
Pagi yang di tunggu tiba, pagi dimana akan menjadi peluang seorang insan yang akan kembali meraih kebahagiannya. Dengan Bismillah ia mengucap yakin, meninggalkan pekerjaannya di luar kota, dan bersiap mengajukan surat pengunduran diri.
Bagas pulang hari ini tentu tidak di antar supir, karena memang ini adalah kemauannya sendiri bukan keputusan dari perusahaan. Setelah berjumpa dengan Darma di cafe semalam, Bagas langsung mencari mobil travel yang siap antar selesai subuh.
Sebenarnya ingin sekali ia langsung pulang tadi malam, setelah berdebat langsung oleh orang yang menjadi pokok masalahnya. Tapi itu akan sangat repot, karena belum mempersiapkan segala sesuatu, salah satunya mengemas barang miliknya. Jadi lebih baik kali ini mengalah dengan waktu, pikirnya.
Jam 1 siang, Bagas sudah tiba di rumah. Cepat juga ya? Iyalah, ia kan naik mobil travel, tau sendiri gimana kecepatannya.
Bagas tidak langsung ke kantor, ia pulang kerumahnya dulu. Tidak mungkin juga kesana dengan membawa barang sebanyak itu.
"Hallo Assalamualaikum mas."
"(Ya gas, walaikumsalam. Gimana? Kamu jadi pulang?)"
"Udah di rumah mas. Mas mau pergi ketempat Diana sekarang?"
"(Ya enggak lah, mas kan nunggu kabar dari kamu. Lagian kalau kesana siang enggak keburu lah)."
"Berarti saat ini Diana berada sangat jauh ya mas?" Bagas mengorek sedikit informasi.
"(Udah kamu kesini aja, kita bicara langsung, biar sekalian kakak kamu ini enggak penasaran. Nanya mulu dari tadi, mas tunggu di rumah. Udah ya Assalamualaikum)."
Panggilan langsung di matikan Anton sebelum Bagas sempat menjawab.
"Dasar jenggot!" Umpat Bagas.
Setelah ia selesai dengan urusan rumah, Bagas langsung pergi ke kantornya, yaitu untuk satu tujuan, mengundurkan diri. Baru lah nanti akan berangkat ke rumah Anton.
Bagas berhenti dan memarkirkan mobilnya, tentu banyak tanda tanya dari karyawan lain yang melihat. Karena mereka juga tau setelah menang tender Bagas kan di luar kota. Kenapa sudah ada disini, begitu lah kira-kira pikiran orang kantor yang saat ini melihat kehadiran Bagas. Yang lebih membuat mereka penasaran, Bagas datang dengan baju santai, tidak dengan kemeja rapi layaknya untuk bekerja.
Berjalan memasuki ruangan atasannya, siapa lagi kalau bukan Darma. Tatapan aneh terlihat dari Risah yang baru saja keluar dari ruangan.
"Mas, tunggu."
Berhenti dan menunggu Risah menghampiri.
"Mas, bukan kah kamu lagi tugas di luar kota? Apa proyeknya sudah selesai? Dan kenapa ke kantor memakai pakaian formal?"
"Kamu udah selesai bertanya? Aku kesini untuk mengajukan surat Risigne!!"
Risah terbelalak tidak percaya.
"Kenapa?" Tanyanya lirih.
Sebenarnya ia juga bulan ini terakhir kerja, kandungannya akan semakin membesar. Untungnya semasa hamil tidak ada acara ngidam.
"Semua karena ulah kalian."
"Kalian? Maksudnya?"
"Kalau kamu penasaran, lebih baik kamu ikut keruangan bapak Darma yang terhormat."
Pergi meninggalkan istri sirihnya.
Risah mematung.
Apa benar dia sudah tau? Lalu bagaimana nasibku?
Tak banyak berpikir lagi Risah pun mengejar Bagas yang sudah memasuki ruangan Darma.
"Permisi."
"Silahkan."
Melihat siapa yang datang.
"Kamu?"
"Iya saya serius dengan ucapan saya pak." Menyerahkan amplop berisi pengajuan yang ia buat.
"Kamu bisa terkena sanksi karena sudah meninggalkan pekerjaan mu begitu saja, setidaknya tunggulah sampai proyek itu selesai. Kalau begini, bagaimana saya akan mengatakan pada direktur?"
"Saya tidak perduli dengan kerjaan, saya hanya perduli dengan keluarga saya. Saya tidak butuh persetujuan bapak, bukan kah tugas bapak hanya menyerahkan surat itu pada direktur?"
"Kamu menyepelekan saya ya?"
"Adakah kata saya yang -"
"Permisi."
Menunduk langsung tak berani menatap.
"Maaf saya lancang, tapi -"
"Enggak apa, bukankah sudah sering kamu datang keruangan atasan kita ini."
Sindir Bagas.
"Cukup! Mau kamu apa?"
__ADS_1
Memukul meja dengan keras.
"Mau saya, kalian berdua mempertanggung jawabkan kesalahan kalian."
Darma mengeraskan rahangnya. Sementara Risah hanya menunduk tak berani bersuara, bernafas pun rasanya ia tahan.
"Saya kesini hanya mengantar surat itu, saya permisi, karena masih banyak hal lain yang akan saya urus."
Berjalan terus tanpa menoleh walaupun darma memanggilnya berulang-ulang.
Mobil melaju meninggalkan area kantor yang akan selamanya tidak akan ia pijak lagi. Tempatnya mencari nafkah namun juga tempat yang menjerumuskannya dalam kesalahan yang fatal.
Waktunya melaju ke rumah mas Anton. Aku harus memohon agar kak Mita juga mau bantu aku.
Bagas sampai tujuan dan menunggu sang tuan rumah membukakan gerbang untuk nya masuk. Tak lama hanya satu menit, sepertinya memang kehadirannya kali ini di tunggu.
"Masuk saja langsung ke rumah gas."
Teriaknya setelah membukakan gerbang.
"Sama mobilnya juga ya mas?"
"Iya, kalau sudah siap is dead kamu."
Bagas hanya nyengir bagai kuda.
Ternyata benar ya, orang yang pendiam akan terlihat sombong. Padahal kalau sudah akrab akan tau sifat aslinya. Begitu juga dengan Bagas, mungkin kalau menurut orang lain ia sombong karena jarang sekali berbicara, tetapi jika ia sudah mengenal dekat bahkan tidak segan untuk menunjukan sifat konyol nya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Jawaban yang serempak dari dalam rumah.
"Masuk, duduk lalu cerita."
"Iya mas."
"Mulai."
"Pakai stop**watch sekalian mas."
"Kamu sekarang udah bisa di ajak bercanda ya gas. Enggak sia-sia Diana ninggalin kamu."
"Mas udah sih." Lerai Mita.
Bagas menceritakan awal mula ia bisa tau Darma dan Risah bertemu di gudang. Ya jelas karena OB itu, terima kasih banyak mas OB. Lalu terakhir saat ia berjumpa dengan Darma, yang mengajak berdamai dengan mengimingi uang berjumlah sangat besar.
"Jadi sebelum kesini aku udah ke kantor mas, mengajukan surat pengunduran diri."
"Kamu serius gas?"
Mita kaget.
"Iya kak."
"Lalu, bagaimana nanti kalau kamu menjadi pengangguran?"
"Sayang, kalau sudah risigne dan tidak bekerja ya memang namanya pengangguran."
"Ih bukan itu maksud Mita mas, maksudnya nanti bagaimana menghidupi keluarga, apa lagi kalau mereka udah kembali bersatu."
"Jadi kakak ngasih ijin aku bersatu lagi dengan Diana?"
Mita mengangguk cepat.
"Alhamdulillah." Membentangkan tangannya dengan lebar, seperti berdoa selesai sholat.
"Jawab dulu pertanyaan kakak yang tadi."
"Iya kak, kan ada mas Anton. Bukan kah perusahaan mas Anton banyak, hehe."
"Bisa di atur." Dengan gaya bosnya yang sekarang ia pamerkan.
"Tapi kan gas, gajih menjadi karyawan mas Anton enggak sebesar gajih kamu di kantor, kerjaannya juga beda. Berat lah gas."
"Sayang, udah sih, syukur juga enggak jadi kuli dia setelah risigne. Sekarang jangan bahas pekerjaan dulu. Bukan kah dari semalam kamu yang ngotot mau lihat video itu sayang?"
Bagas menyerahkan HP miliknya dan Mita langsung mengambil dan melihatnya. Ia terbelalak melihat lelaki yang ada di dalam video Bagas.
"Ini ada rekaman yang kemarin mas suru buat nge rekam."
"Udah enggak perlu di dengar lagi, kan tadi udah kamu ceritain, paling cuma beda suaranya aja."
Jawab Anton dengan entengnya. Bagas hanya menghembuskan nafas, karena ia tau kalau sudah berbicara dengan iparnya ini harus banyak-banyak bersabar.
"Tunggu-tunggu. Mas ini bukannya teman kamu yang pernah nawarin mobil waktu itu? Tapi dia kan datang kesini bersama istrinya? Apa aku yang salah lihat?"
"Enggak sayang, kamu benar."
__ADS_1
"Mas kenal ya sama Darma?"
Terpaksa Anton menjelaskan, bahwa sebenarnya ia mengenal. Dan sebelum itu ia juga pernah cerita ke Anton kalau menghamili wanita bernama Risah, tapi tidak tau kalau ujungnya adik iparnya lah yang menjadi kambing hitamnya. Sebelumnya juga sudah banyak korbannya. Tapi setelah tau Anton berusaha menyelidiki, namun tidak berani mencampuri urusannya terlalu jauh, biar ini juga menjadi pelajaran untuk Bagas.
Bagas pun menerima penjelasan itu dengan baik. Karena ia tidak berhak marah, memang ini juga salahnya. Ia tidak egois, jadi lebih baik menyadari kesalahannya.
"Mas, hanya menunggu beberapa bulan lagi untuk aku bisa menuntut mereka. Aku tidak peduli dengan kehancuran rumah tangganya. Toh dia juga tidak perduli pada keluarga orang lain. Tapi."
"Tapi apa?"
"Aku ingin berjumpa Diana terlebih dahulu."
"Sabar lah sedikit lagi gas, biarkan ia benar-benar tenang."
Nasehat Mita, mencoba menenangkan.
"Dua hari lagi kita kesana, tapi mas akan menelfon Diana dulu kalau kamu akan datang bersama bukti itu."
"Iya mas, baiklah."
Menurut saja batinnya.
"Kita makan ya, udah anggap aja makan siang yang tertunda."
Tertawa dan menghidangkan makanan di meja makan.
Sebenarnya tak sulit jika Bagas rindu pada Diana. Dengan melihat Mita sudah mewakili garis wajah yang di miliki Diana, hanya saja bedanya dari fostur tubuh. Mita tinggi sedangkan Diana memang terkesan pendek.
Namanya juga manusia, tidak mungkin ada yang sempurna. Sekarang banyak yang terlihat sempurna tapi kan melalui berbagai opsi. Skincare dan lain-lain.
Selesai makan Bagas pamit pulang. Ia berniat akan melihat internet di mana ada lowongan kerja kantoran yang mungkin cocok dengannya.
Bagas hanya tinggal menunggu kabar selanjutnya, tentang Diana dan tentang pekerjaan. Menunggu sisa gajih nya akan dibayar atau tidak, dan bonus keluar atau tidak. Kalau memang itu tidak keluar, berarti ada campur tangan dari Darma. Begitu pikiran buruk yang langsung ia rangsang.
...***...
"Mas hubungi Diana dulu ya sayang."
Berjalan ke arah teras rumahnya yang megah.
"Hallo na Assalamualaikum."
"(Ya mas, Walaikumssalam)."
"Dua hari lagi mas kesana ya?"
"(Kenapa enggak besok aja mas?)"
"Besok mas masih ada urusan, belum bisa."
"(Ya udah kalau gitu mas)."
"Tapi Bagas ikut na. Dia mau kamu lihat bukti itu."
Diam belum menjawab.
"Na?"
"(Mas, maaf ana belum bisa berjumpa dengan Bagas. Bisa kah mas sama kak Mita aja yang kesini? Bukan kah mas juga udah punya video itu? Maaf mas, ana memang egois, tapi ana mohon untuk kali ini ana belum mau, biar lah menjadi pelajaran terberat untuknya)."
"Ya udah kalau itu keputusanmu. Mas tutupnya telfonnya."
Panggilan berakhir.
Aku munafik, aku munafik sekali. Padahal anak dalam kandunganku sangat ingin berjumpa ayahnya. Tapi harus apa, aku belum bisa menahan emosiku. Bukan kah itu berpengaruh dengan kandunganku.
Dan tiba-tiba rasa mual dirasakan Diana. Ia segera berlari menuju kamar mandi. Mengeluarkan seluruh isi makanan di perutnya.
Ia melemas, untuk berdiri pun sangat sulit.
"Bunda kenapa?"
"Sayang, bantu bunda berdiri ya?"
Alif mengangguk dan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bisa membatu bundanya berdiri.
"Bunda duduk dulu, Alif ambilkan air minum ya."
Berjalan dan kembali membawa segelas air putih.
"Makasih ya nak."
"Bunda, kapan ayah jemput kita? Kenapa ayah enggak datang kesini? Apa ayah enggak rindu Alif?"
Kenapa anak-anakku susah sekali di ajak kompromi.
Bersambung..
Gantung dulu ya, nanti awal bulan bakal ada double up. Like dulu yang banyak, hehe loveyu💋💋
__ADS_1