Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 15


__ADS_3

Sore hari mereka berkumpul di belakang rumah ibunya. Tetapi hanya mereka bertiga yakni, Bagas, Diana dan juga Eva.


Sedangkan Alif ikut embah Uty nya berkeliling komplek.


Ada pagar yang tinggi sekitar 2 meter. Dan pohon semacam jati dan tanaman lainnya yang membuat suasana menjadi rindang.


Halaman belakang termasuk luas, dan ibu sengaja dulu meminta banyak di tanami pohon karena pusat kota sudah terlalu gersang. Jadi ia berinisiatif menciptakan suasana asri di rumahnya sendiri.


Wajarlah ibu kan dulunya tinggal di pedesaan jadi suasananya yang ia tinggali sekarang tanpa suami jelas jauh berbeda.


Dan disinilah mereka duduk, di bawah pohon asam. Di gubuk yang terbuat dari keramik dan bertema minimalis (kalau gubuk yang kita punya cuma dari atap sama kayu jati ya). Unik, juga udaranya adem karena banyaknya semilir angin sore yang berhembus.


Mereka juga memutuskan untuk menginap, karena Bagas juga masih ada libur satu hari lagi.


Esok pagi barulah mereka akan pulang ke rumah. Itu pun kalau tidak ada drama dari ibu untuk mereka akan lebih sedikit lama disini.


"Disini enak yah." Ucap Diana yang duduk dengan kaki di juntaikan ke bawah.


"Kamu suka? Betah disini?"


Diana mengangguk.


"Kalau mau tinggal disini juga bisa, tapi ayah jauh banget lah sayang kerjanya."


"Yaudaa mas pulangnya seminggu sekali aja, lagian kak Ana enggak kangen juga pasti." Jawab Eva asal sambil mengunyah keripik singkong dengan merk terkenal.


"Kalau ngomong suka bener." Sambung Diana.


Mereka saling pandang dan tertawa.


"Oh jadi bener nih?" Bagas mulai menatap Diana dengan membulat kan matanya.


"Baperrr." Ejek Eva lagi.


Bagas mengambil daun asam yang ada di batang sebelahnya, dan menyumpalkan ke mulut Eva sampai Eva berontak dan berusaha mengelak.


Diana yang melihat itu hanya tertawa, tertawa lepas dan tidak di paksa. Asli dirangsang oleh Otak dan di sambut dengan wajahnya, hingga perutnya sakit karena tertawa saja.


"Udah ah yah, kasian Eva." Akhirnya ia menengahi.


"Biar aja kak, biar puas dia. Dasar borok."


Kali ini Eva menjauh kan duduknya dari Bagas.


"Apa borok?" Tanya Diana heran.


"Lah emang kakak enggak tau? Apa mas enggak pernah cerita tentang masa kecilnya dulu?" Tanya Eva dan sambil menahan tawanya.


"Eva!!!" Bentak Bagas. Tapi Eva tidak peduli dan sudah berniat akan cerita, titik.


"Apasih va, kakak penasaran. Ayo cerita, jangan hiraukan dia. Anggap saja dia penonton."


"Sayang."


"Sstt."


Bagas langsung terdiam. Dan pasti Ana akan menertawakan nya habis-habisan.

__ADS_1


"Dulu kak, mas Bagas itu borokan tau. Banyak juga cap uang koin di kaki dan tangannya dulu. Bahkan rambutnya juga selalu di botak sama ayah karena terlalu banyak boroknya."


Sesekali Eva tertawa dan melanjutkan ceritanya sehingga dua penonton selalu mendengarkan.


"Terus enggak ada yang mau kawan sama dia, dia juga di panggil Barok 'Bagas borok'. Kalau pulang main selalu nangis. Miris lah kak. Ada yang bilang ke ibu sama ayah kalau nanti mas Bagas uda di sunat itu penyakit borok atau gatalnya bakal ilang gitu.


Jadi mas Bagas yang denger langsung buru-buru minta di sunat, padahal waktu itu masih kelas satu SD. Ya jelas ayah sama ibu enggak mau dulu lah mas Bagas di sunat.


Nanti yang ada masih SMP udah berani nikahin anak orang."


Eva dan Diana tertawa, dan yang kaku hanya Bagas.


"Tapi va, kenapa kamu bisa tau? Sementara waktu mas kamu SD kamu baru lahir."


"Tau lah kak, kan mas Bagas pernah cerita, kayak lagi mengenang masa lalu yang pahit haha, terus karena penasaran ya Eva tanya langsung sama ibu. Ibu kan baik jadi cerita sampai sedetail mungkin." Terangnya.


"Jadi nyesel ah." Jawab Bagas.


"Kamu nyesel karena nikah sama Ana ya yah?"


"Nyesel karena cerita ke Eva loh sayang."


"Mau lanjut lagi enggak ni kak?"


Diana pun mengangguk antusias.


"Ngantuk." Ucap Bagas tapi tidak di hiraukan oleh mereka.


Eva asik menceritakan masa kecil mereka, sesekali tertawa, sedih juga terlihat mengenang sesuatu yang sangat berharga.


Juga yang terakhir adalah, cerita tentang ayah mereka yang dulu sempat selingkuh sama tetangga. Itu lah yang juga menjadi alasan kenapa setelah ayah tiada ibu mengajak mereka pindah ke kota dan meninggalkan lahan disana, dan tinggal menerima setoran di setiap bulannya.


Tapi ibu adalah wanita sabar juga kuat, jadi dia lebih memilih untuk memaafkan dan bertahan. Semuanya ia lakukan demi anak, dan akhirnya semua kembali normal. Sampai ayah menghembuskan nafas terakhirnya ia sudah tidak pernah lagi menyakiti hati ibunya. Dan ayah sanggup berpegang janji dan sumpahnya itu.


Diana melamun dan menduga-duga.


Apakah sifat anak lelaki ibu diturunkan dari ayah nya? Apakah aku harus bertahan dan memaafkan seperti ibu? Ah ya Allah tunjukkan jalanmu untukku.


"Kak kok ngelamun sih?" Tegur Eva.


Diana langsung tersadar dan menatap Bagas, Bagas menatapnya dengan heran.


"Eh iya, lanjut."


"Habis sayang ceritanya, lanjut, lanjut kemana." Potong Bagas sewot.


Ya iyalah dari tadi kan cerita menyudutkan dirinya.


"Intinya, mas Bagas senang kak pas ibu bilang mau pindah ke kota karena disana dia enggak punya teman, ya punya sih. Tapi katanya dia udah terlanjur minder, jadi enggak pernah keluar rumah main sama anak yang lain."


Pantas saja kamu terkenal pendiam yah.


"Uuuh kasian banget suamiku."


Diana mengelus pipi Bagas, kali ini ia lakukan dengan tulus dengan alasan iba.


"Eh mas, teman magangku sewaktu SMK ada yang bekerja di kantor mas juga loh, tapi mas kenal enggak ya?" Tanyanya nampak berpikir.

__ADS_1


"Siapa namanya? Cowok atau cewek?"


"Cewek lah mas, ya kali cowok."


"Iya siapa namanya ramping."


"Risah mas, Risah namanya. Rumahnya daerah bundaran air mancur yang dekat blok A daerah kalian."


Uhukk. Kali ini Diana terbatuk.


"Kenal kok. Satu bagian sama mas juga dia."


Kenalah orang selingkuhan mas kamu, bahkan pernah tidur bareng. Jawabnya dalam hati.


"Oh mas tau rumahnya enggak?"


Bagas terdiam sejenak.


"Iya tau, tau gitu ajalah."


Tau lah mana mungkin enggak tau. Diana.


"Mas minta kan nomornya ya, bilang dari Eva. Aku kangen, soalnya udah lama enggak kontek semenjak aku ganti nomor. Dia juga dulu dekat sama aku mas."


Ngapain nunggu minta, sekarang aja mas mu juga punya. Diana.


"Kalau dia teman magang kamu kenapa dia udah kerja dan kamu masih kuliah? Bukannya harusnya dia kuliah?" Kali ini Diana memberanikan diri bertanya.


"Dia enggak kuliah kak, kuliah sih sempat tapi enggak sampai gelar, cuma satu tahun aja habis itu kerja."


"Lah jadi kok bisa masuk kantor kalau enggak kuliah?" Kali ini Diana merespon karena penasaran.


"Iya mungkin ada orang dalam, lagian dia juga punya banyak sugar Daddy, ya mungkin di bantu hehe. Sstt jangan bilang-bilang ya mas."


Diana spontan kaget, tapi disini Bagas yang terbatuk-batuk.


Sialan!!! Bagas.


Wah ternyata L***e. Diana.


"Kalian sebenarnya ngapain sih, dari tadi tiba-tiba batuk melulu kayak udah tau aja."


"Mas kamu itu yang paling tau va."


Kali ini Diana bicara spontan dan Bagas menatap tidak suka.


Terjadilah keheningan setelah itu. Eva sudah diam tidak bercerita apa pun lagi, dan memainkan ponsel miliknya.


Bagas melamun begitu juga dengan Diana. Menjawab kata demi kata hanya dalam hati bukan mulut.


Hingga tak terasa hari hampir gelap. Mereka masuk ke dalam dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mempersiapkan untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib.


Bersambung..


Mohon jangan lupa like, vote juga komentar ya.


Terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2