Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 7


__ADS_3

Keesokan paginya Bagas membawa Diana ke rumah sakit terdekat karna takut terjadi apa-apa.


Syukurlah hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Karna demam adalah efek dari luka di kaki yang belum bersih. Dan masih ada kaca yang tertinggal di daging, maka dari itu Diana merasakan efek denyut yang luar biasa.


"Saya sudah menyuntikkan anti tetanus dan memberikan obat berupa vitamin juga. Agar ibu Diana tidak lemas lagi." Tutur dokter itu dengan ramah.


"Baik dok, tapi sungguh ini tidak berbahaya kan dok?" Tanya Bagas.


"Oh tidak pak, hanya saja saya sarankan untuk ibu Diana istirahat total supaya luka di kaki kering dan jangan sampai terkena air dulu ya pak." Dokter mencatat resep obat yang akan diminum. "Ini pak obatnya. Jangan lupa sampai rumah langsung di minum ya pak."


"Iya dokter terima kasih." Ucapnya tulus seraya memapah istrinya berjalan.


Hari ini Bagas ijin tidak masuk kantor. Karena dia tau tidak mungkin meninggalkan Diana dengan keadaan sakit. Lagian juga kasian Alif nanti siapa yang akan memberi ia makan.


...***...


Tiba dirumah Diana menyuruh Bagas menelfon kak mita untuk menjemput Alif.


"Yah lebih baik biar Alif titip sama kak Mita aja, kasian juga dia enggak ada yang perhatikan. Lagian juga Ana bisa apa-apa sendiri lebih baik ayah kerja aja." Tuturnya.


"Soal Alif sih ayah setuju kalau kak Mita enggak ada kesibukan. Tapi ayah udah ijin enggak masuk kantor hari ini karena kamu sakit sayang. Ayah pengen ngerawat kamu sampai sembuh."


Sambil mengelus rambut istrinya.


Diana tersenyum senang mendengar perkataan suaminya. Lalu ia mengambil HP untuk menelfon kakaknya. Setelah menelfon, dan berbicara mengenai keadaanya sekarang, tidak sampai satu jam Mita sudah tiba di kediaman Diana untuk menjemput Alif.


Dan dia datang bersama Anton. Jangan tanya deh apa dia enggak bekerja? diakan bos ya bebas lah tinggal mantau dari HP aja kali.


"Assalamualaikum." Ucap Mita.


"Walaikumsalam. Masuk aja kak ke kamar, Ana ada didalam itu."


Mita berjalan menuju kamar. sementara Anton dan Bagas berbincang di ruang tamu.


tok..tok..


"Na, kakak masuk ya?" Tanya Mita.


"Iya, buka aja kak langsung masuk, enggak di kunci kok." Jawabnya masih tetap terbaring di tempat tidur.


"Kamu kenapa? katanya kaki mu terkena kaca? Kok bisa sih na? Enggak hati-hati sih kamu na!" Malah di bondong dengan pertanyaan.


"Namanya juga musibah kak, mau sehati-hati apa pun kita ya enggak bisa di elakin. Dari pada Alif yang kena mending Diana aja, lagian Ana kan karna nyegah Alif makannya spontan mijak kaca kak." Jawabnya panjang lebar.


"Lah iya, ini Alif nya kemana? Kok dari kakak masuk rumah enggak ada keliatan?" Sambil clingak clinguk mencari keberadaan Alif.


"Tadi nitip bentar sama Bu Salmah di sebelah kak. Kan enggak mungkin dia di ajak ke rumah sakit apalagi masih pandemi begini, anak-anak mana di bolehin ikut masuk kak." Jelasnya.


"Tadi juga pas pulang udah mau di ambil ayahnya, cuma Alifnya enggak mau karena masih asik main sama cucu Bu Salmah."


Setelah berbincang cukup lama Mita dan Anton pamit pulang dan membawa Alif untuk tidur dirumahnya dulu. Tak lupa ia membawakan pakaian ganti. Alif nya sih enggak banyak protes karena udah terbiasa juga dengan Mita dan Anton (pakde dan bukde nya).


"Buntel kita pulang dulu ya, cepat sembuh tapi jangan cepat-cepat ambil Alif kerumah, hehe soalnya bentar lagi mas mu yang ganteng ini mau berangkat keluar kota." Ejekkan nya masih berlaku ya walau pun Diana sakit.


"Terserah deh mas, Ana lagi mikirin denyut di kaki jadi otaknya enggak bekerja dengan baik. Jadi Ana ngaku kalah aja kali ini." Mereka spontan tertawa mendengar ucapan Diana.


Karna hanya tinggal mereka berdua yang ada dirumah, Diana pun merasa bosan. Biasanya juga ada Alif yang main dengan suaranya menyerupai bak mobil balap atau mobil pengangkut sampah.


Tak lama Diana pun tertidur di samping Bagas. Bagas yang masih sibuk dengan laptop nya mengerjakan sebagian tugas kantor nya yang dikirim temannya melalui email.


Diana terbangun karena mendengar dering telfon di Hp Bagas yang berbunyi terus menerus tapi tak kunjung di angkat oleh nya.


"Yah? ada yang nelfon kenapa enggak di angkat sih?"


Tanyanya.


"Biarin aja sayang. Udah kamu istirahat aja lagi, baru sebentaran juga tidurnya." Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Gimana mau istirahat, orang dering HP kamu bunyi terus yah! angkat lah yah, siapa tau itu penting?"


Bagas pun menghela nafas dan mengambil HP nya.


"Ayah angkat telfon bentar ya sayang." Seraya berjalan keluar kamar. Sekilas Diana melihat di layar ponsel, siapa yang menelfon karena biasanya tak sampai harus menjauh dari Diana ketika akan menerima telfon, meski itu adalah rekan kantornya sekalipun.


"RISAH" Diana kaget dan mulutnya sampai terbuka lebar.

__ADS_1


"Kenapa wanita itu menelfon suamiku? ada urusan apa dia? dan kenapa ayah enggak mau angkat disini? bukan kah itu wanita yang di sebut ayah waktu mengigau? enggak, enggak mungkin!! hanya salah liat aja kali aku, karna efek bangun tidur pandangan ku masih kabur."


15 menit kemudian Bagas kembali ke kamar. Wajahnya kusut menahan emosi, seperti habis berdebat dengan orang lain.


"Kenapa yah? apa ada masalah?" Tanya Diana hati-hati.


"Oh enggak ada kok sayang, tadi cuma temen ngabarin jadwal meeting untuk besok." Jawabnya santai tapi masih terlihat gugup.


Diana menatap matanya


Apa sebenarnya yang kamu


sembunyikan dari ana sih yah! Batinnya.


"Oh gitu yaudah, emm ini udah jam 1 siang. Apa ayah udah makan?"


"Belum." Masih tetap fokus terhadap laptop.


"Yaudah makan dulu ya yah? biar Ana ambilkan."


"Eh enggak, enggak usah sayang! Biar ayah aja yang ambil sekalian buat kamu juga, kamu disini ajaya. Sekalian ayah ambil obat kamu ya? sayang letak dimana tadi obatnya?" Tanyanya.


"Di atas kulkas yah. Ini beneran ayah yang mau ambil yah?"


"Sayang, ayah libur kan karena mau ngerawat kamu ana sayang? jadi apa mungkin ayah tega liat kamu jalan kebelakang ngambil makanan sementara kaki kamu saja untuk berdiri masih sakit. Jadi diem aja jangan bantah apa yang ayah bilang!"


Senyum diwajah Diana mengembang.


"Terima kasih cakilku. Hehe."


Disitu bedanya, jika dengan Risah Bagas sedikit terpaksa melakukan sesuatu. Tetapi dengan Diana perlakuannya benar-benar tulus.


Padahal biasanya lelaki yang sudah berselingkuh lebih mengutamakan yang kedua dari pada yang pertama, tapi disini Bagas beda. Karena apa? Dia tau yang ia lakukan sudah salah, sudah terlalu membuat Ana sakit hati. Jadi dia juga tidak mau menyakiti fisik dan mentalnya juga.


Ya walaupun dengan perhatian yang ia berikan seperti ini tidak akan mengurangi sedikit pun rasa sakit hati istrinya. Apalagi kalau sampai dia tau.


Diana makan dengan lahap, sesuap demi sesuap yang di berikan suaminya masuk kedalam perut dengan mudah nya.


Setelah selesai makan Diana mengajak Bagas untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan nya sebentar. Bagas pun menurut karena sebenarnya ia pun amat sangat lelah. Lelah memikirkan perkerjaan entah memikirkan selingkuhan.


Dari sekian banyaknya kelebihan istri, suami kadang tega meninggalkan dan menduakan hanya karna istri memiliki satu kekurangan.


Padahal istri mana yang tidak ingin sempurna? Istri mana yang tidak ingin suaminya hanya tergila-gila pada dirinya seorang? tapi itu kembali lagi kepada setiap umatnya, umatnya yang mempunyai banyak keterbatasan, bukan begitu kan?


...***...


Diana tidur dipekukan Bagas. Eh tapi Diana tidak benar-benar tidur ya, karena dia juga mau buktikan, dia mau ngechek HP sang suami tercinta. Betul atau tidak yang menelfon tadi namanya Risah.


Diana mendengar dengkuran halus keluar dari mulutnya Bagas, tanda ia sudah benar-benar terlelap. Perlahan Diana menggeser tubuh suaminya yang sebagian menindih nya, dan ternyata berhasil.


Ia mengambil HP dan segera melihat siapa yang menelfon tadi.


Ketika di buka dan benar saja Diana tidak salah liat, karna memang disitu tertera nama Risah. Diana pun langsung mengechek panggilan lain, ada beberapa panggilan dari teman dan bos suaminya. Tapi ada juga panggilan keluar bernama Risah. Ya artinya Bagas juga pernah menelfon risah kan.


Sabar Diana sabar, jangan gegabah!


Oke kita beralih ke pesan ya.


setelah membuka pesan, ada banyak pesan sehingga Diana harus mencari perlahan. Karna kebanyakan hanya dari Ia dan juga rekan kerja.


Nah ketemu.


isi pesan : #hari ini aku enggak masuk istriku sakit, nanti kamu makan siang sendiri aja! jangan menelfon sewaktu aku dirumah#


Dan Diana melihat tanggal suaminya mengirim pesan, hari ini???? Dan jam dimana sebelum berangkat ke rumah sakit??


Tangan Diana bergetar menahan emosi juga kaget. Jantungnya berdebar tak karuan, kalau bisa lompat, lompat dah tuh jantung.


Matanya mulai memanas, pandangannya terhalang oleh lensa bening yang sebentar lagi menetes. Dan tes kali ini dibiarkannya mutiara dari mata nya jatuh membasahi pipi.


Diana masih terus bergetar prakk HP yang digenggam nya jatuh di lantai. Bagas menggeliat buru-buru Diana menghapus air matanya dan mengambil HP, dikembalikan ketempat semula agar Bagas tidak curiga.


Jadi gitu ya yah? oke. Aku ikutin permainan kamu, aku akan bersikap seolah aku tidak tau apa-apa.


...***...

__ADS_1


Hingga sore hari Bagas belum juga terbangun. Mungkin ia memang benar-benar lelah. Diana memaksakan diri untuk memasak. Karena ia merasa tubuhnya udah enakkan hanya kaki nya saja yang masih sedikit sakit, sehingga jalan masih terpincang.


Diana terus membayangkan kejadian suaminya selingkuh. Tapi tetap berusaha tenang dan terus menanamkan dalam hati "MANA MUNGKIN SUAMIKU SELINGKUH!!" terus menerus ia ucapkan dalam hati.


Bagas terbangun tak mendapati istrinya di kamar jadi dia berjalan keluar pintu, dan langsung tercium aroma masakkan. Bagas pun langsung bergegas menuju dapur.


"Sayang, kamu kok masak? kan masih sakit!" Pertanyaan yang membuyarkan lamunan Diana.


Diana menoleh dan tersenyum.


"Ana udah enakkan yah, tenang aja Ana kan kuat yah? Sesakit apapun bisa ana tahan kok yah? Apa ayah lupa istri ayah ini bisa melewati berbagai Medan cobaan hidup? Kalau cuma luka segini aja mah kecil yah hehehe." Perkataannya bak sekaligus menyindir.


Bagas yang sedikit ambigu mendengar jawaban Diana hanya geleng-geleng saja.


Skakmat kamu yah. Batinnya.


"Ayah kok Uda bangun?"


"Ini juga Uda kelamaan banget tidurnya sayang. Lagian kenapa sayang enggak bangunin ayah coba?"


"Ah ayah tidurnya udah mendengkur, ngiler lagi tadi, Ana mau bangunkan ayah jadi segan. Lagian juga ayah pasti nyaman ya tidur meluk guling empuk?" Tanyanya menetralisir rasa sedih nya.


"Ah masak sih sayang, perasaan ayah enggak ngiler kok, kalau mendengkur iya mungkin." Elaknya, padahal Diana juga bercanda tentang ilernya.


"Lagian kalau ayah ileran masak enggak ada jejak peta petualang ayah disana sayang?" Masih saja ia bahas.


"kalau meluk guling itu emang selalu buat nyaman, apalagi guling nya ada bentuknya dan ada bagian dirancang tersendiri yang buat aduhai."


Seketika Diana tertawa terbahak-bahak. bahkan ia melupakan sejenak sedihnya tadi.


"Ah apaan sih ayah ah. Bicaranya ngawur deh."


"Kamu lebih ngawur ya sayang, ayah itu enggak ada ngiler." Sambil menggertakan gigi mencubit pipi istrinya gemas.


"Iya ayah ampun, ampun. Iya Ana cuma ngetes ayah aja. Ternyata segitunya ayah kalo bangun ya perhatiin bantal." Diana pun tertawa lagi mengejek suaminya.


"Udah sembuh ya? udah bisa meledek ayah ya?" Sambil menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Yah udah, ini udah mateng juga sayurnya. Kita sebaiknya makan dulu ya yah?" Tawarnya, karena Diana tau maksud tatapan suaminya.


"Ayah mau makan kamu aja sayang." Jawabnya sambil terus menatap Diana.


Diana jadi salah tingkah alias gerogi. padahal juga suami sendiri yakkan.


"Yah udah dong, ini masih sore!"


"Justru karena masih sore, intinya mumpung Alif lagi dirumah kak Mita, kalau ada Alif jangankan sore siang atau pagi, malam aja terkadang dia juga masih mau terbangun." jawabnya enteng.


"Itukan juga karna ayah yang terlalu rusuh." Elaknya.


"Pokonya mau makan kamu, huaaam." Bak meniru suara harimau.


"Ih ayah Alif kesurupan, takut a, kabuur." Diana jalan terpincang menjauh.


Dan Bagas hanya tersenyum penuh makna, dia pun mengejar Ana. Setelah membuka pintu kamar ana sembunyi dibelakang pintu, sehingga Bagas tidak tau.


Bagas celingak-celinguk, dan. "Derrrr." Ana mengagetkan hingga Bagas terlonjak dan merutuki.


"Sayang jangan gitu deh, kalau ayah jantungan gimana? bisa terguncang juga ini hati sayang, kan ada kamu di dalam sini sih." Jelasnya dan menunjuk bagian hati.


Ana terdiam tiba-tiba mengalihkan pandangan, teringat lagi kebohongan yang Bagas lakukan. Ya kebohongan atau tidak belum pasti lah menurut Diana.


"Apaan sih yah, gak lucu tau!" Jawabnya ketus.


"Loh kok marah sih sayang? Sini ayah peluk?"


Tes satu bulir berhasil lolos saat Diana memeluk Bagas.


Aku tidak tau yah kamu selama ini bohong atau tidak sama aku, yang aku tau kamu selalu ngasih ke aku kasih sayang yang berlimpah setiap harinya, jadi apa mungkin kamu tega lakuin ini sama aku? aku janji yah , aku berjanji!!


aku sendiri yang akan mencari tau sampai ke akarnya sekalipun. Mohon yaallah tunjukkan ini hanya sebagai kesalahpaham saja, karna untuk disakiti jujur aku belum siap baik fisik maupun mental." lirihnya dalam hati.


Bersambung...


*Mohon maaf jika masih banyak penulisan yang salah, tapi author usahakan untuk terus memperbaiki lagi, dengan belajar terus dari yang berpengalaman. jangan lupa like, vote juga tambah ke favorit ya, komentar readers sangat author butuhkan untuk menunjang semangat author. Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2