Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 45


__ADS_3

Tidak ada aktifitas selama berhenti bekerja membuat Bagas memilih untuk melakukan kegiatan dirumah, salah satunya adalah melukis. Hobbynya yang sudah lama tidak ia lakukan. Bagas mengambil foto keluarga, bersama Alif dan Diana. Lalu ia letakkan di kursi sebagai contoh bahan yang akan ia lukis.


Semua telah ia siapkan, beberapa masih kuas dan cat yang lama, ada juga yang baru ia beli. Sesuai dengan keperluan untuk melukis.


Kalau hasilnya cantik, akan aku posting sebagai kenang-kenangan.


Ia mulai dengan Bismillah dan mulai mencoret apa yang harus dicoret di papan kecil tepat di hadapannya. Bagas melakukan dengan sangat teliti dan hati-hati. Supaya hasilnya sama dengan gambar contoh. Biasanya orang-orang hanya bisa menggambar sketsa wajah, namun ia beda. Tangannya mampu melukis setiap gambar yang menjadi contoh, hebat.


Butuh waktu lama, karena ini memang rumit. Bagas memijat kepalanya sendiri, sudah lama tidak melukis rasanya pusing kelamaan melihat begitu banyaknya warna. Ia berhenti sejenak memandang hasil karya tangannya.


Sedikit lagi selesai.


Hingga sore hari Bagas mampu menyelesaikan lukisannya. Ia memfoto dan segera memposting di akun sosial medianya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia mainkan.


Caption:


Ibarat pelangi, Hijau tidak akan pernah meninggalkan merah. Karena itu akan membuat biru sedih, maka dari itu pelangi akan tetap bersama warna-warnanya. Begitu juga keluarga kita.


Dengan di beri smile hati berwarna merah.


Klik tombol posting, dan selesai.


Senyum Bagas mengembang bersama jatuhnya setetes air mata.


Beginilah aku, dengan hari-hariku yang sekarang, sepi, sunyi. Tanpa kalian istri dan anakku.


Tak lama terdengar suara adzan berkumandang. Bagas segera bangkit dan membawa lukisan itu keruang tengah, tempat dimana biasanya keluarga kecilnya berkumpul. Setelah itu barulah ia melaksanakan kewajibannya.


...***...


"Mas ada panggilan telfon."


Mita berteriak dari arah dapur.


"Iya sayang sebentar."


Anton berjalan dengan cepat dan menyambar HP yang ia letakkan di sembarang tempat.


"Kebiasaan letak HP asal aja."


Gerutu Mita, dan Anton hanya tersenyum.


Berjalan ke depan mengangkat telfon, berbicara dengan serius. Bahkan tak terdengar oleh Mita. Anton manggut-manggut saat berbicara dengan orang di seberang telfon. Tak lama ia kembali, Mita yang penasaran langsung bertanya.


"Siapa mas yang telfon?"


"Oh, itu teman yang kemarin mas bilang mau nangani kasus Bagas."


"Jadi gimana mas?"


"Iya dia bilang sih bisa. Ajukan tuntutan aja dulu, nah nanti soal keputusan bisa jaksa yang memutuskan. Yang penting dia bakal bantu sebisanya."


"Alhamdulillah, semoga aja ya mas."


"Mas enggak ngabarin Bagas tentang ini?"


"Tunggu lah, nanti setelah makan mas bakal ngabarin dia."


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Hallo Assalamualaikum bapak duda."


"(Walaikumsalam. Jangan gitu lah mas)."


"Haha, iya iya. Siapkan bukti itu, pindah ke flashdisk. Nanti akan mas bawa ke pengacara, soalnya dia bersedia bantu. Insyaallah dalam bulan ini udah bisa kita ajukan tuntutan."


"(Ya Allah, Alhamdulillah. Makasih banyak ya mas. Besok akan aku antar bukti yang mas minta)."


Sambungan berakhir.


"Udah mas?"


"Udah kok sayang. Kamu juga sebenarnya berharap kan, kalau Diana bakal balik sama Bagas?"


"Gimana ya mas. Kami ini selalu di nasehati sama emak dan bapak dulu, kalau nikah itu cukup sekali seumur hidup, dan cobaan disetiap keluarga itu pasti ada. Tinggal gimana kita mau bertahan atau tidak, cuma emak juga selalu bilang kalau suami selingkuh, jangan langsung menuntut cerai, tapi lihat dulu dimana kesalahan di diri kita, karena suami yang selingkuh pasti karena tidak mendapat atau tidak melihat di diri kita tapi melihat yang ada pada orang lain. Dengan maksud sebagai seorang wanita dan istri masih mempunyai ke kurangan. Dan bagiku itu hal lumrah yang memang lelaki selalu ingin istrinya cantik luar dalam. Diana sudah benar saat ini meninggalkan Bagas hanya untuk memberi pelajaran, Mita yakin kok mas kalau sebenarnya Diana sangat enggak rela kalau harus berpisah lama dengan Bagas. Jadi menurut Mita, biarkanlah Diana memberi kesempatan untuk Bagas."


"Apa yang kamu katakan sudah benar kok sayang. Maaf mas juga enggak mau munafik, mas sendiri ketika melihat wanita atau artis yang cantiknya luar biasa, pasti akan berkata andai istriku seperti itu."


"Mas, jadi kamu?"


"Bukan begitu maksud mas sayang, kan mas jujur. Mas enggak mau munafik lah."


"Iya mas, Mita juga sadar diri kok, Mita susah punya anak. Mas masih bertahan saat ini saja sudah menjadi anugerah bagi Mita."


Menunduk dan sedih. Minder rasanya kalau memikirkan hal itu.


"Sayang." Memegang wajah istrinya. "Doa sudah setiap hari kita lakukan. Usaha juga sudah, yakin lah sayang, Allah enggak tidur. Udah jangan sedih, mas enggak bisa memberi janji yang enggak akan menduakan kamu, tapi mas hanya ngasih bukti itu ke kamu, mulai dari mas mengucapkan ijab qobul dan sampai akhir nyawa mas." Mengecup hangat kening istrinya.


"Mas, terima kasih." Meneteskan air matanya. "Mita juga enggak mau bilang mana mungkin suamiku selingkuh, mana mungkin suamiku mau dengan wanita lain, Mita enggak mau mas. Mita takut kecewa. Lebih baik Mita menjalani semuanya seperti air yang mengalir. Mas ingat kan, dulu Diana selalu bilang begitu, tapi nyatanya terjadi juga."


Pelukan hangat Anton berikan kepada istrinya, sebagai jawaban semua yang di katakan adalah benar.


...***...


Bagas menjadi orang yang sibuk sendiri hanya karena memindahkan file yang di minta. Mondar-mandir memikirkan hal apa yang akan terjadi ke depannya. Berdiri lalu duduk.


Ah aku sangat tidak sabar. Apa tidak bisa di lakukan besok, biar cepat selesai.


Dert,dert..


HPnya bergetar, ada panggilan yang masuk. Bagas segera melihat, ia berharap itu Anton dan memberi kabar baik, salah satunya adalah pengajuan bisa besok di lakukan.


"Ah sial*n. Kenapa malah wanita pembuat masalah ini yang menelfon, kenapa enggak aku blokir aja nomornya dari kemarin." Kembali meletakkan HPnya.


Bagas pun berjalan ke arah kamar. Membaringkan tubuhnya dan siap untuk memejamkan mata.


Baru satu jam setelah ia terlelap. Bagas mendengar bel rumahnya berbunyi, bahkan berkali-kali. Sudah seperti suara serine ambulance.


Tiba-tiba kejadian beberapa waktu lalu melintas di pikirannya. Ya, waktu itu ia mengabaikan Risah, dan Risah nekat datang kesini malam-malam. Bagas menggerutu karena tidurnya di ganggu. Dengan malas ia berjalan keluar kamar, tapi tidak langsung menyahut.


Bagas mengintip melalui celah gorden jendela. Benar saja dugaannya, Risah sudah berdiri di depan pintu dan memencet bel berkali-kali. Bagas masih diam di tempatnya. Namun samar-samar ia mendengar Risah di tegur oleh tetangganya, ya siapa lagi, bu salmah lah orangnya.


"Neng ngapain kamu datang ke rumah orang malam-malam? Orangnya udah tidur lah."


"Saya mau datangin suami saya, kan enggak salah bu."


Ucapnya tanpa memikirkan rasa malu.


Bu Salmah memperhatikan Risah, dan ia langsung mengenali wajahnya.

__ADS_1


Jadi ini wanita yang waktu itu? Suami? Berarti mereka sudah menikah? Bod*h sekali kamu Bagas.


"Oh begitu."


"Apa tadi ibu liat Bagas ada di rumah enggak bu?"


"Saya tidak tau, kamu kan istrinya, kenapa malah tanya sama saya."


Berjalan masuk ke dalam rumahnya, tanpa menghiraukan Risah yang menatapnya dengan sebal.


Bagas yang mendengar menertawakan Risah tanpa suara.


Baru tau ya, kalau bu salmah adalah suhu, belum tau aja gimana lebih tajam mulutnya, Batinnya.


Tak puas dengan menekan bel, Risah berteriak.


"Mas!!! Kamu di dalam kan?" Sambil menggedor pintu rumah dengan kerasnya.


Bagas yang merasa risih dan tentu akan malu kalau sampai tetangga yang lain melihat, segera membukakan pintu.


"Ada apa?" Tanyanya ketus.


"Mas, ijinkan aku masuk. Aku mau bicara mas."


"Kita bicara disini saja."


"Mas, ku mohon. Jangan tuntut aku, ceraikan saja aku mas, aku mohon. Iya aku akui mas, kalau anak ini bukan lah anakmu. Mas, aku takut di penjara."


"Takut di penjara? Tapi kamu tidak takut dengan yang menciptakan kamu."


Masih tetap bertengger di depan pintu, seperti menjadi penghalang untuk Risah masuk ke dalam rumahnya.


"Mas, aku akan lakukan apa pun asal kamu batalin semua niat kamu itu."


"Benarkah?" Bagas tersenyum dengan senang. Dan tentu Risah merasa kalau ini peluang baginya.


"Iya mas, katakanlah."


"Kembalikan keluarga ku."


"Gimana caranya mas?"


"Caranya ya cuma satu, aku nuntut kamu dan baru lah Diana mau kembali sama aku."


Perkataan Bagas sangat telak untuk Risah, sehingga ia kehabisan kata-kata untuk memohon.


"Tapi mas."


"Risah dengar, aku tau waktu denganmu aku pun menikmati, aku sadar itu. Tapi aku sudah menanggung semua kesalahanku, jadi ini saatnya kamu juga menanggung kesalahanmu. Kenapa enggak dari pertama kamu jujur? Kalau itu memang bukan anakku. Sekarang giliran kamu harus menanggung semua kesalahanmu, kenapa kamu tidak terima? Bukan kah semua perbuatan jahat akan tetap ada karmanya? Coba kamu negosiasi kepada Allah, apa bisa?"


Risah sudah tidak bisa memberontak. Semua memang benar, semua perbuatan harus ada konsekuensinya.


"Sekarang pergilah. Berdoa semoga hukuman yang akan kamu jalani tidak terlalu berat. Cobalah untuk mengadukan semua kepada Allah. Jangan pernah lagi memohon ke padaku, dan datang kepadaku. Karena mulai saat ini, detik ini juga, kamu Risah aku talak!!"


"Mas?" Langsung menutup pintu rumahnya dengan rapat dan kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu. Tanpa memperdulikan Risah di luar, pasti ia akan pergi dengan sendirinya, pikirnya.


Bersambung..


Pesan author : Jadilah istri yang baik hehe

__ADS_1


__ADS_2