
Pagi ini Bagas bangun telat, tidak melakukan ibadahnya. Dia terbangun dan merenggang kan otot-otot tubuhnya.
Semalaman berada di depan laptop rasanya lelah seperti mencangkul huh.
Bagas tidak menjawab telfon dari Diana bukan karena sengaja, ternyata kali ini ia memang benar-benar lagi fokus bekerja karena HP ia silent kan.
Dan setelah kejadian beberapa hari lalu yang mengikat dosa antara ia dah Risah, Bagas tidak melakukannya lagi. Bahkan ia terkesan menjauh dengan alasan sibuk, dan mengunci pintu yang menjadi penghubung di antara mereka.
Bagas mulai membersihkan diri, memakan sarapan yang di sediakan oleh pihak hotel, lalu bersiap untuk bekerja kembali.
Huuh aku harus semangat, hanya tinggal dua hari lagi.
Setelah selesai dengan urusannya barulah ia bersiap dan mengechek HP miliknya.
Ada beberapa panggilan tak terjawab dari istrinya, dan satu diantaranya panggilan dari Risah. Ia juga tak terlalu peduli dengan panggilan lain.
Namun di lubuk hatinya saat ini, memang ia sedang kesal dengan Diana.
Pasalnya telfon kemarin tak kunjung di angkat oleh Diana.
Kali ini Bagas yang menelfon, karena takut juga istrinya khawatir. Lagian rasa rindu yang ia pendam terhadap keluarga kecilnya selama dua Minggu juga jadi alasan baginya, untuk kembali menghubunginya.
"(Hallo assalamualaikum yah)."
Panggilan pertama langsung di sambut hangat oleh istri yang kini sudah seksi.
"Walaikumsalam. Kemana aja kamu semalam?"
"(Maaf yah, Diana ke salon. Terus pergi beli baju dan kerumah kak Mita. Diana enggak liat HP sama sekali yah, bener Diana enggak kemana-mana lagi).
Kesalon? Untuk apa? Dan belanja dengan siapa? Mana mungkin sendiri. Batin Bagas.
"Padahal ayah udah sering bilang ya ke kamu, kalau mau pergi bukannya harus ijin dulu? Jangan mentang-mentang jauh terus bisa kemana aja bebas. Bener ya udah ada mobil sekarang mah bebas."
"(Bukan begitu yah, iya ana tau salah. Ana minta maaf)."
"Ya udah sekarang terserah kamu aja sayang. Ayah mau kerja, dan insyaallah dua hari lagi bisa pulang, ayah tutup telfonnya ini mau lanjut kerja lagi, Assalamualaikum."
"(Iya yah, hati-hati dan semangat ya. Walaikumsalam)."
Bagas siap akan ke meninjau kerjaannya yakni langsung turun ke lapangan, selama di luar kota ia tidak pernah berada dalam kantor, hanya sesekali melihat dokumen penting. Lalu kembali ke hotel untuk memeriksa email yang masuk.
Seperti biasa setiap akan berangkat Bagas selalu menunggu Risah dahulu. Di dalam mobil dan melihat ke arah kamar Risah, untuk memastikan tanda-tanda Risah sudah ada keluar atau belum.
Kali ini Risah tidak keluar secepat biasanya, sehingga manusia yang berada di dalam mobil menggerutu tidak jelas. Ya dengan alasan takut telat pastinya.
Untuk menjemput ke kamarnya Bagas urungkan, karena tidak mau melihat yang harusnya tidak pantas ia lihat di kamar Risah.
Hampir setengah jam. Bagas sudah bosan, menunggu Risah yang tidak kunjung keluar.
Akhirnya Bagas tidak menjemput ke kamarnya, hanya melalui via telfon.
Kenapa tidak terpikirkan untuk menelfon saja. Batinnya.
"(Hallo mas)."
Risah menjawab, tapi kali ini suaranya terdengar sangat lemah. Bahkan terdengar seperti orang yang baru sadar dari tidurnya.
"Aku Uda nunggu kamu di bawah dari setengah jam yang lalu. Kenapa belum siap juga? Aku mohon Risah profesional lah dalam bekerja. Kali ini aku tidak mau lagi kepulangan ku di undur."
"(Tapi mas, aku benar-benar enggak enak badan. Tubuhku terasa menggigil. Untuk berdiri bahkan tubuhku sangat lemas mas, aku izin hari ini ya mas)."
"Seharusnya kamu kabarin aku lah. Kalau begini kan aku bisa telat. Kalau kamu bilang juga aku enggak perlu nunggu kan, yaudah kamu istirahat aja. Biar aku telfon pihak hotel untuk mengantar obat demam yang mereka sediakan."
"(Terima kasih ya mas)."
Bagas menutup telfon. Hanya saja dia sedikit khawatir, karena tak bisa di pungkiri tanggung jawab Risah selama disini juga ia yang pegang.
Mobil melaju dengan pasti, ke arah tujuan yang akan ia sebut dengan pekerjaan. Untungnya tidak ada kemacetan, sehingga dengan waktu minim yang tersisa Bagas tidak terlambat.
__ADS_1
Ia melihat proyek di sekeliling. Dan hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa foto ia ambil untuk menjadi bukti kerja kerasnya selama disini tidak sia-sia.
Bagas tersenyum cerah.
Hadiah untuk istriku tercinta, yaitu bonus berlipat dari atasanku.
Bagas kembali ke hotel saat pekerjaan yang ia lakukan di proyek telah selesai. Waktunya membersihkan diri dan melaksanakan sholat ashar, pikirnya.
Ia bahkan melupakan Risah yang masih terbaring lemah di kamar hotel.
Tak lupa selesai dengan ibadah Bagas menelfon istrinya. Dan disaat yang bersamaan Risah mencoba menghubungi Bagas, namun panggilannya hanya menunggu, Risah tau kalau Bagas masih menelfon orang lain.
Bagas kembali menghubungi atasannya, untuk laporan kelancaran proyeknya. Tentu setelah ia selesai menelfon istrinya. Namun lagi-lagi Risah harus menunggu panggilan, kali ini ia pasrah dan tidak menelfon lagi.
Atasannya yang mengetahui kelancaran proyek yang di tangani Bagas pun sangat senang melihat berkembangnya. Ia sangat menghargai kinerja Bagas, sehingga menjanjikan akan memberi bonus berlipat untuknya.
Tentu saja itu di terima Bagas dengan senang hati. Ia berkhayal akan seperti apa senangnya istri dan anaknya nanti ketika ia pulang, dengan selamat dan membawa uang yang jumlahnya cukup banyak.
Disini, Bagas belum mengetahui perubahan fisik pada istrinya. Bukankah itu juga menjadi kejutan tersendiri untuknya, dan kali ini Bagas benar-benar tidak mendekati Risah lagi, jauh dan sangat jauh di pikirannya. Yang sekarang saat ini ia pikirkan hanya anak dan istrinya, yang senantiasa menunggu kepulangannya.
Beribu andai ia khayalkan, sambil berbaring di ranjang empuk, menatap langit kamar hotel. Ia tersenyum, ya Bagas tersenyum. Senyum yang sempat hilang di pandangan Diana. Dan berganti dengan beribu kebohongan yang selalu ia ucapkan.
Berjuta andai yang ia pikirkan buyar, tatkala mendengar ketukan pintu kamar hotelnya.
Bagas beringsut menuruni ranjang empuknya, dan berjalan ke arah pintu. Bagas tidak menduga-duga karena ia tau kalau yang mengetuk selain di jam pengangtaran makanan, sudah pasti Risah.
Dengan malas ia membuka pintu.
Tampak Risah yang berdiri dengan baju tebal dan panjang, wajahnya pucat dan bibirnya juga terlihat seperti orang yang sakit.
Bagas diam, dan menunggu Risah yang berbicara, mengutarakan maksud kedatangannya kemari.
"Mas, temani aku? Aku menggigil, temani aku ke dokter di daerah sini."
Ucapnya dengan suara yang lemah.
"Tadi udah aku suruh petugas hotel untuk antar obat, apa belum di antar?"
"Iyakan enggak langsung sembuh sah, ya kamu tunggu ajalah sampai besok. Dan kalau besok belum enakan juga kamu enggak usah ikut ke proyek dulu, aku sendiri juga enggak apa-apa kok.
Yaudah kamu balik aja ke kamar istirahat, aku juga belum kelar periksa email."
Bagas mengusir secara halus.
"Kamu kenapa sih mas, kenapa kok kayaknya kamu menjauh? Aku sakit mas, aku jauh dari ibu. Biasanya kalau aku sakit ibu selalu nemenin aku tidur, bisa enggak sih mas, perhatian sedikit sama aku."
Kali ini aku harus benar-benar yakin, jangan sampai terbuai lagi. Jangan sampai menambah dosa lagi. Bagas.
"Mas kenapa diam? Yaudah kalau mas enggak mau, aku enggak mau makan dan minum obat, biar aja sekalian aku mati. Lagian juga enggak ada yang peduli!!!"
Kali ini Risah mengeluarkan senjata andalannya, yakni dengan menangis. Karena ia tau Bagas tidak akan tega.
Istighfar gas, ini hanya ancaman semata. huuuhh
"Udah balik aja dulu ke kamar, nanti kalau ada apa-apa telfon dan enggak usah sampai datang ke kamar aku, katanya lemas nanti malah kenapa-napa.
Kerjaan aku belum kelar, lagian udah mau Maghrib. Aku harus selesaikan ini sebelum malam, mohon kamu ngerti."
Ucapnya dan langsung menutup pintu sebelum Risah pergi, bahkan sebelum menjawab perkataan Bagas.
Alhamdulillah selamat.
Bagas kembali melaksanakan kewajibannya. Setelah itu ia kembali berkutat dengan laptopnya. Hpnya bergetar tanda ada panggilan yang masuk, tapi ia enggan menjawab. Karena ia tau pasti itu dari Risah. Bahkan tanpa ia lihat layar HP yang terus bergetar itu.
Karena terus saja panggilan itu masuk, membuat Bagas tidak fokus untuk memeriksa email yang ia kerjakan. Dengan malas Bagas menjawab telfon tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"Ya. Apalagi? Bukan kah udah aku bilang, setelah aku selesai dengan pekerjaan ku barulah aku ke kamarmu."
"(Yah maksud kamu apa)!!"
__ADS_1
Kali ini Diana membentak Bagas dengan nada tinggi. Bagas yang sadar langsung kembali melihat layar HPnya. Oh my God, ternyata ini Diana bukan Risah.
Diana yang emosi saat mendengar kata-kata yang di ucap Bagas, sebab ia tau bahwa Bagas pergi ke luar kota bersama Risah.
"(Yah jawab)!!"
"Maaf sayang, ayah kira teman mas tadi yang menelfon."
"(Iya yah, Ana tau. Tapi kenapa? Kenapa ayah mau datang ke kamarnya? Bukan kah teman mu itu wanita? Lalu? Lalu ini apa yah? Ha?)"
"Enggak sayang, bukan begitu. Teman ayah sakit, dan ia meminta ayah kesana untuk mengantar obat yang ayah beli tadi sewaktu pulang kerja, karena ia sakit jadi tidak ikut ke proyek. Hanya itu sayang tidak lebih."
Bagas mencoba meyakinkan Diana.
"(Ana tutup telfonnya, assalamualaikum)."
Kali ini senyum di wajahnya yang sempat terukir di sore hari, berganti dengan frustasi. Hanya beberapa jam saja padahal. Bagas takut, kali ini kebohongan yang ia takutkan akan di ketahui istrinya akan menjadi masalah besar.
Bahkan untuk melanjutkan pekerjaannya dia sudah tidak bersemangat. Tidak lagi, rasanya untuk melihat keadaan Risah sudah tidak berguna, yang sekarang ini ia pikirkan hanya Diana. Bagaimana cara meyakinkan Diana.
Belum sempat ia memikirkan keadaan yang meresahkan pikirannya, telfonnya kembali berdering. Dan kali ini memang Risah yang memanggil di telfon.
Bagas melihat lalu membuang HP nya asal ke tempat tidur.
Ia berdiri menyender dinding, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kali ini apa yang harus ia lakukan bahkan ia pun tak tau. Begini saja sudah buat pusing, bagaimana kalau Diana tau tentang hubungannya bersama Risah. Begitu pikirnya.
Adzan isya berkumandang, ia kembali melaksanakan kewajibannya. Sedikit menjernihkan pikirannya, dengan meminta dan berdoa kepada Allah. Hanya dengannya lah meminta pertolongan, sebab segala sesuatu memiliki jalan keluar.
Akhirnya Bagas memutuskan untuk melihat keadaan Risah, karena ia juga takut jika terjadi sesuatu.
Bagas mengetuk pintu, tak lama terbuka dan menampakkan Risah yang memang kondisinya saat ini benar-benar sakit.
Risah diam begitu juga Bagas. Bagas mencoba memegang dahi Risah.
Panas sekali.
"Udah kamu minum obatnya?"
Tanyanya, dengan nada sedikit khawatir.
"Udah mas."
"Siap-siap sekarang, aku antar kamu ke dokter terdekat disini."
Risah pun mengangguk setuju, dan bersiap akan pergi berobat.
Dalam perjalanan Bagas hanya diam, begitu juga Risah. Mungkin karena ia sakit, kalau tidak pasti bahas soal hati dan perasaan.
Hingga tiba di klinik terdekat yang masih berada tidak jauh dari hotel. Mereka turun, Bagas memapah Risah yang kondisi tubuhnya saat ini lemas. Mereka memasuki klinik dan mendaftar ke bagian administrasi.
Bagas hanya menunggu di luar di kursi tunggu. Risah keluar setelah pemeriksaan. Dokter menunggu di ruangannya untuk memperjelas penyakit yang di derita oleh Risah.
"Ini hanya demam biasa kok pak, mungkin karena kelelahan. Mohon untuk istri bapak istirahat sampai pulih agar tidak semakin melemah nantinya."
Ucapnya, dan spontan Bagas menoleh ke arah Risah yang tidak bergeming.
"Tapi pak,"
"Iya pak, saya akan menjaga kesehatan saya. Dan di pastikan suami saya akan merawat saya sampai sembuh."
Risah memotong ucapan Bagas yang akan mengatakan kalau dia bukan suaminya. Bagas menatap tajam ke arah Risah, dan Risah pura-pura tidak tau.
Mereka keluar setelah menebus obat dan berjalan ke arah mobil. Tidak ada yang istimewa. Yang tadinya saat pergi Bagas memapah Risah untuk berjalan, dan kini ia bahkan meninggalkan Risah dan berjalan lebih dulu.
Didalam mobil, Bagas sudah menyiapkan kata-kata untuk Risah. Ia sudah yakin, akan keputusan ini. Dan akan mengatakannya setelah sampai di hotel.
Mengatakan apa hayo???
Bersambung..
__ADS_1
Untuk kalian, aku mau minta pendapat tentang karya ku ini. Aku Uda merevisi berkali-kali agar tidak ada kesalahan dalam penulisan, dan aku usahakan menulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh setiap pembacanya.
Menurut kalian bagaimana??