Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 8


__ADS_3

07:00 Bagas sudah siap untuk berangkat ke kantor. Dengan stelan jas yang di siapkan istrinya, beserta dasi juga sepatunya.


"Yah, nanti ana jemput Alif naik motor aja ya? Lagian enggak enak sama kak Mita, masak dia lagi yang antar? Kayak Ana sakit parah aja yah." Ucapnya di tengah-tengah mereka yang sedang sarapan.


"Yaudah sayang naik mobil aja biar ayah yang bawa motor."


"Tapi, ayah kan banyak bawa barang hari ini, mana laptop nya lagi? Belum buku yang lain. Susah lah yah kalau ayah naik motor."


"Ayah bawa motor sayang aja, biar bisa letak ditengah dan sebagian di tas ayah. Lagian juga kalau sayang naik motor gimana kalau mau turun?


Bukan kah harus menahan pakai kaki? Kan beda kalau naik mobil sayang, lebih mudah. Ayah enggak mau nanti malah ada apa-apa."


Tegas nya tapi terdengar amat lembut.


"Yaudah yah. Makasih ya yah selalu ngertiin Ana."


"Iya sayang." Sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.


Ah ana enggak tau yah sampai kapan Ana berusaha nutupin rasa penasaran Ana ini, apalagi rasa cemburu jika ada wanita lain yang menelfon, walaupun itu urusan pekerjaan tapi Ana enggak bisa pungkiri kalau Ana cemburu.


Sambil melamun ia terus mbatin.


Bagas pamit pergi, seperti biasa Diana selalu mencium punggung tangan suami dengan ikhlas dan penuh cinta.


Semoga semuanya hanya halu ku saja yah, dan rasa kecurigaan ini tidak nyata.


Dan disambut dengan ciuman hangat dikening Diana yang berlangsung beberapa detik.


Indah memang ya jika dilihat dan rasakan, tapi akan jauh lebih indah jika suatu hubungan tidak dilandasi dengan kebohongan di dalamnya.


Apapun itu, dalam bentuk apapun. kalau sudah ada bohongan sekecil apapun pasti akan tidak baik ujungnya.


...***...


Diana mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Tak sampai 40 menit sudah sampai di depan rumah kakaknya. Ya karna memang rumah mereka tidak terlalu jauh paling hanya berjarak 2-3Km.


Diana pun turun membuka gerbang sendiri, kebetulan tidak di kunci. Lagian malas teriak-teriak manggil tuan rumah.


Dari dalam rumah Mita kaget karena mendengar suara klakson mobil. Ia keluar menuju pintu dan melihat siapa yang datang.


"Lah kamu masuk dari mana na?"


Tanyanya heran.


"Ya dari gerbang lah kak, Ana buka sendiri orang enggak di kunci. Lagian mana mungkin Ana terbang."


Jawabnya enteng.


"Tapi kan kaki kamu sakit, kenapa enggak manggil kakak aja? Marah milih dorong gerbang sebesar itu kan berat na."


"Udah enggak apa-apa kak. Ana enggak di tawarin masuk ni?" Basa-basi.


"Halah kayak baru sekali aja kerumah kakak. Yaudah ayo masuk."


Diana melangkah masuk kedalam. Ia tidak melihat Alif juga mas Anton.


"Alif mana kak?"


"Alif masih tidur, soalnya tadi sebelum subuh udah bangun karena mas Anton mau berangkat keluar kota. Jadi sama mas Anton di gangguin supaya bangun. Eh habis mas Anton pergi dia tidur lagi." Terangnya, sekaligus menjawab pertanyaan Ana yang pasti akan bertanya kemana mas Anton kok enggak kelihatan batang hidungnya.


Mereka ngobrol diruang tv, duduk di sofa empuk milik Mita.


"Na, kamu bikin anak aja lagi supaya Alif bisa sering tidur dirumah kakak. Kamu kan tau na kalau kakak susah punya anak, siapa tau dengan seringnya Alif sama kakak bisa jadi pancingan. dari pada angkat anak orang lain." Ucapnya lirih dan sedih.


Ana terdiam memikirkan sesuatu.


"Bukan ana enggak mau kak, tapi untuk saat ini Ana belum mau. Tapi ana yakin Alif bakal sering tidur disini nemenin kakak kalau mas Anton keluar kota."


Maafkan ana ya kak. Ana masih dalam rasa kebimbangan karena berperang sama pikiran ana sendiri. Batinnya.


"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting na? Bisa bikin pikiran kamu stres sendiri. Ingat wanita sering berperang dengan pikirannya sendiri, apalagi soal suami."


Diana terdiam. Bagaimana kakaknya bisa tau kalau dia lagi mikirkan itu semua.


"Kakak juga dulu Uda pernah ngalamin, saat beberapa tahun kakak tak kunjung di karuniai anak. Kakak berpikir mertua atau suami pasti bakal mikir untuk ninggalin kakak yang susah punya anak ini. Tapi kakak berusaha untuk berpikir positif saja, dan ternyata sabar kakak membuahkan hasil.


Semua yang kakak pikirkan tidak benar, dan insyaallah mertua dan suami kakak masih menghargai layaknya menantu dan istri."


Terangnya lagi. Ana merasa tidak usah menjelaskan hal yang kemarin ia alami dan lihat.


"Enggak kok kak. Yaudah soal anak nanti Ana bicarakan lagi sama Bagas. kalau dia sih ya pasti mau banget lah kak, kayak enggak tau laki-laki aja. Buatnya semangat apalagi sampai membuahkan hasil hehe, orang enggak ngerasain hamil dan kontraksi melahirkan."


Mita hanya tersenyum. Karena yang dikatakan adiknya benar dan apa? Mita sendiri pun belum pernah merasakan hamil dan kontraksi melahirkan.


Setelah berbincang dan membahas masalah lain, Ana melihat jam dan sudah waktunya pulang. Alif pun sudah terbangun dan sudah di mandikan kakaknya.


"Yaa jadi sepi bude nak kalau Alif sudah pulang." Dengan wajah sedihnya Mita memeluk Alif.

__ADS_1


"Besok-besok Alif kesini lagi kok bude." Jawab Alif sedikit menenangkan hati Mita.


"Yaudah, janji dulu dong Alif sama bude? Nanti kalau pakde pulang dia kan bawa oleh-oleh untuk Alif kan? Nah nanti bude jemput Alif ya?"


"Iya bude." Jawabnya bersemangat.


"Ana pamit pulang ya kak." sambil cium pipi kakaknya. Ya wajarlah Ana sangat menyayangi kakaknya ini, dia juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Semua keluarga jauh di kampung.


...***...


Bagas nampak fokus mengerjakan tugasnya. Karna satu hari tak masuk kantor jadi ia harus melengkapi email yang masih kurang. Padahal sudah di cicil selama dirumah tapi tetap saja tak mengurangi perkerjaannya.


Tak biasanya sih terlalu numpuk begini kerjaannya, hanya saja karna banyaknya proyek yang mengajak bekerja sama. Jadi ya bukan hanya Bagas yang kerajaannya numpuk, tapi ya karyawan lain juga.


"Mas nanti pulang bisa antar aku ke blok B enggak? Mau ambil paketan, soalnya takut kalau kesana sendiri apalagi udah malam. Disana kan katanya rawan mas." Tegur Risah.


"Enggak bisa sah, istri aku sakit." Tolaknya dan masih tetap fokus kerja.


"Bentar aja sih mas. Kamu tega apa liat aku pergi sendiri kesana?" Mulai deh ngerayu dengan suara manja.


Bagas terdiam nampak berpikir.


"Gimana mas? Lagian ini kita pulangnya enggak malam kok, palingan lembur sebentar aja."


"Yaudah iya. Tapi nanti aku enggak bisa antar sampai rumah kamu soalnya enggak bawa mobil bawanya motor."


"Loh kok bawa motor? Kenapa enggak bawa mobil?" Tanyanya sedikit meninggi.


"Iya lagi males aja. Jadi mau enggak kalau naik motor?"


"Yaudah deh." Jawabnya dan langsung pergi meninggalkan Bagas.


Bagas sebenarnya ingin menolak, Hanya saja dia berpikiran kalau Risah tau ia membawa motor pasti tidak akan mau. Jadi tidak perlu repot-repot lagi ngadepinnya.


Eh ternyata salah, mode tarik ulurnya malah diterima dengan baik oleh Risah. Karna sudah meng'iya'kan tak mungkin juga kan Risah ia tinggal nanti.


Sebenarnya Bagas masih takut kalau pergi berdua gitu apalagi naik motor terlihat orang banyak. Takut ada yang tau dan mengenali bisa ngaduh ke Diana.


Saat jam pulang tiba Bagas mengemas perkakas miliknya, agar tidak ada satu pun yang tertinggal ia kembali mengechek isi tas nya. HP nya berdering ternyata Diana yang menelfon.


Saat mengangkat telfon Risah berjalan mendekati Bagas tapi Bagas mengode dengan tangan agar Risah berhenti bergerak untuk mendekat. Dahi Risah berkerut dan dia penasaran akhirnya pelan-pelan mendekat dan menguping setelah Bagas membalikkan badan.


"Hallo assalamualaikum sayang, ada apa?"


"(Hallo yah walaikumsalam. Ayah pulang jam berapa?"


"Ini ayah udah pulang. Tapi harus ke blok B jenguk teman sakit sekaligus minta tanda tangan karena ada dokumen yang bersangkutan dan harus teman ayah yang tanda tangan sayang, enggak apa-apa kan?"


"Iya sayang, jangan lupa makan sama minum obat ya. assalamualaikum"


Bagas kaget saat balik badan ternyata ada Risah. senyam senyum pula.


"Kamu nguping sah?" Dahinya berkerut.


"Iya enggak sengaja denger. Perhatian banget kamu ya mas sama istrimu. Emm Bay the way pinter juga cari alasan."


Bagas tak menjawab hanya berlalu sambil mengambil tas nya.


Yaallah aku sangat berdosa telah berbohong, tapi aku juga tidak mampu menolak pesona Risah.


Ia terus berjalan ke arah parkiran motor dan diikuti Risah dari belakang. Saat sampai di parkiran motor.


"He bro enggak bawa mobil?" Tanya teman satu kantornya.


"Hehe enggak bro, soalnya lagi di pakai istri, kasian kalau dia naik motor jadi aku yang ngalah." Jawabnya.


Sialan kamu mas bilangnya lagi males bawa mobil. Katanya istrinya lagi sakit, taunya mobilnya dipakai istrimu jalan-jalan. Kenapa dengan orang lain jujur denganku harus berbohong? Apa takut aku marah? Batin Risah.


"Oh kalian pulang bareng ya?" Tanya temannya.


"Iya ni bro, Risah nebeng sampai simpang aja. Kasian juga anak gadis naik angkutan umum."


"Oh gitu, gue duluan bro. Hati-hati juga kalian nanti ada gosip yang tidak-tidak karena melihat kalian sering berdua." Ucapnya dan pergi meninggalkan dua manusia yang sama-sama terdiam mendengar perkataannya.


"Ayo." Ajak Bagas. Seketika lamunan Risah buyar dan berganti dengan senyuman.


...***...


Di dalam perjalanan tidak ada yang berbicara. Mereka berdua saling terdiam.


Risah memeluk Bagas seperti memeluk miliknya seorang. Bagas pun tidak menolak dan juga tak merespon sehingga Risah mempererat pelukannya.


20 menit mereka sampai di blok B.


Tak butuh waktu lama karena Bagas membawa motor dan tentunya tancap gas.


"Aku tunggu disini aja." Ucap Bagas dan berhenti dipinggir jalan.

__ADS_1


"Nanggung lah mas."


"Udah buruan nanti keburu malam. Belum lagi balik nganter kamu." Jawabnya dingin.


"Kalau enggak ikhlas pulang aja mas, aku bisa naik taxi atau ojek kok." Dan wajahnya berakting memelas sendu.


"Huuhh.." Bagas membuang nafas kasar.


"Nanti takut ada yang liat kalau aku nganter kamu sampai di depan. Lebih baik aku disini jadi kira orang kamu naik ojek."


Risah pun menjawab dengan anggukan dan pergi berjalan ke toko Olshop.


Bagas Bolak balik melihat jam tangannya. Udah hampir 20 menit Risah tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bagas menimang-nimang akan meninggalkan Risah tapi kasian sudah hampir jam 7 malam takutnya udah enggak ada angkutan umum lagi.


Saat sudah pasrah akan menunggu saja HP nya berdering ada panggilan dari Risah.


"Hallo, kok kamu lama banget sih sah? Keburu malam sampai rumah!" Tuturnya sedikit emosi.


"(Iya mas, maaf. Ada teman aku jadi ngobrol sebentar. Mas balik ajalah duluan, nanti Risah minta antar temen aja)." Jelasnya membuat Bagas semakin kesal.


"Cewek atau cowok?"


"(Cowok mas, temen magang dulu)."


"Oh gitu? Yaudah."


Belum sempat Risah menjawab Bagas langsung mematikan telfon.


Dadanya bergemuruh memanas.


Apakah aku cemburu? Ah enggak mungkin, aku sama Risah hanya sebatas menghilangkan rasa suntuk ku aja, hatiku hanya untuk Diana!!


Tapi dia terus memikirkan Risah yang akan diantar pulang oleh laki-laki lain. Dan karena rasa penasaran terlalu besar Bagas memutuskan menunggu di persimpangan, untuk melihat lelaki seperti apa yang mengantar Risah pulang dan mengatas namakan teman.


Hampir satu jam ia menunggu. Tak lama nampak laki-laki mengendarai motor besar dan di belakangnya ada wanita berambut sebahu juga memakai rok. Ya Bagas yakin dan sangat mengenali wanita itu, dan itu memang Risah.


Terlihat Risah memegang pinggang lelaki itu, tapi tidak seerat pelukkan terhadap Bagas tadi.


Bagas melihat mereka hingga jauh dan tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Lalu ia tancap gas pulang sambil memendam amarah dan cemburu.


Nah ternyata benar Bagas memang cemburu. Apakah benar ia mulai menyayangi Risah dengan tulus? Bukannya hanya sekedar pelampiasan saja? Ah entahlah itu urusan hati Bagas.


...***...


Akhirnya Bagas sampai dirumah hampir jam 10 malam. Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tampak Bu Salmah berjinjit dari teras rumahnya melihat Bagas dengan tatapan mengintimidasi. Tapi Bagas tidak terlalu peduli karena saat ini pikirannya sedang kalut.


"Kok baru sampai? apa macet? Kenapa lama sekali Alif nanyain ayah terus." Tanya Diana setelah melihat suaminya baru pulang.


"Ayah capek mau mandi terus istirahat." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Diana.


"Enggak makan dulu yah?" Tanyanya lagi.


"Udah kenyang!" Jawabnya ketus dan langsung masuk ke kamar mandi.


Diana heran karena sebelumnya suaminya tidak pernah seperti itu, apapun masalahnya diluar. Terkecuali Diana melakukan kesalahan sih. Diana hanya bisa menduga-duga sendiri.


Apa ana ada salah sama kamu yah? tapi apa? perasaan ana enggak ada bikin salah? kenapa ana dicuekin?


Diana hanya terdiam dan menyiapkan makan untuk suaminya. Dan menunggu suaminya selesai mandi.


Beberapa menit kemudian Bagas keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, sepertinya dia keramas untuk menyegarkan pikirannya.


"Yah bajunya ada di tempat tidur udah ana siapkan, nanti setelah itu langsung makan ya." Teriaknya agar Bagas mendengar.


Diana menunggu Bagas yang tak kunjung keluar kamar, sehingga dia beranjak untuk mendatangi suaminya dikamar.


"Yah kenapa malah tiduran, ana udah siapin makanan di meja loh." Agak sedikit meninggikan suaranya.


Siapa juga yang enggak jengkel kalau di udah begitu.


Bagas tidak bergeming sama sekali malah memejemkan mata dan tak ada niatan menjawab omongan istrinya.


Diana menghampiri Bagas yang tidur di ranjang.


"Yah kenapa sih, kok malah enggak jawab kalau enggak mau yaudah! Biar ana buang aja makanannya!!" Kali ini Ana benar-benar emosi.


Seketika Bagas bangun.


"Na, Apa kamu enggak denger tadi? ayah bilang udah kenyang, UDAH KENYANG!!! Kan aku udah bilang mau istirahat aja aku capek!! Kamu ngerti enggak sih na!!! Kalau mau kamu buang yaudah terserah kamu aja, lagian yang masak kamu kan! Kok malah bentak suami yang mau istirahat!" Bagas membentak ana dan sudah menggunakan bahasa "AKU" "KAMU"


Diana terdiam lalu mundur beberapa langkah. Tes buliran air mata jatuh begitu saja, dadanya terasa sesak. Belum pernah Bagas berkata kasar seperti ini.


Bagas mulai panik melihat Ana yang terus berjalan mundur dan menangis.


"Ssaayang. Maaf tadi ayah." Dan langsung di potong perkataanya dengan Diana.


"Stop, cukup!! Aku mengerti yah."

__ADS_1


Diana pun berbalik dan pergi keluar kamar.


bersambung...


__ADS_2