Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 13


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kerumah sakit pikiran Bagas berlarian kemana-mana.


Gimana kalau Risah jujur sama Diana.


Gimana kalau Risah malah enggak siuman juga.


Aaaahhh..


Bagas kacau dengan pikirannya sendiri. Sementara Diana merasa sangat khawatir karena Risah tak kunjung sadar, padahal sudah di beri minyak angin. Wajahnya begitu pucat seperti sudah tak dialiri darah.


waktu menunjukkan pukul 12siang. Mereka sampai didepan klinik biasa karena jika dibawa kerumah sakit besar akan memakan waktu yang lama lagi, lebih baik di klinik di sekitaran yang tak jauh dari pemakaman.


Bagas turun menggendong Risah dengan rasa campur aduk, sementara Diana memanggil dokter jaga tergepoh sambil menggendong Alif.


Oh duhai Diana. Jika engkau tau bahwa itu lah wanita setengah duyung yang merusak kehangatan dan kebahagiaan keluarga kecilmu, akankah kau sanggup bernafas lagi.


Di bayangkan saja sudah sakit, apalagi merasakan ya Allah semoga Diana dalam lindungan mu.


...***...


Tangan Risah sudah terpasang selang infus, dan hidungnya terpaksa dipasang oksigen. Di karenakan pernafasannya terganggu.


Setelah di tangani oleh dokter jaga Bagas dan Diana masuk ke ruangan dokter untuk menanyakan perihal kesehatan pasien.


"Jadi kalian wali dari pasien." Tanya dokter itu ramah.


"Iya dokter." Jawab Bagas cepat.


Diana merasa belum ada ke anehan jadi biasa saja.


"Begini sepertinya pasien mengalami syok berat akibat mengalami guncangan di pikirannya. Sehingga mempengaruhi kenaikan asam lambung nya.


Dan setelah di periksa pasien tidak ada mengkonsumsi makanan apapun dari kemarin, apakah bapak atau ibu ada yang tau penyebabnya?" Tanyanya lagi.


Bagas dan Diana saling pandang. Bagas berharap


bahwa dia saja lah yang akan menjelaskan.


Diana pun hanya mengangguk.


"Begini dokter." Bagas menjelaskan secara detail saat berada di pemakaman, dan ada kemungkinan karena kehilangan orang terdekat lah menjadi alasan tersendiri baginya sehingga tidak ada mengkonsumsi makanan apapun.


Dokter yang mendengarkan alasannya pun nampak setuju dengan Bagas. Kemudian dokter mempersilahkan Bagas dan Diana untuk mengechek keadaan pasien, yaitu Risah wanita setengah duyung.


Bagas menatap Risah dengan tatapan iba.


Saat mereka berbincang tak lama dokter pamit untuk keluar.


Setelah beberapa menit Risah nampak bergerak dan tangannya pun terangkat memegang kepala, mungkin yang ia rasa sangat pusing di kepala. Lama tampak Diana dan Bagas memperhatikan.


"Ayah, dia sadar yah. Ayah panggil dokternya sekarang." Tegas nya.


"Iya, Iya ayah panggil dokter dulu."


Bagas keluar ruangan menuju ruangan dokter.


Diana mendekat dan berusaha memanggilnya agar ia segera membuka mata.


"Mbak, mbak bangun. Mbak udah sadar?"


Risah mulai membuka matanya yang samar dan masih tampak kabur.


"Aa, aku dimana." Jawabnya lirih hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Mbak, mbak ada dirumah sakit. Tadi pingsan waktu di pemakaman. Nama mbak siapa? Dan ada enggak keluarga yang bisa di hubungin?" Tanya Diana hati-hati.


Risah terus memegang kepalanya dan meringis kesakitan.


Ah mana mungkin sih dia ilang ingatan, di tanya nama malah nyengir aja. Batin Diana.


"Mbak?" Panggilnya ulang.


Risah berusaha mengembalikan kesadarannya secara normal.


"Nama aku Risah mbak, mbak yang bawa aku kesini ya?"


Risah????? Risah, enggak salah? Apa ini risah yang?? Enggak enggak mungkin. Pantas tadi ayah bilang kalau dia kenal hanya saja tertutup kerudung. Oke Diana positif thinking aja dulu.


"Mbak, nama mbak siapa?" Kali ini Risah yang mengulang pertanyaannya.


"Oh. Iya nama aku Diana mbak, tadi aku dan suami yang bawa mbak kesini, karena di pemakaman udah enggak ada orang lagi selain kami, keluarga mbak juga udah engga ada." Terangnya.


Saat Risah akan menanyakan sesuatu, tiba-tiba dokter masuk dan mereka serentak melihat ke arah pintu.


"Pasien sudah sadar?" Tanya dokter dan mengeluarkan senyum ramahnya.


"Iya dokter."


Risah melihat lelaki yang berdiri dibelakang dokter tampak tidak asing.


"Baik mari saya periksa ya mbak."


Dan, Risah membulatkan matanya ketika melihat Bagas lah yang ternyata menolongnya.


Jadi, jadi kamu yang bawa aku kesini mas. Dunia terlalu sempit. Dan wanita ini? Wanita yang ramah ini adalah istri kamu? Risah.


Ia masih menatap tidak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini.


Saat dokter keluar ruangan, Risah memberanikan diri menegur Bagas.


"Mas Bagas kan?" Tanyanya.


"Iya, kamu Risah kan?" Tanya balik.


Diana hanya menjadi penonton setia.


"Makasih ya mas udah bawa aku kesini, makasih banget. Kalau enggak ada kamu aku sendiri enggak tau bisa selamat atau tidak." Suaranya terdengar pilu.


"Iya ini juga berkat istri aku yang nyuruh aku untuk segera menolong kamu tadi."


Jleb..


Sakit rasanya, ternyata karena seorang istri dan bukan kemauannya sendiri.


Risah memalingkan muka menahan air matanya kembali jatuh, mungkin juga tidak akan jatuh lagi, karena dia sudah menangis dari kemarin. Bahkan air matanya terasa kering.


"Oh iya, makasih ya mbak."


"Sayang, kenalin ini Risah teman satu kantor ayah."


"Iya tadi udah kenalan juga kok yah, Oiya yah ana mau keluar cari makanan dulu, kasian Alif ini Uda jam makan siang, sekalian aja Ana belikan untuk ayah juga ya." Ucapnya.


"Iya sayang."


Diana melangkah keluar pintu, tapi dia tidak benar-benar pergi. Ia menguping di balik pintu karena penasaran setelah ia tak ada apa yang akan mereka bicarakan.


"Segera hubungi keluarga kamu, karena kami akan segera pulang ke rumah." Ucapnya dingin.

__ADS_1


Bagas bangkit akan keluar.


Tapi Risah menahan tangannya dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Mas jangan tinggalin aku, saat ini aku benar-benar butuh kamu di samping aku. Aku baru saja kehilangan sosok nenek yang sangat aku sayangi mas. Aku rela meninggalkannya diaat terakhirnya hanya untuk bisa bersama kamu." Ucapnya dan kembali terisak.


Duarr..


Hati Diana hancur berkeping-keping. Kini ia mendengar semuanya sendiri. Diana melangkah pergi dengan menahan gejolak emosi di dadanya. Ia tak peduli lagi akan apa yang di jawab Bagas setelah itu. Ia terus melangkah keluar dan masuk ke mobil sambil terus menggendong Alif.


Jadi wanita yang aku tolong adalah wanita perusak kebahagiaanku? Jadi itu kah wanitanya? Ya Allah, aku harus apa sekarang ya Allah, aku bener udah enggak sanggup. Tunjukkan lah jalanmu.


"Bunda kenapa nangis?" Tanya Alif polos.


"Apa bunda sedih karena Tante tadi sakit ya bunda"


"Iya sayang." Jawab Diana lirih dan sambil menahan Isak tangisnya.


...***...


"Jangan berkata seperti itu disini Risah!!! Apa kamu mau istriku tau?" Bentaknya.


"Ya udah kalau gitu tinggalin aku sendiri sekarang mas. Biarlah aku disini sendiri, toh keluarga ku tidak akan datang untuk menjemput! Karena aku telah memilih pergi meninggalkan rumah kemarin demi bersama kamu!!" Tegasnya.


Bagas nampak frustasi dan mengacak-acak rambutnya.


"Segera kabarin keluargamu. Aku yakin mereka pasti khawatir menunggu di rumah karena kamu tak kunjung pulang." Ia berkata dengan lembut, kali ini dia mengalah.


"Aku harus pulang, kasian anakku sah."


Risah tak bergeming. dan memalingkan wajahnya tak menatap Bagas.


"Aku besok kesini melihat keadaanmu."


Akhirnya Risah tersenyum dan memandang wajah Bagas lekat.


"Kamu janji mas?"


Bagas hanya menagguk.


...***...


"Kita pulang sekarang sayang."


Ucapnya dan membuka pintu mobil.


"Kamu nangis?" sambil mengelus pipi mulus istrinya yang cubby.


"Kenapa?" Tanyanya lembut penuh kekhawatiran.


"Enggak apa yah. Cuma keingat emak aja, karena dulu juga Ana pernah ngalamin hal ini sama seperti wanita tadi." Bahkan Diana juga tidak Sudi menyebut namanya.


Bagas hanya tersenyum dan kembali mengelus pipi istrinya, seolah memberi kekuatan.


...***...


Sampai dirumah Diana hanya menghidangkan makanan dan menyuapi Alif, rasanya ia sudah kehilangan selera dalam bentuk apapun itu.


Hingga selesai ia pun tak berbicara. Hanya mengajak Alif ke kamar untuk tidur. Rasanya berat, berat sekali yang ia alami saat ini.


Ingin mengaduh tapi ke siapa? Bahkan Anton pun sudah mewanti-wanti agar tidak memberi tau mengenai permasalahannya saat ini ke kakaknya. Jadi harus bagaimana?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2