidak suka.
"Mas, nanti malah Diana sering keluar kemana-mana kalau sudah ada mobil." Jawab Bagas.
"Mau keluar kemana pun Diana, mas yakin kok gas dia bakalan selalu ijin sama kamu, sekalipun itu kerumah kakaknya atau ke pemakaman orang tuanya, mas yakin dia bakal ijin ke kamu. Dan kalau kamu enggak ngasih ijin juga pasti dia bakal nurut enggak bakal keluar." Jawabnya santai.
Aku tau tujuan mas Anton pasti bantu aku, aku paham sekarang maksudnya. Diana.
"Yaudah gas enggak apa-apa juga, jadi kalau Diana mau pergi kan enggak harus kamu yang ngalah jadi bawa motor." Bela Mita.
Bagas yang merasa kalah hanya mengangguk pasrah.
"Jadi gimana na? Kamu mau?" Tanya Anton lagi.
"Diana ya mau lah mas, apalagi mas yang ngasih. Enggak ada kata segan lagi hehe." Sambil nyengir menampakan deretan giginya.
"Dasar kamu ya. Yaudah kalau gitu kalian pulangnya bawa mobil sendiri-sendiri. Bawa itu oleh-oleh yang mas beli untuk kamu sama Bagas."
"Bagas dapet juga ni mas?" Tanyanya.
"Iya lah gas, kamu kira mas lupa apa masih ada adik satu lagi." Jawabnya.
"Makasih banyak ya mas." Ucapnya tulus.
Akhirnya Diana pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Saat tiba di persimpangan nampak Bagas turun dari mobilnya. Tapi Diana hanya melirik dari arah sepion mobil karena Bagas berada dibelakang Diana. Alif juga ikut bersama Bagas.
Diana terus mengendarai mobilnya hingga menuju rumah tanpa menghiraukan Bagas lagi.
Hingga hampir setengah jam Bagas tak kunjung sampai ke rumah. Diana bolak balik mengintip keluar jendela.
Mau nelfon malas, enggak di telfon dia bawa Alif. Gerutunya.
Tutt.. Suara telpon menyambung.
"Hallo assalamualaikum."
"(Ya walaikumsalam. Ada apa sayang?)"
"Kok belum sampai? Emangnya mampir kemana? Tadi kenapa turun dari mobil?"
"(Iya Alif minta di belikan sesuatu sayang. Ini juga Uda jalan pulang kok)."
"Oh. Iya yaudah kalau gitu hati-hati."
Diana mematikan sambungan telfon.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki garasi. Ya sudah pasti itu Bagas.
__ADS_1
"Assalamualaikum bunda."
"Walaikumsalam sayang." Diana berjalan ke arah pintu rumah.
"Tadi minta beli apa sama ayah? Jangan gitu dong sayang, Alif kan tadi udah dapet mainan banyak dari pakde, masak minta lagi sama ayah." Nasehat Diana kepada Alif.
"Alif enggak minta apa-apa kok bunda, ayah yang beli bunga banyak banget."
Diana langsung melihat ke arah Bagas. Bagas yang tak bergeming dan langsung masuk kerumahnya.
Bunga? Bunga untuk apa? Dan untuk siapa? Dia bertanya-tanya.
"Itu ayah tadi lewat ternyata ada yang jual bunga seperti yang ada dirumah, bunga kesayangan kamu itu. Tapi yang ini cantik jadi ayah beli buat nambah koleksi kamu, coba liat aja ke depan." Jawab Bagas.
Diana yang penasaran langsung berjalan kedepan melihat apa yang di katakan oleh suaminya.
Dan betapa kagetnya dia setelah melihat ada dua bunga jenis lompong dengan motif yang ingin sekali ia beli. Dan ada tiga jenis kaktus yang berbentuk unik.
Ini cantik sekali yaampun. Aku nyari kenapa enggak pernah ada yang jual? Dan ini malah ada dipinggir jalan yang sering aku lewati. Oh ya ampun ayah, rupanya tau nyogok istri dengan cara begini hahaha.
"Yah, makasih ya." Teriaknya girang.
...***...
Malam menjelang, Alif yang sudah terlelap karena seharian tidak ada tidur dan langsung nyenyak, juga enggak rewel seperti biasanya.
Ya mungkin karena ada ayah nya ada dirumah. Biasanya kan ia rewel hanya karena ayah nya tak kunjung pulang.
"Sayang, kita belum buka oleh-oleh dari mas Anton." Tegur Bagas dan melihat ke arah istrinya yang tidur memeluk anaknya.
"Yaudah iya. Sampai lupa karena ngurusin tanaman tadi."
Tas kecil yang katanya untuk Bagas lah yang pertama kali mereka buka. Ternyata isinya kemeja berwarna merah dan juga jam tangan. Bagas kaget sampai mengucek matanya, harga jam yang di hadiah kan mas Anton lumayan fantastis.
Tas kedua kemudian mereka buka. Berat sih, mereka saling pandang dan membuka. Wow ternyata ada barbel kecil yang serbaguna, untuk khusus olahraga saat dirumah. Diana mengerutkan keningnya, yaiyalaa heran kenapa harus ini hadiah untuknya? Sementara Bagas mendapatkan oleh-oleh yang fantastis.
Dan terakhir ada tas ketiga. Bagas menyerahkan sepenuhnya untuk Diana yang membuka. Diana mengintip dahulu, lalu perlahan membuka dan mengeluarkan isinya.
"Liontin sepasang." Ia bingung dan menatap Bagas.
"Gaun. Tapi kenapa ukuranya sangat kecil? Ih nyebelin banget sih mas Anton ah. Enggak lucu ini mah, masak kamu dapet yang pas kenapa Ana dapet yang beginian? Malah enggak ada yang bisa di pakai lagi ah!!!" Diana frustasi sendiri.
Awas kamu ya mas. Diana.
"Udah sayang? Ambil sisi positif aja dong. Mungkin mas Anton ngasih kamu alat olahraga supaya bisa kamu pakai dirumah, lagian juga kan kamu yang bilang sayang kalau kamu lagi proses diet." Ungkapnya lembut sambil memegang tangan istrinya. Diana menoleh sebentar ke arah Bagas.
"Tapi liontin ini yah? Dan baju ini? Apa coba maksudnya? Bagus sih bajunya, tapi kan mana mungkin lah yah muat sama Ana." Ia kembali mengerutkan bibirnya.
Bagas diam dan tiba-tiba langsung mengecup bibir istrinya. Diana yang kaget langsung reflek memukul lengan suaminya.
"Sayang marah-marah terus. Lebih bagus kalau diam dan menanyakan hal ini esok sama mas Anton. Dan liontin itu, itukan sepasang sayang. Artinya untuk kita berdua kan? Berarti maksud mas Anton ya supaya kita couple."
Diana mengangguk.
"Kita tidur ya? Besok ayah temani kamu lari pagi. Besok kan masih hari weekend jadi ayah masih libur. Gimana mau enggak?" Bagas menaik turun kan alisnya.
"Beneran yah? Ayah serius? Jadi ayah juga dukung ana buat diet?" Tanyanya antusias seperti anak kecil menang lotre.
"Iya sayang, tapi itu tergantung."
"Tergantung apa yah?"
"Tergantung sayang malam ini gimana, sayang harus latihan dulu." Sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Ayaaaah!!!" Pekiknya.
"Sstt.. Sayang jangan teriak kencang-kencang. Nanti Alif bangun. Ayah enggak mau ya olahraga malam ini setengah-setengah. Kita pindah aja ke kamar sebelah ya." Ucapnya dan terus membelai rambut Diana.
Kalau Diana menolak artinya munafik dong ya? Dan kalau Diana berani menolak juga itu dosa loh!!
Akhirnya iya mengangguk.
Saat Bagas berhasil melepas seluruh baju atasan miliknya. Diana melihat sesuatu yang sangat membuat hatinya bak gelas yang di banting, iya hancur berkeping-keping.
Mungkin itulah yang saat ini ia rasakan. Diana menatap Bagas tidak percaya, apakah ini mimpi? Bukan, jelas bukan. Malah seharusnya kalian lah yang menciptakan mimpi malam ini .
__ADS_1
Ada beberapa tanda kissmark di tubuh Bagas, dan itu terlihat sangat jelas. Apa Bagas tidak menyadarinya?
Oh sungguh ini diluar dugaan Diana, sungguh. Tangannya bergetar.
Sungguh Diana berniat untuk sabar tapi, hanya melihat tanda itu bukankah sudah menjelaskan semuanya? Kemana dia semalam. Dan Diana kali ini sudah yakin seratus persen. Dia menginap di hotel bersama wanita.
Kalau sudah begini aku harus apa? Harus bersikap seperti apa? Begitulah yang ia pikirkan saat ini.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Bagas yang melihat Diana terdiam dan wajahnya memerah.
"Sayang? Katakan ada apa? Kamu sakit? Apa yang kamu rasain? Sayang?" Tanya Bagas berulang-ulang.
"Enggak apa kok yah. Itu dada kamu kenapa? Merah semua? Gatal-gatal ya?"
Duarr..
Bak di Samber petir. Bagas gagap mau berucap susah, dan ia bingung harus alasan apa lagi. Karena sudah jelas Diana tau kalau ini adalah tanda kepemilikan.
"Ana ambilkan salep sebentar ya. Biar Ana obatin." Diana pergi tanpa melihat tanda itu lagi.
Baru selangkah keluar pintu air matanya sudah jatuh. Ia tak perduli dan terus berjalan ke arah dapur untuk mengambil salep yang ada di kotak p3k.
Inikah yang harus aku hadapi ketika aku memutuskan untuk bersabar? Yaallah kuatkan hambamu ini yaallah. hamba mohon kuatkan hamba. Kali ini hamba sudah yakin kalau memang suami hamba selingkuh. Beri petunjuk untuk hamba yaallah.
Diana berusaha menghapus semua bekas air matanya. Dan jangan sampai Bagas tau kalau ia menangis. Biarlah dianggap bodoh untuk saat ini, pikirnya.
"Sayang ini cuma gatal biasa kok." Diana tak menjawab dan terus mengobati lukanya, kissmark maksudnya.
"Mungkin alergi makanan, Ayah kan enggak bisa makan udang, kemarin pas lagi ketemu klien ayah, ayah ngajak makan dan ternyata makanan yang ayah makan ada udangnya. Jadi ya mungkin begini lah."
Bohong kamu yah, semua yang kamu ucap bohong. Kalau kamu biasanya kumat itu wajahnya yang gatal bukan tubuhnya. Dan tidak di area tertentu seperti ini.
"Yaudah kita balik ke kamar aja lagi, ayah istirahat aja. Besok enggak usah temani Ana untuk lari pagi. Ana mau olahraga dirumah aja pakai alat yang di beri mas Anton untuk Ana." Tegasnya.
"Tapi sayang."
Diana beranjak pergi ke kamar. Dan meninggalkan Bagas yang kalang kabut pikirannya.
Huhh.. Untung Uda beronde-ronde sama Risah semalam. Kalau tidak kasian jaguar ku harus gagal ke sekian kalinya.
...***...
Anton
Bukan tanpa sengaja aku membeli alat olahraga untuk Diana, dan juga gaun mewah cantik untuknya. Aku yakin setelah ia membuka pasti dia mengutuk aku habis-habisan. Aku paham dia seperti apa. Pintar tapi terkadang bodoh.
Maksudku supaya dia mau olahraga dan mempercantik dirinya melalui proses penurunan berat badan. Dan gaun yang aku kasih bakal muat dan cocok untuknya ketika ia sudah berhasil menurunkan berat badannya.
Dan ternyata malah ia bilang kalau dia lagi mau diet lah. Nah ternyata pas kan, aku enggak salah pilih. Padahal cuma adik ipar tapi ikatan batin antara kami ada, ya mungkin karena aku tulus menyayangi nya seperti adik kandung ku sendiri.
Aku juga tinggal menunggu telfon darinya yang akan marah-marah ahhaha.
Dan mengenai liontin itu, bukan hanya sekedar liontin biasa.
Dia seperti liontin yang memiliki koneksi melalui bluetooth, jadi ketika mereka (Bagas dan Diana) memakai kalung itu dengan jarak beberapa meter, liontin itu akan mengedipkan lampu dan bergetar. Aku akan mengajarinya nanti, aku yakin pasti dia akan menghubungi ku.
Bagaimana cara mengaturnya akan aku ajari, dan hanya miliknya saja yang di aktifkan. Jadi dia bisa tau keberadaan Bagas tapi tidak dengan Bagas. Dia enggak akan tau kalau Diana ada di dekatnya. Jenius aku kan.
Aku juga tau Bagas sudah mulai bermain api diluar sana bersama gadis muda. Bukan sulit untukku mencari tau hal seperti itu. Tapi ini ku lakukan tanpa sepengetahuan istriku. Ya jelas karena aku sendiri enggak mau liat istriku menjadi kepikiran masalah adiknya ini.
Apalagi itu bisa mempengaruhi kesehatannya, malah bisa gagal total rencana kami memiliki anak.
Aku dan Mita sudah konsultasi ke dokter dan tinggal menunggu satu tahun ini hasilnya gimana. Untuk semua biaya yang aku keluarkan aku enggak pernah mengeluh, karena aku yakin Allah enggak tidur, ia pasti akan menghadirkan sesuatu yang indah dalam hidup kami. Dengan usaha dan doa yang kami lakukan setiap hari.
Dan soal mobil yang aku berikan untuk Diana demi apapun aku ikhlas. Aku yakin dia akan menggunakan nya sebaik mungkin. Aku tidak merasa rugi selagi itu untuk kebahagiaan adik ipar ku sendiri.
Aku yakin Diana mengerti maksudku akan apa yang sudah semua aku berikan. Hanya saja terkadang pemikiran nya lambat dalam menyimpulkan sesuatu. Makannya aku bilang dia pintar tapi bodoh.
Semoga saja dia cepat tau akan ini semua, akan keadaan keluarga kecilnya. Karena sudah ada pisau belati menunggu di ujung yang siap menghujam jantungnya. Dalam hal ini aku hanya bisa mendoakan saja, dan berkata semoga dan semoga.
Anton end.
Bersambung...
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya?
__ADS_1
Klik favorit agar selalu ada notif jika saya sudah update..
aku sayang kalian emuahh