Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 29


__ADS_3

Pagi ini seluruh penghuni rumah Anton bersiap akan berangkat ke desa tujuan Diana.


"Udah siap semua kan? Ayo berangkat."


Diana hanya berbekal pakaian dan uang tabungan, selebihnya akan di biayai oleh Anton. Mereka berangkat pukul 05 pagi, karena takut sebelum mereka pergi akan ada Bagas yang lebih dulu sampai akan menjemput Diana.


Perjalanan ke desa tidak begitu mudah, melewati berbagai Medan dan cukup sulit, jalan yang menuju desa masih berupa tanah, belum ada Aspal.


lima jam perjalanan menuju kesana, cukup jauh ya.


Diana kembali menangis, ia membayangkan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani kedepannya tanpa sosok suami yang selalu mendampinginya.


Ah rasanya begitu sulit untukku tanpamu. Tapi ini adalah keputusan yang aku ambil, begitu juga dengan mu.


"Sudah sampai, yang mana desa tujuanmu na?"


Diana mengingat alamat yang di beri mertuanya. Ya dia pergi ke desa dimana tempat suaminya lahir dan tumbuh. Desa yang penuh kenangan Bagas itu. Namun bukan kenangan indah, semua hanyalah kenangan buruk baginya.


"Di desa Amper mas. Coba sebentar Ana akan turun tanya sama warga disini."


Diana turun dari mobil bertanya kepada salah satu orang warga disana. Dan Alhamdulillah mereka mempunyai titik terang, hanya tinggal beberapa kilometer saja. Tidak memakan waktu berjam-jam lagi.


Tak lama sampailah mereka di desa tujuan, tinggal mencari rumah yang dulu sempat ditinggali mertuanya itu.


"Pak, permisi numpang tanya. Apakah bapak tau dimana rumah yang di kontrakan, dan rumah dulunya adalah rumah Ibu Ramini?"


Bapak itu tampak mengerutkan keningnya. Dan menatap Diana dari atas ke bawah.


"Neng ini siapanya Bu Ramini?"


Tanyanya.


"Saya saudaranya pak, dan saya akan tinggal disini, dikontrakkan rumahnya beliau."


"Oh disana neng, simpang empat belok kiri, ada rumah cat warna hijau daerah sawah itu, rumahnya yang paling besar. Tapi saya rasa masih ada yang nyewa disana."


Jelasnya.


"Oh gitu, ya udah makasih ya pak."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah yang sudah di jelaskan oleh salah satu warga tadi. Namun yang di katakan oleh bapak tadi benar, bahwa masih ada yang menyewa.


Hal ini akan menjadi kendala tersendiri untuknya.


Saat turun dari mobil banyak pasang mata yang melihat heran, karena ada mobil mewah yang memasuki perkampungan mereka. Namun mereka tetap ramah mau tersenyum walau di pikiran masing-masing memenuhi penasaran yang amat besar.


"Permisi Bu, apakah ibu yang menyewa rumah ini?"


"Ah iya neng, ada apa ya?"


Diana menatap Anton meminta bantuan untuk menjelaskan.


"Begini Bu, ini kami saudara dari Ibu Ramini, yang punya rumah ini. Nah kami datang kesini akan menempati rumah ini, hanya saja kami tidak tau kalau masih ada yang menyewa. Kira-kira Ibu disini masih lama lagi ya ngontrak nya?"


Tanya Anton lembut.


"Iya sekitar tiga bulan lagi lah mas, Tapi kok enggak ada konfirmasi ya dari Ibu Ramini?"


"Iya kami bilang akan kesini, tapi enggak ngabarin kalau hari ini."


"Gimana mas, saya juga Uda bayar pertahun, nah ini sisa tiga bulan lagi."


"Begini aja, disini masih banyak tempat kontrakan kan? Saya akan balikkan uang Ibu yang Ibu bayar buat setahun, dan saya akan bayar juga kontrakan yang akan Ibu sewa, tapi hari ini juga Bu. Maaf Bu, kami tidak sopan, tapi kasian adik saya disini enggak ada saudara lagi. Mana jauh dari kota."


Ibu itu nampak berpikir keras, mungkin baginya ini adalah ke untungan yang luar biasa, namun jika dilakukan hari ini juga bukankah sangat mendadak?"


"Baiklah mas, tapi saya enggak bisa angkat barang saya semuanya hari ini?"


"Ya udah Bu, enggak masalah. Jadi deal ya Bu?"


Sang Ibu pun mengangguk setuju, dan di sambut senyuman oleh Diana dan Mita.


Hari ini akan menjadi hari yang paling melelahkan untuk beres-beres bagi mereka. Tapi Anton tidak memperbolehkan istrinya untuk ikut membantu, hanya cukup duduk dan menjaga Alif.

__ADS_1


Sore hari semua selesai, hanya ada beberapa barang saja yang belum di angkut.


Karena Diana hanya membawa pakaian, jadi malam ini ia akan tidur hanya beralaskan tikar dan selimut di bawah. Tetapi Anton berjanji besok secepatnya akan mengirimkan barang perlengkapan rumah tangga. Semua itu ia berikan hanya untuk menenangkan hati adiknya.


Anton dan Mita pulang saat sore hari setelah selesai merapikan rumah. Rumah yang saat ini Diana tinggali, yakni rumah Bagas sewaktu kecil. Ukuran rumah tidak terlalu besar, cuma untuk di desa seperti ini sudah terbilang mewah. Dengan pagar besi di depan rumah, dan ada tembok di belakang yang menjadi pembatas rumah warga yang lain.


Di depan rumah sekitar 50 meter, terletak sawah yang luas. Dan ada banyak pepohonan yang rimbun. Suasana begitu nampak asri, tak salah jika Diana memilih untuk kabur kesini.


"Bunda, kok kita disini? Ayah mana?"


Diana tersenyum kecut.


"Ayah kerja sayang, jadi sementara kita disini dulu ya. Alif sama bunda ya?"


"Tapi bunda, Alif kangen ayah. Bunda telfon ayah dong."


"Ayah sibuk sayang masih kerja, sekarang Alif tidur ya?"


Mereka berdua pun terlelap dan memasuki alam mimpi masing-masing.


...***...


Pagi hari Diana terbangun, ia melaksanakan sholat subuh dan di iringi mengaji. Selesai dengan kewajibannya ia menyapu halaman depan rumah. Nampak tidak kotor hanya beberapa daun kering jatuh dari pepohonan depan rumah.


"Bunda, Alif laper."


Diana kaget mendengar suara anaknya, dan menoleh ke belakang. Ternyata Alif sudah berdiri di depan teras rumah.


Dimana disini ada jual sarapan pagi ya. Malah aku belum ada kompor buat masak.


"Sebentar ya sayang, bunda sedikit lagi siap. Habis itu kita cari sarapan ya?"


"Iya bunda."


Diana berjalan bersama Alif mencari penjual sarapan yang ada di sekitar rumahnya. Ternyata cukup jauh juga kalau membeli dengan berjalan kaki. Nampak di dahi mereka sama-sama mengeluarkan keringat. Namun rasanya malah segar, seperti olahraga pagi.


"Bu, permisi? Mau beli nasi uduk ya satu, pakai ayam goreng?"


Penjual itu segera membuatkan sarapan untuk Diana, tetapi sesekali ia melirik ke arah Diana. Mungkin juga penasaran.


"Kamu orang baru ya nduk?"


Tanyanya sembari memberikan bungkusan plastik yang berisi nasi uduk.


"Hehe, iya Bu. Berapa Bu?"


"delapan ribu aja nduk, Oh tinggal dimana nya?"


"Ini Bu. Di kontrakan Bu Ramini Bu."


"Oh disitu. Tapi sepertinya kemarin masih ada yang tinggal disana? Apa udah pindah ya?"


"Iya Bu, udah pindah. Soalnya saya datang dari kota, dan masih keluarga juga dengan Bu Ramini."


"Siapa namamu nduk?"


"Diana Bu? Panggil aja Ana."


"Oh saya Ros. Panggil saja Mak Ros, biar lebih akrab. Karena orang-orang disini biasa manggilnya begitu."


Bu Ros menjelaskan nama dan latar belakang panggilannya, padahal Diana juga tidak bertanya.


"Oh iya Bu, eh Mak Ros. Kalau begitu Ana permisi ya?"


"Iya, terima kasih, langganan ya nduk?"


Diana tersenyum ramah dan mengangguk.


Memang jika sudah tidak punya orang tua, rasanya jika bertemu ibu-ibu yang sikapnya hangat sangat menyenangkan. Apalagi ramah dan tidak sombong.


Begitu yang Diana rasakan pagi ini.


Ternyata tinggal di desa seperti ini jauh lebih nyaman, dari pada tinggal di kota yang notabennya tetangga tidak akrab dengan sesamanya. Kayaknya aku mau tinggal lebih lama disini.

__ADS_1


Sampai dirumah Alif langsung minta makan, biasanya dia tidak pernah begini. Bahkan makan juga harus di paksa kalau tidak *****, namun lain di hari ini.


Rasanya baru beberapa jam disini, Diana sudah sedikit melupakan masalahnya. Pikiran tidak sekalut kemarin, sudah bisa tersenyum. Diana duduk di teras rumah bersama Alif. Melihat keindahan sawah yang membentang luas, terlihat jelas oleh lensa mata mereka.


Udara berhembus juga sejuk, tidak seperti di kota-kota.


"Bunda kita kesana yuk?"


"Kemana sayang?"


"Itu."


Tunjuk Alif ke arah pinggiran sawah.


"Kita main disana bunda."


"Besok aja ya sayang, hari ini pakde Anton datang lagi, nanti kalau kita pergi dia nyari kita gimana?"


"Gitu ya bunda?"


"Iya sayang."


Sambil mengelus puncak kepala anaknya.


Satu jam kemudian datang barang-barang yang dijanjikan oleh Anton. Namun kali ini hanya Anton yang datang beserta orang-orang yang akan membantu mengangkat barang tersebut.


"Mas, kak Mita enggak ikut?"


"Dia kecapean na, mas kasian kalau ajak dia kesini lagi. Lagian hari ini juga ada jadwal senam nya."


"Oh, maaf ya mas gara-gara Ana jadi ngerepotin begini."


"Udah , lagian kan emang mas yang janji sama kamu dan Alif. Tapi lain kali mas akan sering kesini kok sama kakakmu."


"Makasih ya mas."


Pukul 02 siang semua barang sudah tersusun rapi, kompor beserta tabung sudah di letakkan di dapur. Tv dan kursi juga sudah beres. Bahkan tempat tidur juga sudah. Semua tampak rapi. Anton benar-benar menepati janjinya untuk mengisi keperluan segala peralatan rumah tangga.


"Na, bahan makanan juga udah mas masukan ke dalam kulkas ya?"


"Ada juga ya mas?"


"Ya adalah."


"Wah, harus bagaimana Ana balas kebaikan mas sama kak Mita?"


"Kami ini juga orang tuamu? Tugas mu disini hanya jaga diri dan mendidik Alif dengan baik."


Diana terharu dan meneteskan air matanya. Semua ini ia dapatkan dari iparnya. Begitu beruntung Mita memiliki suami yang tegas dan bertanggung jawab, pikirnya.


"Mas pulang ya? Ini mas belikan HP biasa, khusus untuk menelfon saja, mas juga udah pasangin SIM card nya. Sesuai sinyal disini, jadi kamu enggak usah khawatir tidak ada sinyal. Dan itu untuk selalu mengabari kami bagaimana keadaan kamu disini. Kamu ngerti?"


"Iya mas."


Lagi-lagi Diana terharu dengan kebaikan Anton.


"Udah jangan sedih, mas sengaja belikan karena mas tau kamu enggak akan aktifkan HP kamu, lagian juga itu enggak akan berfungsi disini, karena susah sinyal."


Sambil mengelus kepala Diana.


"Alif, pakde pulang ya sayang."


Alif pun berjalan mendekat dan memeluk Anton. Ada rasa hangat dan nyaman di antara keduanya.


"Jangan lupa makan, nurut apa kata bunda ya?"


"Tapi pakde, Alif mau ikut pakde aja. Disini enggak ada mainan?"


Diana spontan melihat ke arah Anton. Yang iya takutkan benar terjadi, Alif yang merasa tidak betah disini.


Bersambung..


Jangan lupa like, vote juga komentar ya. Plis jangan pelit!!

__ADS_1


__ADS_2