
Diana.
Aku merasa aura kenyamanan di desa ini, aku juga betah disini. Entahlah mungkin karena suasananya yang damai, para tetangga juga ramah. Mereka tidak menanyakan hal tentang kenapa aku pindah kesini sejauh ini.
Tak terasa ya, udah tiga Minggu aku disini. Alhamdulillah Alif juga akhirnya betah dan punya teman bermain, anak tetangga sebelah. Cuma aku kurang suka aja sama ayah anak itu, kayak sering goda gitu kalau enggak ada istrinya.
Aku risih, sekaligus benci. Iya aku paling benci lelaki seperti itu. Sama saja dia seperti suamiku, huh entahlah apa kabarnya sekarang. Mungkin sudah menikah. Aku juga masih menggantung status keluarga ku.
Biarlah aku begini dulu.
Pagi ini aku beranikan diri untuk Testpack. Ternyata benar hasilnya positif, dan garisnya juga jelas. Aku hanya berdoa dan berharap aku tidak ngidam macam-macam, termasuk untuk selalu ingin dekat dengan ayahnya.
Untuk kedepannya aku akan berdoa dan terus berdoa. Bukan tentang untuk mengahdirkan lelaki lain di hidupku, itu juga tidak pernah terpikir olehku. Hanya sekedar menguatkan aku dan anak-anakku nantinya.
Diana end.
...***...
"Gimana saksi? Sah?"
"SAH!!!" Jawab beberapa orang keluarga yang menjadi saksi ijab qobul pernikahan.
Hari ini adalah hari dimana Bagas dan Risah menikah. Tetapi hanya di hadiri oleh beberapa keluarga inti dari Risah. Kalau Bagas, jangan di tanya. Bahkan lalat yang ada dirumahnya juga enggan untuk datang.
Ia menikah dengan Risah hanya status nikah secara agama, tidak ada surat sah dari negara. Karena juga Bagas masih status suami sah dari Diana.
Tidak ada wajah senyum ikhlas yang terpancar dari sepasang pengantin ini. Terutama Bagas.
Wajahnya memancarkan aura dingin, seperti ada semen di wajahnya, kaku. Bahkan untuk tersenyum saja sulit. Tidak pernah ada kata ikhlas dalam diri atau pun hatinya ketika ia menikahi Risah hari ini.
Tiba di kamar pengantin.
"Mas? Kita makan setelah ganti baju ya? Ibu udah masak banyak, walaupun tidak ada tamu yang datang."
"Aku tidak *****, setelah keluargamu pulang aku juga akan pulang."
"Kenapa mas?"
"Bukankah itu perjanjian kita?"
Risah tampak terdiam. Menunduk rasanya sedih mungkin.
Iya aku memang menyetujui itu. Tapi kenapa rasanya sakit sekarang, sakit sekali malah.
"Baiklah mas, tapi besok kesini kan mas?"
"Untuk apa?"
"Kita ke kantor bareng."
"Enggak, aku malu."
"Ya udah terserah kamu mas."
Bagas pergi keluar kamar. Mengambil baju di dalam tas yang ia tinggal di ruang tamu rumah milik Risah. Ia kembali lagi ke kamar, ketika ia masuk ternyata Risah sedang mengganti pakaiannya, dan hanya memakai ****** ***** beserta bra.
"Mas."
Bagas tidak menjawab, bahkan tidak peduli. Ia juga berniat mengganti pakaiannya, ketika baru membuka beberapa kancing bajunya. Risah mendekat dengan keadaannya tubuhnya yang masih seperti tadi ketika Bagas masuk.
Bagas acuh, tidak menghiraukan Risah.
"Mas, kenapa sewaktu kita udah halal kamu enggak mau? Dan kenapa waktu itu kamu mau, bahkan kamu yang mulai."
"Sensasinya beda!"
Bagas pun urungkan niatnya untuk membuka baju, kemudian ia berjalan keluar kamar lagi meninggalkan Risah.
__ADS_1
Sialan, sialan!!!
Saat ia keluar terlihat keluarga Risah yang tadi hadir, sudah pulang. Bagas langsung mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar rumah, ia berniat akan langsung pulang saja.
"Loh nak, kamu mau kemana?"
Tegur Ibu mertuanya.
"Pulang Bu, maaf."
Tanpa menoleh lagi ia langsung bergegas jalan meninggalkan rumah itu.
Ibu Risah sedih dan meneteskan air matanya.
Ya Allah, sejahat itu kah anak hamba. Sampai suaminya juga tidak mau dekat dengannya.
...***...
Di dalam mobil Bagas terus saja memukul-mukul setir kemudinya.
"Arrghh.. kacau semua kacau!!! Rumah tanggaku kacau! Entah kenapa aku begitu yakin kalau anak Risah bukanlah anakku."
Ia kembali teringat Diana, teringat senyum manisnya. Rasa cinta tulusnya.
Bagas menyadari bahwa memang dia bodoh. Manusia paling bodoh adalah manusia yang meninggalkan tempat ternyaman, hanya demi tempat kesenangan.
Bagas sampai dirumah, ia bergegas menelfon Anton. Rasanya kali ini ia butuh bantuannya.
"Hallo mas."
"(Ya, ada apa?)"
"Mas, aku baru saja menikah. Tapi aku, aku yakin mas kalau anak itu bukan anakku. Tapi bagaimana mas, aku tidak sabar menunggu sampai anak itu lahir, rasanya itu akan begitu lama. Tolong mas bantu aku, aku janji mas aku benar-benar berubah. Kalau begini keadaannya, untuk bekerja pun aku udah enggak fokus mas."
"(Tunggu saja beberapa bulan)."
"(Ya udah, kamu tunggu aja. Gimana endingnya)."
Tutt..
Sambungan telfon di matikan sepihak oleh Anton.
"Arrghh!!!"
Bagas kembali berteriak frustasi, menghantamkan semua benda di dekatnya. Sampai tangannya memar pun ia tidak merasakan. Ia menangis menjerit-jerit, rasanya sudah seperti kehilangan separuh kehidupannya.
Bu Salmah yang mendengar teriakkan orang dari dalam rumah Bagas merasa panik. Dan ia bermaksud untuk melihat ada apa, tetapi ia tidak berani kalau sendiri. Akhirnya ia mengajak suaminya untuk melihat ke dalam rumah Bagas.
Saat Bu Salmah sampai di ambang pintu, betapa kagetnya ia melihat Bagas yang sudah terduduk dan hidungnya mengeluarkan darah.
Ternyata sedari tadi Bagas juga menhantamkan kepalanya ke dinding. Ia menangis tapi kali ini tidak bersuara, hingga melihat Bu Salmah datang pun ia tetap diam, seperti kosong pandangannya.
"Ya Allah. Bagas!! Kamu kenapa, kenapa barang-barang kamu berantakan semua seperti ini gas? Ada apa?"
Suami Bu Salmah membantunya berdiri dan memapahnya untuk duduk di sofa. Sementara Bu Salmah berjalan ke belakang mencari kotak obat.
Selang beberapa menit Bu Salmah kembali, membawa perlengkapan p3k. Dan juga air hangat beserta kain yang ia bawa menggunakan mangkuk sedang.
"Sekarang kamu bilang, ada apa toh gas?"
Ucap Bu Salmah lembut.
Bagas diam tidak menjawab hanya ada setetes air mata yang jatuh. Bu Salmah tidak kembali bertanya, hanya melakukan pengobatan yang ia bisa, dengan alat rumah seadanya.
"Udah siap, udah kamu istirahat ke kamarmu. Biar Ibu yang bereskan barang-barang kamu ini. Ya lain kali kalau lagi emosi jangan semua di banting loh nak, kan belinya pakai uang."
Gerutunya dan berdiri untuk membereskan barang-barang yang berhamburan di lantai.
__ADS_1
"Bu."
Akhirnya Bagas bersuara.
Bu Salmah dan suami menoleh.
"Iya, ada apa gas?"
Bagas menatap lurus ke depan, yang ia tatap hanya dinding. Tetapi rasanya yang ia tatap hanya ruang hampa.
"Aku rindu anak dan istriku Bu."
Bu Salmah kaget, dan kembali mendekat ke arah Bagas. Sehingga Bagas pun berniat akan melanjutkan ceritanya.
"Mereka udah pergi ninggalin aku Bu. Karena kesalahan ku yang mungkin tidak bisa termaafkan."
"Apakah ini soal wanita yang beberapa Minggu kemarin datang kesini?"
Suami Bu Salmah tampak membulatkan matanya tidak suka tentang pertanyaan yang ia lontarkan. Memang begitu sifatnya, ia tidak suka istrinya ikut campur rumah tangga orang lain, toh biar Bagas saja yang bercerita sendiri tanpa ditanya, begitu maksudnya.
Bagas pun menjawab hanya dengan anggukan. Dan kembali meneteskan air matanya, yang kini kembali deras terjatuh. Ya karena jika mengingat hari itu rasanya kacau, hari dimana suasana hatinya cerah dengan mendengar kalau istrinya hamil, namun hanya berlangsung beberapa jam saja, kemudian berganti dengan suasana tegang, dan sampai sekarang suasana bahagia itu tidak lagi ada, bahkan mungkin tidak akan kembali.
Bagas mencoba menenangkan hatinya, berdamai untuk saat ini. Karena memang ini kesalahannya. Ia menarik nafas perlahan. Kemudian menceritakan semuanya dengan orang tua yang ada di hadapannya ini.
Ketika ia masih lanjut menjelaskan suami Bu Salmah berdiri, reflek mereka berdua menatap lelaki ini.
Ia hanya menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Ambilah keputusan yang bijak setelah ini."
Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan Bu Salmah yang masih berada di dalam rumah Bagas.
Aku benci lelaki seperti itu. Karena aku sendiri lelaki tapi tidak seperti nya.
"Gas, kamu istirahat aja. Ibu mau pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu panggil aja Ibu, enggak apa-apa kok. Jangan sungkan, jika ingin cerita, maka cerita lah."
"Baik Bu, makasih ya Bu."
Kini ia kembali sendiri lagi. Merenungi nasibnya ke depan akan seperti apa.
...***...
"Hallo kak?"
"(Iya na, ada apa?"
"Kak, Ana Uda testpack tadi pagi, dan hasilnya positif."
"(Benarkah? Wah Alhamdulillah. Ya udah kamu yang kuat ya, jangan bebani pikiran kamu lagi. Besok kakak kesana deh, kamu pengen apa biar kakak bawakan?)"
"Hem apa ya, enggak ada sih kak. Semoga hamil ini anakku tidak merepotkan bundanya."
"(Ya udah kalau gitu, eh iya na. Bagas udah menikah pagi tadi)."
"Oh iya kak. Hem baguslah, jadi anak itu enggak bakal jadi anak haram."
"(Maaf sayang, enggak ada maksud kakak buat kamu sedih, tapi bagaimana pun kakak juga harus memberi kabar ke kamu, soalnya tadi kakak tau dari mas Anton, mau ngasih tau, eh ternyata kamu nelfon)."
"Iya iya kak, ya udah Ana tutup ya telfonnya. Assalamualaikum."
Ya Allah, sakit sekali dadaku ini mendengarkannya, rasanya sesak. Untuk bernafas sangat sulit. Rasanya aku sudah benar-benar kehilangan harapan untuk mempertahankan rumah tanggaku kembali. Apa ini menjadi awal untukku, untuk menjadi single mother sesungguhnya?
Diana melemas, tubuhnya seperti tidak bertulang. Ia terduduk dan mengeluarkan air matanya tanpa suara.
"Bunda, bunda kenapa?"
Bersambung...
__ADS_1