Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 59


__ADS_3

Bagas kembali menghadap di hadapan direktur utama, untuk kembali memberi jawaban atas tawaran bekerja kemarin. Tentu sekaligus meminta maaf atas kelakuan istrinya.


"Maaf pak, saya datang kesini untuk memberi jawaban atas tawaran bapak kemarin." Berbicara dengan sopan.


"Iya, silahkan. Bagaimana keputusan kamu tetap akan saya terima, tapi jika kamu berminat saya akan lebih senang." Seperti biasanya, ia selalu memegang dagu dan mengelus jenggotnya yang masih tumbuh sedikit.


"Saya akan terima pak, bahkan saya bersyukur sekali saat ini masih diberi kesempatan setelah melakukan kesalahan di dalam kantor, dengan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan saya."


"Baik. Saya melakukan ini juga atas permintaan rekan kerja kamu, karena mereka memang mengakui kalau kinerja kamu bagus."


"Terima kasih pak, sebelumnya saya meminta maaf."


"Atas dasar apa?" Masih saja mengelus dagunya.


"Atas kelakuan istri saya kemarin, yang memarahi bapak waktu di lampu merah."


Direktur tampak mengingat sesuatu.


"Jadi itu istri kamu?" Kaget.


Jadi bapak enggak tau? Ya ampun, jadi nyesel saya pak.


"Iya pak. mood nya gampang berubah semenjak ia hamil, maaf ya pak sekali lagi."


"No problem. Tapi istri kamu baik juga, mau sedekah sama anak jalanan."


Tersenyum melihat istrinya di puji.


"Kalau begitu saya permisi pak."


"Iya silahkan. Kamu bisa mulai bekerja kembali besok ya. Masih di posisi kamu dan meja kamu. Bekerja lah dengan baik, karena akan ada pengangkatan untuk karyawan menggantikan posisi Darma, dan itu akan di lihat dari kinerja seluruh karyawan."


"Baik pak, terima kasih."


Pergi melangkah meninggalkan ruangan.


Saat sampai di parkiran Diana membuka kaca jendela mobilnya, siap menyambut suaminya untuk segera masuk. Wah ternyata ikut loh dia, antisipasi kalau suaminya di tegur dia siap membantu dengan cara memohon sama direktur.


"Gimana yah? Di marahin enggak sama direktur?" Bertanya dengan panik.


"Enggak lah sayang. Ayah di terima, hehe."


"Wah, Alhamdulillah. Semoga tidak ada lagi Risah yang lain di kantor ini." Kembali dengan senyum khasnya dan menatap ke depan.


Andai dan beribu andai sayang. Batin Bagas.


"Kali ini, jika ayah melakukan kesalahan itu lagi, oke ana bakal potong punya ayah, sampai habis."


Melipat kedua tangannya di dada. Spontan Bagas memegang barang berharga miliknya.


"Serius ana yah. Enggak perlu takut kalau memang akan berubah."


"Iya sayang."


"Eh, ana hampir lupa, tadi ibu nelfon katanya disuru kesana sekarang. Ibu kaget juga sih waktu nelfon ayah yang angkat ana, kan kita belum ngasih kabar ke mereka kalau ana udah balik kerumah."


Bagas langsung menepuk keningnya.


"Ya ampun, ayah bahkan melupakan ibu, karena sangking sibuknya mengurus hal lain. Sayang, kita kesana sekarang ya. Lagian waktu itu ada titipan buat ibu dari mak Ros."


"Mak Ros? Nitip apa? Kok ana enggak tau?"


"Udah nanti biar ibu yang liat sendiri. Soalnya ayah juga enggak boleh buka."


Mengangguk setuju.


"Kita mau kemana bunda?" Tanya Alif yang sedari tadi memainkan HP milik bundanya.


"Ke rumah nenek sayang."


"Kita pulang kerumah dulu ya, mau ambil surat yang dititipkan mas Ros waktu itu. Soalnya kan enggak ayah bawa."


Saat sampai dirumahnya. Hanya Bagas yang turun untuk mengambil surat tersebut, Diana dan Alif hanya menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, satu jam lebih baru sampai di rumah sang ibu. Sungguh, rasa bersalah saat ini melingkupi pikiran mereka, terutama Bagas. Ia merasa telah melupakan ibunya, bahkan tidak lagi datang untuk melihat ketika sudah pulang dari rumah sakit. Tetapi, ketika ada masalah Bagas selalu datang, bukankah itu sungguh tidak sopan, sudah senang langsung lupa.


Benar juga yang di katakan ibunya waktu itu, datang lah kesini, karena yang di harapkan ibu hanya ke datangan sang anak. Tidak perlu membawa apapun, hanya kehadirannya yang ditunggu.


Saat sampai di halaman rumah ibunya, sudah ada dua mobil terparkir, yang satu Bagas tentu mengenalinya, itu mobil mas nya, tapi yang satu. Dari pada berpikir mending langsung masuk, batinnya.


"Rame ya yah dirumahnya ibu. Ada apa?"


"Entah lah, ya udah kita langsung masuk aja sayang, sepertinya memang mereka sudah menunggu kita."


Mereka mengucapkan salam saat akan masuk ke dalam rumah ibunya. Tapi pandangannya langsung tertuju pada beberapa orang yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Semua berkumpul, tapi ada Mak Ros dan Rama! Ada apa? Diana jadi enggan untuk bergabung, ia takut kalau Rama masih saja mengganggunya.


"Kalian sudah datang? Duduklah." Tanpa basa-basi ibu langsung menyuruh mereka untuk duduk.


"Mak." Menyapa dengan senyuman dan melirik Rama yang duduk dengan tertunduk. "Bu, ada apa?" Berbisik di telinga ibunya.


Bagas melihat wajah mas nya saat ini sudah memerah, pasti ia menahan emosinya saat ini, pikirnya.


Ibunya hanya diam tak menjawab, semua wajah mereka yang ada di ruangan ini tampak menegang.


"Eva ajak Alif jalan-jalan keluar rumah." Titah ibunya, karena takut ada pertengkaran hebat, yang tidak pantas untuk di lihat dan di dengar Alif.


"Alif, ayo ikut enty jalan-jalan. Kita liat kolam ikan di sana." Menunjuk ke arah luar yang ada di rumah tetangganya.


Alif langsung mengangguk, tentu anak sekecil ini akan senang di ajak melihat kolam ikan.


"Kalian semua sudah berkumpul. Sebelumnya, saya mohon jangan ada yang menggunakan emosi dan kekerasan. Kita bicara dengan kepala dingin." Menarik nafasnya siap menjelaskan, mak Ros lah yang akan mengungkap kejadian puluhan tahun lalu. "Gas, apa surat itu sudah di kasih ke ibumu?"


Bagas menggeleng. "Lalu mana surat itu?" Tanya lagi.


"Ini aku bawa kok Mak." Mengeluarkan dari kantung celananya. "Kemarin masih sibuk dengan urusan hukum, baru sempat sekarang."


"Itu pun karena ibu yang nelfon." Ibunya menjawab.


Bagas langsung menyerahkan surat itu kepada ibunya.


Saat ini, Andre dan Bagas duduk di sebelah ibunya, dan Rama duduk bersama dengan mak Ros. Sementara Diana duduk sendiri di sofa yang hanya cukup dengan satu orang.


Perlahan ibu Ramini membuka dengan tangan bergetar. Ada aliran darah yang saat ini berdesir di nadinya, terasa begitu cepat mengalir. Mungkin ada rasa takut menerima kenyataan.


"Baik, kalau kamu belum siap baca nanti juga enggak apa-apa mini. Sekarang yang terpenting kita akan membicarakan hal yang memang anak-anakmu sudah tau."


Kembali mengurungkan niatnya untuk membuka.


"Bagas, Andre. Kalian tau kan, dulu ayah kalian membuat kesalahan. Dan tentunya, semua itu berkaitan dengan Rama." Berhenti bicara melihat reaksi anak dari sahabatnya ini. "Benar memang Rama adalah anak dari ayah kalian, yang berarti Rama adalah saudara kalian, satu ayah tapi berbeda ibu. Jika kalian membencinya saat ini, kalian salah. Tentu Rama juga tidak ingin terlahir dengan keadaan seperti ini. Anak tidak bersalah, orang tua lah yang melakukan kesalahan. Waktu itu, ayah Rama yang masih berstatus suami sah dari ibunya, ia sudah mengalami kelumpuhan, dan setelah ibunya Rama di nyatakan hamil satu bulan, semua orang tampak tidak percaya. Karena tidak mungkin ketika orang yang sakit, dan bahkan lumpuh masih mampu melakukan hal selayaknya suami istri. Dan yang lebih menaruh kecurigaan adalah, ayah Rama suami sah dari ibunya itu memang dinyatakan mandul dan tidak bisa memiliki anak. Pasti kalian mengerti kan maksud Mak." Bagas dan Andre mengangguk.


"Jadi, beredar gosip miring bahwa Rama adalah anak dari ayah kalian, tetapi tidak banyak yang tau, hanya beberapa dan rata-rata semua yang tau kini sudah meninggal. Ibunya Rama juga sempat jujur ketika ayahnya telah sampai sakaratul mautnya, ia sudah mengatakan bahwa Rama memang anak dari hasil perselingkuhan nya. Ibunya Rama juga cerita ke Mak, iya berkata dengan jujur dan mengakui kesalahannya, dan dia juga menuliskan surat yang ia titipkan sebelum ia meninggal. Mak memang enggak pernah buka apa lagi membacanya, karena Mak merasa tak ada hak. Tapi, waktu itu kalian sudah lama pindah, dan Mak juga enggak tau alamat pastinya dimana, dan seminggu yang lalu Rama datang dengan menceritakan ke galauanya yang selalu di sebut anak si*l oleh kalian. Jadi, Mak berpikir mungkin ini udah saatnya dia juga harus tau."


Rama tertunduk, ia sudah menangis terisak. Sungguh, ia tak pernah berpikir tentang kenyataan yang sebenarnya.


"Jadi, bagaimana tanggapan kalian Andre, Bagas? Apa kalian masih membenci Rama?"


Bagas melirik mas nya yang tak bergeming, ia juga bingung harus jawab apa. Bagas tau kalau masnya itu keras, pasti akan tetap menyangkal. Dan selalu menganggap Rama salah, salah harus terlahir ke dunia ini.


"Aku, aku bingung Mak. Jujur, setiap melihat Rama memang selalu ada kebencian." Akhirnya Bagas yang lebih dulu membuka suara.


"Kamu Andre?"


Mak Ros mengalihkan pandangannya ke arah Andre.


"Aku, jika ibu sudah bisa menerima, mungkin aku juga. Karena ibu adalah korban sesungguhnya, dan aku juga menyadari kalau saat ini aku tidak sepenuhnya baik, bahkan aku juga berbuat seperti ayahku, mungkin dengan berjalannya waktu, aku bisa nerima Rama sebagai saudara kandungku, satu darah dengan ayahku." Wah, ternyata pikiran Bagas salah, bahkan lebih bijak jawaban Andre dari pada dirinya.


Sontak Rama mendongakkan wajahnya, menatap Andre. Ingin sekali aku memeluknya, batin Rama.


"Mak berharap kalian mau terima dia, sulit memang. Tapi turunkan lah sedikit ego yang ada di diri kalian." Ibu Ramini tak bisa lagi menahan sesak di dadanya, kejadian puluhan tahun lalu Kembali menyeruak di pikirannya. Rama melihat ibu Ramini menangis langsung merasakan kesalahan mendalam yang di perbuat oleh ibunya.


Rama berdiri dan melangkah ke arah ibu Ramini, ia langsung bersujud dan mencium kaki ibu tirinya. Menangis dan meminta maaf.


"Bu, maafkan kelakuan ibuku. Maaf kan bu, ijinkan aku memanggilmu ibu, karena aku juga enggak punya siapa-siapa lagi. Maafkan semua kesalahan ibuku, agar dia juga merasa tenang disana. Maaf mu mampu membuka pintu surga untuknya." Menangis terisak.


"Bangun lah nak, jangan begini." Rama mendongakkan wajahnya saat ibu Ramini memanggilnya dengan sebutan 'nak'. Ada rasa nyaman ketika di panggil dengan sebutan itu.


Rama bangkit dan memegang tangan ibu Ramini, lalu mendekapnya dengan erat.

__ADS_1


"Aku mohon bu, maafkan lah ibuku." Menangis lagi. "Ijinkan aku memanggilmu ibu."


"Sudah, sudah. Kejadian itu sudah terlalu lama, ibu sudah ikhlas, ikhlas lahir batin, dan ibu memaafkan kesalahan ibumu." Menarik nafas mencoba ikhlas dengan semua perkataan yang ia ucapkan.


"Kamu boleh memanggilku ibu. Dan maafkan kesalahan suamiku, karenanya kamu lah yang menanggung semuanya sekarang." Mengelus punggung Rama.


"Terima kasih banyak bu."


Kini ia beralih menatap Andre yang sengaja tidak ingin melihat kejadian di depan matanya.


"Bang." Panggilnya dengan suara yang parau. Saat Andre menoleh, ternyata air matanya sudah menganak di ujung mata, siap untuk jatuh. Ia sengaja membuang pandangannya agar tak terlihat oleh orang lain.


"Maaf kan ibuku." Lirih mengucapkan. Tanpa menunggu persetujuan Andre, Rama langsung memeluknya dengan erat, awalnya Andre tidak membalas pelukannya, namun saat ibunya menatapnya dan mengangguk, barulah ia mengerti maksudnya.


Ya Allah, akan kah suatu saat terjadi pada keluarga ku yang sedang dalam kehancuran. Batin Andre.


"Sudah, kami akan mencoba menerima mu." Berkata dengan suara bergetar, dan menghapus setitik air mata yang lolos dari matanya.


Rama kembali duduk di tempat semula.


"Ros terima kasih, karena mu mereka mampu menerima Rama, dan tidak ada lagi dendam di antara kami sekeluarga."


"Sudah lah, mungkin memang Allah memberi jalan untukku, memberi tau kalian, agar semuanya kelar dan tidak ada lagi praduga yang terjadi." Tersenyum hangat. "Aku bahkan tidak tau kalau Diana adalah menantu mu mini."


Diana yang mendengar namanya di sebut langsung mendongak, sedari tadi ia hanya menundukkan wajahnya, hanya takut terbawa suasana di dalam ruangan ini, jadi sebagai menantu yang baik ia pun juga menjadi pendengar yang baik.


"Iya, keluarganya juga sempat terguncang. Hem, entahlah Ros anakku malah mengikuti jejak ayahnya." Mengeluh, rasanya saat ini sudah banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya yang datang dari desa.


"Bu, sudahlah, semua sudah selesai. Risah juga sudah di penjara." Bagas melarang ibunya membahas masalah itu lagi.


Risah? Nama yang sama pada wanita itu, Batin Rama.


"Iya mini, yang penting masalah di keluarga mu sudah selesai, anak-anakmu juga sudah menerima, ya walau aku tau mau bagaimana pun ini berat, dan nyatanya takdir memang seperti ini. Mereka satu darah."


"Iya Ros. Udah sekarang kita makan ya? Untung aku masak agak banyak, karena memang akan mengundang Bagas kesini."


Tidak ada yang protes, karena memang ini sudah jam makan siang. Waktunya perut minta di isi.


"Rindu juga sama masakan kamu mini." Tertawa kecil mengingat kejadian lampau, dulu selalu bertukar sayur jika tidak ***** makan.


Semua telah mengisi piring dengan nasi dan lauk, hanya Diana yang nampak celingukan seperti sedang mencari sesuatu.


"Kamu cari apa sayang?" Berbicara pelan agar tidak mengganggu mereka yang akan makan.


"Enggak ada ikan asin?" Nyengir bagai kuda.


"Untuk apa?" Bagas berbisik. Ia tau istrinya sudah mulai lagi.


"Kenapa na?" Tegur mertua yang melihat menantunya tampak bingung melihat lauk yang sudah dihidangkan.


"Enggak bu, apa ibu punya ikan asin?" Bagas mulai panik. "Ana pengen makan ikan asin bakar sama cabe rawit bu, kayaknya enak makan dengan nasi hangat."


"Ada di kulkas kok." Nah, Bagas yang mulai resah sekarang.


"Yah." Menatap suaminya dengan memelas.


Tau sayang tau kok, pasti ayah kan yang suru bakar dan mengambilkan, tau iya.


"Sebentar, kamu disini aja." Tanpa ana berbicara lagi Bagas tau.


Diana tersenyum malu saat semua orang kini menatapnya.


"Sudah, wajar lah dia ngidam, ayo kita makan aja duluan." Ucap sang mertua yang tau kini semua orang menatap menantunya.


Bagas kembali setelah membawa ikan asin yang di bakar, dan membawakan beberapa rawit, semua sesuai keinginan istrinya.


Mereka makan dengan hikmat, hanya Diana yang menyantap makanannya dengan menggunakan tangan, rasanya sangat enak, batinnya.


Bahkan sangking nikmatnya, mereka melupakan Alif dan juga Eva. Yang belum kembali dari luar, apa mungkin mereka mandi di kolam ikan, mungkin juga ya.


Bersambung..


Hei,hei. Terus pantau dan baca ya, nanti bakal ada giveaway. Berupa pertanyaan, yang membaca dengan seirus, pasti tau kok jawabannya. Terima kasih, jangan lupa vote nya yaah juga like, hehe.

__ADS_1


__ADS_2