Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 62


__ADS_3

"Ayah nanti Minggu kita liburan dong, ya mau ya yah? Kita ajak mas Anton, kak Mita, ibu, Eva, mas Andre, dan adik barumu, Rama, hehe." Permintaan yang diminta Diana ketika makan.


Bagas mengunyah makanannya terlebih dahulu, setelah ia menelannya baru lah siap menjawab.


"Atur aja sayang." Memasukan makanan lagi.


"Wah seirus?" Diana tau, yang harus ia lakukan saat ini adalah, menghubungi semua orang yang akan ia ajak.


Pertama Eva.


"Hallo va Assalamualaikum."


"Iya kak, Walaikumsalam. Ada apa kak?"


Bertanya di seberang ditelfon.


"Minggu ini kita liburan ya, mau? Ibu udah pulih juga kan? Jadi bisa, kamu mau?"


"Wah, mau kak mau banget malah, ah akhirnya bakal liburan lagi, setelah sekian lama, hehe."


Wah ada yang satu hati ni sama Diana.


"Kamu ajak aja Rama, enggak apa kok."


"Siap kak."


Selesai, kalau soal Andre Diana tentu menyerahkan pada suaminya, tau sendiri, Diana tidak terlalu dekat dengan iparnya yang satu ini.


Lalu lanjut ke kakaknya. Dan Mita tidak menolak, bahkan ia juga sama seperti Eva, sangat antusias.


...***...


Minggu yang di tunggu tiba, Mita dan Anton satu mobil dengan Diana, sementara ibunya dan Eva ikut bersama Rama. Ada yang beda di liburan mereka kali ini, ada anggota baru, dan suasana baru. Seperti kehidupan, jika sudah menyelesaikan semua masalah yang terjadi, maka saatnya buka lembaran baru.


Tujuan mereka kali ini pantai, kenapa? Padahal waktu itu liburannya juga di pantai, oh tentu. Ini semua permintaan ibu hamil, tapi kali ini beda pantai yang mereka datangi, ini jauh lebih indah. Masih populer di kota mereka saat ini.


Ternyata Rama membawa calon istrinya, ia sengaja. Memang awalnya ia sudah berjanji akan mengenalkan calon istrinya, dan mungkin ini waktu yang tepat. Padahal baru satu hari kepulangan kekasihnya itu di tanah air, tapi langsung Rama ajak untuk liburan.


Perjalanan mereka memakan waktu 4 jam. Dan Alhamdulillah ini keberuntungan Bagas, Diana enggak rewel dan minta ini itu, bahkan sepanjang jalan ia hanya tidur.


"Kita turun, biarkan aja yang tidur kita tinggal." Kejahilan Anton mulai lagi.


"Ana dengar ya mas."


Langsung membuka matanya, karena takut ditinggal beneran.


"Wah, tidur ayam ternyata." Keluar dari mobilnya.


Mata mereka semua memandang takjub dengan pantai yang bersih, dan tampak pulau yang ada di tengah pantai. Angin berhembus menerbangkan rambut siapa saja yang tengah di gerai saat ini.


Tak lama menyusul ibu dan juga Eva. Diana menunggu Rama, ingin sekali ia melihat kekasihnya Rama.


"Kenapa sayang?" Bagas bertanya, melihat istrinya yang celingukan seperti mencari seseorang.


"Enggak, mana Rama?"


"Kenapa tanya dia? Nanti juga bakal nyusul."


Mereka berjalan ke arah pondok yang ada di pinggir pantai. Menyewa untuk meletakkan barang bawaan yang saat ini sudah seperti ingin pindah rumah. Terutama Diana, ia yang membawa paling banyak, baju makanan, juga ada bekal nasi yang ia bawa. Ternyata semua sudah ia persiapkan buat mandi.


Rama datang dan menggandeng lengan kekasihnya, Mereka semua menoleh.


"Bang, kenalkan ini Bila." Kekasihnya langsung mengulurkan tangan, dan yang lebih dulu menyambut adalah Diana, seperti tak memberi celah untuk suaminya menyentuh tangan wanita lain.


"Kenalkan, Diana. Istri Bagas Abang dari Rama."


Dan mereka satu persatu ikut memperkenalkan diri. Sebelum ini, Rama sudah menceritakan semuanya pada Bila. Awalnya ia kaget dan tidak percaya, tetapi tidak ada alasan untuk ia menyangkal. Karena memang inilah kenyataannya.


Ada kejutan yang di berikan Rama. Ternyata, ia sudah menyewa tukang photo. Sekalian ia akan melakukan prewedding. Karena pernikahannya akan di laksanakan satu bulan lagi.


"Yah, kita ikut photo juga boleh enggak ya?" Memandang Rama dan kekasihnya yang melakukan sesi photo beberapa kali. Bagas hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"Udah kamu photo pakai HP aja lah na. Sini biar mas yang photo kan." Anton sudah bersiap-siap.


"Enggak mau ah, kalau itukan pake kamera mas, keren."


"HP mas juga keren loh na buat photo, wah sepele kamu." Memamerkan HP yang ia pegang, dengan gambar apel separuh dan ada beberapa kamera di belakangnya.


"Iya ya, ya udah cepetan mas photo kan kami." Sudah bergaya loh Diana.


"Enggak ah. Tadi enggak mau." Kembali memasukan HP miliknya di kantung celananya.


Diana langsung menggerutu tidak jelas.

__ADS_1


"Mas, kenapa suka sekali sih gangguin ana." Nah, kalau istrinya yang bicara barulah Anton tak bisa berkutik.


"Ya udah cepetan, gaya. Senyum, terus tunjukan lima jari."


"Kok lima sih mas, dua lah." Meragakkan bergaya photo yang benar. Iya saja, kalau Diana yang bilang semuanya benar.


Sudah entah photo yang ke berapa yang di ambil Anton. Bagas hanya nurut dan mengikuti kemauan istrinya. Mita yang saat ini merasa lelah padahal hanya bermain di pinggir pantai, memutuskan untuk kembali duduk di pondok bersama ibu mertua adiknya.


"Bu." Menyapa dan tersenyum.


"Lah, kok malah duduk disini. Enggak ikut photo itu sama Diana?" Memandang Mita dengan tatapan lembut.


"Enggak bu. Kayaknya kok lemes aja gitu badannya bu. Udah seminggu, makan juga susah. Kalau makan pasti mual, gini nih kalau udah asam lambungnya kambuh."


"Kamu punya asam lambung mit?" Mita mengangguk.


Saat ini semuanya sibuk dengan sendirinya, Bagas, Diana dan juga Anton tengah berbincang di bibir pantai setelah selesai melakukan sesi photo seperti yang di lakukan calon pengantin. Eva dan Alif sudah berjalan menyusuri pantai dengan Eva yang melakukan siaran langsung. Wah, benar-benar ya anak muda.


Dan Rama, tentu ia masih sibuk dengan berphoto. Di sinilah, hanya ibu Ramini dan Mita yang duduk dan berbincang hangat.


"Kamu coba minum air perasan dari induk kunyit, setiap pagi dan malam. Itu ampuh katanya mit."


"Iya bu. Nanti Mita buat ya, siapa tau bisa sembuh. Ibu sendiri udah sehatan? Enggak ngerasa sakit lagi kepalanya?"


"Mita, sakit pun hanya sakit seperti biasa. Orang tua seperti ibu ini memang akan sering merasakan sakit, tapi semua sudah tergantikan dengan pemandangan disana." Menunjuk ke arah anak-anaknya yang kini bisa tertawa lagi.


"Setidaknya sebelum ibu kembali ke Allah, ibu sudah tidak memiliki dendam, sudah lagi tidak memikirkan anak yang ingin berpisah. Orang tua seperti ibu ini, mungkin hanya sebentar lagi bisa bersama anak-anaknya." Wajahnya sendu.


"Bu, sudah. Mita dan Diana juga sudah pernah merasakan kehilangan orang tua, itu sakit bu. Bahkan, jika kami bisa hidup seribu tahun lagi, maka seribu tahun juga lah kami akan selalu sedih mengingat orang tua kami. Jadi kalau ibu bicara begini, dan mereka mendengarnya, pasti mereka akan merasa sakit walaupun belum kehilangan ibu. Mita doakan ibu akan sehat-sehat terus." Memegang dan mengelus tangan ibu Ramini.


"Makasih ya mit. Tapi jujur, ibu bersyukur saat ini karena Allah telah menghilangkan sakit hati yang dulu pernah ibu rasakan, memang benar. Kita harus belajar ikhlas dalam suatu masalah atau hal apapun. Sehingga Allah akan membuka jalan untuk kita melewati setiap masalah yang kita hadapi. Ibu akan terus berdoa untuk kebahagiaan anak-anak ibu."


"Iya bu." Tiba-tiba mual kembali menyerang Mita. Bahkan pandangannya sudah kabur karena saat ini pusing juga ikut menyerangnya.


"Mita, kamu kenapa?" Memegang tangan Mita dengan erat. "Mita?" Panggilnya ulang, ketika melihat Mita terus memegang kepala dan seperti ingin memuntahkan sesuatu.


"Sini, udah muntahin aja kalau memang mau muntah, biar ibu yang pijitin leher kamu." Membawa Mita ke pinggir pondok.


huek huek..


Sontak semua orang memandangnya. Ada yang mungkin merasa jijik dan ada yang terlihat mengatakan maklum.


Anton belum mengetahui istrinya saat ini tengah mengalami kejadian seperti waktu lalu. Ia masih dengan Bagas dan Diana, yang menceritakan siapa Rama sebenarnya. Tentu itu masih dalam mode serius, jadi ia tak berpikir buruk kepada istrinya, karena yang ia tau dan lihat tadi, Mita sedang berbicara dengan ibu mertua dari Diana.


Tegur salah satu pengunjung pantai yang pondoknya berdekatan dengan mereka saat ini.


Hamil??


Sontak ibu Ramini dan Mita saling tatap.


"Maaf bu, tapi anak saya ini tidak hamil. Mungkin karena asam lambungnya naik." Membantu Mita berdiri dan kembali ke pondok.


"Oh, maaf bu. Saya kira anak ibu hamil, soalnya dari postur tubuh dan wajahnya seperti orang hamil."


Mengangguk dan tersenyum.


"Iya enggak apa."


Hamil? Apa mungkin benar kalau aku hamil?


"Mit." Panggil ibu Ramini yang melihat Mita nampak melamun.


"Eh iya bu."


"Apa kamu enggak periksa ke dokter?" Ternyata ibu Ramini juga setuju dengan perkataan orang asing tadi.


Mita menggelengkan kepalanya.


"Coba sepulang dari sini kamu periksa, siapa tau benar kamu hamil. Sebentar ibu carikan minyak angin, tadi ibu bawa kok."


Mengambil tas nya dan mencari minyak angin yang memang tadi ia bawa.


Saat menoleh, Mita sudah melemas dan bruk. Mita pingsan, sontak ibu Ramini menjerit dan teriak memanggil Anton.


Anton mendengar dan langsung berlari, di ikutin juga oleh Bagas. Tentu ini mengundang pengunjung lain berdatangan melihatnya.


"Kenapa Bu?" Anton yang saat ini benar-benar panik.


"Kamu bawa Mita sekarang ke dokter. Nanti biar ana pulang ikut sama Rama." Tanpa berpikir lagi Anton menyetujui usul dari ibu Ramini, dan langsung membawa Mita ke mobil.


"Sayang kamu jangan lari-lari." Tegur Bagas yang melihat istrinya juga panik dan ikut berlari tanpa sadar dengan perutnya yang saat ini mulai membesar.


"Yah gimana kak Mita, kenapa dengan dia? Tadi dia baik-baik aja yah." Diana panik melebihi kepanikan Anton.

__ADS_1


"Udah, enggak apa. Semoga perkiraan ibu benar." Ibu Ramini menenangkan.


"Maksudnya Bu?" Diana masih belum paham ucapan mertuanya.


Ibu Ramini tidak menjawab karena saat ini pandangannya melihat sekeliling mencari dimana Eva dan juga Alif.


"Gas, kamu susul adikmu. Kita juga akan segera pulang."


"Tapi bu, Rama belum selesai."


Melihat ke arah Rama yang kini berphoto diantara bebatuan karang pantai.


"Beri tau dia juga sekarang, Bagas bertindaklah tegas di saat waktu seperti ini, untuk apa kita masih berada disini? Sementara ada orang lain yang lebih penting, yang harus kita khawatirkan?" Perkataan ibunya mampu membungkam Bagas untuk tidak protes lagi. Ia langsung berjalan mencari Eva dan menghampiri Rama, untuk mengajak pulang sekarang.


Dan untungnya, Rama juga sudah selesai dengan sesi photonya.


Mereka langsung bergegas pulang, lebih tepatnya menyusul Anton di rumah sakit.


"Hallo mas, gimana kak Mita? Sekarang di rumah sakit mana? Kita semua udah di jalan mau liat keadaan kak Mita." Sangking paniknya bahkan Diana lupa mengucapkan salam.


"Kalian balik aja, dan berhenti di rumah makan Garuda yang ada di persimpangan sebelum jalan tol. Mas akan segera kesana."


"Loh kenapa malah nyuruh kita makan sih mas? Mas, udah lebih baik kasih tau kita sekarang, gimana keadaan kak Mita mas!!" Diana yang kesal dan terlewat khawatir dengan keadaan kakaknya sampai membentak Anton.


Bagas yang penasaran langsung mendekat dan menguping pembicaraan istri dan iparnya.


"Dan satu lagi, mobil itu bakal mas resmikan buat kamu."


"Mas!!!" Bentak Diana yang kesal karena tidak kunjung mendapat informasi tentang kakaknya.


"Sayang, apa ayah enggak salah dengar? Mobilnya, mobilnya buat kamu sayang? Berarti enggak minjam lagi ya?" Berbicara setengah berbisik.


"Gimana na?" Tanya sang mertua, yang heran melihat menantunya malah emosi setelah menelfon Anton. "Apa terjadi sesuatu sama Mita?" Masih terus bertanya.


"Kita disuruh nunggu di rumah makan Garuda yang ada di persimpangan sebelum jalan t*l."


Mertuanya menyunggingkan seulas senyum.


Nampaknya benar dugaan ku.


"Ya udah. Rama kamu tau kan tempatnya?"


"Tau Bu. 15 menit lagi sampai." Masih tetap fokus mengemudi. Walau pun saat ini kekasihnya bergelayut manja di lengannya.


Sampai di rumah makan yang mereka tuju, mereka semua langsung duduk dan memesan meja untuk beberapa orang, tepatnya dengan jumlah mereka dan Anton.


Beberapa menit kemudian.


"Hallo semua, silahkan makan yang banyak, aku yang bayar!!" Berjalan dan membusungkan dadanya. Dan di iringi oleh Mita yang wajahnya kini sudah cerah kembali.


"Memangnya ada apa mas? Istrinya sakit kok malah dirayakan." Wah, Bagas udah ketularan Diana rupanya ya.


"Istri mas hamil." Singkat padat jelas tepat. Semua saling pandang, dan berteriak kegirangan. Sampai mengganggu pengunjung lain.


"Mas, serius? Terus, soal mobil yang tadi juga serius?" Diana masih tidak percaya.


Mita menatap ke arah adiknya dan mengangguk lalu tersenyum. Diana langsung bangkit dari duduknya dan memeluk kakaknya. Ada satu tetes air mata yang berhasil lolos begitu saja, bukan sedih. Tapi ini air mata bahagia, setelah lama menanti, setelah lama bersabar, tanpa menghiraukan perkataan siapapun yang menyakitinya. Kini, semua usaha dan doanya bersama suaminya sudah di ijabah oleh Allah.


"Kak, ana harap kakak dan janin yang ada di perut kakak sehat terus ya." Berbicara menatap wajah kakaknya.


"Iya na, amin." Kembali memeluk adiknya.


"Hei, sudah. Ayo makan yang banyak, sebelum mas berubah pikiran." Dan menepuk tempat duduk di sebelahnya, dengan isyarat istrinya harus segera duduk.


"Selamat ya mas Anton. Wah, Alif bakal ada saingan nih." Eva yang lebih dulu memberikan selamat, karena yang lain malah melow.


"Iya va, makasih ya. Nanti mas kasih uang jajan deh buat beli baju sama tas." Mengedipkan matanya dan melirik ke arah Diana. "Alif tetap bakal pakde sayang kok, yakkan?" Mengambil Alif dari Eva dan segera memangku nya.


"Selamat ya mas." Ucap Rama.


"Oh iya makasih ya." Tersenyum kembali.


"Udah makan, laper." Diana lagi, pasti lah.


"Selamat ya nak, jaga baik-baik kandungannya. Tapi jangan terlalu sensitif juga dengan hal-hal yang di percaya orang-orang membahayakan ibu hamil, enjoy aja. Itu kayak Diana, enggak ada pantangannya." Melirik menantunya yang nyengir.


"Iya bu. Makasih banyak ya bu." Ucap Mita tulus.


Setelah melewati banyak Drama. Akhirnya bisa menyantap makanan yang di hidangkan di meja, tentu ini semua makanan mahal, siapa pun bakal langsung selera ketika baru melihat masakannya.


Ucapan selamat dan terima kasih, masih saja Anton dapatkan, hingga ia berniat akan mengumpulkan 200 anak yatim piyatu, dan memberi santunan untuk mereka. Bahkan, Anton sudah berniat, ketika anaknya nanti lahir dengan selamat ia akan membangun masjid dan menamakan masjid itu sama dengan anaknya nanti, apapun jenis kelaminnya.


...***...

__ADS_1


Hay, readers yang cantik-cantik. Jangan lupa mampir "Dia Bimaku." Kasian atuh Bima udah nunggu, hehe terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2