Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 63


__ADS_3

Penjagaan super ketat di lakukan Anton saat ini. Bahkan, ia sampai mencari ART. Rumah sebesar ini, tidak lagi boleh Mita yang mengerjakan, semua juga demi kebaikan istrinya. Kalau dulu Mita selalu menolak, tapi sekarang tidak bisa menolak lagi, karena sudah ada janin yang hidup di tubuhnya.


"Jangan telat makan. Bilang kalau mau sesuatu."


"Sayang, jalannya pelan-pelan dong nanti bisa kepleset."


"Duh sayang, jangan tidur malam-malam lagi ya."


Pokonya setiap hari sekarang Mita harus berhati-hati, dan selalu mendengar ucapan khawatir dari suaminya. Tapi Mita tidak keberatan, malah ia senang mendapat perhatian walau dalam hal kecil sekalipun.


Sesuai janji Anton, yang akan mengundang 200 anak yatim piyatu, tetapi ia menambahkan lagi dengan sedekah kepada lansia dan farkir miskin. Tentu ia tidak sendiri, ada Bagas dan Diana yang siap siaga membantunya.


Anton juga mengundang keluarga Bagas, yakni ibu, Eva dan juga Rama. Dan karena keluarga Anton jauh, jadi saat ini tidak bisa hadir, ibunya malah akan menyambut mereka nantinya jika datang, dan berjanji akan mengadakan syukuran.


"Sudah selesai kan gas? Tolong di bedakan ya, untuk anak yatim dan lansia." Bolak-balik karena saat ini Anton memang sibuk.


"Sayang kamu duduk aja, jangan banyak gerak nanti malah kelelahan." Melihat Mita yang baru saja ingin berdiri dari duduknya.


"Uwih, lebay!! Ana aja hamil biasa aja mas." Pamer akan kekuatannya.


"Bedalah na, kalau kamu kan memang kuat." Berjalan mendekat ke arah Diana dan membisikan sesuatu. "Buktinya kamu di sakiti aja masih kuat." Berjalan meninggalkan Diana dan tertawa.


"Mas!!" Bersiap melempar sapu yang ia pegang.


"Sayang, kenapa sih."


"Udah ayah diem aja, semua juga karena ayah." Bagas langsung terdiam. Dan Diana kembali melanjutkan menyapu ruangan yang akan di jadikan tempat berdoa nantinya.


Aku juga yang kena.


Anton menyambut orang-orang yang saat ini mulai berdatangan. Dan, juga dengan ibunya Bagas. Yang saat ini sudah sampai di rumah Anton.


"Bu, silahkan masuk ayo Eva, Rama." Ternyata Rama tidak membawa calon istrinya saat ini, dengan alasan kalau Bila sedang bersama keluarganya yang lain, melepas rindu setelah beberapa tahun tidak bertemu.


"Mana Mita?" Tanya ibu Ramini.


"Ada bu, di belakang. Ada Bagas dan Diana juga kok."


"Oh mereka sudah datang?" Bertanya lagi.


"Iya bu. Dari pagi juga mereka, Bagas ijin enggak masuk kerja hari ini, jadi lumayan bisa bantu."


"Ibu ke belakang dulu ya ton."


Anton mengangguk dan tersenyum.


Tak terasa sudah jam 12 siang. Acara doa segera dimulai, karena semua sudah hadir. Tentu ada ustadz yang memimpin doa. Semua tampak hikmat dan mengaminkan setiap ucapan dari ustadz.


Kini pembagian amplop yang berisi nominal uang yang tidak sedikit, dan bingkisan yang telah Anton siapkan.


Diana bagian memberi bingkisan dan amplop untuk lansia, sementara Mita dan Anton langsung memberikan untuk anak yatim. Setiap memberi bingkisan Anton selalu mengelus lembut puncak kepala anak yatim yang memberi salam padanya.


"Terima kasih ya sudah datang." Begitu ucapan yang ia katakan berulang-ulang.


Hingga semua sudah kembali pulang, kini tinggal membersihkan ruangan. Tentu Eva tidak diam, ia juga ikut membantu, Rama dan Bagas kebagian mengangkat sofa untuk dikembalikan ketempat semula. Semua tampak rapi kembali, kini giliran mereka yang mengisi perut.


"Bang, apa Abang ada sosmed?" Tanya Eva pada Rama.


"Ada." Masih mengunyah makanan di mulutnya.


"Eva, biasakan makan jangan ngobrol." Tegur Bagas.


Eva langsung diam dan tidak bicara lagi.


Selesai makan barulah ia melanjutkan perbincangan dengan Rama. Sementara ibu, Anton, Mita dan Bagas mereka berbincang sendiri membahas hal lain, dan Diana kemana dia? Diana jelas langsung memilih tidur bersama Alif. Lelah sih katanya. Hal itu juga di maklumi, karena saat ini ia sedang hamil.

__ADS_1


"Bang apa nama sosmed nya?" Wah masih berlanjut rupanya.


"Oh, itu Rama Winata."


"Coba aku cari ya." Langsung membuka HP miliknya dan mencari akun yang bernama Rama Winata.


"Ini ya?" Menunjukan sesuatu yang ia temui.


"Iya itu. Tapi yang paling atas, kalau yang bawah punya Abang juga, cuma akun lama. Ah udah lama banget pun." Kembali meneguk minumannya.


Rasa iseng muncul di benak Eva. Ia malah membuka akun lama milik Rama. Yang sudah bertahun-tahun katanya.


Terutama yang di tuju Eva saat ini, jelas melihat photo Rama beberapa tahun lalu. Pasti akan lucu jika di jadikan bahan ejekan, pikirnya.


Masih fokus melihat-lihat, dan terakhir Eva mendekatkan HP ke matanya. Agar terlihat jelas siapa yang ada di photo bersama Rama.


Iya aku enggak salah liat, ini Risah!! Iya ini benar Risah.


Batinnya.


"Bang, ini siapa?" Menunjukan photo yang ia lihat.


Rama tercekat, dan malah memandang wajah Eva.


"Kamu ngapain malah buka akun Abang yang lama?"


"Jawab dulu ini siapa." Masih ngotot ingin tau.


"Itu Risah." Bagas menoleh mendengar nama itu di sebut. Tapi ia berpikir mungkin hanya salah dengar.


Deg..


Eva menggeleng tidak percaya. Karena saat ini yang ia lihat adalah photo profil milik Rama, yang berarti ia pernah menggunakan photo itu sebagai pajangan di akunnya.


Rama mengangguk yakin dan kembali meneguk minumannya.


"Dia pacar kamu ya bang?" Masih penasaran tentunya dengan wanita yang sempat menjadi teman dekatnya dan menjadi penghancur rumah tangga saudaranya.


"Cuma mantan." Menjawab dengan santai.


Rama bisa santai, tapi Eva justru tidak.


"Kenapa? Kamu kenal? Apa dia pernah merebut pacar kamu sebelumnya?" Tertawa renyah.


Bukan pacar aku yang di rebut, tapi suami kakak ipar ku yang direbut, yaitu mas ku sendiri, batin Eva.


"Enggak kok."


"Jadi, kenapa kamu sangat penasaran?" Gantian sekarang Rama yang menyerang Eva dengan pertanyaan.


"Gimana ya. Hem." Nampak berpikir.


"Apa sih, udah bilang aja. Lagian dia juga masa lalu."


Masa lalu yang kelam. Batin Rama.


"Iya dia teman aku sewaktu magang."


"Oh, jadi dia tinggal dimana sekarang?" Mencoba bertanya lagi, tapi masih dengan gaya cool nya.


"Di penjara!" Ucap Eva ketus dan mengembalikan HP nya, tidak lagi ingin melihat photo Risah.


"Maksud kamu?"


"Ya itu emang sekarang dia di penjara."

__ADS_1


"Kenapa? Apa dia maling? Atau dia membunuh?" Sekarang tidak lagi Rama menutupi rasa penasaran.


"Maling laki orang." Tertawa sendiri.


"Eva serius lah."


"Iya bang, dia lah wanita yang menghancurkan rumah tangga kak Diana dan mas Bagas, dia hamil dan mengaku kalau itu adalah anaknya mas Bagas, dan ternyata bukan. Semua di lakukan karena dia juga cinta mati sama mas Bagas. Setelah terbukti kalau itu bukan anak dari mas Bagas, baru lah mas Bagas mengajukan tuntutan, dan berhasil. Makannya sekarang mereka bisa kembali lagi."


Deg..


Sekarang giliran Rama yang akan spot jantung. Ia merasa permasalahannya saat ini hanya berputar-putar pada orang yang sama. Ibarat sudah ada yang mengatur semuanya, iya memang semua sudah ada yang mengatur, tentu ini adalah kuasa Allah. Dimana kita akan memiliki hubungan tersendiri dengan orang di masa lalu, dan kembali bertemu dengan masalah yang berbeda tetapi masih dengan orang yang sama.


"Kenapa bang?" Bertanya yang melihat Rama terdiam. Eva tau kalau saat ini Rama syok mendengar kenyataan yang tidak pernah terpikir olehnya. Dan ini terjadi padanya untuk yang kedua kalinya, pertama ia bukan anak kandung ayahnya, dan kedua wanita yang dulu sempat ia tinggalkan ternyata menjadi penghancur rumah tangga saudaranya sendiri. Dan ini tentu ada kaitannya dengan tindakan Rama dulu.


Flashback.


"Sayang, aku minta itu dong." Bermanja dengan pacarnya yang saat ini berada di kamar kostnya.


Saat ini Rama sedang menjalani kuliah di kota, jadi ia harus ngekost. Dan jauh dari ibunya.


"Ah mau apa sih sayang?" Membalas dengan nada lebih manja. Usianya saat ini masih 16 tahun, baru saja tamat dari SMP.


Tanpa bicara lagi Rama langsung melahap sesuatu yang berwarna merah, dan pacarnya juga tidak menolak. Tentu ini kesempatan untuknya. Dengan cepat Rama membuka seluruh pakaiannya, dan sekarang mereka sudah sama-sama tidak tertutupi sehelai benang pun.


Awal melakukannya Rama gagal, dan yang kedua berhasil meski mengeluarkan bercak darah. Itu juga tanda kalau dia lah yang mengambil kesuciannya. Hingga mencapai puncak kekasihnya tertidur di pelukannya.


Semenjak itu, Rama dilingkupi rasa takut, takut kalau kekasihnya hamil dan minta tanggung jawab. Kekasihnya itu adalah benar Risah. Wanita yang kesuciannya telah di ambil oleh Rama.


Dan seminggu setelah melakukanya, mereka tampak masih baik-baik saja. Namun, Rama harus pulang ke desanya karena ibunya telah meninggal. Tanpa memberi kabar kepada Risah, Rama pergi begitu saja. Karena saat itu ia juga sudah hidup seorang diri, jadi ia memutuskan untuk mengambil kuliah yang masih di dekat desa, sambil bekerja Rama melakukannya. Tanpa sadar, sudah 3 tahun lamanya ia berpisah dengan Risah. Dan jelas, bagaimana kabarnya pun ia tak tau.


Rasa penyesalan dan rasa bersalah terus melingkupi nya. Hingga suatu saat ia sudah bekerja, tugas di kota. Rama mendengar kabar kalau Risah sudah menjadi simpanan om-om. Tentu Rama mengurungkan niatnya untuk menemuinya, baginya Risah wanita murahan, karena masih mau tidur dengan laki-laki lain. Dan, pada masa itu Rama benar-benar melupakan seorang Risah.


Padahal, sewaktu Rama mencarinya, Rama siap akan bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan, tapi kenyataannya bahkan Risah sudah menjual tubuhnya dengan orang lain. Rama pun menjalin kedekatan dengan gadis yang bernama Nabila. Baru beberapa bulan pacaran, Bila akan pergi keluar negeri, sebagai tanda bukti keseriusan, sebelum berangkat Rama melamarnya, dan berjanji menunggu Bila kembali, dan menyambutnya dengan pernikahan.


Flashback end.


Suasana jadi hening, Rama tidak lagi berbicara, begitu juga dengan Eva. Ia lebih memilih diam dan tidak bertanya lagi. Bagi Eva saat ini, yang terpenting ia sudah tau, siapa Risah dan siapa Rama.


"Rama, kita pulang sekarang ya?" Suara ibu menyadarkannya dari lamunan.


"Oh iya bu." Berdiri dan pamit dengan Anton dan Mita. Begitu juga dengan Eva.


"Gas, ibu duluan ya?" Bagas langsung menyalim tangan ibunya.


"Ibu hati-hati ya. Kamu bawa mobilnya hati-hati ma, jangan ngebut."


"Iya bang."


Bagas juga masuk ke dalam kamar tamu di rumah Anton, bermaksud mengajak istrinya pulang. Karena ia juga merasa lelah dan mengantuk.


"Sayang, kita pulang ya?" Menepuk lembut pipi istrinya.


"Pulang kemana?" Menjawab dengan mata tertutup.


"Pulang kerumah sayang, ini kan rumah mas Anton." Tidak peduli Diana kembali memeluk guling dan tidur dengan pulasnya. Tak lagi menghiraukan Bagas yang memanggil namanya.


Dan akhirnya, Bagas pasrah ikut tidur di samping istrinya.


...***...


Segini dulu ya, autornya lagi sakit. Ini juga di paksakan buat nulis.


Yang penting jangan lupa mampir ya "Dia Bimaku"


Makasih, semoga kalian yang membaca sehat selalu 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2