
"Luna!!" Teriak Darma dengan paniknya.
Ia langsung mendekat dan mencoba untuk membangunkan istrinya.
"Bawa saja istri kamu ke rumah sakit."
Ibu Risah memberi saran.
"Enggak, enggak. Aku akan panggil kan dokter pribadi kami. Kalian pulang lah."
"Baik, kalau begitu kami permisi. Dan tolong secepatnya semua masalah ini di urus." Ucap ibu Risah dengan ketus.
Darma tidak lagi menghiraukan kata-kata mereka. Ia hanya terus memeluk istrinya dan menangis.
"Luna bangun Luna." Ia membawa Luna ke dalam kamar, dan segera menghubungi dokter pribadinya.
Sementara Risah dan ibunya langsung pergi dari rumah itu, tanpa memperdulikan keadaan istri Darma. Karena itu memang bukan tanggung jawab mereka, toh mereka juga sudah di usir oleh tuan rumahnya.
"Bu, Risah takut."
"Kenapa sekarang baru kamu bilang takut, kenapa enggak dari kemarin-kemarin, sewaktu kamu menghancurkan rumah tangga Bagas. Risah dengar, setelah ini ibu tidak akan mau lagi membantu kamu, sudah cukup ibu malu karena ulah mu."
Terus berjalan meninggalkan komplek, dan siap menunggu angkutan umum lagi.
...***...
Luna telah di periksa dokter, tidak ada yang berbahaya, karena ini memang mutlak terjadi karena ia sangat merasa syok. Darma merasa sedikit lega dengan penjelasan dokter, namun ia tak tau harus bersikap seperti apa ketika istrinya bangun, bersujud sekalipun juga percuma.
"Terima kasih dokter."
Berjalan mengantar dokter keluar pintu rumahnya.
"Jangan lupa ya pak Darma vitaminnya nanti diminumkan ke istri bapak, dan satu lagi, jangan membuat pikirannya saat ini terbebani, karena itu yang akan menjadi penyakit serius jika berkepanjangan. Soal masalah keluarga bisa dibicarakan baik-baik. Saya permisi."
Bicara baik-baik bagaimana. Ah entah lah. Batinnya.
Dokter telah pergi meninggalkan rumah mewah tersebut. Hanya Darma yang kali ini dilingkupi rasa takut.
Sungguh aku menyesal telah menggauli Risah. Ah sial*n.
Berjalan kembali ke kamarnya, untuk melihat keadaan istrinya. Beberapa menit kemudian, Darma setia menunggu istrinya bangun. Dan benar saja Luna mulai membuka matanya. Melihat keadaan sekeliling.
"Sayang, kamu sudah bangun sayang?"
"Mana wanita itu?"
"Dia sudah aku usir pulang." Jawabnya acuh, seperti tidak merasa bersalah. Ya memang Darma tidak merasa sedikit pun bersalah oleh Risah. Tetapi ia malah sangat merasa salah dengan istrinya.
"Kamu urus masalah kamu, kamu harus mengembalikan keadaan rumah tangga orang lain yang udah kamu hancurkan, setelah itu-"
"Setelah itu apa sayang?"
"Aku akan mengurus perceraian kita."
Darma membulatkan matanya tak percaya, ia sangat kaget dengan kata-kata istrinya barusan.
"Sayang jangan, aku mohon."
"Jangan mengemis padaku. Keluar lah aku ingin sendiri saat ini. Kembali saja ke kantor, bukan kah ini masih jam kerja."
"Enggak, saat kamu nyuruh aku pulang, aku juga langsung permisi ke atasan. Aku mau disini, aku mau temani kamu sayang."
"Keluar!!!" Teriaknya lantang.
Darma memang tidak terkejut saat istrinya membentak, karena itu sudah sering ia dengar. Namun karena kali ini masalah nya berbeda, ia juga merasa takut.
Dengan terpaksa Darma berdiri dan berjalan keluar kamarnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang, Darma.
Luna yang menangis di kamarnya langsung menelfon papanya, mengadukan semua kelakuan suaminya. Ia juga minta di jemput hari ini juga, untuk pulang ke rumah orang tuanya, dan menyusul anaknya yang menginap disana.
Papanya sangat murka mendengar semua pengaduan Luna. Ia juga setuju dengan keputusan Luna yang akan menuntut perceraian. Karena hal ini adalah sesuatu yang sangat di benci oleh keluarganya. Papa nya sangat tidak ingin reputasinya hancur hanya karena menantu yang tidak tau di untung.
__ADS_1
Luna pun segera mengemas barang miliknya, semua, semuanya. Bahkan sertifikat rumah juga ia bawa, karena memang itu adalah haknya, atas namanya. Tidak ada satu pun barang berharga yang ia tinggalkan, hanya beberapa pakaian saja yang menurutnya bisa ia beli lagi nantinya.
Darma yang masih berada di luar kamar, merenungi nasibnya tidak tau kalau Luna sudah siap packing. Luna sengaja tidak keluar kamar dan hanya tinggal menunggu salah satu suruhan papanya menjemput.
Jam 7 malam, Darma menerima tamu yang tak di undang. Tentu ia juga merasa kaget, tapi sepertinya ini orang ini tidak asing, pikirnya.
Benar saja, orang yang datang adalah orang kepercayaan mertuanya. Ia bermaksud menyambut dengan hangat, tetapi semua ia urungkan ketika melihat Luna yang telah keluar dari kamarnya membawa dua buah koper berukuran besar, semua juga Luna paksakan dengan kondisinya yang masih lemah. Tetapi ia adalah wanita kuat yang tidak ingin belas kasihan dari orang lain.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Maaf, aku harus pulang ke rumah papa. Dan jangan berharap suatu saat, suatu waktu dan suatu hari aku akan kembali kesini. Jika aku kembali kesini pun aku pastikan kau tidak lagi ada disini. Jadi bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini, rumah yang di belikan oleh papaku sebagai hadiah pernikahan kita. Setelah ini hiduplah lebih baik lagi, di dalam PENJARA!!!"
Orang suruhan papanya hanya menyunggingkan seulas senyum. Ya karena dia sangat tidak menyukai menantu tuannya itu. Entah apa sebabnya, atau pun dia juga tau kelakuan Darma selama ini.
"Sayang ku mohon, jangan sayang."
"Sudah ku bilang, jangan memohon kepadaku, memohon lah kepada orang yang kamu tindas. Aku pergi, terima kasih untuk delapan tahun pernikahan. Dan, jangan harap bisa bertemu aku lagi, kecuali di pengadilan. Aku harap setelah kejadian hari ini, dan detik ini aku tidak lagi mencintaimu, tetapi membencimu dengan seumur hidupku."
Luna berlalu pergi dan segera memasuki mobil mewah milik papanya. Ia tidak lagi menghiraukan Darma yang menangis meraung-raung dan memanggil namanya. Luna itu wanita tegas, sekali bilang iya, maka iya, dan jika kalau tidak, ya tidak.
Darma yang memang tidak berani untuk mencegah Luna hanya bisa mendengar setiap ucapan pahit yang keluar dari mulut istrinya.
Ia bahkan ingin mati ketika membayangkan setelah ini akan di tuntut oleh Bagas, dan di tuntut perceraian oleh istrinya, bahkan setelah itu di pecat dan pastinya di penjara.
Ya Tuhan, matilah aku.
...***...
"Alif, jangan lari-lari nak."
"Enggak bunda, Alif main di depan ya bunda."
Diana mengiyakan perkataan anaknya, karena saat ini ia sedang memasak. Tak mungkin juga Alif akan terus di kurung setiap saat. Ia juga anak-anak yang taunya hanya bermain.
Hampir satu jam setelah Diana siap memasak ia tidak mendengar suara Alif bermain di depan rumah. Diana segera keluar melihat Alif, namun ia tidak ada. Diana panik dan langsung berjalan keluar rumah, mencari anaknya. Ia berteriak memanggil anaknya, namun juga Alif tidak menjawab.
Ya Allah Alif kamu main dimana sih nak. Ini bukan daerah kita.
Dari kejauhan terlihat Rama menggendong Alif dan menenteng plastik, Diana sudah bisa menebak pasti isi dari plastik itu adalah jajanan. Diana menghela nafas lega, kalau ternyata Alif di bawa oleh Rama. Namun ia juga teringat pesan mertuanya, jadi untuk itu Diana akan menegur Rama dengan tegas.
"Alif dari mana, kenapa enggak pamit sama bunda kalau mau keluar jauh."
Ucapnya dan mengambil Alif dari gendongan Rama.
"Cie, serasi mas. Enggak masalah dapet janda yang penting masih menggoda hahai."
Ucap salah satu warga yang lewat dan melihat pemandangan di depannya.
"Iya pak, maunya gitu. Udah cocok belum pak?"
Diana sangat tidak suka dengan jawaban Rama, wajahnya memerah menahan emosi.
Bisa-bisanya dia menjawab perkataan orang yang merendahkan harga diriku dengan sebutan janda.
"Maaf ya pak, suami saya ada saya bukan janda."
Ucapnya penuh penekanan.
"Istri orang toh mbak, jangan di ganggu atuh mas."
"Suaminya lagi enggak ada pak, dikit aja ganggu nya enggak banyak."
Diana makin emosi dengan jawaban Rama.
"Alif masuk sekarang nak!"
Alif yang menurut langsung masuk ke dalam rumah. Sementara Diana akan memberi sedikit pengertian kepada Rama.
"Bang, maaf ya lain kali enggak usah ajak Alif jajan, enggak usah datang kesini kalau enggak ada keperluan."
"Loh, memangnya kenapa na?"
Rama kaget mendengar perkataan Diana.
__ADS_1
"Bang, Abang bisa lihat dan mendengar kan perkataan orang lain barusan, yang menganggap aku rendah dengan sebutan janda."
"Iya aku mendengar, tapi memang itu kan sebutan kamu sebentar lagi."
"Maksud abang apa ngomong gitu?"
"Ya buktinya kamu bilang suami kamu lagi di luar kota kan kerja, tapi kenapa kemarin dia datang seperti maling yang hanya ngumpet di balik tembok hanya karena ingin melihat istrinya? Apa itu pantas? Kalau kalian baik-baik aja kenapa dia enggak langsung datang dan menemui kamu dan anakmu."
Apa? Apa maksud perkataannya barusan? Ngumpet di balik tembok? Jadi, jadi benar kalau kemarin kalung ku bergetar karena ada dia disini? Kenapa mas Anton dan kak Mita tega bohongin aku? Atau jangan-jangan memang Bagas yang sengaja diam-diam mengikuti mas Anton kesini? Berbagai macam praduga langsung masuk ke dalam pikiran Diana, tanpa sadar ia melamun di hadapan Rama saat ini.
"Kenapa na? Kenapa kamu malah diam? Itu semua benarkan?"
Masih diam tidak menjawab.
"Tinggalkan saja lelaki yang sudah menyakitimu. Buka lah hatimu na, masih banyak lelaki yang mau menerima kamu apa adanya. Tanpa memandang status mu."
Aku na, aku orang itu. Aku siap kok, aku mau. Walau harus meninggalkan tunangan ku yang menjadi TKI di negeri orang.
"Kamu pasti salah orang bang, enggak mungkin itu Bagas suamiku. Dia lagi kerja di luar kota."
Ternyata kamu masih menutupi hal itu. Aku yakin sekali kalian sedang dalam masalah.
"Mana mungkin abang salah orang na, Abang kenal Bagas dari dulu."
"Maaf, jangan campuri urusanku. Itu semua enggak ada hubungannya sama Abang. Jadi tolong, jangan ikut campur. Dan aku hanya mau bilang, jangan ajak Alif lagi tanpa pamit dulu sama aku. Juga jangan datang kesini tanpa ada keperluan."
Diana berbalik dan masuk ke dalam rumah.
"Jangan menyusahkan pikiran kamu sendiri ana."
Berteriak agar Diana mendengar ucapannya.
Sungguh wanita yang sangat baik, batin Rama.
Diana masuk dan langsung memanggil anaknya.
"Alif sini nak, bunda mau ngomong."
"Iya bunda." Duduk di hadapan Diana dengan sopan.
"Alif, denger kata bunda ya. Lain kali, kalau om Rama ajak Alif buat jajan atau main, Alif harus bilang dulu ke bunda, jangan langsung pergi kayak tadi, bunda khawatir dan takut Alif kenapa-napa. Alif dengar kan kata bunda?"
"Iya bunda, maaf Alif salah. Tadi Alif juga udah nolak, tapi om ngajak terus. Dan bilang kalau bunda enggak akan marah, Alif minta maaf ya bunda."
"Iya sayang, tapi ingat pesan bunda ya. Oiya, waktu pakde dan bude datang kesini, Alif ada liat ayah enggak?"
"Ayah? Enggak ada bunda, Alif hanya jumpa ayah waktu ikut pakde pulang."
"Bener Alif enggak liat? Atau pakde enggak ada bilang ke Alif?"
"Alif enggak tau bunda."
Aku yakin kalau ini hanya akal-akalan Rama saja supaya aku mengaku kalau sebenarnya aku lagi ada masalah. Enggak mungkin Bagas ikut kesini. Kalau pun dia ikut, pasti dia tidak bisa menahan diri untuk berjumpa langsung denganku, terlebih ada Alif. Bahkan aku pun tidak melihat ada mobil lain disini selain mobil mas Anton. Hanya saja Kalung ini yang bergetar, cuma ini kan hanya barang, bisa saja salah.
"Hem Alif. Kalau mau main sekarang di dalam aja ya nak. Bahaya kalau di luar, bunda takut Alif hilang kayak tadi, bukan di ajak om Rama, tapi orang lain. Apa Alif mau bunda sedih?"
"Enggak bunda."
"Ya udah, Alif nurut apa kata bunda ya. Disini tidak ada ayah nak, nanti kalau Alif enggak nurut sama bunda, Alif bakal di marahin ayah kalau ayah udah pulang."
"Enggak bunda, Alif minta maaf. Alif janji enggak nakal lagi."
Memeluk bundanya dan menangis terisak. Diana mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut. Ia berharap ketika anak yang di dalam kandungannya ini lahir ke dunia, ia sangat ingin anak ini juga akan seperti Alif, yang penurut dan juga selalu mendengarkan apa kata orang tuanya. Walau pun usianya masih terlalu anak-anak, Diana yakin Alif sudah mampu mengartikan setiap perbuatan baik dan buruk.
Andai kamu tidak berulah, pasti aku tidak akan seberat ini menjalani hari-hariku yang hanya berdua dengan Alif.
Bersambung dulu ya..
Jangan lupa like ya, tambah ke favorit. Hehe
Tenang semua masalah ada jalannya, ini lagi masa ketegangan. Semua akan berujung indah.
Oiya, pasti ada yang bertanya-tanya ya, anak umur tiga tahun lebih kok bicaranya enggak cadel? Nah, Alhamdulillah anak aku juga umur tiga tahun, tapi dia udah bisa mengucap semua kalimat dengan fasih dan jelas. Jadi jangan heran ya, hehe
__ADS_1