
Tangannya bergetar memegang amplop berwarna coklat. Membukanya perlahan, dan membaca isi dari surat itu.
"PANGGILAN DARI PENGADILAN UNTUK SAUDARA/I RISAH"
"Ibu!!" Teriaknya, matanya memanas. Padahal sejak jauh hari sudah ia siapkan. Baik hati dan pikiran, tetapi tetap saja ia lemah.
"Kenapa?"
Ikut panik dan mendekat ke anaknya.
"Apa ibu udah tau tentang surat ini?" Menunjukkan surat yang ia pegang.
"Udah, kan ibu yang terima."
"Aku takut bu."
"Udah tenang aja, nanti bakal ada yang dampingi kita untuk datang kesana." Mencoba menenangkan anaknya. "Warung lagi ramai. Ibu harus kembali ke warung."
Kembali terdiam memikirkan hal-hal yang akan terjadi.
Apakah ini nyata? Atau cuma mimpi? Apa aku harus kembali mengemis? Ah ya ampun!!!
Adzan berkumandang, menandakan waktu Dzuhur telah tiba. Mungkin sudah saatnya, pikir Risah.
Ia menghidupkan air kran, lalu mencoba mengingat bagaimana cara mengambil wudhu, sudah lama sekali bahkan ia lupa kapan terakhir melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Masuk ke kamar, dan mengambil sajadah dan mukenah nya. Tampak bersih dan wangi, ya ibunya selalu rajin untuk mencucinya, walaupun tidak pernah Risah menggunakannya.
Membaca niat dan melakukannya dengan khusyuk.
Ya Allah ampuni hamba, hamba mohon ya Allah. Sudah terlalu lama hamba tidak mengingatmu. Hamba adalah orang yang sangat kotor, bantu lah hamba ya Allah. Untuk segera menyelesaikan masalah hamba, dan bantulah hamba untuk mempersiapkan hati hamba apapun keputusannya nanti. Ya Allah, hamba berjanji untuk kembali ke jalanmu. Amin..
Di akhir doa iya menangis, menangis tersedu-sedu. Mengingat semua, semua dosa yang ia perbuat selama ini.
Selesai sholat Risah mengambil HP nya yang berdering. Sebenarnya sangat malas, tapi ia paksakan saja.
"Siapa?" Tanpa melihat nama yang tertera di layar HP Risah langsung menjawab panggilan telfon.
"(Rendy, apa masih ingat? Atau udah lupa, atau sengaja di lupakan? Atau-"
"Stop basa-basi. Kamu mau apa?"
"(Haha, jangan marah-marah lah. Bisa kita bertemu di cafe X sekarang?)"
"Mau apa? Aku lagi enggak enak badan, maaf jadi enggak bisa."
"(Beneran? Ya udah aku kerumah kamu sekarang)."
"Eh enggak, ya udah aku ke cafe sekarang."
Bersiap dan akan ke cafe.
"Bu, aku keluar sebentar."
Pamit kepada ibunya yang lagi sibuk di warung.
"Mau kemana sah?" Panik, karena untuk saat ini ibunya sangat takut Risah akan berbuat nekat, apa lagi kalau bukan untuk kabur.
"Sebentar aja kok bu, ke cafe X mau jumpa teman."
"Risah enggak ibu bilang!!" Bentaknya. Pelanggan yang sedang makan di warung sontak menatap ibu dan anak ini.
"Rendy bu, mau ketemu rendy!!" Terdiam dan Risah dengan cepat melangkah pergi.
"Mau kemana Mpok si Risah?" Tanya salah satu pelanggan yang akan membayar.
"Oh itu, katanya mau ketemu temannya. Tapi kamu kan tau, Risah gimana. Mpok takut kalau dia buat masalah lagi, udah cukup kali ini buat malu." Ibunya sudah tidak malu untuk mengeluarkan unek-unek nya. Karena apa, toh semua tetangga dan warga satu kampungnya sudah tau, bagaimana Risah. Dan bencana apa yang kini tengah menimpa ia dan ibunya.
Hanya saja, mereka tidak menggunjing ibunya, karena memang disana, ibunya terkenal sebagai orang baik. Tidak sedikit yang selalu mengumpat Risah ketika mendengar berita ini. Tentu tidak di hadapan ibunya, menjaga perasaannya.
"Ini kembalian nya." Menyerahkan uang pecahan lima ribu.
"Sabar Mpok, suatu saat pasti bakal berubah kalau udah nemuin laki-laki yang tepat, yang bisa bimbing dia. Lagian sebentar lagi Risah juga bakal jadi seorang ibu, pasti sedikit banyak akan berubah." Nasehat pelanggan sekaligus tetangganya itu, menenangkan sedikit kecemasan yang ibunya rasakan saat ini.
"Makasih ya kom." Memberi senyuman hangat. Tampak wajah keriputnya saat ini. Tentu, usianya tak lagi muda. Apa lagi sekarang harus melakukan apa-apa sendiri, kalau dulu masih ada ibunya(nenek Risah) ia tak terlalu repot. Bahkan adiknya Risah pun sudah tidak disini, begitu lulus SMP langsung minta ke pesantren. Sangat berbanding terbalik dengan kelakuan Risah yang selau merepotkan ibunya.
Kembali mengusap keringatnya yang jatuh, sambil mengulek sambal. Pesanan menumpuk, lelah sungguh ia rasakan. Tapi masih sanggup tersenyum ramah ke setiap pembeli yang datang. Malah ia anggap ini sebagai rezeki dari Allah.
"Bu pecel ya bungkus."
"Bu sambal ulek sama rebusan ya, dua di bungkus."
"Mpok, kopi pahit ya kayak biasa minum disini."
Banyak lagi pesanan yang akan ia buat. Sungguh, setiap hari akhir-akhir ini warung bertambah ramai.
"Kak, kalau dah merase capek betol kejekan warung ni sendiri, baik kak cari orang yang bisa bantu engkau lah kak di warung." Ucap salah seorang tetangganya yang berbeda suku.
Tersenyum lagi.
__ADS_1
"Enggak apa lah nur, Risah juga sedang mengandung. Enggak mungkin disuru bantu, dan kalau harus pakai tenaga orang lain, siapa yang mau kerja di warung kecil ini, dan mungkin gajinya juga hanya cukup buat beli nasi satu bungkus."
Tapi ibunya sungguh memikirkan hal yang ia dengar barusan. Rasanya memang sudah saatnya mencari orang yang mau membantunya di warung, yang cocok biasanya anak sekolah, yang bisa paruh waktu, dari siang ke sore aja.
...***...
Di komplek mewah, dan juga di rumah yang mewah.
Sudah entah berapa barang yang ia hancurkan. Teriak-teriak seperti orang gila.
"Argh. Kenapa jadi begini nasibku!!! Sial*n, kamu Risah penyebab semuanya!!" Kantung matanya menghitam, sudah setiap malam selalu bergadang, rindu terhadap anak dan istrinya. Bahkan semua pembantunya mengundurkan diri, tentu itu juga atas perintah dari Luna. Bukan sedikit pesangon yang ia berikan kepada ART yang bekerja padanya selama bertahun-tahun.
Sudah tiga hari juga Darma tidak masuk kantor, percuma juga semua tugas yang ia kerjakan tak pernah selesai. Sampai hari ini masih berada di dalam rumah, mengurung diri. Sampai tiga surat datang kerumahnya.
Surat pertama : Istri menuntut cerai.
Surat kedua : Tuntunan yang di ajukan Bagas.
Surat ketiga : Adalah surat peringatan dari perusahaan.
Dan yang terkahir Bagas mencari surat tanah miliknya. Membongkar isi lemari, nihil. Semua sudah di bawa oleh Luna.
"Akan ku bunuh kau Risah!!" Begitu niatnya saat ini.
Mengambil kunci mobilnya. Segera melaju dengan cepat menuju rumah Risah. Tetapi saat di perjalanan Darma melihat Risah turun dari taxi dan berhenti di sebuah kafe. Ia langsung putar arah dan mengikuti Risah.
Meja nomor 11 yang ada di pinggir dekat jendela. Langsung masuk aku udah disini.
Pesan yang dikirim oleh Rendy. Risah langsung bergegas masuk ke dalam. Kafe tidak terlalu ramai, karena mungkin saat ini masih siang, biasanya kan selalu ramai kalau malam.
"Duduk, langsung pesan makanan aja. Kamu pasti lapar belum makan siang kan."
Kenapa? Kenapa sikapnya aneh?
"Kenapa? Takut? Tenang kali ini aku hanya ingin bicara serius."
Apa Rendy sakit? Dan, dan nyawanya tidak lama lagi?
"Mbak." Melambaikan tangan memanggil seorang pelayan.
"Silahkan pesan duluan." Menyerahkan buku menu.
Risah mengambil dan melihat menu yang tertera disana.
"Ini mbak." Tunjuk nya, dengan cepat pelayan mencatat.
"Saya sama aja ya mbak." Dan menatap Risah.
"Enggak masalah."
"Itu saja mas?" Mencoba menawarkan menu yang lain.
"Sama cemilan yang paling enak disini." Mengangguk dan kembali mencatatnya.
"Mbak." Panggil Rendy lagi.
Pelayan berbalik dan mendekat.
"Apa mbak sudah punya pacar?" Yang di tanya bingung, dan dahinya berkerut.
"Belum mas."
"Syukurlah." Ucap Rendy.
"Kenapa mas?" Risah hanya mendengarkan dan menonton drama yang ada di hadapannya.
"Oh enggak, kalau udah enggak ada yang mau sama saya, mbak mau kan sama saya?" Bicara tanpa tersenyum sedikit pun.
Sial*n ku kira benar-benar udah berubah.
"Mas ada-ada aja." Mengubah ekspresi nya menjadi lebih centil. Dan berlalu pergi.
"Kenapa mesti nunggu nanti, sekarang aja, mbak yang tadi juga mau sama kamu." Berbicara tanpa menatap Rendy.
"Haha, kok syirik."
"Cih." Risah mendengus.
"Cepat, katakan. Kamu mau bicara apa?"
"Enggak ada. Nunggu kamu aja yang bilang."
"Enggak lucu ya ren."
"Makan aja dulu lah."
Beberapa menit kemudian, makanan yang di pesan datang. Dan apa? Pelayan yang tadi lagi yang mengantarkan makannya. Dan kali ini, warna lipstick nya sudah bertambah merah, bedaknya juga tebal. Sepertinya ia memang menganggap serius omongan Rendy. Wah benar-benar aneh, batin Risah.
"Silahkan mas. Kalau ada yang ingin di pesan lagi, silahkan panggil saya." Ucapnya yang hanya tertuju pada Rendy.
__ADS_1
"Dia cuma mau pesan mbaknya aja habis ini." Tertawa kecil.
Rendy tersenyum dengan terpaksa.
"Saya menunggu mas." Mengedipkan matanya.
Risah yang tak tahan, langsung tertawa terbahak-bahak setelah pelayan itu pergi.
"Jadi nyesel aku ganggu nya." Dan langsung menyantap makanannya.
"Sah, kamu enggak ada niatan mencari ayahmu? Aku tau lo dimana dia sekarang." Menatap dan melihat reaksi Risah.
"Kalau kamu mau, aku juga bisa nganter kamu kesana."
Masih diam.
"Aku tau, kamu pasti rindu kan?"
Risah mendongakkan wajahnya, menatap Rendy. Dan mengambil air mineral yang di sediakan di meja, mengelap bibirnya dengan tissue.
"Makasih buat makanannya. Dan aku permisi." Langsung pergi meninggalkan Rendy yang terdiam.
Sampai kapan kamu menghindar Risah, dia tetap orang tua kamu.
Rendy tidak mengejar Risah, biar lah pikirnya. Toh kalau di kejar juga Risah akan tetap pergi.
Melanjutkan makanannya dengan santai, dan benar saja. Pelayan itu mendekat dan duduk dihadapan Rendy.
"Kenapa pergi mas pacarnya?" Rendy mendongakkan wajahnya, berhenti mengunyah meskipun saat ini mulutnya penuh dengan makanan.
Sumpah, baru kali ini aku menyesal menggoda wanita.
"Mbak, ini saya bayar, sisanya ambil ya. Untuk mbak beli bedak dan lipstick." Berlalu pergi meninggalkan pelayan yang menghitung jumlah uang yang ia pegang.
"Banyak sekali, bukankah cuma habis 250rb." Masih berpikir untuk apa rezekinya hari ini.
Langkah Rendy terhenti, ketika menatap tangan Risah ditarik paksa, dan terus menariknya masuk ke dalam mobil. Risah meronta dan berteriak, tentu tidak ada yang tau, karena ini masih area kafe, dan jauh dari pinggir jalan, sementara pekerja semua berada di dalam. Risah menoleh, melihat Rendy yang berdiri mematung.
"Ren tolong aku ren, tolong." Menangis, dan menghilang dari pandangan Rendy setelah Risah masuk ke dalam mobil.
Ini adalah untuk pertama kalinya Rendy melihat Risah menangis, sungguh. Sebelum nya Risah terkenal sangat angkuh dan sombong, jadi akan menjadi hal yanh mustahil jika melihat Risah menangis.
Dengan sigap Rendy masuk ke mobilnya, mengejar kemana mobil itu membawa Risah. Hingga mobil berhenti di sebuah jembatan, sunyi sepi, tidak ada yang lewat.
Darma terus menyeret Risah ke pinggir jembatan, yang memang lokasinya sangat terjal. Di bawahnya mengalir deras air sungai, dan begitu banyak batu besar yang siap menyambutnya jika ia jatuh ke bawah.
"Jangan, ku mohon. Jangan, aku mengandung anakmu saat ini. Ku mohon. Biarkan kami hidup, biarkan aku bersamanya, meskipun aku sangat membencimu." Teriaknya histeris.
Langkah Rendy terhenti "Anak? Jadi yang di ceritakan oleh ibu benar, dan orang kepar*t ini adalah pelakunya?" Ia mengepalkan tangannya, dan berjalan mendekat.
"Lepaskan dia sekarang juga!!" Berteriak sekencang mungkin.
"Rendy." Gumam Risah. Ia langsung menendang kaki Darma dan berlari sekencang mungkin untuk menghindar, Risah langsung memeluk Rendy, dengan sekujur tubuhnya yang bergetar hebat, rambutnya acak-acakan.
"Kembalikan dia kesini, kamu jangan ikut campur urusanku." Sambil menahan rasa sakit di kakinya.
"Dasar orang gila, sinting, edan. Coba sekarang kamu lihat ke bawah sana." Ucap Rendy. Dan bodohnya itu di ikuti oleh Darma.
"Coba kamu bayangin, jika kamu yang terjatuh dari atas, sakit enggak rasanya?"
"Sakit lah!!" Bentaknya.
"Sekarang kamu masuk ke mobil aku ya, sekarang." Bisik nya terhadap Risah.
Risah mengangguk. Dan berjalan masuk kedalam mobil.
"Coba kamu tes aja, kamu yang lompat dari sana." Teriak Rendy.
"Apa maksudmu?" Berjalan mendekat siap untuk memukul Rendy.
"Dia mengandung anakmu sekarang, dia tidak meminta kamu menikahinya, dia siap mengurus anak itu sendiri. Kenapa kamu masih saja menyalahkannya? Bukan kah ini semua juga karena kamu? Ha? Dasar baj**an!!"
Rendy yang saat ini juga emosi, langsung memukul Darma dengan membab* buta. Darma tak berdaya, Rendy segera berjalan meninggalkannnya. Wajahnya sudah penuh dengan luka dan darah. Bahkan tangan Rendy pun meninggalkan bekas darah yang keluar dari wajah Darma.
"Kamu enggak apa-apa?"
Risah menggeleng. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, ia terus saja menangis.
"Sah?" Ucap Rendy kaget. Yang melihat darah keluar dan mengalir di kakinya.
"Kenapa?" Ucapnya dengan suara parau.
"Kita kerumah sakit sekarang! Kamu, kamu pendarahan sah!" Panik, dan langsung menyalakan mesin mobilnya.
"Ren enggak, enggak ren!!" Menggeleng kan kepalanya dan terus menangis. Seperti orang yang mengalami depresi berat.
Ternyata saat di dalam mobil bersama Darma, Risah juga di lecehkan olehnya. Di tampar, di Jambak, dan di pegang tubuhnya di area-area yang sensitif.
Sampai di area rumah sakit, Risah yang sudah kehabisan tenaga untuk melawan Darma, dan juga mengalami pendarahan. Tubuhnya lunglai, Risah pingsan. Dengan cepat Rendy menggendongnya, memanggil suster untuk segera menangani Risah.
__ADS_1
Bersambung..
Hayo siapa yang bingung, kenapa Rendy bisa tau kalau Risah hamil? Ayo sama-sama kita tanyakan sama ibunya ya 😂