Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 57


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu setelah Risah dan Darma mendekam di dalam pahitnya dan kasarnya jeruji besi. Biar lah kesalahan mereka di tebus, lalu Bagas? Bagaimana dia? Ya, Diana membalas, mungkin anak di dalam perutnya juga membantu, setiap hari Bagas melakukan pekerjaan rumah karena ngidamnya Diana sangat merepotkan.


Mulai dari mencuci piring, cuci baju, menyeterika. Masak pun ia lakukan, meski selalu salah kadang gosong, bahkan ia sampai menanyakan pada Mbah Google bagaimana masak yang benar. Itu semua di lakukan Bagas juga karena ia belum mendapatkan pekerjaan.


"Yah, kaca jendela berdebu itu, di lap lah. Jangan males." Patuh.


"Yah, pengen makan pisang goreng, buatkan ya." Masih patuh.


"Yah, angkat jemuran udah mendung." Tetap patuh, dan seterusnya. Suara Diana memerintah.


"Yah, jangan tidur aja lah, itu di liat tanamannya kering."


Sementara Diana di rumah hanya mengurus Alif, terkadang main ke rumah bu Salmah.


Pagi ini Diana kembali meminta yang tidak-tidak. Seperti makanan, tapi harus Bagas yang buat, dan tentu rasanya harus enak.


"Gimana buatnya sayang? Ayah enggak bisa."


"Biasanya tanya Mbah mu yah, atau enggak liat lah di YouTube kok susah. Jaman udah canggih yah."


"Beli aja ya sayang? Mau?" Mencoba melakukan negosiasi.


"Alif, liat ayah kamu jahat sama bunda."


"Iya iya, udah ayah belanja bahannya dulu ya. Tunggu di rumah jangan kemana-mana. Tunggu ya sayang."


Pergi ke pasar untuk belanja, pagi ini Diana sangat ingin makan pizza, jadi mau tidak mau Bagas harus menuruti. Tentu dengan menggerutu.


Setelah kembali dari pasar, Bagas siap menyalakan HP miliknya, melihat di internet bagaimana membuat pizza rumahan yang simpel.


"Jangan gosong. Ana tunggu di ruang TV sama Alif."


Pergi meninggalkan Bagas yang masih berkutat di dapur.


Setengah jam lamanya, Diana sudah merasa tidak sabar.


"Yah, lama sekali." Teriaknya.


"Tunggu sayang, sebentar lagi."


Berjalan ke ruang TV membawa nampan yang berisi pizza hangat ala-ala ayah Bagas.


"Sayang pizza-nya si-" Melihat Diana. "Kok tidur?"


"Sayang bangun, ini pizza-nya udah siap?"


"Ayah aja yang makan, palingan enggak enak, enggak kayak pizza di restoran." Bergumam sambil menutup mata.


Ya ampun, ternyata karma ku lebih pahit dari Darma.


"Sayang, ayo di coba dulu."


Mendengar dering HP nya berbunyi, Bagas meletakan nampan yang ia bawa, dan segera pergi ke kamar untuk melihat siapa yang menelfon.


"Ya Hallo?"


"(Dengan saudara Bagas?)"


Diseberang telfon bertanya.


"Oh iya, saya sendiri. Siapa?"


"(Pak ini Tina, resepsionis kantor. Bapak di undang datang ke kantor sekarang, direktur menunggu di ruangan. Setengah jam dari sekarang ya pak)."


"Tapi untuk apa? Bukan kah saya sudah mengajukan risigne dan itu di terima?"


"(Untuk lebih jelasnya silahkan bapak datang kesini, untuk hal itu saya tidak tau pak)."


"Baik, saya akan kesana."


"(Saya tutup ya pak, terima kasih)."


Kembali menghampiri istrinya.


"Sayang bangun dulu, ayah di suru datang ke kantor sekarang menemui direktur. Ayah pergi sebentar ya?" Diana langsung bangun dan duduk. Ternyata ia hanya pura-pura tidur.


"Ikut!"


"Sayang."


"Ikut!!" Diana bangkit dan mengganti bajunya, bahkan sebelum Bagas bersiap ia sudah menunggu.


"Alif gimana?"


"Alif ajak aja, biar ana sama Alif nunggu di mobil."


"Ya udah ayo berangkat."


"Mau kemana bunda?" Alif penasaran, pikirnya akan di ajak jalan-jalan.


"Kita ikut ayah."


Perjalanan ke kantor hanya memakan waktu dua puluh menit. Kini telah sampai di area kantor, tepatnya di parkiran mobil.


"Ayah masuk dulu ya."


Segera pergi ke dalam. Banyak teman sekantornya menyapa, ada yang bilang semenjak Bagas tidak ada susah lah, begini lah, begitu lah.


"Mbak, apa direktur masih ada di ruangannya?"


"Masih pak, silahkan. Beliau sudah menunggu."


Mengangguk lalu pergi naik ke lantai 4, dimana ruangan direktur berada.


Tok..tok..


"Permisi."


"Masuk." Jawaban dari dalam.


"Bagas, silahkan duduk. Gimana kabar kamu?"


Duduk di hadapan direktur.


"Baik pak."


"Kamu pasti penasaran kan? Kenapa saya memanggil kamu datang kesini, setelah kamu sudah dinyatakan tidak lagi bekerja di kantor ini?"


Mengangguk.

__ADS_1


"Saya sudah mendengar semua berita, yang membuat kamu harus mengundurkan diri dari kantor ini." Memegang janggutnya. "Saya juga tidak menyangka, tapi terus terang semenjak kamu tidak ada, sebagian karyawan yang satu ruangan dengan kamu banyak yang mengeluh, karena mereka selalu lembur hingga larut malam. Tugas menumpuk, karena kekurangan tenaga kerja. Saya tau, banyak yang bisa menggantikan posisi kamu, tapi tidak akan sama, bahkan kami juga harus mengajarinya lagi. Mengulang dari nol. Apa lagi sekarang kepala ruangan sudah tidak ada. Jabatannya masih kosong. Saya berniat ingin memperkerjakan kamu kembali, karena masalah kamu kan sudah selesai. Saya harap kamu berminat."


Ini sungguh kabar baik untuknya, tapi jika sudah begini, bukankah seisi kantor juga tau? Pasti bakal banyak yang menanyakan nanti.


"Saya kasih waktu kamu sampai besok, jika kamu berminat silahkan datang ke kantor besok pagi."


"Baik pak. Saya juga harus mendiskusikan ini kepada istri saya."


"Oke enggak masalah. jika tidak ada yang ingin kamu tanyakan kamu boleh keluar, saya juga akan segera pergi karena ada pertemuan di luar kantor." Melihat jam di tangannya. Bagas sendiri merasa tidak enak, karena direktur terlambat pasti karena menunggunya.


"Saya permisi pak."


"Tunggu, satu lagi. Jika kamu memang niat ingin bekerja kembali, pesan saya. Jangan tergoda dengan wanita mana pun." Tersenyum penuh arti.


Bagas hanya mengangguk lalu segera pergi meninggalkan ruangan.


Direktur saja sudah tau, aku yakin begitu aku masuk kembali sudah pasti banyak yang iri, dan juga menggunjing di belakang.


Sampai di mobil.


"Sayang."


"Kenapa yah? Ada apa?" Sorot matanya menatap penuh dengan penasaran.


"Kita bicara di rumah aja ya sayang."


"Ya udah yah."


Bagas kembali melajukan mobilnya, memasuki jalanan raya. Diana sudah heboh duluan, melihat banyaknya makanan di pinggir jalan.


"Yah, itu enak deh kayaknya." Menunjuk penjual roti keliling.


"Alif juga mau itu bunda."


Wah sekarang Bagas memiliki dua anak. Tiga, setelah yang satu sudah keluar.


"Ya udah kita beli ya?"


Menghentikan mobilnya. Dan berjalan menyebrang, menghampiri pedagang yang berada di sebrang jalan. Penjual hanya menggunakan becak.


"Pak, mau 20rb ya."


"Yang mana mas?"


Bagas menunjuk setiap roti, banyaknya pilihan membuat Bagas bingung, dan akhirnya Bagas membeli satu dari setiap macam roti yang ada.


"Makasih mas."


"Sama-sama pak." Tersenyum ramah.


Kembali menyebrang dan menenteng satu kantung plastik yang isinya nampak warna-warni.


"Ini." Menyerahkan bungkusan kepada istrinya.


"Enak mana ya sama pizza buatan ayah?" Berpikir sendiri, tanpa harus Bagas menjawab.


"Ya udah, nanti makan aja di rumah. Terus bandingkan mana yang lebih enak."


"Jelas enak inilah yah!" Protesnya.


Jadi nyesel udah jawab.


Kini pengamen itu sudah berada tepat di depan kaca mobilnya. Diana tersenyum melihatnya.


Kasian kamu nak, nasibmu tak seberuntung anak lainnya.


"Dek ini." Ketika Diana akan memberikan uang satu lembar berwarna biru. Lampu sudah berganti hijau, sontak pengendara lain membunyikan klakson berkali-kali. Agar mobil yang di kemudikan Bagas segera melaju.


"Makasih bu." Menunduk sopan dan pergi.


Diana mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil, untuk apa? Bagas yang melihatnya juga heran.


"Sayang bahaya, ngapain ah!"


"Eh pak, kalau tidak mau sedekah setidaknya jangan menghalangi orang lain untuk sedekah! Tenang aja, jalan ini enggak akan berubah jadi lautan kok kalau bapak bisa sabar sedikit. Jadi enggak perlu bunyikan klakson bapak dengan panjang, berisik!!"


Sontak orang yang telah di tegur Diana diam seribu bahasa.


Bagas melirik pengendara mobil yang di telah di marahi Diana.


Ternyata, itu adalah direktur.


"Astaga sayang." Mengubah ekspresi wajahnya menjadi panik.


"Kenapa?" Masih merasa santai.


"Yang kamu tegur tadi, itu direktur kantor sayang, yang baru aja ngundang ayah ke kantor." Masih panik.


"Ya terus kenapa?"


"Enggak apa kok sayang." Kembali fokus mengemudi, menarik nafas, dan membuang secara perlahan.


Istriku, oh istriku. Jika direktur tau kalau kamu istriku gimana. Semoga dia enggak tanda wajahmu. Tapi tadi jelas dia tau kalau ini mobilku, dan juga direktur sempat melihat ke arahku. Ya ampun, ya ampun.


Memasuki halaman rumahnya. Dan kembali memarkirkan mobilnya di garasi.


Diana tidak langsung masuk ke rumah, tapi ia lebih memilih untuk kerumah bu Salmah.


"Bu, oh bu." Panggilnya.


"Ya na, ada apa?" Keluar dengan menggunakan daster panjang.


"Ini, ibu mau? Ana beli banyak tadi."


"Oh, mau lah na. Enak ini makan pakai teh." Mengambil dua potong roti.


"Udah. Makasih ya na."


"Iya bu sama-sama. Ana pulang dulu ya bu."


"Iyaa." Berteriak sambil masuk ke dalam rumah.


Kembali masuk ke rumahnya. Benar apa yang di katakan Bagas, Diana mengambil pizza buatan suaminya itu, dan mencicipinya, kemudian ia bandingkan rasanya dengan roti yang berlumur coklat.


"Kok beda sih, buatan kamu gurih pedas yah, yang ini manis dan lembut."


"Sayang, jelas beda lah. Itu kan coklat, nah yang itu kan menggunakan saus." Menunjuk dua roti yang saat ini di pegang Diana.


"Iya, terserah lah yah, yang mau makan kan ana."

__ADS_1


Iya aja iya, batin Bagas.


"Alif mau itu bunda?" Menunjuk pizza buatan Bagas.


"Ini sayang." Memberikan satu potongan untuk anaknya.


"Kok keras dan alot bunda?" Diana tertawa sampai mengeluarkan air mata.


"Itu ayah kamu yang buat sayang, Hahaha." Masih terus tertawa. Jangan di tanya wajah Bagas saat ini, ia tekuk dan ia lipat.


"Ya udah Alif makan roti yang bunda beli aja ya." Memberikan roti yang ada di bungkusan plastik.


"Yah?"


"Hem?" Mengunyah pizza buatannya sendiri.


Memang enggak enak, keras. Perasaan tadi caranya udah bener lah.


"Tadi gimana waktu ke kantor? Katanya mau bicara kalau udah di rumah. Ini udah di rumah, tapi malah ayah makan pizza buatan ayah sendiri yang super lezat." Menahan tawanya.


"Iya sayang memang enggak enak." Mengambil air satu gelas dan langsung di teguk habis oleh Bagas.


"Sayang, direktur memberi kesempatan ayah untuk bekerja lagi. Apa sayang setuju?"


Diana terdiam, tampak berpikir.


"Kalau kamu bilang enggak usah, ya udah ayah enggak mau kok sayang."


"Itu beneran direktur langsung yang ngasih tawaran ke kamu yah?"


"Iya sayang, jadi gimana?"


"Bukan yah, bukan itu." Diana menggelengkan kepalanya, sambil menatap dengan pandangan yang kosong.


"Tadi ayah bilang kan, kalau yang ana marahin sewaktu di lampu merah itu adalah direktur?"


Bagas mengangguk.


"Apa, apa dia tau kalau tadi ada ayah di dalam mobil?"


Mengangguk lagi.


"Jadi gimana dong yah? Aah, Diana setuju kalau ayah kerja lagi disana, tapi kalau begini, apa direktur masih mau nerima? Atau besok ayah datang sama ana aja, biar ana yang minta maaf, gimana?"


Bagas menggelengkan kepalanya.


"Enggak sayang, enggak perlu. Kalau dia mau terima ya pasti di terima, lagian kamu udah benar kok."


Kamu benar kok sayang benar, hanya salahnya di orangnya, orang yang kamu marahi itu loh.


Tersenyum dengan mengeratkan giginya.


"Hem, iya juga sih. Memang ana benar yah? Lagian juga masak enggak sabar sih dia." Masih lanjut mengunyah roti yang sudah entah ke berapa.


"Tapi memang sayang ngasih ijin ke ayah kan untuk kembali bekerja disana?"


Menatap istrinya menunggu jawaban yang pasti.


"Ngasih, tapi dengan satu syarat."


"Apa sayang?"


"Pergi dan pulang ana yang antar? Gimana?"


Syarat macam apa itu.


Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu lagi hamil sayang. Ini bakal terus membesar, dan kalau kamu enggak bisa jemput gimana? Atau ketiduran di saat ayah Uda pulang, dan juga kalau ayah lembur pulang malam gimana?"


"Ayah enggak pernah lembur sampai malam tuh! Bukan kah waktu itu hanya lembur bersama Risah? Bukan lembur di kantor? Ya kalau memang ana enggak bisa jemput atau ketiduran, ya ayah kan bisa naik taxi atau ojek, gampang kan?"


"Iya sayang ya udah iya, ayah kamu antar aja. Tapi ketika usia kandungan mu sudah memasuki 7 bulan, ijinkan ayah membawa mobil sendiri ya?"


"Tergantung."


"Apa lagi sayang?"


"Kok ngebentak sih?" Masih saja sensi.


"Ya ampun maaf, ayah enggak bentak loh sayang."


Diam tak menjawab.


"Ya udah semua terserah kamu, ayah nurut ayah manut, ya udah jangan cemberut, sekarang ajak Alif tidur, ayah mau ke depan."


"Ngapain?"


"Cari angin."


"Cari angin, atau cari selir?"


"Sayang?"


Diana menatap tanpa rasa bersalah.


"Apa?" Malah menantang.


"Alif masuk kamar sekarang, tidur!" Pinta Bagas, dan Alif yang memang sudah mengantuk langsung masuk ke kamar.


"Ayo?" Ajak Bagas. Diana yang bingung hanya menurut, dan kemana Bagas akan membawanya.


Ternyata, Bagas membawa Diana masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang akan ia lakukan di siang bolong seperti ini, melakukan hubungan suami istri kah? Mungkin. Selama Diana kembali ke rumah ini, belum pernah sekalipun Bagas berhasil untuk kembali melakukan penyatuan pada istrinya. Karena Diana sendiri, meskipun sudah memaafkan, tetap saja ada rasa benci menghantuinya.


Satu jam lamanya berada di kamar mandi. Bagas keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya, dan wajahnya dingin, tidak ada sinar sama sekali. Kemudian Diana menyusul keluar yang masih berpakaian lengkap.


Yang sebenarnya terjadi.


Bagas memeluk istrinya, mulai melakukan aksinya kembali. Menelusuri setiap lekuk leher istrinya, memegang area sensitif. Kemudian Diana menyuruh Bagas untuk berjongkok. Dan dengan hitungan detik, byurrrr... Diana menyiram Bagas dengan air.


"Katanya kamu mau cari angin keluar, udah ini kan udah dingin yah. Enggak perlu cari angin."


Diana melakukannya berulang-ulang. Mengguyur tubuh Bagas dengan air. Bagas sampai gelagapan, karena tidak di kasih waktu untuk bernapas.


"Udah sayang cukup." Mengambil handuk dan segera membuka bajunya. Langsung keluar kamar mandi, tanpa berkata apapun lagi.


Sayang, kasian sekali bayi kecil ku ini. Oh ya ampun. Main solo aja lah, lebih baik, niatnya dan pergi keluar.


"Kasian sekali ayah kamu nak, hihi." Mengelus perutnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2