Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 51


__ADS_3

Sunyi sekali tidak ada Alif, huuh. Tapi Alif juga pernah ikut dengan mas dan kakak, dan kenapa rasanya berbeda ya. Padahal kali ini ia ikut ayahnya. Semacam ada rasa takut untukku.


Ketika malam menjelang Diana malah kembali terjaga, hingga pagi hari ia tak bisa bangun melaksanakan sholat subuh. Ia bangun sekitar pukul delapan pagi, wah masih pagi ya tapi kalau menurut perempuan udah kesiangan.


Kenapa kepalaku sangat pusing ya.


Turun dan berjalan dengan berpegangan dinding rumahnya. Diana terus berjalan dengan sebisanya. Ia berniat akan langsung membersihkan diri lalu membuat sarapan untuknya sendiri.


Bismillah.


Diana memulai semuanya, agar kekuatan di tubuhnya mampu menopangnya.


Selesai mandi dan masak, Diana duduk sendiri menyantap sarapan yang ia buat sendiri, dan juga di makan sendiri, rasa itu jelas sangat tidak enak untuknya.


Melihat jam dinding, sudah menunjukkan pukul sembilan.


Diana kembali bangkit dan segera membereskan piring kotor juga membersihkan rumahnya. Namun ketika baru saja memegang sapu dan menyapu beberapa centimeter. Tiba-tiba kepalanya pusing dan perutnya mual, sungguh keadaan ini tidak ingin ia rasakan.


Dengan terpaksa Diana kembali memuntahkan seluruh makanan yang baru saja beberapa menit lalu masuk ke dalam pencernaan nya.


"Assalamualaikum, na?"


"Walaikumsalam."


Menjawab dengan suara serak, sehabis lelah memuntahkan makanan.


Suara derap kaki melangkah ke belakang. Diana jelas tidak tau itu siapa, yang terpenting saat ini, ia bisa meminta pertolongan dengan orang tersebut, pikirnya.


"Loh na, kamu kenapa?"


Mata memerah, bibir pucat, dan tubuhnya gemetar, Diana berjongkok dan memandang siapa yang datang.


Ini semua gara-gara kamu. Awalnya aku hanya ingin berasalan supaya bisa menolak kamu, ternyata memang ucapan adalah doa ya, aku merasakannya sekarang, semua, pusing, mual. Ah,


"Na?"


Panggilnya ulang, melihat Diana hanya diam.


"Oh enggak, aku, aku ngidam bang. Jadi ya wajar seperti ini."


Masih dengan suara yang lirih.


"Mari aku bantu kamu berdiri. Kamu istirahat lah. Kalau begini keadaanya mana mungkin kamu bisa menemani aku pergi ke kota."


Syukurlah Alhamdulillah. Jadi aku enggak susah-susah menolak.


Diana pasrah saat Rama menyentuh tangannya, membantunya untuk berdiri. Karena saat ini memang ia benar-benar sangat lemas, bahkan untuk berdiri sendiri saja tidak bisa. Mungkin dia adalah orang yang sengaja di kirim Allah untuk membantu, cuma orangnya salah.


Rama memapah Diana duduk di kursi dapur.


"Kamu mau disini, atau duduk di depan saja. Atau mau ke kamar?"


Haa????


Spontan Diana menggeleng cepat.


"Enggak enggak! Tolong bantu aku saja ke depan, aku mau di depan aja."


Sebenarnya aku sangat malas meminta tolong begini, pasti kalau orangnya seperti Rama akan meminta imbalan.


Rama kembali memapah Diana berjalan, tangan Diana ia rangkul kan ke lehernya, dan Rama pun memegang pinggang Diana dengan lembut. Jujur saja, sebenarnya Diana sangat risih. Tapi memang tidak ada orang lain lagi selain dia. Belum lagi jika ada tetangga sekitar yang melihat, eh tapi ada untungnya ini di dalam rumah, batinnya.


"Assalamualaikum, bunda."


Suara Alif jelas terdengar, Alif datang bersama Bagas. Dengan di gendong oleh ayahnya.


Diana berhenti melangkah.


"Walaikumsalam."


Lirih, dan juga kaget melihat siapa yang datang.


Bagas tidak berkedip dan bergerak. Hanya nampak nafasnya yang naik turun menahan emosi.


Aku sengaja berangkat sebelum subuh, supaya tidak macet dan sampai dengan cepat. Tapi inikah pemandangan yang harus aku lihat? Batinnya.


Diana segera melepaskan tangannya dari Rama. Dan memaksa Rama melepaskan tangannya juga.


"Nanti kamu jatuh."


Ucapannya tidak lagi ia hiraukan. Diana kembali berjalan sendiri dengan tertatih, berpegangan dinding untuk mendekat ke arah anaknya. Bagas masih tidak bersuara, sama sekali tidak.


"Alif. Kenapa pulang enggak bersama pakde aja? Bukan kah ayahmu harus bekerja?"


Bagas hanya membuang pandangannya.


Ini yang aku takutkan jika Rama terus menerus datang kesini. Kalau sudah begini, bukan kah pikirannya menilai ku sama saja dengannya? Karena aku masih berstatus istri sah nya. Tapi sungguh, aku sangat takut kali ini. Aku takut Bagas marah.


"Pantas saja, kamu sangat tidak ingin aku yang mengantar, apa karena dia?"


Menunjuk ke arah Rama.


"Bang, tunggu jangan memfitnah. Aku hanya bantu Diana yang sakit."


"Lalu apa menurutmu itu pantas ha?"

__ADS_1


Berjalan mendekat, dan memegang kerah baju Rama.


"Cukup jangan."


Teriak Diana.


Bagas tidak menggubris nya sama sekali.


"Ada hubungan apa kamu dengan istriku?"


"Enggak ada, kami memang dekat. Wajar kan, disini dia sendiri."


"Apa maksudmu!!" Bentak Diana yang tak terima dengan jawaban Rama. Ia malah sengaja menyulut api di antara mereka.


"Alif, Alif masuk ke kamar nak sekarang."


Pinta Diana kepada anaknya. Alif diam dan tubuhnya bergetar melihat ayahnya marah sampai seperti itu.


"Masuklah nak."


Dan kali ini Alif hanya menunduk menahan tangisnya, lalu masuk ke kamar.


Kepala ku sangat pusing, sungguh.


"Rama, kamu pergilah dari sini."


Brugh..


Satu tinju berhasil mendarat di mulut Rama. Bibirnya langsung pecah, dan mengeluarkan darah.


"Udah cukup!" Teriak Diana untuk yang kesekian kalinya.


"Ahh.." Teriaknya merasakan ada cairan merah yang mengalir di bibirnya.


"Udah aku mohon cukup, udahhh!!!!"


"Sekarang aku tanya sama kamu Diana, kamu pilih aku atau dia!"


Diana membulatkan matanya tidak percaya mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Bagas.


"Kenapa diam? Jawab? Oke kalau begitu, aku yakin kalau kamu pilih dia. Baiklah aku pergi, kali ini aku akan belajar ikhlas. Tidak lagi mengganggu dan mengejarmu. Aku sadar diri seperti apa kesalahanku, memang aku sudah tidak layak untukmu. Tapi satu hal Diana yang harus kamu tau, aku tersiksa, sudah cukup aku merasakan penderitaan selama jauh dari kamu dan anakku." Diana menangis mendengar semuanya.


"Dan aku, aku sudah menalak Risah hanya tinggal mengajukan tuntutan. Tapi, saat aku berusaha untuk berubah total, menyadari perbuatan ku. Kamu malah melabuhkan hatimu untuk orang lain. Aku pergi, aku titip Alif sama kamu, jaga dia baik-baik dan anak yang ada di kandunganmu. Ini, untuk biaya hidup kamu dan Alif, jika aku punya rezeki lagi, aku akan terus memberinya untuk kalian." Menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi uang.


"Ini salah paham." Ucapnya lirih.


Belum sempat Diana menerima amplop tersebut, pandangannya kabur, badannya melemas, dan Diana jatuh pingsan. Tapi sebelum ia jatuh, Rama dengan sigap menangkap Diana. Hal itu semakin membakar emosi Bagas yang jelas-jelas belum redah.


"Diana??"


"Minggir!! Pergi kamu!!!" Bagas mengusir Rama dengan kasar.


"Bang, kan kamu yang mau pergi. Perkataan kamu lah yang membuat Diana drop. Seharusnya kamu berpikir dia mengandung. Tadi aku hanya bantu Diana, karena memang dia muntah-muntah dan tidak bisa berjalan sendiri. Aku hanya kasian, lalu menolongnya."


Dan memberikan Diana ke pelukan Bagas.


"Tapi itu sangat tidak pantas! Kamu harus tau kamu itu siapa!!" Teriak Bagas ketika Rama berjalan ke arah pintu.


"Aku akan tanyakan hal itu pada ibumu." Kembali berjalan dan memegang sudut bibirnya yang pecah.


Kali ini jika kau memang meninggalkan Diana, aku yang akan menggantikan mu. Aku tidak perduli dengan gunjingan keluargamu!! Rama.


Bagas membawa Diana ke kamarnya. Kamar lama yang dulu adalah kenangan masa kecil Bagas bersama keluarga. Tetapi kenangan pahit itu kembali terngiang, dimana semua hancur karena ulah seorang wanita, ya itu adalah ibu Rama. Hal itu semakin membuat ia membenci Rama, sangat!!


"Ayah, bunda kenapa? Ayah jahat."


"Alif bunda sakit. Maafkan ayah nak."


"Kenapa ayah marahin om Rama."


"Alif cukup. Ayah bilang diam, ayah udah bilang kan, jangan sebut om Rama lagi. Sekarang Alif bantu ayah, ambilkan minyak angin buat bunda."


Alif yang memang tidak pernah sekalipun melihat atau di bentak oleh ayahnya pun merasa menciut.


Alif menyerahkan apa yang telah di perintahkan oleh ayahnya.


"Diana bangun, maafkan aku. Aku cemburu, aku sangat cemburu, maafkan aku. Bangun lah sayang. Sekarang aku tau, aku sadar apa itu sakit, dan aku meraskaannya sekarang."


Diana tak kunjung bangun, Bagas memijat kaki sementara Alif memijat lengan bundanya.


"Alif, dimana tas besar bunda?"


"Di sana."


Tunjuk Alif pada sudut lemari.


Bagas bangkit dari ranjang, dan mengambil tas itu. Ia memasukan seluruh baju istri dan anaknya, habis tanpa sisa. Lemari sudah kosong. Bagas membiarkan Diana beristirahat, mungkin masih syok, pikirnya.


Kemudian ia mandi, karena setelah emosi mengeluarkan keringat dan itu sangat gerah. Setelah selesai, Bagas mengajak Alif untuk makan. Hanya ada telur, ya mereka hanya makan dengan telur goreng.


"Alif."


Panggil Diana. Samar-samar terdengar di telinga Bagas. Ia segera bangkit dan berlari ke arah kamar.


"Sayang."

__ADS_1


Melihat istrinya yang sudah duduk dengan wajah yang amat pucat.


Bukan kah kamu pergi meninggalkan ku? Dan kenapa, kenapa aku merasa lega ketika melihatmu masih disini? Diana.


"Maafkan aku, maafkan aku." Hanya kata itu yang bisa Bagas ucapkan berulang-ulang.


"Kenapa semua baju di masukan ke dalam tas?"


Tanyanya bingung dan melihat seisi kamarnya.


"Kali ini, kamu harus ikut ayah pulang. Walaupun dengan paksaan, tapi kali ini, harus!!"


"Enggak."


"Kalau kamu tidak mau, berarti selamanya juga kita tidak akan kembali."


"Enggak." Menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Hey, hey, Diana dengar aku." Menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Sayang, kamu meninggalkan ku karena kesalahan yang ku perbuat. Dan saat ini kita berjauhan. Dan kenyataannya aku sangat tersiksa, begitu juga kamu sayang. Aku melihat sendiri sekarang, kamu disini tanpa aku, kamu sulit jika akan melakukan sesuatu ketika kamu lemah. Hal itu akan menghadirkan orang lain di hidup kamu, jelas aku tidak mau. Sayang, masalah datang untuk di hadapi bukan di hindari. Aku telah melakukan kebohongan besar, dan kamu menyembunyikan sesuatu dari aku yang aku enggak tau. Jadi semua terjadi karena kita selalu milih berbicara dengan hati kita sendiri, dan berperang dengan pikiran kita. Yang seharusnya, jika merasa tidak enak menegur salah satu di antara kita, tapi kita memilih menyembunyikan itu semua."


"Maksud kamu?"


Diana belum paham.


"Sayang-"


"Ayah, Alif udah siap makan."


Bagas menoleh.


"Alif duduk sini sama bunda."


Ucap Diana dan menepuk kasur untuk mempersilahkan Alif duduk. Bagas terus menatap Diana.


"Bicaralah, agar aku dan Alif mendengarkan."


"Sayang, maafkan aku, aku yang tidak jujur. Ya aku munafik, sebenarnya aku sangat senang melihat perubahan penampilan mu. Sebenarnya aku sangat ingin melihatmu kembali membentuk body milikmu yang dulu, berdandan. Aku ingin melihatnya ketika aku lelah setelah bekerja seharian. Tapi, aku tidak sanggup mengatakannya, aku takut sayang. Aku takut, kalau semua itu aku ungkapkan akan menjadi beban buat diri kamu. Dan, akhirnya aku melirik wanita lain yang menggodaku. Maafkan aku sayang. Dan kamu, sekarang jujur, sebenarnya kamu tau kan sejak awal kalau aku dan Risah memiliki kedekatan?"


"Jangan sebut namanya. Aku mual mendengarnya."


Membuang pandangannya.


"Oke, aku ulang pertanyaan. Sebenarnya kamu tau kan sejak awal aku memiliki kedekatan dengan wanita itu."


"Aku enggak mau bahas dia."


"Sayang." Rengek Bagas.


Diana nampak menaikan sudut bibirnya. Sudah lama sekali tidak menggoda suaminya, dan kali ini Bagas bahagia bisa melihat Diana tersenyum, meski itu Diana tutupi.


"Iya, aku memang tau. Aku tau, tapi aku tidak berani untuk menegur. Aku tau ini juga salahku. Yang sengaja mendatangkan masalah. Mungkin kalau saat itu aku langsung bertindak, tidak akan jadi seperti ini."


"Kamu benar, jika kamu bertindak waktu itu. Tapi semua memang salahku sayang. salahku."


"Sekarang, dan mulai detik ini. Jangan pernah sembunyikan sifat cemburu kamu, berpura-pura menjadi wanita tegar, aku mohon, bicaralah jika aku telah berbuat salah. Jangan menanam masalah dan kemudian tumbuh menjadi pohon besar yang sewaktu-waktu mampu menghantam rumah tangga kita."


"Sebenarnya, aku juga tersiksa jauh dari kamu. Aku enggak sanggup, tapi aku juga enggak bisa nerima perselingkuhan kamu. Kamu jahat. Jahat."


Menangis, menangis dan terus memukul Bagas dengan tangannya.


"Pukul lah aku sepuas mu. Dan aku yakin, sakit ku tidak bisa menggantikan rasa sakit yang kamu rasakan saat ini."


"Bunda jangan, kasian ayah."


Ucap Alif polos.


Diana berhenti memukul, dan memeluk anaknya dengan erat.


"Alif, dengar bunda nak."


"Alif adalah anak lelaki. Jika Alif sudah dewasa, tidak boleh menyakiti hati perempuan mana pun, karena jika Alif menyakiti hati perempuan, itu sama saja Alif buat bunda sedih. Alif dengar?"


"Kalau laki-laki bunda?" Diana tersenyum tetapi masih menjatuhkan air matanya.


"Nanti kalau Alif sudah besar, Alif bakal ngerti kok."


Mengusap lembut puncak kepala anaknya.


"Jadi, kamu mau kan sayang pulang ikut aku?"


Diana mengangguk. Bagas memeluk keluarga kecilnya, tangis bahagia dan penyesalan tak dapat ia bendung.


"Kita mau pulang ke rumah ya yah?"


"Iya sayang. Alif mau enggak maafin ayah?"


"Kata bunda kita harus selalu memaafkan kesalahan orang lain." Ucap Alif dengan bijak.


Ya Allah terima kasih atas kesempatan yang engkau berikan. Aku berjanji dengan seluruh nafasku, aku akan menjaga keluarga kecilku. Hingga akhir hayat ku, aku berjanji, tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama. Dan mencoba hidup dengan damai.


Bersambung..


Siapa yang terharu bacanya?? Author yang nulis terharu juga wkwk. Kebanyakan pasangan seperti itu ya, kalau ada kesalahan suka mbatin sendiri, tapi enggak berani ungkapin, yok belajar untuk hidup lebih baik lagi💪💪

__ADS_1


__ADS_2