Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 70


__ADS_3

Diana sangat diistimewa kan setelah melahirkan, mungkin juga karena saat ini suaminya tidak lagi bekerja, dan juga mertua dan adik iparnya ikut membantu.


"Kalau perlu apa pun kamu bilang sayang." Hanya itu, ya mau minum sekalipun Diana tidak di bolehkan untuk turun, dan sebenarnya memang begitulah ketika wanita sehabis melahirkan. Harus memulihkan lagi kondisi tubuhnya, setelah berjuang dan mematahkan 13 tulang rusuk secara bersamaan, itu hanya umpannya saja.


Saat ini semua keluarga yang berkumpul di rumah sakit ikut juga pulang ke rumah Diana. Mungkin belum puas memandang wajah anaknya yang mereka bilang imut.


"Mas makasih ya. Tapi ini udah kesekian kalinya aku nyusahin mas. Udah banyak sekali hutang aku mas." Bagas langsung to the point tentang masalah administrasi rumah sakit. Padahal ia juga salah orang.


"Hanya bantu tenaga kan tidak masalah gas." Sambil terus mengajak bayi yang baru lahir berbicara.


"Tenaga? Bukan kah mas yang bayar tagihan rumah sakit?" Bagas bingung sendiri. Apa mas Anton tidak ingin aku tau, pikirnya.


"Tagihan? Mas nggak ada bayar tagihan kok." Mengalihkan pandangannya ke Bagas dengan dahi yang berkerut.


"Tapi mas, biayanya udah di bayar semua. Waktu aku datang suster menjelaskan kalau tagihan atas nama Diana sudah di bayar. Lalu kalau bukan mas siapa lagi?"


"Apa kamu tidak ada saudara yang lain?"


Saudara yang lain? Apa mungkin Eva? Ah nggak mungkin kalau dia. Rama? Ya, pasti Rama.


Bagas langsung meninggalkan Anton yang masih terus saja mengajak anaknya berbicara. Padahal sampai subuh menjelang pun Hawa tidak akan mengerti apa lagi menjawab.


Sampai di ruang tamu, ibu Ramini tengah duduk dengan Rama dan juga istrinya, sementara Eva dan Mita membantu Diana mengganti pakaiannya.


"Rama, Abang mau tanya?"


"Iya bang?" Mendongak memandang wajah Bagas.


"Apa kamu yang bayar tagihan rumah sakit kakakmu?" Ibu Ramini langsung menatap Rama. Soalnya ia juga tidak tau menahu. Bahkan ibunya sempat memberi sedikit uang untuk membantu tapi Bagas menolaknya. Dengan alasan uangnya masih cukup.


"Iya bang."


"Kenapa?" Bagas tidak enak hati.


"Bang, tadi aku yang nyuruh. Soalnya kami juga ada rezeki lebih, biar lah bang ini juga keponakannya. Udah rezeki anak abang kan bang."


Bagas mengusap wajahnya.


"Ma, Abang nggak enak."


"Sudah, kan bagus dia mau bantu kamu gas. Jangan menolak rezeki, kemarin ibu bantu kamu nggak mau kan?"


"Iya bang maaf, bukan aku merendahkan Abang karena belum bekerja, tapi memang aku niat bang buat ngasih. Maaf ya bang, mohon jangan di ganti, kami ikhlas. Itung-itung ini juga tabungan buat anak kami nanti."


"Makasih banyak ya ma, Bila." Rama bangkit dan menepuk pundak Bagas. Ia tau, pasti Bagas akan berpikir kalau ia merendahkan karena statusnya masih pengangguran.


"Bang, jangan sungkan, kita kan saudara." Memeluk Bagas dengan kehangatan.


"Assalamualaikum." Suara terdengar dari pintu.


"Walaikumsalam. Gas ada yang datang coba di lihat dulu." Ujar ibunya.


Bagas langsung berjalan ke arah pintu, dan ternyata Andre yang datang. Dan apa, ia datang bersama Dira? Apa artinya tidak jadi cerai, batin Bagas.


"Mas, kak. Ayo masuk."


"Kamu nggak ngabarin sih gas, untung Eva nelepon mas tadi." Menggerutu dan terus berjalan mendekat ke arah ibunya.

__ADS_1


"Ibu sehat?" Tanya Dira.


Wajah senang ibu Ramini tidak dapat di tutupi, ketika Andre datang bersama anak dan istrinya. Ibu menatap Andre meminta penjelasan mengenai hubungan mereka.


"Bu, aku sama Dira udah kembali ke rumah lama kami." Tau, ia tau kalau ibunya sangat ingin mendengar jawaban seperti ini sejak lama.


"Aku sama Dira juga udah nikah lagi, maaf ya Bu. Karena aku ibu sempat sakit." Memeluk ibunya dengan hangat.


"Sini nak nenek rindu?" Cucunya langsung mendekat. Sasa dan Dika. Ya itu kedua anaknya Andre, cucu pertama ibu Ramini. Yang jarang sekali berjumpa.


Ibu Ramini tidak dapat menahan air mata bahagianya. Hari ini, baginya sudah cukup, merasakan hal yang sangat ingin ia rasakan. Entahlah keputusan apa yang di ambil sehingga mereka bisa kembali lagi.


"Ibu maaf, ibu pasti rindu ya sama mereka. Maaf Bu aku nggak pernah bawa mereka untuk bertemu ibu." Dira tau kalau ibu mertuanya sangat merindukan anak-anaknya saat ini.


"Kita makan ya. Pasti kalian belum makan, itu mas bawa makanan banyak khusus di masak sama Dira."


"Biar aku yang ambil mas, masih di mobil kan?" Rama bangkit dari duduknya. Andre langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada Rama.


"Ini istrinya Rama?" Menunjuk Bila.


"Iya kak, aku Bila."


"Oh iya, cantik ya bu."


"Semua menantu ibu cantik-cantik." Tersenyum menatap ke depan.


Semua menantuku memang cantik, anakku saja yang menutup mata dan melihat wanita lain.


Rama kembali dengan menenteng rantang di kanan kirinya. Mungkin memang semua sudah di siapkan dengan Dira.


"Bila, yang sup punya Diana ya." Teriak Dira.


Suasana saat ini memang penuh kehangatan. Semua sudah kembali, bahkan ibu Ramini tidak menyangka. Doanya dengan cepat di kabulkan oleh Allah, ya itu keutuhan rumah tangga anak-anaknya.


Suamiku, anak kita sudah bahagia semua tampaknya, jemput lah aku disini, karena aku juga ingin bersamamu.


"Ibu kenapa melamun?" Tegur Bagas.


"Heh, ibu senang semuanya kembali. Andai ayah kamu masih ada, pasti juga dia senang."


"Bu, ayah juga pasti senang disana. Kita semua selalu mendoakan ayah, tentu ia juga bahagia sekarang."


"Bu ini udah siap. Ayo kita makan?"


"Sebentar ibu panggilkan Eva dan Mita dulu." Bangkit dari duduknya, sementara Bagas tidak ikut makan di meja makan, ia memilih menemani istrinya di kamar.


Seperti biasa, Alif makan disuapi Eva. Untungnya mereka dekat, kalau tidak Alif pasti menolak. Suasana rumah sangat ramai saat ini, anak-anak yang berlarian di dalam rumah. Dan tertawa, bermain.


Selesai makan, semua lelaki lebih memilih duduk di teras rumah berbincang selayaknya lelaki, pembahasan juga mereka yang tau, pasti seputar pekerjaan.


Sementara wanita, memilih di dalam kamar dengan Diana. Dan tentu melihat baby Hawa.


"Na, siapa nama anak kamu?" Tanya Dira. Mita juga lupa tidak menanyakan hal itu sedari tadi.


"Hawa Putri Bana kak." Jawabnya dan tetap masih berbaring di tempat.


"Kok kata mas Anton Aisyah?" Tanya Mita.

__ADS_1


"Is memang ya kalau mas Anton. Tapi biar lah kak, sukanya dia manggil gimana."


Iya, Anton mengatakan kalau anaknya Diana namanya Aisyah. Dan sedari tadi juga dia memanggilnya dengan sebutan itu, walaupun Bagas udah bilang berkali-kali kalau nama anaknya Hawa, Anton tetap memanggil dengan sesuka hatinya.


Hari semakin gelap. Saatnya mereka juga harus pulang, begitu juga dengan ibu dan Eva. Mereka tidak bisa menginap, karena melihat kondisi Eva yang masih hamil muda, ia akan gampang kelelahan. Bagas tidak keberatan, karena memang harusnya ia sendiri yang mengurus istrinya, lagian ini sudah anak kedua jadi tidak terlalu bingung dalam mengurus bayi.


"Gas sini sebentar mas mau ngomong." Memangil Bagas dan hanya bicara berdua. Ini pasti serius, sudah bisa di tebak dari nada bicaranya.


"Iya mas." Setelah mereka hanya berdua di belakang dekat dapur.


"Gas, jadi gini. Mas kan ada rezeki, jadi mas mau ngasih uang buat syukuran anak kamu nanti."


"Mas, sudah banyak sekali uang yang mas keluarkan." Bagas langsung memotong perkataan Anton. Ia mengeluh, pasalnya sudah tidak terhitung berapa banyak Anton membantunya.


"Kamu dengar dulu. Mas ikhlas gas, ini juga udah mas rundingkan sama kakakmu. Sudah, terima. Dan mas dengar setelah ini kalian akan membuka usaha ya? Mas dukung. Mobil mas yang di bawa Diana, kalian jual aja buat tambahan modal nantinya."


Bagas masih diam mendengarkan.


"Kamu jangan khawatirkan soal uang gas. Insyaallah keuangan kami selalu cukup, bahkan lebih. Untuk apa semua uang itu kalau tidak untuk membantu orang lain. Saat ini kami masih senang, masih banyak rezeki yang di limpahkan Allah. Kan nggak tau ke depannya. Kalau kami susah nantinya, setidaknya masih ada orang-orang yang ingat bantuan mas."


"Mas, aku rasa ucapan terima kasih saat ini tidak cukup untuk menebus semua yang udah mas kasih sama kami."


"Iya itu kamu tau, makasih memang tidak cukup. Jadi mas kasih kamu tugas."


"Apa mas?"


"Jaga anak dan istrimu. Jaga dengan baik, dan jangan pernah kamu sakiti hatinya lagi. Diana itu udah mas anggap seperti adik kandung mas sendiri. Jadi mas harap, kamu ngerti dan menjalankan tugas dari mas dengan baik."


"Aku mengerti mas. Aku tidak ingin berjanji lagi, tapi aku berusaha membuktikannya." Mantap dengan perkataannya sendiri.


"Ya udah, mas pamit ya."


Bagas kembali ke depan bersama Anton. Ternyata yang lain sudah lebih dulu pulang, hanya tinggal Mita yang duduk dengan Alif menunggu suaminya.


"Ayah, Alif ikut bude ya?" Bagas langsung menghela nafas, sudah bisa di tebak setiap Anton dan Mita datang pasti Alif akan merengek minta ikut.


"Gas, biar aja. Lagian nanti kamu repot, kamu kan ngurus Diana, nanti Alif malah nggak ada yang merhatikan." Alif sudah sembunyi di belakang Anton, takut kalau tidak di kasih ijin sama ayahnya.


"Tapi kak, nanti kakak lelah jaga Alif. Kakak juga hamil." Bagas takut anaknya malah menyusahkan.


"Kan ada mas gas. Mas nggak ada keluar kota kok Minggu ini." Ternyata memang rezeki Alif.


"Ya udah. Alif jangan bandel ya."


Bagas menggendong Alif untuk masuk ke dalam mobil Anton. Dengan lambaian tangan ia melepas anaknya untuk yang kesekian kalinya pergi ikut Anton.


Bagas sudah di dalam kamar, memangku putri kecilnya.


"Sayang apa ASI nya udah keluar?" Bertanya tapi tidak ada jawaban. Ternyata istrinya sudah tertidur, Bagas tersenyum dan memakluminya. Karena sedari subuh tadi Diana belum ada tidur, itu sudah peraturan untuk wanita yang selesai melahirkan. Tidak di perbolehkan tidur hingga beberapa jam setelah melahirkan. Bukan pesan dokter, tapi itu kepercayaan dari keluarga turun-temurun.


Dengan kesabaran Bagas membuatkan susu untuk anaknya, dan setelah di pastikan baby Hawa sudah tertidur, Bagas juga ikut tertidur. Tapi baru 1 jam terdengar anaknya menangis, untuk membangunkan istrinya tengah malam juga tidak tega, alhasil Bagas bergadang dengan baby Hawa.


Selamat ya buat Bagas.


***


Hei, kalian jangan lupa mampir dong ya "Dia Bimaku" Anak pengusaha kaya raya, yang memiliki sifat Amat pemalu, sehingga tidak memiliki teman. Itu semua karena peraturan ketat dari orang tuanya, yang penasaran langsung mampir ya.

__ADS_1


__ADS_2