Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 68


__ADS_3

"Bu, mas, aku pamit ya, titip istri ku dulu selama aku bekerja."


Eva tak sanggup rasanya untuk melepas kepergian suaminya, hanya dua hari saja bersama di rumah. Setelah itu Agam harus pergi lagi untuk bekerja.


Sebenarnya ia sudah mengajak istrinya, tapi Eva masih ragu untuk meninggalkan ibunya sendiri di rumah. Bagas sudah memberi usul, untuk ibunya tinggal dengannya. Tapi ibu menolak, dengan alasan tidak mau meninggalkan rumahnya.


Dan di hari itu juga, Bagas pulang kerumahnya. Setelah 1 hari menginap. Kesunyian kembali di rasakan ibu Ramini dan Eva. Ya mereka hanya berdua saja.


"Yah, kenapa sih ibu nggak mau ikut kita aja? Kasian Eva kan, harusnya dia sama suaminya saat ini."


Bagas menghela nafas.


"Namanya juga orang tua sayang. Kalau nggak di turuti kemauannya nanti kita di anggap durhaka."


Iya juga. Mungkin aku akan merasakan hal yang sama kalau orang tua ku masih ada.


Bagas dan Diana saat ini mengganti topik pembicaraan. Mereka membahas kedepannya. Karena Bagas sudah tidak bekerja, jadi memutuskan untuk membuka usaha. Hanya saja belum tau, mau usaha apa.


"Yah, kalau buka toko roti gimana? Atau rumah makan? Nanti ana yang kelola." Ini sudah ide terakhir yang dia punya. Sesuai kemampuannya, memasak.


"Kamu kan hamil sayang."


"Tunggu ana lahiran aja gimana? Uangnya masih cukup kan? Beberapa bulan lagi kok yah?"


"Ya udah. Insyaallah cukup kok sayang, masih cukup."


Ada kelegaan di hati mereka saat ini. Yang pertama, semua masalah sudah selesai dan yang kedua, tujuan ke depannya juga sudah mereka dapatkan. Membuka cafe di depan rumah, untungnya halaman masih luas. Cukup untuk membangun ukuran cafe.


***


Semenjak hidup di dalam sel tahanan, Risah selalu rajin mengerjakan kewajibannya, yakni beribadah. Ia tidak lagi mendapat siksaan dari napi lainnya. Karena sudah memiliki ibu angkat di dalam sini. Itu juga karena Risah menceritakan kehidupan dirinya, bagaimana masa kecilnya, dan hingga tumbuh dewasa menjadi anak yang liar.


"Sah, apa ibumu belum datang lagi?" Tanya Neni, ya Neni adalah kepala kamar disini. Tidak ada yang berani melawannya. Kasusnya cukup berat, ia seorang pengedar narkoba, tapi setelah tobat, ada yang menjebak dengan menggunakan narkoba. Tentu ia mendekam disini, karena kendala uang, yang tak mampu menyewa pengacara mahal, jadi tidak ada pembelaan untuknya.


"Belum bu. Mungkin ibu sibuk di warung."


Kembali merapikan mukenah nya, mukenah yang dibawakan oleh ibunya.


"Kalau kamu nanti bebas dan tidak disini lagi, hal apa yang pertama kamu lakukan?" Sambil terus mencukil giginya dengan lidi.


"Minta maaf sama ibu."


"Lalu setelah minta maaf?"


"Minta maaf lagi sama ibu." Neni tersenyum, ternyata Risah mendengarkan nasehatnya waktu itu. Yang mengatakan apapun alasannya, hal yang utama ketika kita masih di beri nafas dan kehidupan, adalah minta maaf sama ibu. Mengakui semua kesalahan yang di perbuat.


"Saudara Neni, ada yang datang untuk membesuk. Silahkan anda keluar." Seorang sipir membukakan jeruji besi.


"Wah bawa makanan enak ni kayaknya." Sindir salah satu napi yang lain. Iya anak Neni satu-satunya membuka warung makan kecil-kecilan untuk bertahan hidup selama kepergian ibunya.


"Santai, nanti kita pesta makanan ya." Melambaikan tangan pada napi lainnya. Risah Tertawa, ya saat ini ia menikmati hidupnya disini. Terkadang ada saja tingkah ibu-ibu yang bermuka seram. Ada yang berjoget untuk menghilangkan beban sejenak, ada yang bernyanyi menggunakan botol sebagai pengganti Mikrofon. Banyak lagi hal lainnya yang mereka lakukan, padahal usia mereka semua tidak lagi muda. Hanya Risah lah yang paling muda.


"Saudara Risah, silahkan keluar. Keluarga ada yang datang."


Pasti ibu. Kenapa sudah datang, apa ibu nggak buka warung?


"Sah, pastikan kembali dengan bawa pecel buatan ibumu ya." Karena sering di bawakan dengan porsi banyak, mereka yang di dalam juga ikut kebagian makan. Sekali coba langsung nagih sama masakan ibunya.


Risah sudah berdiri di kantin tempat orang-orang membesuk para napi. Matanya masih berkeliling dimana ibunya duduk. Tapi nihil, memang tidak ada.


Siapa yang datang? Kok nggak ada ibu?


Berjalan melewati orang-orang yang tengah duduk bersama keluarganya. Risah melihat punggung seorang lelaki, rasanya tidak asing, pikirnya.


"Ren?" Menepuk pelan pundaknya.

__ADS_1


"Eh sah. Udah keluar? Biasanya juga cepat, kok ini lama?" Sambil terus menyedot es teh yang ia pesan dari kantin.


"Iya, aku kira ibu yang datang. Ternyata kamu."


"Memangnya kenapa kalau aku? Kamu masih marah ya?" Risah menggeleng.


"Maaf ya sah. Tapi aku kesini, aku cuma mau pamit sama kamu?"


Deg.


Kenapa aku kecewa mendengarnya? Apa aku punya perasaan untuknya? Ah mana mungkin.


Risah melamun tidak lagi mendengar Rendy berbicara. Ada yang patah di bagian tubuhnya, tapi tidak sampai membuat nya kejang. Mungkin Risah sudah membuka sedikit hatinya untuk Rendy. Berharap, ya itu kata lebih tepat. Dan hari ini, Rendy pamit untuk pergi. Risah sudah menyimpulkan semua itu di pikirannya, tanpa menunggu Rendy menjelaskan semuanya.


"Bagaimana sah?"


"Ah iya?" Risah tersadar dari lamunannya.


"Kamu dengar nggak sih aku ngomong panjang lebar dari tadi? Kamu ngelamunin apa?" Mencoba menebak dari sorot mata Risah.


"Kamu bilang tadi mau pamit, memangnya kamu mau pergi kemana? Apa kamu udah nggak mau berteman sama aku lagi?"


"Jadi dari tadi aku ngomong kamu nggak dengar?" Menghela nafas.


Risah menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja, karena itu memang benar.


"Lebih dari itu."


Risah terlonjak kaget.


Ternyata benar? Benar kalau Rendy juga udah nggak mau berteman sama napi kayak aku.


"Aku rasa, aku nggak bisa berteman sama kamu, karena sebentar lagi. Aku pastikan kamu akan jadi calon istriku."


Risah yang masih tidak percaya, menatap mata Rendy. Apakah dia bercanda? Batinnya.


"Sah? Kamu pernah dengar nggak? Pepatah selalu bilang, lelaki yang baik akan berjodoh dengan wanita baik-baik, begitu juga sebaliknya. Aku sadar, masa lalu aku gimana. Dan sekarang, aku benar-benar sudah menjauhi kehidupanku dulu. Jauh semenjak aku hilang dari pandangan kamu waktu itu, aku coba introspeksi diri. Tapi, jejak ku tetap terlihat jelek di mata orang lain. Terutama di kalangan wanita. Dan aku kembali datang ingin melamar mu waktu itu, tapi kamu malah dapat masalah berat, dan aku merasa terlambat." Menarik nafas membuang semua sesak di dadanya.


"Dan sekarang, aku sudah menjadi lebih baik. Jadi aku yakin aku akan mendapatkan wanita yang baik, aku juga yakin, setelah ini kamu akan berubah. Hidup dengan lebih baik, benarkan?" Risah mengangguk dan setia mendengarkan penjelasan Rendy.


"Saat ini harapan aku juga sama kamu, karena kita sama. Sama-sama punya masa lalu yang buruk, jadi suatu saat jika kita hidup bersama, tidak akan ada lagi yang namanya ungkitan tentang masa lalu kita, karena kita sama, masa lalu kita sama-sama buruk. Aku akan menunggu mu keluar dari sini, dan langsung datang untuk melamar mu. Apa kah kamu mau?"


Entah apa yang di pikirkan Risah, tanpa menunggu ia langsung mengangguk.


"Aku mau." Jawaban yang sudah cukup menurut Rendy.


"Aku akan pergi besok keluar negeri, mengurus bisnis ku yang baru buka disana, ketika aku kembali aku langsung datang kesini. Dan, nanti di hari itu tiba, dimana aku dan kamu sudah siap untuk memulai hidup baru, aku akan bawa kamu berjumpa dengan ayahmu. Dan meminta ijin darinya, bahwa aku akan menikahi putrinya ini." Mata Risah memanas, seumur hidupnya baru ada satu lelaki yang berbicara dengan menggunakan hati padanya, bukan dengan naf**. Ya meskipun Rendy juga bersikap begitu dulunya. Berjumpa dengan Risah hanya karena menginginkan kepuasan di ranjang, tapi saat ini Rendy bersumpah bahwa ia tulus.


"Dimana dia sekarang?" Dengan air mata yang terus menetes. Tak bisa di pungkiri, Risah memang sangat rindu. Setelah belasan tahun lalu, bahkan ia tak pernah mendengar kabar ayahnya, apa lagi berjumpa langsung.


Rendy tau maksud dari pertanyaan Risah.


"Sebenarnya ayahmu bekerja di villa milik ayahku yang ada di kota X. Dan dia sering menanyakan tentangmu, kabarmu. Setiap aku datang kesana, dia selalu menanyakan itu semua?"


"Termasuk saat ini? Termasuk aku yang sekarang berada disini?" Masih menangis sesegukan. Dengan lembut Rendy menghapusnya.


"Iya, dia tau. Dan beliau juga tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri."


"Kenapa, kenapa kamu nggak bilang aja ke aku?" Protes dengan keadaannya sekarang.


"Sah, kamu ingat? Waktu itu aku datang mencoba menjelaskan, tapi tak sedikitpun kamu ngasih kesempatan buat aku, padahal seharusnya kamu dengar, kamu harus dengar waktu itu. Tapi aku mengalah dan memilih sampai kamu benar-benar siap untuk mendengarnya."


"Dia hidup dengan siapa sekarang? Apa dengan wanita yang dia pilih?"


"Tidak, dia hidup sendiri. Sejak lama, 2 tahun setelah ayahmu pergi, mereka memiliki anak. Tapi anak itu meninggal, dan ayahmu di tinggal pergi oleh wanita itu. Ia enggan kembali ke rumah orang tuanya, karena semenjak menikah dengan ibumu, kamu pasti taukan? Tentang kisah ibumu dan ayahmu dulu?"

__ADS_1


"Iya aku tau, ibu sudah cerita. Bahkan seperti apa bentuk dan rupa juga wajah nenek ku aku tidak tau." Tersenyum kecut mengingat kehidupannya yang pahit.


"Maka dari itu, ayahmu datang meminta pekerjaan pada papaku. Papaku juga mengingat kalau beliau adalah teman masa kecilnya, jadi memang harus di bantu meskipun ia salah telah ninggalin ibumu."


"Apa ayahku tidak terpikir untuk kembali bersama kami?"


"Ayahmu bilang, dia sudah berjanji tidak akan menganggu dan mengusik kehidupan kalian lagi. Jadi mana mungkin baginya untuk kembali."


Rendy tau semuanya, karena memang ayahnya Risah sendiri yang menceritakan masa lalunya.


Risah tidak mampu lagi bertanya, rasanya sudah cukup ia mendengar kenyataan ini. Pahit, sungguh pahit semuanya. Dengan ia hidup hura-hura juga tidak bisa menghilangkan jejaknya dari kehidupan keluarga yang hancur baginya.


"Ada lagi satu hal yang harus kamu tau."


"Katakan saja, aku siap mendengar apa pun itu."


"Kamu tau direktur dimana tempat bekerja kamu dulu?"


Risah mengangguk.


"Dia adalah paman mu, adik kandung dari ayahmu."


Risah terlonjak kaget dan langsung menghapus sisa air matanya.


"Iya, makannya waktu itu interview kerja kamu lancar aja kan? Padahal status sarjana kamu belum kamu dapatkan? Dengan bermodalkan ijazah SMA kamu bisa bekerja, semua itu adalah ibumu yang meminta, agar kamu bisa hidup dengan layak dan gajih yang besar."


Ibu, ibu, ibu. Semua karena mu. Maafkan aku ibu. Maafkan aku, hiduplah lebih lama lagi. Hiduplah sampai aku bisa bahagiakan ibu.


"Aku anak yang tidak pernah bersyukur ren!" Menyalahkan dirinya sendiri dan kembali menangis. Tak peduli tatapan orang lain, karena memang disini tempatnya terbuka untuk orang menangis, tidak ada larangan.


Menangis lah, karena hanya itu yang bisa di lakukan ketika sudah tidak mampu menguraikan dengan kata-kata. Menangis lah hari ini untuk bahagia di kemudian hari.


"Kamu tau kan sah." Berbicara setelah melihat Risah lebih tenang. "Memaafkan memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi aku yakin, dari semua kejadian ini, kamu bisa memaafkan ayahmu. Ingat, semua orang mempunyai dosa dan kesalahannya, manusia mempunyai porsinya masing-masing dalam berpikir. Jadi, sebaik apapun, tetap mempunyai kesalahan."


"Ren, makasih. Makasih udah hadir di kehidupan ku yang aku pikir sudah di ambang pintu. Yang aku pikir tidak lagi bisa melihat indahnya mentari. Makasih ren."


Berbicara dengan sangat tulus dari hatinya.


"Ren, kenapa pamanku tidak pernah mengatakannya padaku? Bahkan dia juga terkesan dingin sama aku."


"Semua ibumu yang meminta sah. Ibumu takut, setelah kamu tau kalau sebenarnya keluarga ayahmu berasal dari keluarga kaya, kamu akan lebih memilih dengan mereka dan meninggalkannya. Itu semua ibumu lakukan, karena rasa sayang nya terhadapmu."


Ibu, aku bersumpah aku akan berubah, jauh dari Risah belasan tahun lalu yang selalu membangkang, aku janji bu, janji akan selalu mendengar kata-kata mu setelah ini.


Dibalik kesalahan pasti ada penyesalan. Semua orang berhak untuk berubah jadi lebih baik lagi. Berhak untuk menjalani hidupnya kembali dan belajar tidak mengulangi kesalahannya.


"Aku pamit, kamu jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan, ini ada 5 bungkus pecel yang pedas dari ibumu. Tadi aku sempat mampir dan bilang kalau mau kesini." Menyerahkan kantung plastik berukuran besar.


"Makasih ya, kamu juga hati-hati. Ada hati yang harus di jaga, karena hari ini kamu udah melamar wanita." Sebenarnya Risah malu mengatakan itu semua, tapi ia juga berhak memperingatkan lelaki yang akan berdampingan dengannya kelak.


Rendy tersenyum dan mengelus puncak kepala Risah dengan lembut.


"Iya sayang." Senyum Risah kembali mengembang.


Ia kembali masuk di dalam sel tahanan, dimana harus menjalani sisa hukumannya. Dengan membawa kantung plastik, ia berjalan dengan senyuman.


"Ibu-ibu, ini pecel ibu udah dibawa, langsung di makan."


Meletekannya ke bawah, dan langsung berjalan mendekat ke Neni.


"Ibu, hari ini aku di lamar!" Dan memeluk Neni yang ia anggap sebagai ibunya selama di dalam sel tahanan.


***


Huhu, mewek akutuhh.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya di "Dia Bimaku" Makasih 🙏🙏🙏


__ADS_2