Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 34


__ADS_3

Siang hari di kantor Property.


Risah sengaja mengajak ketemu Darma di gudang belakang kantor. Karena jika di luar pasti makin banyak yang curiga. Ia melangkah tanpa melihat ke sekeliling, langkahnya terkesan santai, tidak mengendap-endap. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan kepada karyawan yang lain.


"Mbak, ngapain disini?"


Tegur salah satu Office boy yang ingin mengambil sesuatu dari dalam gudang.


"Oh ini, Hem saya mau ngechek barang di suruh atasan mas. Mas ini ngagetin saya aja."


Ucapnya santai, tapi tetap saja keringat dingin di tangannya keluar.


"Oh kalau gitu saya permisi mbak Risah."


Tersenyum lalu pergi.


Ngechek barang? Bukankah itu tugas saya ya? Bukannya mbak Risah hanya di dalam kerjanya dengan laptop dan komputer, aneh. Batin seorang OB itu.


Beberapa menit kemudian, terdengar di telinga Risah ada suara derap kaki yang melangkah. Dari cara berjalan sudah bisa di tebak olehnya ini siapa. Sudah pasti Darma. Risah mengintip dari celah pintu gudang tempat menyimpan barang.


Akhirnya datang juga. Hufft, padahal aku sangat takut disini sendiri.


"Kenapa lama sekali pak?"


Tanyanya.


"Jangan terlalu formal, disini tidak ada orang. Cepat katakan ada apa, aku tidak bisa lama-lama, satu jam lagi akan meeting."


Risah memanyunkan bibirnya, rasanya berbicara dengan Darma dan Bagas sama saja, sama-sama menyebalkan, batinnya.


"Bagas mulai curiga, dia, dia mulai curiga dengan hubungan kita. Bahkan dia sempat bilang kalau ini adalah anakmu."


"Lalu?"


"Dia akan menuntut jika itu sampai terbukti, dia akan menuntut ku. Aku harus bagaimana?"


"Selama itu tidak membahayakan reputasiku, aku akan tenang."


"Kau egois!! Aku yang disini sangat di rugikan."


Bentaknya.


"Risah, dengar!! Sewaktu kita melakukan kamu udah aku bayar mahal, itu salahmu yang tidak antisipasi terlebih dahulu, dulu dengan Bagas saja kamu ingat untuk mencegah supaya tidak hamil, lalu ketika denganku kenapa kamu seolah melupakan? Bahkan, aku sudah memberi uang yang lebih besar nominalnya untuk biaya hidupmu dan anakku yang kamu kandung itu. Apa jangan-jangan kamu sengaja menjebak ku?"


"Apa maksud perkataan mu?" Risah melemah.


"Pikirkan lah, aku harus pergi untuk mempersiapkan meeting."


Darma melangkah pergi, lalu berhenti di ambang pintu.


"Aku akan membantu jika ia sampai menuntut, tapi jangan sampai terdengar keluargaku."


Ucapnya tanpa berbalik.


Risah menangis tanpa suara. Rasanya untuk menjalani hidup sudah tidak bersemangat lagi.


Kenapa nasibku menjadi seperti ini, apakah ini karma karena aku merebut suami orang.


Disisi lain, di sudut gudang. Seorang lelaki tersenyum puas. Ia diam-diam merekam pembicaraan Risah dengan Darma. Ini akan menjadi bukti yang kuat untuknya. Ia menunggu Risah meninggalkan gudang terlebih dahulu, barulah ia juga akan melangkah pergi.


Semoga ini awal bahagia ku akan datang lagi. Ucap lelaki itu dengan penuh semangat.


Flashback.


Bagas berjalan menuju ruangan atasannya, karena ada dokumen yang harus di tanda tangani.


Namun ruangan itu kosong, berkali Bagas mengetuk tidak ada jawaban. Saat berbalik badan Bagas menabrak seorang OB.


"Maaf saya enggak sengaja."


Ucap Bagas sopan.


"Enggak apa-apa mas. Cari pak Darma ya mas?"


"Iyalah mas, ini ruangannya jelas saya cari dia."


"Oh tadi saya melihat pak Darma berjalan ke belakang, arah gudang. Mungkin lagi cari barang, soalnya tadi saya bertemu mbak Risah, katanya sih lagi di suruh atasan buat ngechek barang. Kemungkinan mereka masih disana."

__ADS_1


Terangnya, membuat Bagas kaget mendengarnya.


Ngapain mereka mencari barang, bukankah itu tugas OB. Batinnya.


"Baiklah mas, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."


Bagas berjalan cepat menuju gudang belakang. Ia harus tau apa yang mereka lakukan disana. Tidak etis sekali pimpinan langsung mencari barang ke gudang, pikirnya.


Ia melihat pintu gudang sedikit terbuka, segera ia berjalan dengan hati-hati ke arah sudut, agar tidak terdengar oleh mereka.


Bagas mengeluarkan HP miliknya, lalu siap memencet layar untuk merekam. Tidak hanya dengan rekaman suara, tetapi juga Video. Agar ketika mereka keluar bisa terlihat jelas siapa yang berbicara di dalam tadi. Itu akan lebih menguatkan bukti untuk menuntut mereka.


Bagas tersenyum puas karena sudah berhasil merekam percakapan kedua pihak sekaligus, dan ia pun tinggal menunggu mereka pergi meninggalkan gudang.


Flashback end.


...***...


"Oke meeting kita mulai ya, kali ini Bagas yang akan memimpin presentasi."


Ucap Darma dengan tegas.


"Baik." Bagas berdiri dan memulai dengan senyuman.


Ia mempresentasikan dengan sangat jelas. Sehingga klien yang mendengarkan merasa sangat puas dan juga takjub. Meeting berakhir, dan klien pun berminat untuk mengontrak juga bekerjasama dengan perusahaan mereka.


Pujian dan pujian Bagas dengar hari ini dari mulut manis orang kantor. Bonusnya juga bertambah.


Hari ini aku akan pulang langsung kerumah mas Anton dan mengajak Alif jalan-jalan.


Tekadnya.


Saat berjalan ke arah loby kantor, Bagas menoleh karena ada yang berteriak memanggil namanya.


"Gas tunggu."


Ucap Darma dan berjalan cepat ke arahnya.


"Ada apa ya pak?"


Tanyanya heran.


"Duh pak, bukan saya enggak mau. Tapi saya ada urusan lain. Lebih penting pak, maaf."


"Oke ya udah kalau begitu. Yang penting saya udah ngajak kamu. Kelihatannya kamu sangat senang hari ini, bahkan saat presentasi pun kamu sangat bersemangat."


Saat Bagas akan menjawab, Risah nampak berjalan akan melewati mereka.


"Oh itu, iya saya senang pak. Karena peluang untuk kembali dengan istri saya sudah ada." Ucapnya sengaja dikeraskan agar Risah mendengar, sekaligus menyindir Darma.


"Oh gitu, selamat."


Maksud dia berkata seperti itu apa, apa Bagas tau kalau Risah dan aku. Ah tidak mungkin. Batin Darma.


"Mari pak, saya permisi duluan."


Ucapnya dan melirik ke arah Risah dengan senyum mengejek.


Darma menoleh dan Risah berhenti melangkah. Namun saat Risah akan menegur Darma buru-buru pergi, menghindar dari Risah tentunya.


Semua lelaki sama aja!!! Risah.


...***...


"Hallo mas, Assalamualaikum."


Bagas menelfon Anton untuk memberi kabar bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju ke rumahnya.


"(Ya gas, walaikumsalam)."


"Mas, aku udah jalan mau kerumah. Mau ajak Alif jalan-jalan, soalnya aku lagi ada rezeki mas."


"(Duh gas, maaf. Tapi Alif udah kami antar tadi pagi)."


"Oh ya udah mas, Assalamualaikum."


Tutt..

__ADS_1


Sambungan di matikan.


Bagas sangat kecewa, kenapa tidak memberi kabar kalau Alif sudah di pulangkan ke ibunya.


Ternyata bahagianya hari ini tidak berlangsung lama.


Ah, andai saja mas Anton ngasih tau aku dimana Diana sekarang. Apa kabarmu sayang, apakah kau baik? Apakah kau tidak merindukan ku? Apakah kau sudah makan sekarang? Diana aku rindu, aku rindu semua perlakuan mu. Aku rindu semua yang ada sama kamu. Kenapa kesalahan yang singkat bisa membuat keluarga kita berantakan! Akankah kita kembali seperti dulu? Diana aku benar-benar rapuh tanpamu.


Bagas menyetir sambil sesekali menghapus air mata yang berhasil lolos begitu saja. Ia tidak kembali ke rumah, ia pergi ke taman yang masih dekat dengan rumahnya.


Bagas membeli icecream. Ia membeli tiga sekaligus. Berkhayal akan datang istri dan anaknya secara tiba-tiba. Bagas duduk di kursi taman, dan meletakkan kedua icecream itu di sebelahnya. Dan yang satunya ia makan.


"Ini untuk Alif dan bunda ya."


Bagas sudah seperti orang gila. Bahkan ia pun tak memperdulikan tatapan dari orang-orang di sekitar taman.


Mungkin juga ada yang mengira kalau istri dan anaknya sudah meninggal, jadi ia seperti halu. Ada juga yang berpikir ia indigo bisa melihat yang tak kasat mata. Ada juga yang terus terang bilang kalau dia gila. Tentu itu semua tidak di dengar oleh Bagas, karena orang-orang di sekitar hanya menggunjing di belakang saja.


Bagas kembali ke rumah tengah malam. Entahlah apa yang ia lakukan berjam-jam di taman tadi. Mungkin hanya merenungi nasibnya yang sekarang.


Bagas berbaring menatap langit-langit kamar. Kembali berkhayal tentang indahnya tawa mereka dulu.


"Aku besok harus kasih tau mas Anton kalau aku Uda punya bukti, bahwa itu bukan anakku, melainkan anak Darma."


...***...


Pagi hari Bagas bersiap untuk pergi bekerja. Semenjak di tinggal oleh istrinya, Bagas sering melupakan sarapan. Bahkan kalau malam pulang, mandi langsung tidur, tidak lagi makan. Benar-benar sudah tidak terurus.


Ia berangkat ke kantor seperti biasa, masuk kantor tidak lagi dengan senyum yang merekah seperti semalam. Wajahnya kusut, bahkan teman kantornya enggan untuk menyapa karena melihat wajahnya yang dingin.


"Gas, di panggil ke ruangan pak Darma."


Ucap salah satu resepsionis.


"Ada apa?"


"Datang saja, tadi dia menelfon."


Bagas mengangguk dan berjalan dengan beribu pertanyaan. Rasanya sudah malas berhadapan dengan pendusta itu.


Tok..tok.. Suara pintu yang Bagas ketuk.


"Masuk." Suara berwibawa yang terdengar dari dalam ruangan.


"Bagas, silahkan duduk dulu."


"Baik pak."


"Begini, karena kamu yang berhasil memenangkan tender kemarin, jadi kamu di tugaskan keluar kota hari ini. Mereka minta kamu langsung yang ngerjain, karena mereka tertarik sama kinerja kamu. Jadi kamu bisa berangkat sekarang, kamu boleh pulang untuk packing barang-barang kamu dulu. Setelah itu tunggu supir menjemput."


"Sekarang ini pak?"


Darma mengangguk dan tersenyum.


"Apa tidak bisa besok pagi pak? Sepertinya ini terlalu mendadak. Bukankah kalau sekarang berangkatnya, saya akan sampai disana sudah malam. Kan lebih baik besok pagi pak."


"Iya justru itu, kalau kamu sampai disana malam hari, maka kamu bisa langsung istirahat. Tapi kalau kamu berangkat besok pagi, sama saja kamu juga enggak sempat kejar waktu untuk langsung kerja, bukankah sampai disana juga sore hari? Malah memakan waktu kan?"


Bagas hanya terdiam, pasalnya malam ini ia berencana untuk memberi tau Anton mengenai hal yang ia akan jadikan bukti.


"Kira-kira berapa lama saya disana pak?"


"Sampai proyek itu selesai."


"Ha? Bukankah itu memakan waktu berbulan-bulan ya pak?"


"Iya memang. Tapi kalau kamu lebih giat bisa lebih cepat kamu pulang. Lumayan lah gas bonusnya. Lagian kamu juga ada masalah rumah tangga kan? Ya udah anggap aja kamu kali ini liburan, Refreshing lah."


Bagas tertunduk.


"Baik lah pak, saya akan pulang dulu ke rumah. Saya permisi."


Bagaimana aku akan menyelesaikan masalah ku kalau aku saja harus keluar kota lagi. Kenapa jadi aku yang si*l seperti ini, seperti sudah di rencanakan olehnya. Tapi dia juga tidak tau kan kalau aku sudah ada buktinya.


Bagas hanya membatin seraya berjalan keluar.


Di dalam ruangan Darma tersenyum licik karena sudah berhasil menggagalkan rencananya.

__ADS_1


Hahaha aku tau, kalau kamu itu pasti sudah menyelidiki tentang aku dan Risah. Dengan begini kan Risah sedikit aman. Aku menang kali ini, hahahaha.


bersambung..


__ADS_2