Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 40


__ADS_3

Eva


Aku enggak tau lagi harus bagaimana, harus berbuat apa sekarang. Aku enggak tau.


Rasa kecewa yang dulu pernah ada di antara keluarga ku, kini kembali aku rasakan. Dan itu di buat oleh kakak-kakak ku sendiri.


Rasanya aku jadi takut, takut untuk menikah. Takut untuk dekat dengan laki-laki. Aku sangat takut untuk itu.


Jujur, semenjak aku tau kakak pertama ku selingkuh dan sampai mempunyai anak dari wanita lain, aku masih bisa mencoba ikhlas dengan kelakuannya. Tapi kali ini, dengan kakak ku yang memang sifatnya jauh dari kata baj**gan.


Aku masih tidak percaya, antara nyata atau tidak. Aku sampai memutuskan hubungan dengan pacarku, pacar pertama ku sejak aku lulus sekolah. Memang masih pacaran diam-diam, aku tidak pernah mengenalkan pada keluarga ku. Karena aku belum menganggap hubungan itu serius. Tapi, rasanya untuk di ajak berteman dengan lelaki pun aku sudah tidak mau. Aku menjauhi semuanya.


Terserah lah mereka mau bilang apa. Intinya aku masih trauma dengan kisah cinta orang-orang terdekat ku. Meskipun bukan aku yang di duakan, bukankah itu juga berimbas pada fsikis ku?


Eva end.


"Eva, kok melamun?"


Kaget menoleh.


"Ibu."


"Kenapa?"


"Enggak apa bu."


Mencoba tersenyum.


"Coba kamu telfon mas mu. Ibu mau bicara."


Rasanya aku malas sekali.


"Mas ku yang mana bu?"


Pura-pura tidak tau.


"Mas Bagas va."


Eva membuang nafas kasar.


Hanya menjawab dengan anggukan.


"Ini tinggal ibu tunggu di angkat atau tidak."


Pergi meninggalkan ibunya sendiri.


Lama ibu Ramini menunggu jawaban dari seberang telfon.


"(Hallo, Assalamualaikum. Ada apa va)?"


"Walaikumsalam. Ini ibu."


"(Ibu)."


Suaranya melemah.


"Tidak kah kau berusaha setelah kehancuran rumah tangga mu? Benar kah kamu lebih memilih wanita lain di bandingkan ibu dari anakmu? Bagas kemana pikiran kamu, Diana sedang mengandung anakmu. Tapi kamu tega, kamu tau kan kalau ibu hamil itu ingin selalu dekat dengan suaminya."


"(Bu, biarkan Bagas menjelaskan)."


Ibu diam akan mendengarkan.


"(Bu, Bagas janji cepat atau lambat Bagas akan memperbaiki semuanya. Bagas janji bu, Bagas akan membawa Diana kembali pulang. Ibu hanya menunggu kabar selanjutnya)."


"Ibu pegang janji kamu."


"(Iya bu)."


"Kamu sudah makan? Kamu sehatkan, maaf waktu itu ibu terlalu kecewa dan bahkan sampai hari ini, tapi ibu tidak bisa menyembunyikan ke khawatiran ibu."


"(Bagas sehat bu, sehat Alhamdulillah. Bagas udah makan. Ibu sehat?)"


Ibu malah terisak mendengar pertanyaan Bagas.


"Gas, ibu mana yang akan sehat melihat anaknya seperti ini? Ibu mana yang akan baik-baik saja, jika melihat anaknya mengulangi kesalahan yang sama, yang di lakukan oleh orang tuanya sendiri?"


"(Bu?)"


Suara terdengar melemah. Mungkin Bagas juga menangis saat ini.


"Kamu tau gas, ini udah jadi pembuktian bahwa istrimu memang penyabar. Dan ini pelajaran terbesar buatmu, jika kamu berhasil kembali padanya, maka apa yang di ucapkan olehnya, ibu mohon dengar dan turuti. Ibu yakin itu semua pasti benar. Diana anak baik, ibu yakin orang tuanya dulu mendidiknya dengan sangat tegas."


"Jadi ibu mohon dengan sangat. Berubah lah gas."


"(Bagas janji bu)."


"Ya sudah."


"(Bu, boleh kah Bagas datang kesana sekarang, boleh kah Bagas tidur di pangkuan ibu. Seperti dulu sewaktu Bagas di jauhi teman-teman Bagas, bukan kah ibu selalu ada untuk Bagas?")


"Datang lah, pintu masih terbuka untukmu."


...***...


Bagas langsung keluar mengunci pintu rumahnya. Ia berangkat ke rumah orang tuanya setelah mematikan sambungan telfon.


Hingga ia sampai di pekarangan rumah ibunya, yang terasa damai dan sejuk di pandang.


tok. tok.


Suara pintu.

__ADS_1


"Bu, Assalamualaikum. Ini Bagas bu."


"Walaikumssalam. Masuklah."


Berlari memeluk ibunya. Memecahkan suara tangisnya, hingga bersujud dan mencium kaki ibunya.


"Maaf bu."


Hanya itu yang terus menerus ia ucapkan.


"Bangun lah. Sudah cukup, yang kamu sakiti istrimu. Minta maaf lah padanya bukan dengan ibu."


Bagas kembali memeluk ibunya. Rasa nyaman kembali ia rasakan.


"Kamu sudah menikahi wanita itu?"


Setelah duduk ibu bertanya.


"Sudah bu, tapi tidak tinggal satu rumah."


"Kenapa? Berarti kamu menyakiti hati dua wanita sekaligus."


"Bu, sudah jangan bahas. Bagas udah bilang kan bu, bakal memperbaiki semuanya."


Ibu diam.


Bagas berjalan mendekat dan tidur di pangkuan ibunya.


Saat ini Eva benar-benar tidak ingin menemui saudaranya, ia hanya mengurung diri di kamar.


Ibu mengelus puncak kepala putranya, dengan lembut ia lakukan.


"Kamu ingat tidak dulu kamu merasa di kucilkan, tidak punya teman, dan memang tidak ada yang mau berteman. Hanya karena badan mu penuh koreng." Ibu tersenyum mengingat kejadian di masa lalu.


"Kamu bahkan bilang ngapain di lahirkan ke dunia ini, dan langsung mendapat tamparan keras dari ayahmu."


"Bagas ingat semua itu bu."


"Ibu bahkan tidak menyangka setelah dewasa kamu malah lebih tampan dari mas mu."


"Bu, memang sedari dulu Bagas udah tampan, yang bermasalah kan hanya tubuh Bagas bu, bukan wajah."


Masih tidak terima.


"Iya-iya, makannya sampai menggoda wanita lain yakkan."


"Bu, Bagas yang di goda bukan Bagas yang menggoda."


Protesnya.


Ibu masih terus saja mengelus kepala anaknya. Hingga tanpa sadar Bagas terlelap di pangkuan ibunya. Ibu diam dan membiarkan anaknya itu tertidur dengan pulasnya.


"Bu."


Panggil Eva yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Iya va?"


"Kenapa mas tidur disitu, bangunkan bu. Nanti kaki ibu sakit."


Eva berjalan mendekat dan menggoyangkan tubuh mas nya.


"Bangun, enak saja tidur di pangkuan ibu. Nanti kaki ibu sakit. Bangun!!"


Bentaknya. Bagas menggeliat dan membuka mata melihat keadaan sekitar, ternyata ia tidak sadar tertidur di pangkuan ibunya.


Duduk dan menatap Eva dengan tajam.


"Kalau kaki ibu sakit gimana, menyusahkan saja taunya."


"Jaga ucapan kamu Eva!!"


Bentak Bagas.


"Kamu mas yang harusnya jaga semuanya. Sudah tua tapi tidak punya pikiran, harusnya kamu sadar mas."


Bagas berdiri dan hendak menampar Eva.


Tapi teriakan ibu menghentikannya.


"Biar aja bu, biar aja dia nampar Eva."


Bagas hanya menatap tajam adiknya itu. Sebelumnya Eva tidak pernah berkata kasar begitu, kalau pun iya palingan hanya bercanda, tapi kali ini beda.


"Sudah hentikan, kelakuan kalian seperti ini yang akan membuat ibu sakit."


"Maaf bu, Bagas pamit pulang."


Langsung berjalan keluar rumah.


"Bagas tunggu."


Tidak menoleh dan hanya terus berjalan.


Ibu hendak mengejar dan halangi oleh Eva.


"Sudah bu, biarkan mas pergi."


"Walau pun dia salah, dia tetap mas mu Eva. Lain kali jaga ucapan kamu."


Ibu juga pergi masuk ke kamar, meninggalkan Eva yang sendirian.

__ADS_1


Kenapa jadi aku yang terpojok?


...***...


Bagas kembali pulang ke rumahnya dengan keadaan emosi, bahkan dalam perjalanan sudah beberapa kali hampir menabrak pengendara yang hendak menyebrang.


Hingga sampai di rumah sore hari. Ia langsung masuk kamar dan melompat ke tempat tidur, melanjutkan tidurnya yang terganggu karena adiknya.


Malam menjelang ia pun tak kunjung bangun. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kamarnya yang tidak ia tutup pun membangunkannya.


Jam berapa sekarang? Perasaan baru sebentar tidur.


Menoleh melihat jam dinding yang terpampang di atas dinding.


Ha? Jam 8? Jadi ini jam 8 pagi? Bukannya masih sore, ya ampun berapa jam aku tidur.


Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu akan berniat membuat sarapan untuknya sendiri.


Selesai mandi saat hendak berjalan ke dapur HP nya kembali berdering. Ia melihat siapa yang menelfon, ternyata resepsionis di kantornya.


"Ya Hallo, selamat pagi."


"(Dengan Bagas kan?)"


"Iya saya sendiri. Ada apa?"


"(Kamu di suruh datang ke kantor hari ini, jam 10 paling lama. Langsung saja ke ruangan direktur. Hari ini ia datang, dan sengaja memanggil kamu)."


"Iya saya akan segera kesana."


Bagas tidak jadi membuat sarapan, lebih baik beli saja pikirnya. Karena waktu juga sudah sempit, jadi ia memutuskan untuk langsung pergi.


Bagas kembali memasuki area kantornya, setelah beberapa hari ia tidak lagi datang kesini untuk bekerja.


Ia langsung memasuki area ruangan privat, yaitu ruangan direktur.


tok tok. Suara pintu.


"Permisi pak."


Dan membuka pintu.


"Kamu, silahkan duduk."


Menurut dan duduk di hadapan kursi kebesaran direktur.


"Kamu Bagas yang mengajukan surat pengunduran diri?"


"Iya pak benar."


"Alasannya apa kamu mengundurkan diri?"


"Saya sudah tidak cocok bekerja disini pak."


Berkata jujur.


"Apa ada masalah dengan rekan kerja mu yang lain?"


Mana mungkin aku jujur.


"Tidak pak, itu mutlak keputusan saya."


"Baiklah, kalau begitu silahkan tanda tangan surat ini."


Bagas mengambilnya, dan membaca setiap rincian itu. Ternyata gajih dan sisa bonusnya tetap di keluarkan, namun pesangon yang di terimanya hanya separuh. Ia pun langsung tanda tangan setuju, tidak ingin protes, karena masalahnya akan semakin rumit.


"Ini pak."


Menyerahkan kembali surat itu.


"Oke, kamu boleh keluar."


Tanpa di usir saya pun tau pak.


...***...


"Hallo mas, Assalamualaikum."


"(Ya, walaikumsalam)."


"Mas, besok jadi kan?"


"(Jadi tapi -"


"Tapi apa mas?"


Langsung memotong ucapan Anton di telfon.


"(Diana belum mau kamu ikut, dia hanya ingin melihat bukti itu dulu)."


"Mas aku mohon, ijinkan aku ikut. Aku janji aku hanya melihat dari jauh, aku tidak akan langsung berhadapan dengannya. Aku mohon mas."


"(Tapi kamu yakin sama ucapan kamu? Kamu cukup lihat dari jauh saja ya?)"


"Iya mas aku janji, setidaknya aku bisa melihat Diana."


"(Baik lah, besok pagi kita berangkat pukul 6 ya, biar lebih cepat sampai)."


"Makasih banyak mas."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2