
Ya Allah ijinkan hamba melihat istri hamba sekali lagi. Hamba akan menjadikan ini pelajaran hidup hamba ya Allah. Hamba tidak lagi peduli ada ratusan juta wanita di dunia ini, yang saat ini hamba mau hanya istri hamba kembali. Amin.
Begitu lah doa yang Bagas panjatkan di saat ia melaksanakan kewajibannya pagi ini. Setelah selesai ia langsung berangkat ke rumah Anton, untuk segera berangkat ke daerah yang mereka tuju sebagai tempat tinggal Diana saat ini.
Tin..tin..
Suara klakson Bagas bunyikan sebagai pertanda kalau ia sudah sampai. Tidak perlu masuk ke pekarangan rumah Anton lagi, mereka siap berangkat.
Anton membuka kaca mobilnya setelah ia juga keluar dari pekarangan rumahnya.
"Gas, inget. Kamu hanya liat dari jauh. Sedia tissue aja kalau enggak sanggup haha."
"Siap kapten."
Hormat seperti upacara bendera.
Perjalan masih mulus, karena masih di daerah kota. Bagas hanya mengekor di belakang mobil Anton. Kalau saja ia tau ini tujuan ke desa tempat ia lahir, mungkin sudah tancap gas duluan.
Mulai memasuki kawasan desa, namun masih jauh lagi untuk masuk ke desa tempat tujuan. Bagas melihat kanan dan kiri, ia seperti tak asing dengan tempat ini. Tapi pikiran itu ia tampik dan buang jauh-jauh.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di desa itu. Bagas mengerem mobilnya spontan.
Bukan kah ini desa ku? Desa dimana aku dan keluarga ku hidup dulu? Ah bagaimana bisa Diana sampai disini? Apa dia juga dulu pernah tinggal disini? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat.
Berbagai opsi masuk kedalam pikirannya. Hingga ketukan di kaca mobilnya membuyarkan lamunannya. Bagas terkesiap kaget, dan langsung membuka kaca jendela mobil miliknya.
"Kenapa? Kamu kaget?"
"Mas, katakan ini kenapa Diana bisa disini? Dan dimana letak rumahnya?"
"Di sana."
Tunjuk Anton di sebuah rumah, yang berjarak 200 meter dari tempat mereka sekarang.
Itu rumah ibu.
Bagas langsung menoleh ke arah Anton.
"Mas itu kan rumah -"
Anton mengangguk cepat.
"Semua ia lakukan hanya karena kamu, walaupun dia jauh setidaknya rumah kenangan mu masih bisa membuat Diana merasa dekat denganmu."
Bagas langsung meneteskan air matanya. Dan itu langsung lolos begitu saja, tanpa mengeluarkan suara.
"Sudah kan, mas bilang sediakan tissue. Mas sama kak Mita langsung kesana. Kamu lihat dari jauh aja, nanti mas bakal ajak Diana duduk diluar dekat teras."
"Aku tau mas harus liat dari mana yang enggak akan di lihat oleh Diana."
"Iya mas yakin kamu tau, karena dulu kamu main petak umpet disini, jadi tau harus sembunyi dimana."
"Aku enggak pernah main petak umpet mas, enggak punya teman."
Raut muka sedih.
Anton tertawa dengan puasnya mendengar jawaban Bagas. Entah ia pikir serius atau tidak.
"Jadi mau sampai kapan mas Mita nunggu di dalam mobil!!"
Menghentakkan kakinya kesal.
"Maaf sayang, mas lupa."
"Gas, mas sama kak Mita duluan, ingat ya jangan sampai ketahuan, pakai masker dan jangan bawa mobil mu kesana."
Menjawab hanya dengan anggukan dan matanya terus tertuju pada rumah yang ia hapal sebagai kenangan pahit.
Mereka pergi meninggalkan Bagas sendiri. Beberapa menit Bagas melihat mobil Anton sudah memasuki kawasan rumahnya itu, dan memarkirkan.
"Ah kenapa mas Anton parkir disitu, aku jadi enggak bisa lihat."
Bagas frustasi dan menendang ban mobilnya sendiri.
Seorang petani berjalan melewati Bagas dan tersenyum. Bagas pun membalas dengan anggukan juga tersenyum.
Hingga beberapa kali kejadian itu berulang sampai Bagas bosan sendiri dari tadi senyam-senyum.
Aku kesana aja lah, toh mereka di teras tidak terlalu memperhatikan samping rumah.
Bagas berjalan dan menitipkan mobilnya oleh salah satu warga disana. Dengan alasan bekerja sebagai salesman dan akan menawarkan produk sabun kepada orang desa, oh sungguh cerdas.
Bagas sudah berdiri di sebelah tembok dekat rumah ibunya dulu. ia sedikit mengintip dan benar saja mereka sudah duduk di teras, ada Alif dan serta istri yang ia rindukan.
Diana tampak tertawa sambil bercerita dengan kakaknya.
Subhanallah. Ya Allah kau langsung mengabulkan doa ku untuk bisa melihat istriku lagi. Alif, ayah rindu nak. Ayah rindu Alif minta di suapin ayah. Diana, ayah rindu. Bisa kah ayah memelukmu sayang. Rasanya saat ini aku ingin ingkar janji dengan mas Anton.
__ADS_1
Tepukan di bahunya mengagetkan Bagas dan hampir saja ia teriak.
"Mas ngapain."
Tanya pemuda itu.
"Enggak, lagi liat emm liat rumah yang mau aku beli, katanya angker jadi aku liatnya dari jauh dulu."
Bagas berkata tanpa menoleh.
"Rumah yang mana mas?"
"Yang itu."
Tunjuknya asal dan menoleh.
"Kamu!"
Bagas melihat dengan tatapan tajam.
"Loh bang Bagas, ngapain disini?"
"Bukan urusan kamu, sudah pergi jangan ganggu aku."
"Katanya mau beli rumah yang disitu, bukankah itu rumah ibunya Abang ya? Dan juga ada istri dan anak Abang tinggal disana."
Mengoceh tanpa henti, tapi perkataanya berhasil memancing Bagas.
"Dari mana kamu tau?"
"Aku sering main kesitu bang, main sama anaknya abang. Istri abang juga baik dan ramah."
Apa? Jadi anak pembawa si*l ini sudah kenal dengan istri dan anakku? Berarti dia sering datang ke rumah ibuku?
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, dari mana kamu tau kalau dia istri dan anakku? Apa dia yang bilang sendiri ke kamu?"
"Iya, sewaktu ibu dan Eva datang kesini aku masih main disana, jadi aku tau karena Eva yang bilang."
Eva?? Ibu??? Berarti!!!
"Kenapa abang enggak langsung kesana aja? Kalau ada masalah jangan lari bang mending di selesaikan. Dan kalau udah enggak mau, masih banyak yang mau sama istri imut abang itu, banyak yang naksir disni."
Termasuk aku. Batinnya.
Bagas terpancing emosi api cemburu dengan perkataan Rama. Ya pemuda yang disebut Bagas pembawa si*l adalah Rama. Bagas langsung melompat melewati tembok dan meninggalkan Rama yang tak berhenti mengoceh.
...***...
"Ya udah na, kamu lihat dulu video ini."
Anton menyerahkan HP miliknya.
Diana fokus melihat setiap detiknya video itu berjalan. Dahi berkerut, dan raut wajahnya berubah-ubah. Hingga selesai video itu di putar Diana tak kunjung mengembalikannya. Ia melamun dengan menggenggam HP milik Anton di tangannya.
"Udah selesai na?"
"Jadi suamiku di jebak?" Ucapnya lirih hampir tak di dengar, dan tes setetes air matanya jatuh.
Suamiku di jebak. Dan, dan aku terpuruk karena wanita itu. Semoga sumpah ku kemarin di ijabah oleh Allah.
"Gimana na? Kamu udah percaya sekarang?"
Diana mengangguk.
"Jadi gimana keputusan kamu?"
Bagas menajamkan telinganya agar mendengar jawaban Diana. Bahkan memajukan langkahnya sedikit.
"Aku enggak -"
Perkataannya terhenti dan ia langsung menatap Anton.
"Mas kenapa liontin ana bergetar? Bukan kah itu tandanya, enggak mungkin kan mas. Mas enggak bohong sama ana kan?"
Liontin? Liontin apa? Apa maksudnya? Batin Bagas.
"Maksudnya gimana na? Kenapa liontin kamu?"
Tanya Mita yang juga penasaran.
Pasalnya yang tau hal ini hanya Anton dan Diana. (yang baca dari awal pasti tau ya liontin apa).
Bagas bodoh, kan sudah ku bilang jangan terlalu dekat.
"Enggak mungkin lah na, mungkin hanya kebetulan. Mas kesini hanya dengan kak Mita aja kok."
"Mas jawab Mita, liontin apa mas?"
__ADS_1
Ternyata Mita masih terus penasaran.
Dengan terpaksa Anton menjelaskan.
"Sayang maaf sebelumnya mas enggak ngasih tau hal ini sama kamu, karena mas enggak mau ngasih beban pikiran ke kamu. Karena Bagas udah di curigai ana waktu itu, jadi mas pulang dari luar kota belikan mereka liontin sepasang. Dan itu bukan liontin biasa, jika ana mengaktifkan tombol kecil itu, maka dengan sendirinya akan bergetar dan menyala jika ia dekat dengan Bagas berjarak beberapa meter. Itu tentu mas berikan supaya bermanfaat untuknya jika tidak melihat kehadirannya tapi bisa dia rangsang melalui benda itu."
Maaf gas mas harus jujur.
Oh jadi gitu, kenapa aku bisa tidak tau ya, jenius sekali mas Anton. Bagas.
"Seperti sekarang ini maksud mas ya?"
"Ha?" Anton kebingungan.
"Iya kan tidak terlihat tapi buktinya benda ini terus bergetar dan lampunya berkelip."
Kalau begitu aku harus segera menjauh.
Bagas pergi dan kembali melompati tembok yang tadi. Ia berjalan dengan cepat dan akan kembali ke mobil, rasanya tidak mau Diana kembali kecewa karena mereka serempak membohonginya.
"Mungkin kebetulan, apa masih bergetar?"
Mita bersuara, ia takut Diana marah. Karena ia juga ikut dalam kebohongan menyembunyikan Bagas saat ini.
Diana memegang dan melihat liontin yang bertengger di lehernya.
"Ini berhenti."
Ia meragu, pasalnya tadi memang bergetar.
"Nah berarti memang kebetulan. Mungkin kamu sangat rindu jadi berimbas di kalung itu."
Anton berdalih dengan cermat.
"Apaan sih mas."
Diana berusaha menyembunyikan kebenaran yang di katakan oleh Anton.
"Kamu enggak masak na? Kakak laper."
Akhirnya Mita bisa mengalihkan keadaan canggung ini.
"Eh iya, udah jam makan siang ya. Masak kok kak banyak malah, sengaja karena kalian mau kesini. Ya udah ayo masuk makan di dalam."
Istri ku pintar, Anton.
Sambil mengedipkan mata ke arah Mita setelah Diana bangkit dari duduknya.
"Alif sama pakde dulu, supaya bunda sama bude nyiapin makanan buat kita makan."
"Iya pakde."
...***...
Bagas berjalan gontai melewati rumah warga, sesekali menunduk sopan tanda menyapa.
"Udah kelar bang."
Suara tak asing itu kembali menyapa saat Bagas melewati rumahnya.
Ah dia lagi. Muak sekali aku.
Bagas tidak menjawab dan terus berjalan.
"Bang, jangan lupa kalau enggak mau kasih ke aku aja aku siap nampung."
Bagas berhenti melangkah. Dengan nafas yang sudah tersengat menahan emosi ia berbalik dan berjalan mendekat ke arah Rama.
"Kamu dan ibu kamu sama, sama-sama menjadi perusak kebahagian orang lain!!"
"Maksud abang ngomong gitu apa?"
Rama sangat tidak terima ibunya yang sangat ia cintai dan telah meninggal di bawa-bawa, apalagi dalam urusan kejelekan.
"Apa ibu mu tidak pernah cerita."
Menaikkan sudut bibirnya.
"Enggak pernah."
Bagas melengos pergi melangkah meninggalkan Rama. Beberapa langkah kemudian ia berbalik.
"Jangan sentuh dan dekati istri juga anakku. Cukup ibumu saja yang menghancurkan keluarga ku!!"
Mengancam dan kembali melanjutkan langkahnya.
Bersambung..
__ADS_1