Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 6


__ADS_3

Pagi hari dikantor Property.


"Cie mas yang liburan mana oleh-oleh buat Risah?"


Tanya risah yang hari-hari selalu mendekati Bagas.


Ya dia adalah risah yang waktu itu pernah Bagas sebut namanya ketika mengigau.


Risah gadis berumur 22 tahun berparas cantik, putih, tinggi, hidung mancung dan mempunyai lesung pipi.


Banyak kabar tak enak tersebar dikantor semenjak risah dan Bagas sering makan bareng.


Semua risah lakukan hanya karna mencari perhatian Bagas semata, padahal jelas-jelas dia tau kalau Bagas sudah berkeluarga tapi entahlah pikiran manusia sekarang tidak bisa dimengerti.


"Kok kamu tau sah kalo saya liburan?" Dia balik bertanya tapi mata tetap tertuju dilaptop.


Risah menggeser kursinya ke sebelah Bagas dengan senyum khasnya yang menurut laki-laki teramat manis.


"Tau lah mas kan istrimu udah posting aja dengan gaya imutnya. Cuma wajahnya enggak terlalu jelas sih, tertutup sama anak kamu. Emm jadi iri aku!!" Seraya memainkan kuku jarinya.


Tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.


"Maksud kamu iri gimana? Ya kamu kan bisa ajak teman atau pacar kamu buat liburan." Jawab Bagas enteng.


"Ah mas masa enggak peka sih? selama ini kan." Ucapannya terhenti kala sang sekretaris bos masuk.


Bagas hanya geleng-geleng kepala.


"Setengah jam lagi ada rapat diruangan bersama pak Darma."


Tukasnya lalu pergi setelah memberi informasi. Saat Risah akan bangkit dari tempat duduknya, Bagas tau dia akan bahas tentang perasaan lagi.


Buru-buru Bagas berdiri duluan dan meninggalkan ruangan.


Cihh.. Risah mendengus.


Jujur saja Bagas mulai goyah, selama ini risah selalu memberi perhatian untuk mengingatkan jam makan siang, selalu memberi support saat akan meeting dan juga menguatkan ketika dia harus mengulang presentasinya.


Menurut Bagas dia gadis rajin, cantik juga pintar.


Beda dengan Diana yang tidak tau menahu suami lagi dilanda masalah kerja atau tidak. Yang Diana tau Bagas bekerja selalu pulang malam yakni pasti lembur.


Memang perhatiannya untuk hal-hal kecil sperti jaga kesehatan selalu dilakukan Diana.


Tapi Bagas pun tidak bisa membohongi hatinya, Diana sudah tidak secantik dulu lagi, jadi ketika di kantor selalu melihat risah yang bening Bagas jadi semangat


dan ketika pulang melihat Diana yang badannya sudah tidak berbentuk lagi seperti tidak bergairah.


huhh ternyata jahat sekali pemikiran lelaki.


Terkadang juga Bagas selalu menghindar jika risah sudah mulai bahas perasaan.


Disisi lain meskipun Diana tidak secantik Risah tapi hatinya sudah sepenuhnya miliknya.


Dia dengan Risah hanya melampiaskan suntuknya saja, karena beratnya kerjaan di kantor.

__ADS_1


Tapi apapun alasannya itu tetap saja salah.


Jika seorang istri patuh dan melayani suaminya dengan baik, apakah pantas suami masih membuka hati untuk orang lain? Itu sakit rasanya tak bisa di jelaskan, di tulis, atau di gambaran kan.


Karena hanya orang yang pernah mengalaminya lah yang tau.


...***...


Selesai meeting Bagas di tugaskan menyisihkan mana berkas terpilih dan mana yang harus di revisi lagi.


Risah sengaja menunggu semua pegawai keluar hingga hanya menyisakan mereka berdua.


"Mas?" Panggilnya amat lembut dan terus memegang tangan Bagas.


"Kenapa harus buat aku nyaman? Kenapa mas? Kenapa mas harus buat aku jadi mengharap kan mas?" matanya berkaca-kaca dan menunduk menutupi kesedihannya.


"Maaf, maaf, aku aku, aku gak akan ganggu kamu lagi mas, aku ngerti mas posisi aku dimana dan harusnya tau diri, aku pergi mas makasih."


Dia tidak bisa menahan air matanya dan berbalik badan, saat akan melangkah tiba-tiba Bagas menarik dan memeluknya tanpa menjawab dan berkata apa-apa.


Setelah beberapa saat Bagas mendongakkan wajah risah, di tatap matanya dan di hapus sisa air matanya.


Perlahan mendekatkan wajahnya hingga terdengar deru nafas yang saling berhembus terlalu dekat


dan Bagas yang memulai, risah menutup mata dan menikmati.


Untung pintu tertutup rapat, soal cctv semoga mereka beruntung tidak ada yang melihat


...***...


"Bunda kenapa?" Tanya Alif yang mendengar suara benda jatuh.


Ya ampun ada apasih ini, udah 3 gelas sejak pagi tadi yang aku pecahkan. Batinnya


"Bunda kok melamun?" Tanya nya lagi dan berjalan mendekat.


"Alif awas nak!!" Diana berlari menghampiri Alif karna takut anaknya terkena pecahan kaca dan.


"Aawww." Malah kakinya yang menginjak pecahan kaca sehingga darah langsung keluar dari telapak kaki dan bercecer dilantai.


"Aw Alif, Alif main diruang tv dulu ya nak? Bunda mau bersihin ini." Untunglah Alif penurut dan langsung berlari untuk memainkan robot miliknya.


Diana membersihkan pecahan kaca terlebih dahulu tak di hiraukannya luka yang masih terus mengeluarkan darah dari telapak kakinya.


Dia tak mau egois, dari pada tidak di bersihkan sekarang takut melukai suami atau anaknya nanti.


Setelah selesai barulah ia membersihkan luka lalu mengambil perban dan melilitkan agar tidak terkena kotoran dan berakibat tetanus.


...***...


Efek dari luka tersebut membuat tubuhnya terasa tak enak, berasa seperti menggigil.


Ia mengajak Alif main dikamar dan mengunci pintu.


Masih jam 3 sore dia merasa tak apa jika rehat sebentar, karna yang dia rasa denyut di kakinya sangat sakit.

__ADS_1


"Alif jangan kemana-mana dulu ya sayang, bunda mau istirahat sebentar, kaki bunda sakit." Bicaranya halus agar Alif dapat mengerti.


"Iya bunda." Jawabnya tak mengalihkan pandangannya dari mainan yang ia pegang.


...***...


Diana terbangun hampir Maghrib dan melihat sekiling kamar, dimana Alif? Ternyata dia tertidur di bawah lantai. Untunglah ada karpet berbulu tebal jadi tak khawatir masuk angin, tapi tetap saja kasihan.


Ia menggendong Alif memindahkan ke tempat tidur secara perlahan.


Sambil tertatih di karenakan luka di kakinya.


Diana berinisiatif menghubungi suaminya karna tubuhnya semakin tidak enak, diambilnya Hp nya dari meja dekat tempat tidur.


Tidak ada jawaban, Diana mengulang panggilannya lagi, tetapi tetap tidak di angkat.


Mungkin lagi sibuk pikirnya, jadi dia hanya mengirim pesan bertanya akan pulang jam berapa.


Tapi dia tidak memberi tau kalau ia tak enak badan, takut suaminya khawatir.


Terdengar ayat Al-Qur'an berkumandang di masjid


Diana segera membangunkan alif karna kata orang tua tidak boleh tidur di waktu Maghrib pantang(pamali).


Ia mengajak Alif mandi dan sholat setelahnya mengaji.


Hingga saat adzan isya berkumandang Bagas tak kunjung pulang, juga tidak ada memberi kabar.


Diana pun pasrah, mengajak Alif tidur setelah mengerjakan kewajibannya , tak lupa memberi Alif makan terlebih dahulu.


Pukul 22:00 Diana terbangun.


*B*elum pulang juga ya yah? yaampun tubuhku terasa semakin tidak karuan kakiku juga semakin berdenyut.


Sesaat akan membaringkan tubuhnya lagi, suara ketukan pintu langsung membuatnya terperanjat kaget dan berdiri. "Suamiku pulang." Ketika akan melangkah. "Aawww." Bagas yang membuka pintunya pun kaget.


"Loh sayang kenapa? Kenapa kakinya? Dan wajah kamu pucet banget?" Ia langsung meletakkan tas kerja dan berjalan ke arah Diana.


"Yaallah panas sekali badan mu sayang? Kamu sakit?" Tanyanya dan benar-benar khawatir.


Diana pun menceritakan kejadian tadi yang beberapa kali memecahkan gelas. Dan itu sebabnya ia menelfon tapi ada jawaban.


"Ana juga enggak tau yah, pagi siang sore mecahin gelas, kayak terjatuh gitu aja dari tangan." Terangnya hingga Bagas terdiam dan seperti memikirkan sesuatu.


*M*aaf, maafkan aku sayang, maaf!!


"Maaf." Katanya lirih tapi masih bisa terdengar.


"Maaf? Kenapa minta maaf? Inikan bukan salah ayah."


Jelasnya dan memandang wajah suaminya yang teduh seperti orang yang amat lelah.


Andai kamu tau na, apa kamu masih mau sama aku? Batinnya.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2