
Keesokan harinya Mita benar-benar menepati janjinya yang akan datang menjenguk Diana. Mita dan Anton datang dengan membawa begitu banyak buah dan makanan, dan juga tak lupa membawakan susu ibu hamil. Karena mereka tau, disini Diana akan sulit untuk membeli susu ibu hamil.
Tidak ada kendaraan, juga jauh untuk menuju apotek.
"Na, hari ini kita cek ke dokter kandungan terdekat disini ya? Supaya tau pasti usia kandungan kamu udah memasuki Minggu ke berapa."
"Ya udah kak, mau berangkat sekarang atau gimana?"
"Iya sekarang aja."
Mereka sampai di klinik desa hanya beberapa menit saja, karena tidak begitu jauh sudah ada klinik di daerah desa ini.
Hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa usia kandungan Diana sudah genap satu bulan. Dan Alhamdulillah, janin tersebut sehat dan kuat.
"Baiklah saya akan memberi vitamin ya Bu, jangan lupa untuk selalu di minum, supaya Ibu dan bayinya sehat."
Ucap dokter itu ramah.
"Dok, disini bisa melakukan USG kan?"
Tanya Mita.
"Bisa kok Bu, tapi jadwal kami yang menentukan ya. Jadi harus buat janji, biasanya disini dilakukan setiap hari Jum'at."
"Oh begitu ya, baiklah dok."
"Ibu ini siapanya ibu Diana?"
"Saya kakaknya dok."
"Apakah suaminya ikut mengantar kesini?"
"Suami saya keluar kota dok, masih sibuk kerja."
Jawab Diana cepat.
Dan Mita hanya menjawab dengan anggukan dan tersenyum ramah ke arah dokter.
Kuatkan hatimu ya adikku.
Di dalam perjalanan menuju kembali ke rumah itu, Diana diam di mobil. Mereka hanya pergi berdua saja. Anton di rumah menjaga Alif.
Kakak tau na, apa yang saat ini kamu pikirkan. Kakak tau na, gimana perasaan kamu sekarang, pasti kamu ingin dekat dengan suamimu dalam keadaan hamil seperti ini.
Tanpa terasa air mata Mita menetes. Ia cepat menghapus sebelum Diana melihatnya.
Setelah sampai dirumah, Anton pun segera bertanya bagaimana keadaan janin yang ada di dalam perutnya. Mereka pun menjelaskan apa yang sudah di katakan dokter tadi.
"Semoga kakakmu segera nyusul ya na."
Sambil senyum penuh harap Anton bersuara.
"Iya mas, amin. Kalau mau Diana juga bakal ngasih ijin kalian untuk ngerawat calon anak Ana yang ini."
Ya Allah, aku ngomong apa barusan!!
"Maksud kamu apa na?"
Anton heran.
"Iya, Diana takut jika suatu saat anak ini lahir akan bertanya tentang ayahnya. Dan jika kalian yang mengurus bukankah ia akan merasakan orang tua yang lengkap? Untuk Alif, Ana akan menitipkan sama neneknya aja. Ana mau kerja mas, kak. Enggak mungkin seterusnya Ana buat susah kalian."
"Lagian, bukankah ini bagus buat pancingan kakak, dan ini juga kan yang kakak inginkan waktu itu."
Sambungnya lagi, kemudian ia tertunduk.
"Na, kakak memang yang mau. Kakak memang yang minta waktu itu. Bahkan kakak yang nyuruh kamu hamil lagi. Tapi, bukan dalam keadaan seperti ini kamu ngasih anak itu ke kakak sayang. Itu namanya kamu memaksakan keadaan, yang sebenarnya kamu sendiri juga enggak rela."
Aku enggak tau harus apa lagi sekarang, aku kasian sama Alif. Dia pasti rindu ayahnya.
"Apa yang dikatakan kakakmu itu benar na. Pikirkan lah lagi. Sekarang mas tanya sama kamu, tapi kamu harus jawab spontan ya tanpa berpikir, kamu harus jawab dengan cepat."
"Tanya apa mas?"
"Kamu harus jawab dengan cepat ya, tanpa berpikir. Karena jawaban spontan itulah yang sebenarnya kamu inginkan."
Diana pun mengangguk.
"Kalau seandainya memang anak yang di kandung wanita itu terbukti bukan anak Bagas, akankah kamu mau kembali padanya?"
"Mau."
Diana menutup mulutnya sendiri. Anton nampak menarik sudut bibirnya yang nyaris tak terlihat oleh mereka yang ada disini.
kemudian Anton mengulangi pernyataan yang sama.
"Mau."
Jawaban Diana masih sama.
Dan Anton bertanya untuk yang ketiga kalinya.
"Tidak!"
Jawabnya kali ini berbeda.
"Dua lawan satu, mana yang menang."
"Maksudnya mas?"
__ADS_1
Tanya Mita yang memang tidak tau.
"Dua kali jawab 'mau' dan satu kali jawab 'tidak'. Menurut kamu yang mana jawaban yang benar sayang?"
Tanya Anton pada istrinya.
Diana hanya tertunduk malu dengan jawabannya. Karena pasalnya memang di lubuk hatinya ia sangat mengharapkan rumah tangganya kembali.
"Tapi mas itu enggak mungkin, Mita yakin kalau itu memang anaknya Bagas."
Kali ini Diana merasa tersudutkan dengan jawaban kakaknya. Hatinya kembali meragu untuk ber angan tentang bahagia kembali di masa mendatang.
"Mas, lagian kenapa mas tanya begitu sama Ana?"
"Mas hanya ingin tau jawaban kamu kok."
"Mas, perempuan mana yang rela rumah tangganya berantakan? Perempuan mana yang rela suaminya di ambil orang lain? Kalau saja wanita itu tidak hamil, Ana akan mati-matian pertahanan Bagas. Ana enggak mau jadi orang munafik mas, Ana sayang Bagas mas!! Dia lelaki yang berhasil mengubah sifat Ana yang keras menjadi lunak. Ana enggak mau munafik mas, enggak mau." Diana menangis terisak.
"Ana mas, enggak mau di hadapan keluarga Ana bilang udah benci, udah enggak mau balik lagi, udah enggak mau berhubungan lagi. Tapi kenyataannya Ana sama Bagas akan sering jumpa di luar tanpa sepengetahuan keluarga. Ana enggak mau gitu mas? Itu sama aja lebih mempersulit keadaan kan mas? Memang untuk saat ini belum ada terpikir untuk kembali lagi, hanya ber angan saja. Tapi Ana enggak tau ke depannya mas, kasian Alif dan anak yang di perut ini."
Kali ini ia sudah tidak mampu berkata lagi, air mata yang tumpah mengakibatkan saluran pernapasannya tersumbat. Jadi untuk berkata lebih banyak sudah sulit. Yang terpenting ia sudah mengeluarkan unek-unek yang ia pendam.
Mita memeluknya dan juga ikut menangis, Alif tampak bingung. Akhirnya Anton menggendongnya keluar rumah, dan membiarkan kakak beradik itu saling menguatkan.
Hingga sore menjelang Anton dan Mita pamit untuk pulang. Dan Alif yang menangis karena ingin ikut. Akhirnya Diana mengalah dan mengijinkan ia ikut bersama pakde dan budenya.
Malam hari sangat terasa sepi. Angin malam berhembus menerpa rambut nya yang ia biarkan begitu saja, tanpa ia ikat.
Ya Diana duduk di teras rumah sendiri, tanpa teman. Ia memandang ke depan, bahkan apa yang ia lihat juga tak tau. Hanya ada kegelapan sejauh mata memandang. Seperti hidupku saat ini, pikirnya.
...***...
"Assalamualaikum, mas."
Jam menunjukan pukul delapan pagi, tapi sudah ada yang teriak di depan gerbang.
Anton seperti orang yang malas berjalan ke depan, pasalnya ini masih pagi.
Dan ia membuka gerbangnya, melihat siapa yang datang. Ternyata itu Bagas.
"Ada apa gas?"
Anton sebenarnya kaget, kalau yang datang kali ini ternyata Bagas.
"Mas, boleh kah aku masuk mas?"
Tanyanya.
Ia tampak sangat kacau, tidak terurus.
Lingkar matanya hitam, wajahnya tirus, dan tubuhnya nampak sekali kurus. Bahkan rambut ia biarkan memanjang.
"Mas?"
"Eh iya gas? Gimana ya, Mita pasti akan tidak suka melihatmu datang kesini lagi, kamu ngerti lah gas."
"Tapi mas, bantu aku kali ini aja mas."
Ia memelas dengan wajah sendu. Bahkan siapa pun yang menatap akan merasa tidak tega.
"Baiklah, sebentar ya? Mas akan bilang ke Mita dulu."
Anton berjalan memasuki rumah, dan memanggil istrinya yang masih di dalam kamar bersama Alif.
"Sayang."
"Iya mas?"
"Ada Bagas di depan?"
"Apa!!"
"Sstt. Gimana? Dia mohon minta masuk, mau cerita mungkin."
"Usir ajalah mas, nanti bisa gawat kalau dia tau ada Alif."
Saat Anton berbalik akan melangkah keluar kamar.
"Ada ayah ya bude? Alif kangen bude."
Alif pun turun akan bergegas turun dan ingin keluar.
Mita segera menahan Alif, tapi ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada anak sekecil ini. Karena ia jelas mendengar nama ayahnya di sebut. Mita menatap Anton meminta penjelasan harus bagaimana.
"Biarkanlah sayang, kasian dia anak kecil tidak tau masalah orang tuanya."
"Tapi mas?"
"Biar mas yang urus. Tahan Alif sampai Bagas masuk ke dalam rumah."
Kemudian Anton melanjutkan melangkah keluar rumah. Alif masih terus bertanya dengan budenya yang hanya di jawab tidak dan iya oleh Mita.
"Masuk lah gas, tapi kamu jangan buat kekacauan ya?"
"Iya mas, enggak akan."
Tiba di dalam, Bagas duduk dengan Anton di sofa ruang tamu. Bagas berdehem, bermaksud akan menjelaskan maksud kedatangannya kesini.
"Mas, akhir-akhir ini, aku sering melihat Risah bicara berdua dengan atasan aku. Aku sendiri enggak ngerti, karena sebelumnya mereka enggak pernah sedekat itu. Tapi kenapa."
__ADS_1
Ucapannya terhenti, kala mendengar suara anaknya. Sayup iya mendengar suara Alif.
Apa karena rasa rinduku ini aku menjadi halu. Tapi aku memang mendengar jelas itu suara Alif memanggil aku.
"Gas, kenapa? Ya udah lanjutkan."
"Hm iya mas, biasanya soal kerjaan di kantor Risah hanya bekerja di ruangan, tidak ada urusan bertemu langsung dengan atasan, namun kali ini beda. Aku curiga mas, kalau mereka sebenarnya ada hubungan."
"Kalau begitu pikiranmu, maka selidiki lah."
"Tapi bagaimana mas caranya, aku Uda enggak bisa mikir untuk saat ini. Aku sangat merindukan Diana dan anakku."
Ia kembali tertunduk sedih.
"Ayah!!"
Teriak suara anak kecil yang berlari menuju ke arahnya.
Bagas terdiam, tidak menjawab hanya memandang anak itu terus berlari mendekat ke arahnya.
"Ayah." Ulangnya lagi.
"Ayah Alif kangen, kenapa ayah enggak selesai-selesai kerjanya."
"A.. Anakku??"
Ucapnya tidak percaya, Bagas menatap Anton dan Mita yang tengah berjalan ke arah sofa.
Anton mengangguk, tanda mengiyakan kalau memang ini anaknya dan buka khayalan.
Bagas langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Tangis haru ia keluarkan, dan langsung di saksikan oleh sepasang suami istri itu. Ia tidak memperdulikan malu menangis di depan anak dan iparnya. Yang ia rasakan saat ini senang, senang berjumpa anaknya, namun sedih karena tau tidak ada istrinya disini.
Ia terus memeluk Alif.
"Ayah kenapa nangis? Ayah sakit?"
Bagas melepas pelukannya, dan memegang wajah anaknya dengan kedua tangannya lalu mengangguk. Kemudian kembali memeluk anaknya.
"Ayah, Alif kangen ayah."
Ucapnya lagi dengan perkataan yang sama. Seolah itu semua ia wakilkan dari isi hati anak kecil berumur 3 tahun.
"Ayah juga kangen Alif nak, bahkan sangat."
"Kasian bunda yah, bunda sendirian."
Kini Bagas menatap Anton meminta penjelasan.
"Mas?"
"Gas, maaf mas enggak bisa kasih tau dimana Diana sekarang."
"Tapi mas."
"Cukup gas, bersyukurlah masih bisa bertemu anakmu. Dan jangan memaksa kali ini untuk bertemu dengan bundanya."
Ucap Mita ketus.
Ya Allah, berdosa kah aku kali ini. Yang sempat menghalangi seorang anak dan ayahnya untuk bertemu, apakah aku egois? Mita.
Suasana hening ketika Mita mengucapkan kalimat yang mungkin menyakiti hati Bagas, dan tentunya yang ia katakan memang benar.
"Boleh kah Alif aku bawa mas?"
"Jangan gas, kalau dia kamu bawa lalu ketika kamu bekerja dia sama siapa?"
Larang Mita.
"Sebentar aja kak, aku cuma ngajak jalan-jalan. Aku janji sore nanti aku akan antar dia kembali kesini."
Mita nampak menimang dan menatap Anton.
"Tapi kamu kan kerja gas hari ini."
Ucap Anton.
"Aku udah ijin enggak masuk mas."
"Baiklah, kamu janji ya, sore harus kembali kesini bersama Alif."
Bagas mengangguk.
Mereka pun pergi, entahlah Bagas akan membawa Alif kemana.
"Mas, apa kita kasih tau Diana aja?"
"Jangan, itu akan membuatnya khawatir."
"Ya udah mas. Kalau gitu kita sarapan aja dulu ya?"
"Iya sayang."
Mereka makan dengan hening, tanpa bicara. Hanya terdengar suara hati mereka masing-masing yang di dengar oleh dinding dan meja makan.
Aku enggak tau harus bagaimana menyikapi masalah adikku. Mita.
Kasian melihat Bagas, tapi ini juga semua karena ulahnya. Dan aku juga lebih kasian melihat Diana hidup menjadi seperti ini. Anton.
Bersambung..
__ADS_1
Like ya, like. Jangan lupa 💋💋 vote dan favorit hehe