
Malam ini Alif kembali tertidur dengan lelapnya. Tapi tidak dengan Diana, entah apa yang mengusik pikirannya sehingga serasa ada yang mengganggu tidurnya, hingga doa-doa ia panjatkan agar segera terlelap.
Seperti ngerasa ada sesuatu, perasaanku sungguh tidak enak. Ada apa ini ya Allah. Sudah cukup masalah ini saja yang aku hadapi, jangan ada masalah lain.
Pukul 02 dini hari barulah Diana tertidur. Namun hanya seperti memejamkan mata beberapa menit saja, ya ia kembali terbangun setelah mendengar suara adzan berkumandang. Kembali memanggilnya untuk melaksanakan kewajibannya.
Dengan khusyu Diana beribadah tak lupa doa yang selalu ia panjatkan setiap harinya. Hingga selesai melaksanakannya, Diana segera bergegas ke dapur untuk masak.
Dering HPnya berbunyi, dengan cepat Diana berjalan untuk melihat siapa yang menelfon.
Sepagi ini siapa yang nelfon?
"Nomor baru, siapa?"
Diana tidak mengangkatnya, hanya melihat layar HP itu berkedip, dan panggilan berakhir. Tapi dia sangat takut kalau itu adalah Bagas, atau orang yang iseng lainnya.
Sudah lima kali panggilan itu masuk berulang-ulang. Tapi sama sekali tidak di gubris oleh Diana.
Biarkan saja yang menelfon berpikir kalau aku masih tidur, ya biarlah. Pasti orang iseng, lagian yang tau nomor itu hanya kak Mita dan mas Anton, jika ada yang lain bukankah hanya orang iseng? Toh, jaman sekarang orang tidak menggunakan nomor telfon biasa, pastinya sudah memiliki aplikasi yang lebih canggih, aku saja begitu, tapi karena keadaan disini berbeda.
Kembali melanjutkan masaknya.
Pukul 07 Diana sudah selesai beres-beres, dan Alif juga sudah bangun. Mereka sarapan dengan hikmat, Alif yang menyantap makanan masakan sang bunda juga tampak sangat lahap.
"Enak ya sayang?"
"Iya bunda, Alif suka sayur ini."
Diana tersenyum hangat.
"Tambah lagi ya, Alif mau?"
"Mau bunda."
Mengangguk cepat.
"Bunda?"
"Kenapa sayang? Kan udah bunda tambah?"
"Alif kangen ayah bunda, Alif kangen jalan-jalan sama ayah. Apa ayah udah lupa sama Alif karena kerja terus?"
Diana tercekat, kerongkongan seperti ada yang mengganjal. Sehingga sulit menjawab pertanyaan anaknya ini.
"Alif makan dulu, jangan banyak bicara ketika makan."
Diam, dan sama-sama kembali diam.
Kenapa ayah enggak kangen Alif sama bunda? Ayah juga enggak pernah datang kesini. Bunda juga enggak ngajak Alif pulang ke rumah. Batin si kecil Alif.
Bunda juga rindu ayahmu nak, rindu. Tapi keadaan yang harus selalu membuat bunda tidak bisa berjumpa dengan ayahmu sekarang, bahkan untuk kembali bertemu masih merasa canggung. Maafkan bunda yang egois, apa aku ijinkan Alif saja ya untuk bertemu ayahnya, dan meminta mas Anton untuk menjemputnya. Ya, kurasa itu harus untuk mengurangi rasa rindunya saat ini.
Diana memutuskan untuk segera menelfon Anton dan meminta untuk menjemput Alif, namun terserah kapan sempatnya. Diana juga segan jika harus meminta tolong lalu memaksa.
"Ini mas, Alif terus-menerus menanyakan ayahnya, dia sangat rindu mas. Kalau mas ada waktu bisa kan jemput Alif kesini dan di antar ke rumah ayahnya?"
"(Bisa sih, tapi tunggu dulu. Sekarang kamu dimana?)"
"Iya di rumah lah mas. Kenapa?"
"(Bukankah harusnya kamu udah ke rumah sakit, lihat mertua kamu?)"
"Maksudnya mas?" Suara Diana bergetar.
"(Tadi malam Eva adik ipar mu menghubungi mas, lalu meminta nomor kamu yang bisa di hubungi. Katanya ibunya jatuh di kamar mandi semalam, dan sekarang koma di rumah sakit. Hanya aja cuma kamu yang akan di beri kabar, anak-anaknya yang lain sih mas enggak tau. Makannya mas mengira kamu sudah ada di kota sekarang)."
"Jadi? Jadi tadi pagi yang menelfon berulang-ulang itu Eva mas? Ya Allah Diana sungguh tidak tau. Jadi bagaimana ini mas?"
"(Hubungi saja dia kembali na, nanti masalah kamu mau ke rumah sakit atau tidak, beri kabar mas secepatnya, biar mas kirim driver dari sini buat jemput kamu)."
"Serius mas? Ya udah Diana bersiap sekarang, setelah itu menghubungi Eva kembali."
Dengan cepat Diana membawa Alif untuk mandi dan membawa beberapa pakaian sebagai ganti, takutnya disuruh menginap. Tidak ada lagi pikiran bagaimana kalau ada Bagas disana, tidak, semua Diana buang jauh-jauh. Yang Diana pikirkan saat ini bagaimana keadaan ibu mertuanya itu. Orang yang selalu memberi nasehat untuknya.
Ya Allah ku harap, kau masih memberi kesempatan untuknya sembuh. Hamba mohon ya Allah.
Sesekali air matanya jatuh, karena merasa ini adalah kabar yang sangat buruk, ia juga sangat menyesali kenapa tidak mengangkat telfon Eva pagi tadi.
Apakah karena ini perasanku dari semalam sungguh tidak enak? Ah ya ampun, bahkan aku tak berpikir kesana sebelumnya.
"Bunda kita mau kemana?"
"Kita mau liat nenek ya nak, nenek sakit."
Saat ini mereka sudah berdiri di teras dengan membawa tas, hanya tinggal menunggu jemputan yang dijanjikan oleh Anton.
Diana kembali memastikan beberapa jendela dan pintu belakang rumah sudah terkunci dengan benar.
__ADS_1
"Mau kemana kamu na? Kok bawa tas?"
Tanya Rama yang memang mau berkunjung ke rumah Diana.
"Oh. Mau kerumah sakit, lihat ibu mertuaku."
Jawabnya tanpa menatap.
"Maksud kamu bu Ramini? Sakit apa dia?"
Tanyanya dengan sedikit kaget.
"Iya bang. Katanya jatuh dari kamar mandi."
"Ya ampun, jadi kamu mau kesana sekarang? Naik apa? Aku juga mau ikut jenguk, boleh?"
Apa? Bisa kacau kalau nanti Eva tau. Batinnya.
"Eh, ya terserah. Aku di jemput kok bang."
"Mau sekalian bareng aku aja enggak?"
Belum sempat Diana menjawab ada mobil yang datang dan supir langsung turun kemudian berjalan ke arah mereka.
"Mbak Diana ya?"
"Iya mas. Orang yang di utus mas Anton ya?"
"Iya mbak, mari kita langsung berangkat, biar enggak terlalu sore nanti sampainya."
"Iya baik mas. Ayo nak."
Menggandeng Alif.
"Aku duluan ya bang."
Berjalan ke arah mobil, dan siap berangkat.
"Na tunggu?"
Diana menoleh.
"Ada apa bang?"
"Kamu bakal balik lagi kan kesini?"
Diana tersenyum geli.
"Eh, enggak cuma mastikan aja. Ya udah kamu dan Alif hati-hati, semoga selamat sampai tujuan, tunggu aku disana ya?"
Diana hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.
Menunggu? Untuk apa? Apa maksudnya, memangnya dia siapa kenapa aku harus menunggu? Bahkan kehadirannya disana tidak diharapkan, sangat malah.
Aku takut kamu tidak kembali kesini lagi na. Pasti aku bakal rindu. Ah sebaiknya aku juga menjenguk kesana, aku ikutin mobil itu aja lah, lagian aku enggak tau rumah sakitnya di mana, Rama.
Mobil berjalan meninggalkan desa dan sudah sampai kota. Sepanjang jalan Diana terus berdoa agar ibu mertuanya dapat selamat, dan ia pun sempat melihatnya lagi.
Sore hari sekitar pukul 4 sore, mobil sampai di parkiran rumah sakit. Dan untungnya Diana membawa HP miliknya yang hanya bisa untuk menelfon dan mengirim pesan, malas rasanya untuk mengaktifkan kembali Android miliknya.
Ia segera menelfon Eva, dan tak lama di angkat. Diana segera memberi kabar kalau ia juga sudah sampai di rumah sakit, dan beribu maaf ia ucapkan karena tidak mengangkat telfon dari Eva. Dan Eva bisa memaklumi semua itu.
Diana segera masuk ke dalam bersama Alif. Menuju kamar rawat yang sudah diberi tahu oleh Eva.
Sesampainya di ruangan, Diana melihat dari kaca, di dalam hanya ada Eva seorang.
Hanya Eva? Kenapa saudaranya yang lain tidak ada?
"Eva?" Panggilnya lembut dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Kak?"
Eva menoleh dengan wajah yang sudah dibanjiri oleh air mata.
Diana mendekat dan memeluknya dengan hangat.
"Ibu baru saja di pindahkan dari ruangan ICU kak, karena sudah melewati masa kritisnya, pembuluh darah ibu pecah, tapi karena segera melakukan tindak operasi Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah lumayan, hanya saja ibu belum membuka mata dari kemarin."
"Ya Allah, kita berdoa saja ya. Semoga ibu baik-baik aja. Kamu udah makan?"
"Belum kak. Rasanya tidak sama sekali ***** untuk makan."
"Jangan begitu, nanti kamu malah ikut sakit. Kakak belikan makanan di luar ya?"
"Sebentar lagi aja kak, Eva belum lapar."
"Ya udah. Gimana ceritanya ibu bisa jatuh?"
__ADS_1
Flashback.
Saat itu waktu menunjukan pukul 7 malam.
"Ibu, mau kemana?"
Tanya Eva yang baru saja menyelesaikan kewajibannya.
"Ibu belum sholat, ini mau ambil wudhu dulu."
Saat ini memang kondisi ibunya sedang tidak sehat, katanya kepalanya pusing, tapi ia memaksakan untuk tetap sholat.
"Bisa sendirian? Mau Eva antar?"
Eva yang saat itu merasakan firasatnya sangat tidak enak. Dan juga melihat wajah ibunya yang pucat.
"Memangnya kenapa? Ibu masih bisa jalan loh, ibu kan cuma pusing aja va."
"Ya udah kalau gitu Eva masuk kamar ya. Nanti kalau ibu perlu sesuatu atau kepalanya pusing lagi panggil Eva. Biar kita ke dokter aja."
"Iya-iya."
Berjalan ke arah kamar mandi. Eva pun masuk ke kamarnya.
Sampai di kamar mandi, setelah selesai dengan wudhu nya, kaki ibunya terasa lemas bagai tak bertulang. Tapi ia mampu menopang dengan berpegangan dinding kamar mandi.
Bu Ramini sempat berjongkok sebentar untuk menghilangkan rasa lemas di kakinya. Tetapi malah kepalanya terasa pusing dan berputar-putar. Ia memanggil Eva, tapi Eva tidak mendengar karena memang sedang berada di kamar dan pintunya di tutup. Jarak kamar mandi dengan kamar Eva cukup jauh, sehingga ibunya merasa sudah memanggilnya dengan kencang, padahal itu sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar oleh orang yang dekat dengannya.
Dengan Bismillah bu Ramini mencoba kembali berdiri, dengan tangan menopang dan berpegangan dinding satunya. Saat sudah setengah berdiri, bu Ramini jatuh dengan sangat keras. Kepalanya membentur lantai kamar mandi. Darah sudah banyak keluar, bu Ramini tak sadarkan diri. Hingga isya Eva keluar dari kamar, mencari ibunya yang tidak ada di kamarnya.
Eva segera berlari ke belakang dan melihat ke arah kamar mandi. Eva langsung menjerit histeris, dan memeluk ibunya. Tanpa berpikir panjang, Eva langsung meminta bantuan tetangganya, untuk segera membawa ibunya ke rumah sakit. Dan malam itu juga, ibu Ramini melakukan tindak operasi, jika tidak mungkin takkan selamat.
Ia bahkan lupa untuk menghubungi keluarganya, termasuk kakak-kakaknya sendiri. Malah ia lebih dulu mengabari Diana, tapi tak kunjung mendapat balasan. Eva pasrah dan hanya mengurus semuanya sendiri, menunggu ibunya sendiri.
Rasa bersalah terus melingkupi pikirannya saat ini, ia tak henti menyalahkan dirinya. Semua karenanya, karena ia tak mengantarkan ibunya ke kamar mandi. Padahal itu semua sudah ke hendak yang maha kuasa.
Flashback end.
"Semua karena aku kak."
Menangis sesegukan di pelukan Diana.
"Sudah, ini semua takdir va. Takdir, jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Yang terpenting sekarang doa, kita harus berdoa demi keselamatan ibu."
"Enty kenapa? Kenapa enty nangis? Apa enty sakit juga kayak nenek?"
Mereka menoleh, melihat Alif yang memegang tangan neneknya.
"Sayang, enty sedih karena melihat nenek sakit."
Jelas Diana dan semoga Alif mengerti.
Diana mengurungkan niatnya untuk bertanya kenapa saudara laki-lakinya tidak ada disini. Melihat keadaan Eva yang kacau, Diana tidak ingin menambahkan masalah baru.
"Alif disini dulu ya sama enty, bunda mau beli makanan biar enty makan. Va, kakak keluar beli makanan, kita makan bareng nanti ya."
"Iya kak."
Eva menurut saja. Rasa nyaman bahkan jauh lebih ia rasakan ketika bersama Diana dari pada bersama saudara kandungnya sendiri.
Diana segera berjalan keluar ruangan, dan mencari makanan di sekitar kantin rumah sakit. Ia sempat beberapa kali keliling karena memang tidak tau dimana letak kantin di rumah sakit ini. Bahkan ia sempat bertanya pada orang yang ia jumpai di area rumah sakit. Setelah tau barulah ia segera menuju kesana.
20 menit berlalu, selesai membeli minum dan makanan berupa nasi bungkus, Diana kembali berjalan menuju ruangan.
Ketika melewati meja resepsionis rumah sakit, Diana menatap seseorang yang tak asing baginya. Diana segera berjalan mendekat melihat lelaki itu. Dan ternyata itu Rama.
Bagaimana dia bisa tau kalau ibu di rawat disini? Apa dia seorang cenayang, ah enggak mungkin.
"Bang?" Tegur nya, dan Rama pun menoleh.
"Eh untung ada kamu na, aku muter-muter nyari ruangannya. Ini baru mau tanya sama suster disini."
"Kenapa abang bisa tau rumah sakitnya?"
Heran dan bertanya.
"Tadi aku ikutin mobilnya, hehe. Cuma pas mau masuk ke rumah sakit eh ban motor aku bocor, jadi nempel dulu."
Ngapain juga sampai ngikutin mobilnya, ah cari masalah saja.
"Na?" Panggilnya saat melihat Diana yang melamun.
"Eh iya."
"Ya udah, dimana ruangannya. Aku mau lihat keadaannya."
"Ah iya, mari ikutin aku."
__ADS_1
Berjalan lebih dulu. Rasanya keadaan ini akan semakin rumit saja dengan kehadiran Rama, pikirnya.
Bersambung...