Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 24


__ADS_3

"Hallo kak, Assalamualaikum."


"(Iya na, walaikumsalam. Ada apa?)"


"Hem, kak gini. Bagas kan baru pulang dari luar kota, nah dia diberi cuti satu Minggu. Jadi dia berinisiatif ngajak kita liburan, gimana? Kakak sama mas Anton berminat enggak?"


"(Kakak tanya mas Anton dulu ya, sebentar)."


Setelah beberapa menit Mita pun kembali menyambungkan telfonnya.


"(Hallo na, kamu masih disana kan?)"


"Iya kak, gimana?"


"(Mas Anton enggak ngasih na, karena kakak lagi masa program kehamilan, jadi benar-benar enggak bisa kecapean dulu. Maaf ya sayang, next time mungkin bisa)."


"Wah Ana seneng dengernya tau kak, yaudah enggak apa-apa. Semoga cepat Allah kabulkan doa dan usaha kakak juga mas Anton."


"(Hehe, makasih ya adikku sayang. Salam buat Bagas ya, bilang maaf dari kakak)."


"Siap kak, yaudah Ana tutup telfonnya ya."


Setelah menelfon Mita, Diana kembali mencari kontak lain di HPnya untuk di hubungi, yakni Eva adik iparnya.


Diana langsung menelfon dan mengajaknya seperti yang ia lakukan kepada Mita. Kalau tadi Mita menolak, berbeda dengan Eva yang sangat di sambut antusias olehnya. Bahkan tidak sabar untuk segera berangkat.


...***...


Hari yang di tunggu pun tiba, apalagi kalau bukan liburan keluarga. Tujuan kali ini adalah pantai, dan yang mengusulkan tentu sang istri tercinta.


Bagas tiba dirumah ibunya sekitar pukul 08 pagi, Karena mereka bersiap setelah subuh, agar tidak terkena macet.


Mereka pergi hanya berlima, karena yang lain tidak bisa. Tidak mungkin juga mengajak Andre yang keluarganya masih dalam masa tenggang.


Ibu membawa bekal kesukaan Bagas dan menantunya, sambal terasi, ayam goreng beserta rebusan. Wah mantap, udah ngiler aja rasanya.


Ibu terus saja tersenyum merasakan hangatnya keluarga kecil Bagas. Andai saja Andre juga seperti ini, pikirnya.


"Mas, udah mas minta belum nomor Risah teman aku yang kemarin aku ceritakan."


Eva memecahkan keheningan di dalam mobil, juga memecahkan suara hati Diana.


"Belum, kemarin mas keluar kota. Enggak sempat mau minta."


"Bukannya kamu punya nomornya ya yah."


Diana menceploskan suara hatinya.


"Ehh enggak, ayah enggak punya nomor dia sayang."


Elaknya. Tapi saat ini memang benar, bukankah nomor Risah sudah ia hapus kemarin.


"Ah pelit banget sih mas, kayak yang minta lelaki aja. Eva perempuan kali mas."


Jawab Eva.


"Kalau mas bilang enggak ada ya enggak ada!"


Bentaknya, membuat Eva, ibu dan Diana juga kaget.


Pasalnya hanya karena nomor HP, tapi kenapa Bagas bisa marah, pikir mereka masing-masing.


"Udah-udah, Eva kalau mas mu bilang enggak ada ya berarti enggak ada kan."


Akhirnya ibu yang menengahi.


Di dalam mobil kembali hening. Dan tentu saja hati mereka yang berada di dalam mobil tidak sama seperti mulut mereka yang terkunci. Apalagi Diana.


Kenapa, apa kamu takut yah kalau Risah bakal cerita ke Eva tentang hubungan kalian. Batinnya.


Tak terasa mereka sudah sampai di pintu masuk menuju pantai, tentu saja jalan menuju kesana tidak semulus jalan raya. Tetapi angin sudah menyambut kedatangan mereka, menghembus menerpa melalui celah kaca mobil yang sedikit di buka.


Walau matahari tetap bersinar dengan semestinya tetapi suasana pantai terasa sangat nyaman, bahkan kulit yang terbakar sekalipun tidak bisa menghentikan kaum Adam dan Hawa yang berlarian di bibir pantai.

__ADS_1


Diana tersenyum, melihat kehangatan pasangan yang bertawa ria, disambut dengan deburan ombak yang mulai membasahi kaki.


"Kak, ayo cepetan turun. Kita foto disana, Alif biar sama mas Bagas aja ayo kak."


Eva kegirangan melebihi Alif yang masih anak-anak.


"Enak aja kamu, enggak-enggak. Aku ikutan juga lah, mau foto sama istriku ini."


Mereka turun dan membawa bekal, dan menyewa salah satu pondok yang berada tidak jauh dari bibir pantai.


Eva memperhatikan Diana yang berjalan dengan celana Jogger selutut, memakai kaus merah yang pas di tubuhnya. Wajahnya bercahaya terkena sinar matahari yang menembus pori-pori kulitnya.


Eva sampai tidak berkedip, padahal ia juga perempuan.


"Kak, tunggu."


Sambil menarik tangan Diana dan melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Wow, ini amazing. Subhanallah, sumpah kakak cantik sekali, wah body juga udah kece aah, kenapa bisa berubah bak bidadari begini."


Pujinya tiada henti, membuat ibu mertuanya menatap Diana intens. Bahkan juga dengan Bagas.


Tentu mereka berdua (Ibu dan Eva) tidak menyadari, karena sewaktu menjemput dirumah Diana tidak turun dari mobil, hanya Bagas saja yang turun untuk membantu mengangkat barang bawaan mereka. Tapi bagaimana dengan Bagas? Kenapa dia biasa saja? Hanya memuji di hari pertama kan?


Bagas sebenarnya juga terkagum-kagum. Hanya saja dia tidak memuji berlebihan, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana menjaga istrinya agar tidak di ambil orang, egois memang. Bagas kan orangnya terkesan pendiam, jadi lebih baik ia mengagumi tanpa istrinya tau.


"Ah apasih va, berlebihan mujinya. Cantik lagi juga ibu, makannya bisa melahirkan lelaki tampan dan cantik seperti kamu dan mas mu ini."


"Haha, itu jelas kak. Tapi Eva serius kak, cantik sekali. Kalau begini mas Bagas masih ngelirik wanita lain, ih berarti buta dia nih, enggak tau bersyukur."


"Ibu juga enggak akan akuin anak."


Sambung ibu, membuat Bagas dan Diana spontan terdiam tak tau harus menjawab apa.


"Ibu kejam, hihi."


Ledek Eva.


Suasana pantai tidak terlalu padat dan ramai, Karena mereka memilih pergi bukan di hari weekend. Ada benarnya juga sih, soalnya pantai kalau ramai malah menjadi terasa tidak nyaman untuk liburan.


Tunjuknya ke arah banana boat.


"Alif jangan sayang, itu bahaya untuk Alif. Main di pinggir pantai aja ya sama nenek."


Ucap neneknya.


Alif yang memang masih anak-anak pun terus merengek meminta naik. Tetapi Bagas dan Diana berusaha membujuk agar ia melupakan ke inginanya.


Dan akhirnya Bagas dan Diana hanya membawa anaknya bermain di pinggiran pantai.


Sementara sang ibu hanya memandang, duduk di pondok yang mereka sewa, melihat dari kejauhan anak-anaknya. Eva yang yang berfoto dari tempat satu ke tempat lainnya, Diana dan Bagas beserta Alif berlarian dan bermain air.


Tak di sangka air matanya menetes, karena haru bahagia melihat pemandangan yang memang jarang sekali ia lihat.


Ya Allah biarkanlah mereka hidup bahagia seterusnya, hamba mohon ya Allah jangan biarkan ada penghancur yang datang untuk mereka, cukup aku saja yang pernah merasakan pahitnya di duakan, Ibu.


"Bu."


Panggilan Eva membuyarkan lamunannya.


"Ayo Bu kita foto bersama, biar Eva minta tolong mas penjaga pantai buat motoin kita."


"Udah ah, kalian aja. Ibu disini aja va."


"Ayolah Bu, ini momen penting yang harus di abadikan, hehe."


Ibu pun akhirnya mengangguk dan berjalan menghampiri anak-anaknya.


"Siap ya, satu dua tiga."


Ucap lelaki yang menjaga pantai, bersiap untuk memotret.


"Lagi bang, gak terasa."

__ADS_1


Ucap Eva tidak malu.


"Kalau mau terasa pakai kayu neng."


"Lagi ya, satu dua yaak."


Mereka bergaya dengan senyuman melebar menampakkan deretan giginya masing-masing. Setelah mengambil beberapa foto, kini giliran Bagas yang meminta di foto bersama anak dan istrinya saja.


Diana berdiri berhadapan dengan Bagas, menempelkan kening mereka dengan mata yang menatap satu sama lain. Sedangkan Alif berdiri di depan Meraka dan memandang ke arah kamera. Wow bak foto prewedding pernikahan ya.


Lelah sudah mereka bermain, waktunya mengisi perut dengan bekal yang dibawa Ibu. Bagas lah orang yang makan paling banyak di antara mereka, Diana hanya mengambil sedikit nasi dan rebusan yang di banyakin. Sengaja untuk menjaga tubuh idealnya yang sekarang.


"Nambah lagi na. Kok makannya dikit sekali."


"Nanti kak Diana gendut lagi Bu kalau makannya banyak."


Mereka pun tertawa dengan ucapan Eva yang kalau bicara seperti tidak di saring, tapi selalu benar.


"Alif makan sama ayah aja ya, jangan ganggu bunda."


Tegas Bagas.


"Enggak apa lah yah, kalau dia mau sama Ana."


"Iya sayang, tapi ayah juga udah lama enggak suapin Alif begini."


Tak terasa hari mulai sore. Matahari nampak akan menutup dan beristirahat. Mereka segera berkemas untuk pulang. Kali ini enggak ada oleh-oleh yang akan di beli, karena tidak ada yang istimewa. Hanya ada beberapa penjual keripik dan dodol. Kalau itu juga bisa di beli di daerah mereka bukan.


Dalam perjalanan pulang, tampak semua yang di mobil terlelap termasuk Diana. Hanya Bagas yang memegang kemudi tidak bisa ikut beristirahat dalam mobil.


Mereka sampai dirumah sudah malam, sehingga Ibu menyarankan Bagas untuk menginap saja. Mereka pun setuju dan langsung istirahat ke dalam rumah. Terlelap dengan cepatnya, mendengkur dengan suara halus, tanda bahwa hari lelah terlewati.


ibu


Beberapa hari ini mimpiku kok selalu buruk, tandanya tidak baik, sama seperti sebelumnya aku mimpi seperti ini terakhir kali saat Andre anakku ketahuan selingkuh. firasat ku sangat tak enak, aku terus berdoa agar keluarga Bagas tidak seperti abangnya. Aku takut, takut sekali.


Kenapa sifat turunan bapaknya bisa menurun ke mereka. Aku sedih, karena dulu aku yang merasakan, dan jangan sekarang aku merasakan lagi. Bukan aku tepatnya menantuku, dan yang berbuat adalah anak kandungku sendiri.


Ingin sekali aku menanyakan hal ini kepada Diana. Tapi setelah ku lihat mereka bahagia seperti di pantai ini, aku merasa mereka baik-baik saja. Dan sepertinya tidak ada masalah. Tapi kenapa mimpiku selalu datang seperti isyarat teguran untukku.


Aku harap ini hanya bunga tidur semata. Yang tidak memiliki arti tersendiri, aku harap juga ini hanya kecemasan ku saja, takut anak-anakku mengalami kegagalan berumah tangga.


ibu end.


...***...


"Bu Diana sama ayahnya Alif pamit ya, ayo nak salam sama nenek."


Sambil mencium punggung tangan mertuanya, tak lupa ciuman hangat di pipi.


"Iya hati-hati ya kalian di jalan. Jaga baik-baik anaknya."


"Iya ibu."


Kali ini Bagas yang gantian melakukan ritualnya setiap akan pulang.


Bagas berjalan menuju mobil dan Diana mengikuti di belakangnya.


"Na, tunggu."


Diana menoleh, dan berbalik berjalan ke arah mertuanya.


"Iya Bu, ada apa?"


"Jika sesuatu terjadi, Ibu mohon ceritakan ke ibu, mengadulah ke Ibu."


"Iya Bu, insyaallah semuanya akan baik."


Firasat seorang ibu memang terlalu kuat, mengalahkan firasat seorang istri. Diana.


Bersambung..


Kita bahagiakan dulu ceritanya, akan tiba bom atom nya meledak ya. Jadi jangan khawatir haha

__ADS_1


kencengin dulu like nya, kalau perlu vote hehe. Jangan pelit supaya author juga semangat nulisnya


Makasih🙏🙏🙏


__ADS_2