
Siang ini Bagas akan meninjau proyek yang telah ia kerjakan selama dua minggu. Dan Alhamdulillah semuanya lancar tanpa kendala. Mungkin ini semangat di balik kerja kerasnya.
"Sebentar pak, atasan saya menelfon."
Berjalan menjauh dari rekan kerjanya di luar kota.
"Halo pak, selamat siang."
"(Halo gas. Gimana lancar pekerjaan kamu disana?)"
"Lancar pak, Alhamdulillah."
"(Kamu ingin pulang cepat tidak?)"
"Iya mau lah pak."
"(Ada syaratnya)."
Mau apa baj*Ng*n ini.
"Apa itu pak?"
"(Temui saya malam ini di cafe dekat hotel tempat mu menginap. Nanti akan saya kirim nama cafenya, jam delapan malam ya)."
Tut..
Sambungan telfon di matikan sebelum Bagas menjawab. Bagas berdecak kesal, ia tau pasti Darma akan menyusun rencana.
"Kenapa gas? Ada masalah?"
Tanya rekan sesamanya.
"Oh tidak pak, susah sinyal jadi enggak denger tadi atasan ngomong apa." Tersenyum paksa.
"Oh gitu. Ya udah kita ke bagian sana, cek yang lain lagi."
"Iya pak, ayo."
Tubuh dan jiwanya berada dalam lingkup pekerjaan. Namun pikirannya menerawang kemana-mana. Penasaran dengan maksud atasannya tadi. Bagas takut ia di jebak lagi, namun untuk saat ini ia berusaha berpikir positif dulu.
"Pak, saya permisi pulang duluan ya. Kerjaan udah siap, bisa lanjut di rumah melalui email."
"Oh iya gas, silahkan. Saya juga udah kelar sebenarnya, cuma lagi mau nyantai disini."
"Iya pak, mari pak."
Ucapnya sopan dan berlalu pergi.
Ia melihat jam di tangan, ternyata masih pukul 5 sore. Untunglah jarak untuk ke hotel hanya beberapa menit, jadi masih sempat untuk melaksanakan sholat Maghrib di hotel, pikirnya.
Selesai dengan kewajibannya Bagas mencoba melihat HP, dan melihat nama cafe yang sudah di kirim oleh Darma. Tapi ada sedikit pandangan yang mengalihkan perhatiannya ketika melihat pesan Whatsapp nya.
Ini aku enggak salah liat kan? Memang ini pesan udah di baca sama Diana kan? Ini garis birunya ada dua loh.
Bagas mencoba memencet layar HPnya untuk menghubungi Diana.
Berdering???
Bagas dengan tangan gemetar menunggu jawaban dan meletakkan HPnya ke telinga.
Di tempat lain.
Kok aku dengar suara hp ku ya? Tapi apa mungkin?
Ia berjalan ke kamar, dan melihat HP yang kemarin ia letakkan saja di atas meja kamar, tanpa menonaktifkan nya kembali.
"Ah iya benar, tapi siapa yang menelfon?"
Mengambil HP dan melihat layar dengan nama panggilan "Husband"
Enggak, kenapa tiba-tiba ada sinyal disini? Enggak mungkin, kenapa aku lupa matikan kemarin.
Ia bimbang antara mengangkat atau tidak. HP terus saja berdering, mungkin ini sudah panggilan yang kesekian kalinya. Diana menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
Ia menjawab panggilan dan meletakkan di telinga. Tanpa mengeluarkan suara apapun.
"(Hallo sayang, sayang kamu disana? Sayang kamu dimana? Apakah anak kita yang di kandungamu sehat? Lalu Alif, apakah dia nakal disana tanpa ayahnya? Sayang, sayang jangan matikan telfonnya, ku mohon dengarlah sedikit penjelasan ku)."
__ADS_1
Diana menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara apapun. Ini sangat sulit baginya untuk menahan tangis.
"(Sayang, maafkan semua salahku, sayang aku bakal buktikan kalau Risah tidak mengandung anakku. Aku mohon jangan hilangkan rasa cintamu untukku sayang)." Bagas mulai terisak tak sanggup menjelaskan.
Begitu juga dengan Diana, ia terduduk dan menangis, mendengarkan setiap ucapan suaminya.
"(Sayang? Dengar akukan? Kamu masih disana kan? Sampaikan sama calon jagoan ku, jangan nakal dan jangan buat susah bundanya, jangan ngidam yang aneh-aneh. Sayang tolong bilang ke dia ya, sayang aku, aku disini hancur tanpamu. Sayang, ku mohon pulang lah)."
Bagas hanya mendengar suara Diana yang terisak lirih. Karena sekuat apapun kita menahan tangis, pasti sedikit tetap mengeluarkan suara isak dan nafas yang tersengal-sengal.
"(Ku mohon jangan menangis, aku harus apa sayang, bahkan untuk mendengar suara mu pun sulit, aku hanya ingin melihat wajahmu, sekali saja, sekali saja. Aku ingin mengelus anak yang saat ini kamu kandung. Aku tau, kamu benar hamil kan sayang? Iyakan?)."
Diana langsung mematikan sambungan telfonnya. Dan kembali menonaktifkan HP miliknya. Sudah cukup rasanya mendengar suara Bagas.
Aku rindu kamu yah, sangat rindu. Tapi, aku benci.
Bagas melemas, ia terkulai di lantai. Rasa sedih yang membuncah di hatinya, tidak bisa dekat di saat istrinya mengandung. HP nya berdering, dengan cepat ia melihat, yang dikira Diana yang kembali menelfon, ternyata hanya orang yang menjadi perusak rumah tangganya.
"Hallo." Ucapnya dingin.
"(Saya tunggu kamu disini ya. Jangan terlambat)."
"Baik."
Langsung mematikan telfon. Menghapus sisa air matanya. Dan bersiap untuk pergi ke cafe yang di tentukan Darma.
Di dalam mobil.
"Hallo mas, Assalamualaikum."
"(Ya gas, walaikumsalam. Ada apa?)"
"Mas lagi sibuk enggak?"
"(Enggak lagi duduk ini dirumah. Kenapa?)"
"Mas, aku lagi di jalan mau ketemuan sama Darma. Aku enggak tau dia mau apa, dia hanya menawarkan aku untuk kembali pulang, tapi dengan syarat."
"(Rekam semua pembicaraan kalian)."
"Baik mas."
Iya itu nama cafenya. Bagas mulai berjalan masuk ke dalam dan bertanya kepada salah satu pekerja disana.
"Mbak, apakah ada yang menyewa meja atas nama Darma?"
"Ada mas, itu di lantai dua dekat ruang VVIP."
"Oh iya, terima kasih."
Tersenyum dan langsung menuju tempat yang di beri tau.
Bagas mencari tempat yang di maksud karyawan tadi, dan ternyata benar adanya. Tapi yang membuat Bagas heran, di dalam Darma duduk mesra bersama wanita yang berpakaian seksi. Bagas hanya ber dehem untuk menyadarkan kedatangannya pada dua manusia yang tidak tau malu itu.
"Eh gas, udah sampai? Silahkan duduk."
Bagas hanya mengangguk dengan ekspresi wajah tidak suka melihat wanita itu.
Wanita mana lagi yang akan jadi korban mu.
"Jadi begini gas."
Bagas melirik wanita yang bersama Darma. Darma mengerti arti tatapan Bagas, dan ia pun membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Kemudian wanita itu hanya tertawa mesum dan mengedipkan matanya ke arah Darma, lalu bangkit dan pergi.
Entah lah apa yang ia bicarakan, batinnya.
Bagas mengeluarkan Hpnya dan siap memencet rekaman. Tentu tanpa sepengetahuan Darma.
"Langsung saja pak, ada apa ngajak saya ketemu diluar jam kerja?"
"Kamu buru-buru sekali gas, enggak pesan makan dulu? Kamu pasti belum makan malam kan?"
"Oh enggak pak, saya tadi sudah makan sebelum kesini."
"Oke baik lah, nampaknya kamu tidak sabar mendengar semuanya."
Bagas diam tidak menjawab, sengaja biar Darma tidak muter-muter bicaranya.
__ADS_1
"Saya tau, keluarga kamu udah berantakan kan? Istri kamu juga ninggalin kamu kan? Saya bisa jamin dan bantu kamu untuk kembali lagi bersama istrimu."
"Maaf pak, saya harus potong omongan bapak. Bapak bukan tuhan dan jaksa yang bisa jamin saya bisa balik ke istri saya atau tidak. Jadi langsung saja maksud bapak apa."
Darma menaikkan sudut bibirnya, tampak senyum mengejek.
"Kamu akan menuntut Risah kan? Prihal anak yang ia kandung, dan sebenarnya kamu juga tau kan, siapa ayah bayi itu?"
Bagas tercekat, ternyata benar dugaannya.
"Jawab kenapa diam?"
"Iya saya tau. Bapak adalah anak dari janin yang saat ini Risah kandung. Dan karena kalian lah rumah tangga saya berantakan."
"Kenapa kamu nyalahin saya? Bukan kah kamu juga pernah tidur dengannya?" Tertawa sinis.
"Iya memang saya akui itu pak, tapi kejadian itu tidak berlangsung lama dan tidak terjadi berulang-ulang. Lagian itu juga karena keadaan."
"Haha kamu mengelak sekarang, jadi gimana? Tawaran saya, jika kamu setuju kamu akan pulang minggu ini dan bisa saya kasih cuti untuk ketemu istri kamu. Juga uang seratus juta dari saya, lain bonus dari perusahaan. Tapi kamu harus diam dan jangan menuntut Risah dan juga saya. Biarkan Risah pergi jauh. Kamu bisa kembali, dan saya juga tenang. Kita sama-sama untung. Lagian kita juga sama-sama baj**gan."
"Pak, saya memang sama seperti anda. Cuma bedanya saya dan bapak itu, kalau saya akan tetap dalam jalur kejujuran, meski saya awalnya yang salah. Tapi kalau bapak, sudah salah tetap tidak mau di salahkan. Menghalalkan segala cara hanya untuk bisa mendapat ketenangan. Saya memang baji**an. Tapi saya sudah mendapat karma dari perbuatan saya. Salah satunya ditinggalkan oleh istri dan dijauhi keluarga saya. Jadi keputusan saya, saya akan tetap menuntut Risah dan juga anda, dan saya akan pulang besok tanpa harus menunggu Minggu depan dan Minggu depannya lagi, dan itu tentu kemauan saya, bukan kemauan bapak. Saya risigne!!! Permisi bapak Darma yang terhormat."
Bagas berdiri dan mematikan jalannya rekaman yang ia buat. Bagas berjalan dengan keadaan emosi yang membuncah. Nafasnya tidak beraturan dengan mestinya.
Sementara Darma yang emosi dengan keputusan Bagas. Bahkan ia tak menyangka kalau Bagas akan berani mengancam dan bertindak sejauh ini. Ini sungguh di luar dugaannya. Yang ia pikirkan Bagas akan tergiur dengan tawaran yang ia berikan, ternyata nihil, semua di cekal olehnya.
Kini ia tinggal menunggu waktu dimana Bagas akan mengajukan penuntutan untuknya dan juga Risah.
Yang ia pikirkan saat ini juga tentang anak dan istrinya di rumah. Karena selama bertahun-tahun ia bermain dengan wanita di luar, istri dan anak di rumah tidak ada yang tau. Semua Darma sembunyikan rapat-rapat. Namun kali ini ia sudah ke habisan ide, Bagas pun sudah bilang kalau akan risigne. Ia terkesan tidak takut kehilangan pekerjaannya, itu semua demi keutuhan rumah tangganya.
...***...
"Hallo mas, semua udah berjalan lancar. Besok pagi aku pulang mas, kita langsung jumpa ya. Dan aku juga udah punya bukti. Tinggal mengajukan penuntutan."
"(Iya-iya santai kali gas, ngomongnya satu nafas begitu. Ya mbok pelan-pelan ngomongnya, udah kayak laporan upacara aja)."
"Semangat mas."
"(Ya udah besok kabarin aja, mas lagi makan ini sama kakakmu. Eh lah kok besok pulang? Bukannya kamu masih lama di luar kota?)."
"Udah mas, tanya nya besok aja. Mas makan aja dulu."
"(Sekarang udah bisa ya gantian menjatuhkan mas)."
"Hehe, maaf mas becanda. Ya udah aku tutup mas, salam sama kak Mita ya."
...***...
"Siapa yang telfon mas?"
Tanya Mita.
"Bagas sayang."
Sambil mengunyah Nugget goreng ala istri tercinta.
"Mau apa dia?"
"Dia udah punya semua bukti katanya, mas juga udah liat."
"Jadi gimana mas? Apa Ana udah tau soal ini?"
"Udah, makannya besok kita kesana setelah Bagas sampai."
"Jadi Bagas akan ikut mas? Nanti kalau Ana marah gimana mas?"
Anton mengambil potongan Nugget yang cukup besar dan menyuapkan ke mulut istrinya agar berhenti bicara.
Mita langsung memukuli suaminya.
"Banyak tanya sayang, besok aja nunggu sutradaranya datang jadi bisa kita mainkan filmnya Bagas."
Anton pun tertawa lepas melihat kekesalan istrinya yang terus ia goda di saat serius.
Bersambung...
Like, komen, favorit, vote.
__ADS_1
Bismillah semoga semua minat amin🤗