Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 19


__ADS_3

Tengah malam Diana terbangun dari tidurnya, kali ini ia bangun akan melaksanakan sholat Sunnah tahajud.


Meminta pertolongan Allah agar segera membuka jalan dan menguatkan hatinya.


"Ya Allah engkau yang maha adil, engkau yang maha segalanya. Hamba tau suami hamba orang baik, sadarkan ia ya Allah jika ia sudah berada dijalan yang salah. Hamba yakin ini hanya suatu kehilafan baginya. Hamba akan kembali memeluknya jika kau mengijinkan kami membina rumah tangga ini sampai menua bersama. Hamba pasrahkan jalan ini padamu ya Allah"


Ia menangis dalam doanya.


Coba pikir, wanita mana yang rela di madu? Wanita mana?


Allah menguji istri saat suami tidak punya apa-apa.


Dan Allah bakal nguji seorang suami ketika rezeki yang ia punya melimpah ruah.


Di kehidupan ada berbagai banyak konflik, kalau tidak ekonomi ya pasti soal orang ketiga.


...***...


Pagi sekali Bagas sudah bersiap untuk membereskan masalah pekerjaannya.


Bagas menunggu Risah di halaman hotel tempat dimana mobil kantor akan ia gunakan.


Tidak ada supir yang mengantar karena ini termasuk tugas mereka sendiri, lagian mereka juga bukan seorang presedir yang harus kerja diantar oleh supirnya.


Mereka hanya pekerja kantoran yang beruntung memiliki ke percayaan yang tinggi oleh atasannya.


Sebenarnya hanya Bagas bukan Risah, namun karena fartner kerja saat diluar kota adalah Risah maka ia pun juga harus membantu apa yang Bagas kerjakan.


15 menit Bagas menunggu akhirnya nampak Risah yang keluar dari kamar hotelnya, dengan rok di atas lutut dan rompi ketat yang selalu ia gunakan saat bekerja.


"Hari ini, kita mendapat masalah akibat ulah kita sendiri, maka dari itu aku mohon untuk kali ini sama-sama bijaksana dalam bekerja."


Ucapnya ketika memasuki mobil.


"Iya mas aku ngerti, maaf."


Hening di dalam mobil.


Bagas juga heran Risah tidak banyak bicara seperti biasanya, ia hanya menatap keluar jendela dan sesekali melihat ke HP.


Risah mengangkat telfon karena Hpnya berdering, tentu saja itu dari Rendy.


"Ya Hallo? Aku lagi kerja, nanti aku telfon balik kalau udah selesai."


"(Tapi)."


Risah langsung mematikan sambungan telfonnya.


Sebenarnya, Risah dan Rendy adalah sepasang kekasih.


Mereka sudah menjalani hubungan hampir satu tahun, bahkan sebelum Risah menggoda Bagas.


Risah dan Rendy adalah korban perjodohan, keduanya sempat menolak. Tapi keluarga Risah selalu memberi nasehat karena Rendy adalah anak keluarga terpandang, jauh berbeda dengan Bagas lah.


Hanya saja, ketika Rendy tau kalau Risah adalah anak yang pergaulannya diluar batas, ia jadi enggan untuk serius.


Rendy selalu mengajak bertemu hanya karena *****.


Akhir-akhir ini malah Rendy sering sekali menghubungi Risah. Mungkin mulai ada cinta, entahlah.


Risah yang tidak tau bersyukur malah menggoda Bagas yang jelas-jelas sudah mempunyai istri dan anak, awalnya hanya sekedar menyapa. Cuma karena Bagas orangnya pendiam dan tidak banyak bicara itu yang membuat Risah penasaran.


Rendy tidak tau akan hal hubungan Risah dengan Bagas, memang tidak ada yang tau kecuali Diana.

__ADS_1


Hanya saja Diana masih menyimpan dan belum saatnya meluapkan.


Risah hanya diam setelah menjawab telfon dari pacarnya. Bagas melirik ke arahnya.


Hingga mobil sampai di tempat tujuan, mereka juga tidak ada bicara.


Hanya sesekali saja ketika ingin bertanya mengenai hal pekerjaan.


Bagas memeriksa laporan yang kemarin, dan memang ini salahnya sehingga apa yang ia kerjakan selama diluar kota menjadi sia-sia.


Karena email yang di tunggu ketika rapat malah tidak di kirim, nah alhasil harus menunggu rapat selanjutnya. Harus berapa lama lagi mereka pun tidak tau.


Bagas melamun dengan pikiran entah kemana-mana.


Merutuki kebodohannya, yang harusnya bisa pulang berjumpa dengan Diana ini malah harus di pending lagi.


Arrghh. Bagas merasa frustasi mengacak-acak rambutnya sendiri ketika di dalam mobil.


Ia akan meminta nego sedikit pada atasannya.


"Hallo pak selamat sore."


"(Ya Hallo. Udah kamu selesaikan tugas kamu?)"


"Mereka bilang saya nunggu hingga rapat tiba pak, tapi belum tau pasti kapan. Jadi gimana pak? Kapan saya bisa pulang?"


"(Ya harus kamu tunggu lah itu, saya enggak mau tau. Itu mutlak kesalahan kamu. Sekarang saya tanya, kemana kamu semalam? Dan Risah juga kemana? Kenapa kalian bisa sama-sama tidak mengechek email? Sementara itulah tugas utama kalian disana agar setelah menyelesaikan pengiriman email, kalian bisa langsung ke lokasi proyek nya. Tapi malah begini)."


"Maaf pak, kemarin saya. hmm. Saya ketiduran."


"(Apa Risah ketiduran juga? Apa kalian tidur berdua)."


Bagas hampir menjatuhkan HP nya karena atasannya biacara pada kenyataannya. Tangannya bergetar juga keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya.


"Enggak lah pak."


"Tapi pak, apa pekan ini saya betul tidak bisa pulang?"


"(Jangankan pulang, pekan ini kamu akan tetap bekerja! Tidak ada libur)."


Ucapnya dan mematikan telfon.


Bagas terdiam, melamun.


Tak lama Risah sudah selesai dengan urusannya di bagian lain, dan langsung masuk ke mobil untuk segera menuju hotel.


Bagas memijat keningnya dan memejamkan mata.


Risah menatapnya dengan heran, namun untuk bertanya ia urungkan.


Enggak mungkin aku hanya menyalahkan Risah, aku tidak boleh egois, karena nyatanya aku pun menikmati.


Bagas menjalankan mobilnya menuju hotel dimana mereka menginap.


Kali ini Bagas mengunci pintu tengah yang menjadi penghubung di antara kamar mereka.


Ia kali ini akan benar-benar fokus mengerjakan tugasnya agar cepat kelar dan bisa pulang.


Suara adzan Maghrib menyadarkannya.


Ya ampun, udah beberapa hari disini aku tidak melaksanakan kewajibanku.


Ia bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu mengambil air wudhu, membasuh seluruh bagian yang sudah ditetapkan dalam aturan wudhu.

__ADS_1


Bagas melakukannya dengan kusyu. Dan berdoa meminta ampun kepada Allah.


Setelah selesai dengan ibadahnya, Bagas kembali melihat laptopnya, sedikit lagi kelar batinnya.


Ia melihat ke arah ponsel yang bergetar, karena saat ini di atur mode senyap olehnya.


Ternyata Diana yang menelfon, Bagas langsung menjawab panggilannya.


Ia menceritakan segala yang terjadi, dan harus menunda ke pulangannya.


Tapi ia tak jujur akan masalah yang sebenarnya terjadi karena apa, hanya saja bilang kalau tidur karena kelelahan.


Bagas berulang kali meminta maaf dan Diana pun memakluminya.


"(Sekarang ana mau tanya, ayah pergi keluar kota kan harus ada fartner kerjanya, ayah pergi sama siapa? Dan kenapa saat ayah tertidur dia tidak bisa menggantikannya? Sementara posisi kalian sama, hanya saja ayah yang bertanggung jawab karena ayah lah yang di tunjuk langsung oleh atasan)."


"Iya, teman ayah pun tertidur juga karena kelelahan."


Ucapnya berbohong.


"(Iya siapa?)."


"Kamu enggak kenal lah sayang teman ayah yang mana, walaupun ayah sebut kamu juga enggak ngerti."


"(Ana hanya mau tau namanya, perempuan atau lelaki)."


"Wanita sayang."


Bagas menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.


Mati aku, kenapa bisa keceplosan, ah bodoh!


"(Oh pantas)."


Jawabnya santai.


Bagas yang nampak kelimpungan pun akhirnya lebih memilih mengakhiri telfon, lagian juga ia harus melanjutkan tugasnya.


...***...


Aku pikir kali ini kamu bakal bohong yah, ternyata masih ada sedikit kejujuran dengan menyebutkan fartner kerjamu disana, ya walaupun masih menutupi namanya.


Malamnya Diana kembali bangun, dan akan kembali melaksanakan sholat Sunnah seperti malam sebelumnya.


Ia sudah berniat akan selalu mengerjakan sholat tengah malam karena Allah akan cepat ijabah doa hambanya yang rela menukar kantuk di mata hanya karena ingin dekat dengannya.


Diselingi dengan dzikir Diana terus melaksanakan dengan khusyu. Setelah hatinya terasa luluh barulah ia kembali untuk tidur di samping anaknya.


Aku akan terus berusaha untuk keluarga ini yah, meskipun aku tau sesakit apa aku nantinya aku bakal tanggung itu, karena bagiku pernikahan hanya sekali seumur hidupku. Hanya saja akan ada sedikit pelajaran untukmu, dan itu pasti akan ku lakukan, bukan tentang balas dendam, hanya pelajaran. Agar kau tau menghargai istri dan juga anak ketika masih ada disampingmu.


Diana memejamkan matanya, hatinya mulai tenang.


Tidak ada gangguan dalam pikirannya, tidak ada lagi yang namanya perang batin di dirinya.


Diana yakin akan merasakan cinta kembali disetiap harinya tanpa harus ada kebohongan sekecil apapun dari orang yang ia cintai.


almarhum emaknya pernah berpesan.


"Kau yakin akan menikah dengannya(Bagas). Itu adalah pilihanmu, yang baik di matamu. Kelak saat kau merasa dikhianati hadapi lah sendiri, jangan libatkan orang lain, karena apa? Kalau masalah kecil saja orang lain tau, yang harusnya rumah tangga mu bisa berlanjut malah akan menjadi perpisahan.


Karena sebagian pemikiran orang itu berbeda. Pertahankan apa yang harusnya jadi milikmu, dan lepaskan jika memang kau merasa itu sudah tidak duniamu lagi, tapi yang emak tau, pernikahan hanya sekali seumur hidup. pepatah mengatakan, tidak ada yang lebih baik selain kembali lagi. Suatu saat kalau kau mengalaminya kau harus ingat kata emak, yang pasti emak berdoa yang terbaik untuk anak-anak emak."


Itulah pesan emak sehari sebelum Diana akan melaksanakan ijab qobul dengan arti pernikahan.

__ADS_1


Dan itulah yang selalu menjadi motivasinya untuk bertahan.


Bersambung..


__ADS_2