
Sudah hampir jam 12 malam, tapi Diana tak kunjung mengantuk, dengan setia Bagas menemaninya yang masih menonton Tv
"Sayang, sudah malam sekali, besok kita harus pergi ke pengadilan, takutnya kesiangan sayang."
"Sstt.." Menjawab dengan satu jari yang ia letakkan di mulutnya.Yang artinya menyuruh Bagas untuk diam.
"Sayang, kasian debay nya di perut pasti dia ngantuk sekarang."
"Sstt.." Mengulang lagi.
"Kalau kesiangan gimana sayang? Nanti kita repot. Dan belum lagi mas Anton yang mengomel."
"Sstt.." Dan sudah yang ketiga kalinya.
Bagas hanya menarik nafas dan mendengus. Mata Diana bahkan terlihat masih segar, berbanding terbalik dengan Bagas, matanya sudah susah untuk di buka.
Karena merasa omongannya tidak di hiraukan, Bagas mengambil bantal sofa, kemudian tidur di samping Diana. Beberapa menit kemudian, suara dengkuran terdengar. Diana langsung menoleh ke sisi kanan, melihat suaminya sudah tertidur dengan pulas.
"Yah!! Yah kamu tidur?" Mengguncang lengan Bagas.
"Yah bangun enggak!!" Bentaknya.
"Sstt.." Bagas menirukan jawaban yang dilakukan Diana sejak tadi.
Langsung berdiri meninggalkan suaminya yang tidur. Tv ia matikan begitu juga dengan lampu. Tanpa merasa bersalah Diana tidur di atas ranjang empuk miliknya. Sambil berkata.
"Pembalasan di mulai!!"
Bagas terbangun dengan keadaan yang gelap. Ia panik dan tidak lagi mendapati Diana yang menonton Tv. Bagas langsung berlari ke arah kamar, melihat istrinya juga sudah tertidur pulas.
"Ya ampun. Aku di kerjain sama ibu hamil. Sebenarnya ulah bunda atau anaknya sih." Sambil menggerutu ia juga ikut tidur di samping Diana.
Semenjak Diana pulang ke rumah. Dan juga saat ini tengah hamil, jadi ia memutuskan untuk Alif tidur sendiri di kamar sebelah. Tentu setelah Alif tertidur baru lah di pindah. Kalau tidak Alif juga tidak akan mau. Diana melakukan itu semua agar nantinya Alif akan terbiasa, jika tidak tentu ranjang yang tidak terlalu lebar ini tidak akan muat nantinya, kalau baby dalam kandungannya lahir.
Pagi hari, Bagas terbangun mendengar adzan subuh berkumandang. Semenjak Diana kembali, Bagas selalu bangun terlebih dahulu sebelum Diana. Ia juga memakluminya, sebab istrinya tengah hamil, mungkin itu berpengaruh dengan malasnya istrinya saat ini.
Tanpa membangunkan Diana terlebih dahulu, Bagas melaksanakan kewajibannya sendirian. Berdoa memohon kelancaran sidang hari ini. Tanpa adanya masalah baru yang akan datang.
Pukul 8 pagi, setelah selesai sarapan. Mereka siap untuk berangkat. Alif akan ditinggal di rumah bersama Mita, sementara Anton ikut mendampingi ke pengadilan.
"Mas pergi dulu ya sayang."
Mengecup kening istrinya.
"Ana sama Bagas pamit juga ya kak."
"Iya kakak doakan semoga lancar ya." Berdiri sambil menggandeng Alif. Mita mengantar kepergian mereka, dan kembali menutup gerbangnya.
Sampai di pengadilan jam setengah sepuluh, sidang akan di mulai sekitar setengah jam lagi.
Jangan di tanya, kenapa kok enggak ada prosedur ke kantor polisi dulu? Atau apalah? Tentu tidak, karena semua sudah di urus dengan rapi oleh Anton, dan itu tentu menggunakan uang. Hanya satu yang tidak akan Anton lakukan, yaitu menyuap jaksa agar mereka di penjara, tentu itu tidak ia lakukan, biarkan jaksa yang memutuskan dan dihukum sesuai prosedur.
Hanya lima belas menit lagi, tetapi tak ada satupun pihak yang bersangkutan nampak datang. Anton mengajak Bagas untuk langsung ke dalam. Menunggu di depan ruangan sidang.
"Kita ke dalam aja gas. Kasian Diana kalau kita menunggu disini." Sambil terus menunggu kabar dari pengacaranya.
"Ya udah mas."
Berjalan memasuki gedung pengadilan yang terletak di daerah kota mereka. Beberapa menit kemudian tampak pengacara datang, Dan mengenalkan diri kepada Diana dan Bagas.
"Apa pihak bersangkutan sudah datang?" Tanyanya.
"Belum sih, Kun." Jawab Anton yang juga mulai khawatir terdakwa tidak datang memenuhi panggilan, tentu ini akan gagal, dan menunggu panggilan yang kedua.
Nama pengacara itu adalah Kuncoro.
"Kita sudah bisa masuk ke ruangan, kita menunggu di dalam. Soal sidang di undur atau tidak biar jaksa yang memutuskan." Dengan bijak Kuncoro memberi jawaban atas kegelisahan mereka.
"Tenang, aku datang!" Ucap seorang pria yang wajahnya babak belur.
Darma? Kenapa wajahnya seperti itu?
Anton melihat temannya ini dengan seksama.
"Bagus, tinggal menunggu satu lagi." Ucap Kuncoro.
__ADS_1
"Anton, ini kamu kan?"
Memutar tubuh Anton yang memang ia kenali.
"Ya ini aku, kenapa?"
"Kok bisa disini? Kamu kan bukan pengacara!" Masih terlihat bodoh.
"Dia." Menunjuk ke arah Bagas. "Adalah adik ipar ku. Lelaki yang kamu ceritakan akan kamu jadikan kambing hitam." Pergi meninggalkan Darma yang masih melamun, rasanya sulit di percaya.
Aku percaya sekarang dunia hanya selebar daun kelor. Batin Darma dan segera ikut masuk ke dalam.
Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Bagas dan Darma yang berada paling depan, karena mereka lah yang bersangkutan.
"Bagaimana? Apakah saudari Risah tidak datang?" Tanya jaksa yang sudah memegang laporan masalah yang terjadi.
"Apakah kita bisa menunggu sebentar pak?" Tanya Kuncoro selaku pengacara dengan sopan.
"Jika kalian memiliki banyak waktu, tapi mungkin kami tidak. Setengah jam tidak lebih." Kembali berbincang dengan kuasa hukum yang lain.
Keringat dingin mulai bercucuran di wajah Darma. Ada rasa takut juga, tapi semua ini ia lakukan karena telah di ancam oleh pihak mertuanya. Jika tidak menikahi Risah setidaknya harus tetap bertanggung jawab. Semua di lakukan demi reputasi nya di dunia bisnis, dengan terpaksa Darma datang hari ini. Tanpa adanya pendamping. Lalat di rumahnya sekalipun tidak ingin ikut.
Setengah jam berlalu, dan jaksa mulai buka suara.
"Baiklah, waktu telah kami berikan, jadi saya putuskan sidang akan-"
"Kami datang." Suara menggelegar dari arah pintu.
Ternyata Risah datang bersama ibunya dan juga Rendy. Tetapi ada yang beda disini.
Risah datang dengan duduk di kursi roda, dan masih ada selang infus di tangannya. Hal itu membuat seisi ruangan melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Hanya Darma yang merasa tau, karena memang dialah pelakunya.
Rendy mendorong Risah ke depan, sejajar dengan Bagas dan Darma. Sebelum ia kembali duduk di kursi belakang, ia sempat kan mendatangi Darma terlebih dahulu.
"Sekarang anakmu tidak ada lagi di rahim Risah. Dan itu adalah tanda memang penerus mu tidak cocok hidup, terbukti dari kelakuan manusia seperti mu."
Bicara berbisik dan menggertakan giginya.
"Ambil saja bekasku."
Rendy hampir terpancing emosi karena perkataan Darma.
Persidangan di mulai, Kuncoro mulai menjelaskan permasalahan yang terjadi. Tentu yang menyudutkan Darma dan Risah.
Setelah selesai, jaksa memberi kan beberapa pernyataan kepada Risah dan Darma. Dan langsung berdiskusi dengan yang lain, mengambil kesimpulan.
"Baiklah, dengan ini saya sebagai jaksa tertinggi di pengadilan. Memutuskan bahwa saudari Risah akan dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun, karena telah melakukan penipuan. Apakah anda keberatan?" Pertanyaan tertuju oleh Risah.
Dengan wajah pucat ya yang nyaris seperti tak di aliri darah, Risah menggelengkan kepalanya.
"Baik. Dan saudara Darma akan di jatuhi hukuman penjara selama 6 tahun, karena telah melakukan penipuan dan juga tindak pemerkosaan. Kejahatan anda mengenai pasal yang berlipat. Apakah anda keberatan?"
"Tidak." Pasrah.
Tentu, jika ia keberatan, maka siapa yang akan membela? Sementara bukti juga sudah ada, lebih baik pasrah hidup di bui, batinnya.
"Maka dari itu sidang saya tutup. Dan bersiap mulai detik ini dan hari ini, kalian langsung di tahan."
Tok..tok..tok.. Suara ketukan palu, menandakan keputusan sudah tidak bisa di ubah bagaimana pun caranya.
Diana menatap Risah dengan tatapan kebencian, tak peduli kondisinya seperti apa sekarang, yang ia tahu Risah adalah iblis yang menghancurkan rumah tangganya. Setelah jaksa mengundurkan diri dari meja sidang, tampak polisi bersiap akan membawa Darma dan Risah pergi.
"Pak, bisa saya bicara sebentar dengan wanita ini?" Diana memberanikan diri.
"Silahkan, sepuluh menit." Diana mengangguk.
"Jadi kamu yang namanya Risah? Cantik, tapi tidak ada pikiran." Perkataan pedas yang pertama.
"Kalau aku jadi kamu lebih baik menjual diri dengan pengusaha terkenal dari pada menganggu rumah tangga orang lain, dosanya juga sama." Perkataan pedas yang kedua.
"Baiklah, kalau waktunya masih lama aku pasti akan menyiapkan kata-kata yang tepat untukmu. Hiduplah lebih baik lagi setelah ini, dan ingat ya. Lebih baik menjadi selingkuhan konglomerat yang jauh lebih menguntungkan, dari pada menjadi perusak rumah tangga orang kantoran dan harus berujung ke pengadilan." Berlalu pergi meninggalkan Risah yang sudah tak kuat menahan air matanya.
Rendy mengajukan permohonan kepada pihak yang berwenang, bahwa Risah masih dalam kondisi pemulihan setelah kecelakaan menimpanya, sehingga ia mengalami keguguran. Dan akhirnya hal itu mendapat persetujuan, tentu dengan di rawat di dalam rumah sakit yang berbeda, yang memang sudah di khususkan untuk tahanan.
Risah juga sudah berganti pakaian, seragam yang sama dengan narapidana lainnya.
__ADS_1
"Nak, ibu pamit ya. Ibu akan sering datang kesini untuk melihatmu."
Risah memeluk ibunya dan menangis sesegukan, tangis yang sedari tadi ia tahan, tangis yang sedari tadi ia bendung di hadapan orang lain.
Dengan lembut ibunya mengelus puncak kepalanya.
"Sudah, ini adalah tanggung jawab. Kamu harus jalani, supaya kamu tau, berbuat jahat akan ada balasannya."
"Sah, aku sama ibu pamit ya." Rendy dan ibunya pun pergi meninggalkan Risah yang masih menangis.
Sementara Darma, bagaimana dia sekarang?
Diruangan sempit yang hanya memiliki luas beberapa meter, Darma adalah satu orang di dalamnya, untuk meluruskan kakinya yang pegal saja rasanya tidak cukup. Dan baru satu jam berada di dalam sel tahanan, ia sudah di hajar habis-habisan oleh ketua kamar. Tak berdaya, itulah yang saat ini ia rasakan. Hanya meringis menahan rasa sakit, tanpa adanya obat dan pertolongan dari orang-orang yang hanya melihatnya di pukuli.
"Katakan apa kasus mu?" Salah satu lelaki berkepala botak yang mengajarnya tadi.
"Penipuan dan pemerkosaan." Ucapnya lemah.
"Apa? hahaha. Aku paling benci ada kasus seperti itu disini, terlalu hina. Jack, ambilkan balsem yang ada di sana. Lalu oleskan di bagian batangnya!!"
Kembali ke tempatnya dengan tertawa memandang Darma di kerjain habis-habisan.
"Mamp*s lu. Bakal mati tu alat vitalnya, haha." Ucap salah seorang yang ikut melumuri balsem di bagian tubuh yang ia jadikan sebagai kejahatan.
...***...
"Bagaimana mas? Lancar?" Ternyata Mita sudah menunggu di depan pintu begitu mendengar suara mobil. Rasa penasaran tak dapat ia tutupi.
"Hem." Sengaja Anton menggoda istrinya yang penasaran. Masuk ke dalam rumah tanpa memberi penjelasan apapun.
Tiba Diana dan Bagas menyusul untuk masuk kerumah.
"Na, gas gimana? Lancar? Berhasil?" Pertanyaan yang sama di ulang.
Tampak Anton yang berdiri jauh di belakang Mita memberi kode melalui lambaian tangan. Maksudnya jangan diberi tau, biar makin kesal. Sungguh Anton selalu begitu.
"Hem." Bagas dan Diana mengikuti saran yang Anton berikan. Berpura-pura dengan memasang wajah lesu.
"Ana boleh masuk kak, lelah."
"Baiklah."
Ketika akan menarik nafas bertanya pada Bagas, Bagas juga langsung ijin untuk masuk ke dalam rumah.
Kenapa orang-orang sangat menyebalkan hari ini ya.
Ikut masuk ke dalam dan bergabung duduk di sofa miliknya.
"Kalian enggak ada yang mau ngasih penjelasan? Ya udah."
"Sayang marah? Cie heheh. Berhasil kok sayang, mereka udah di bawa oleh pihak yang berwajib, dan menjalankan hukuman sesuai pasal yang di kenakan."
"Alhamdulillah." Mengelus dadanya.
"Tapi tadi Risah kenapa ya? Kok sampai duduk di kursi roda, bahkan masih memakai infus di tangannya." Anton berujar sendiri, tanpa mengharap jawaban apapun dari mereka yang ada disana.
"Sudahlah mas, bukan urusan kita, yang terpenting semua sudah kelar."
"Alif mana kak?" Tanya Diana, yang sedari tadi belum melihat anaknya.
"Masih tidur. Habis makan langsung tidur dia."
"Oh, kakak masak apa? Ana lapar?"
"Oh iya, ayo udah waktunya makan siang, kakak udah siapkan di meja makan kok, ayo."
Langsung berjalan ke meja makan, karena saat ini cacing yang berada di perut mereka sudah meronta minta di isi.
Makan dalam keheningan. Bagas juga memikirkan hal yang sama seperti Anton pikirkan, walau ia sangat membenci Risah saat ini, tapi hati nurani seseorang pasti tetap akan tersentuh.
Setelah makan Anton pamit untuk menelfon rekannya. Padahal ia akan menelfon Kuncoro, pasti ia tau terdakwa Risah mengalami hal apa saat ini. Karena ia adalah orang terakhir yang masih ada disana setelah Anton pulang.
Semua di jelaskan oleh Kuncoro, ia juga mendapat informasi itu dari Rendy, ia bertanya, lalu Rendy menjelaskan yang terjadi.
Anton telah mengetahui bahwa Risah keguguran. Dan hal ini akan ia simpan sendiri, tanpa harus memberi tau istrinya dan juga Bagas. Karena masalah sudah di anggap tuntas.
__ADS_1
Bersambung..
Nantikan novel terbaru author ya, yang pastinya jauh lebih seru hehe dukung terus yaaa💋💋