Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 58


__ADS_3

"Apa yang kamu rasakan? Kamu baik kan selama disini?" Bertanya dengan lembut.


"Maaf ya, harusnya aku terima perjodohan kita waktu itu, jadi nasib kamu enggak akan begini." Masih memandang dengan tatapan sendu.


"Ini, aku bawakan buah. Kamu makan ya, tapi makan disini aja. Kalau kamu bawa ke dalam pasti nanti kamu enggak akan kebagian." Menyerahkan beberapa buah apel.


"Maksud kamu baik sama aku apa?" Bicara tanpa menatap.


"Maaf. Apa aku salah mencoba berdamai, aku juga sadar waktu itu aku hanya manfaatin kamu aja, sekali lagi maaf."


Rendy memang berjanji akan selalu datang untuk menjenguk Risah selama di sel tahanan. Tapi, saat ini ia juga belum mempunyai perasaan yang lebih, hanya sebatas toleransi, karena ia tau Risah sangat butuh suport dari orang lain. Agar ia tak merasa terpuruk.


"Sah, dengar. Kita sama kok, kita sama-sama bre**sek. Hanya aja, kita harus tau, enggak selamanya kita akan seperti itu. Kamu boleh ceritakan semua keluh kesah kamu sama aku, anggap aja saat ini hanya aku teman yang kamu punya." Memegang dan mengelus lembut tangan Risah. Tetapi dengan cepat Risah menariknya.


"Kalau kamu lagi ke pengen makan sesuatu juga jangan sungkan untuk ngomong sewaktu aku jenguk kamu, jadi aku bakal bawain kesini kalau ada waktu senggang."


"Aku udah hancur ren."


Air matanya menetes.


"Aku pengen pulang, aku enggak mau disini." Sesegukan ia menangis, dan menunduk. "Aku mau sama ibu."


"Iya udah, aku ngerti kok posisi kamu saat ini. Udah jangan nangis, malu tau sah sama yang lain."


Melihat sekeliling.


Ya beginilah keadaan atau suasana di area kantin sel tahanan, hanya ada beberapa kursi saja. Dan Rendy beruntung bisa dapat duduk di antara salah satunya. Tak banyak, hanya tersedia beberapa. Yang lain pada duduk di bawah, gelar tikar seadanya. Wajah-wajah para napi begitu sangat gembira ketika sanak keluarga datang untuk membesuk mereka. Ada yang nangis sambil memeluk anaknya, ada yang bersama suaminya.


"Kamu liat, mereka juga ingin pulang. Tapi, semuanya udah jadi tanggung jawab kamu saat ini. Aku enggak bisa kasih masukan terlalu banyak, karena aku juga manusia hina."


"Boleh kah aku bertanya?"


"Silahkan."


"Kamu bilang, kamu tau keberadaan ayah ku saat ini, dimana dia?"


"Dia ada di suatu daerah. Kenapa?"


"Bisakah kamu memberi tau dia kalau aku ada disini sekarang? Bisa kah kamu bilang ke dia, masa kecilku tidak indah seperti anak lainnya, sehingga aku tumbuh menjadi liar? bisa kah?" Dengan suara bergetar menahan air matanya agar tidak tumpah kembali.


"Tolong sampaikan kepadanya, kalau aku membencinya, dan kalau aku bertemu dengannya, aku juga pasti sudah lupa bagaimana bentuk dan wajahnya sekarang. Tolong, tolong sampaikan, aku dan ibuku menderita karenanya. Aku bahkan nyaris tak mengenali diriku sendiri setelah kepergiannya. Tolong, tolong sampaikan aku membencinya di setiap waktu."


"Dia ayahmu."


"Aku tau, tapi kenapa dia ninggalin aku, adikku, dan juga ibu?"


"Lalu kenapa kamu juga melakukan hal yang sama seperti ayahmu? Berusaha membuat lelaki yang berstatus suami ingin pergi meninggalkan istrinya?"


"Ren!!"


"Sah, semua manusia punya kesalahan, aku, kamu, dan ayah kamu juga punya kesalahan. Jangan menambah pikiran kamu sendiri dengan membenci orang lain."


Perdebatan di antara mereka terjadi. Sebenarnya ibunya Risah juga yakin, jika ayahnya tidak pergi, tidak mungkin Risah akan menjadi seperti ini. Betapa dekatnya dulu ia dengan ayahnya, dan tiba-tiba harus kehilangan, sampai detik ini pun ia tak pernah lagi bertemu ayahnya, dan juga keluarga dari pihak ayahnya. Semua itu Risah lakukan, karena kebenciannya yang amat mendalam. Jadi, ia berpikir bahwa kehidupan tidak pernah adil kalau tidak mencari keadilan sendiri, sehingga ia tak memperdulikan kebahagiaan orang lain yang ia renggut, jelas itu salah. Dan kini, ia sendiri pun harus menanggung semuanya.


"Maaf sah. Jika kamu keras begini rasanya terlalu sulit untuk aku datang kembali membesuk. Aku pulang dulu ya, jaga kesehatan kamu disini."


"Ren, tunggu." Menahan tangan Rendy. "Maaf, aku yang salah. maaf."


"Perbaiki semuanya di mulai dari pikiran kamu, agar tidak menjadi beban hidupmu seterusnya."


Berjalan pergi tanpa menoleh lagi.


Risah juga tak mampu untuk menahannya lagi. Keadaan sangat ramai, jika ia membuat keributan akan diberi peringatan.


Ia kembali ke tempat di mana ia akan menjalani hari-harinya selama 3 tahun ke depan. Disini, di ruang sempit, yang berisi 20 orang dan hanya dengan luas kamar 3x3 meter saja.


Risah duduk di sudut dan menangis, kembali teringat masa lalunya yang kelam. Yang selalu membuatnya menanamkan kebencian.


Flashback 18 tahun lalu.


"Risah akan aku bawa!"

__ADS_1


"Jangan, jangan pernah kamu bawa anak-anak, biarkan mereka semua ikut aku."


"Bu, aku mau ikut ayah!" Menangis histeris, melihat pertengkaran orang tuanya yang terjadi di setiap harinya.


Risah kecil terus saja menangis.


"Ayo nak, kamu ikut ayah?" Mengulurkan tangannya.


"Enggak, jangan Risah!!" Menarik Risah menjauh dari jangkauan suaminya.


"Biarkan Bian yang ikut kamu, Risah ikut aku." Masih mempertahankan Risah untuk ikut dengannya.


"Cukup mas, aku sudah memohon agar kamu tidak pergi, sekarang pergilah. Tapi biarkan mereka ikut aku, dan jangan pernah datang lagi untuk hal apapun, dan alasan apapun. Sekarang kamu pergi!!"


"Baik, jika itu kemauan kamu. Aku berjanji sampai kapanpun aku tidak akan muncul di hadapan kamu." Melangkah pergi meninggalkan Risah kecil yang menangis memanggil ayahnya. Saat itu, adiknya masih usia beberapa bulan.


"Ibu, lepas, Risah mau ikut ayah." Ibunya terus saja memeluknya.


"Ibu, lepas!! Aku benci ibu." Ibunya hanya bisa menangis.


Setelah suaminya benar-benar sudah pergi baru lah ia melonggarkan pelukannya. Risah langsung pergi dan berlari, tapi terlambat, ayahnya sudah tidak ada lagi dirumahnya. Sudah pergi membawa semua kenangan indahnya.


Hari-hari Risah jalani semakin buruk tidak ada ayahnya di sampingnya. Ia juga tidak mau di ajak berbicara oleh ibunya, karena baginya ibunya lah yang menjadi penghalang saat Risah akan ikut dengan ayahnya.


Dan ketika ia juga sudah berstatus siswi sekolah dasar, Risah menghajar teman sekelasnya hanya karena di hina tidak punya ayah, sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya, karena takut.


Risah tidak pernah sekalipun mendengarkan perkataan ibunya, nasehat atau apapun. Bahkan, ia juga menjadi benci pada ayahnya, karena tidak pernah lagi datang untuk menjemputnya.


"Sah." Tegur ibunya waktu itu yang menerima kabar jika ayahnya sudah menikah dengan orang lain dan memiliki anak.


"Apa lagi?" Tanpa menoleh.


"Ayah mu sudah bahagia, jadi kamu, adikmu, juga ibu, kita harus bahagia."


"Jangan pedulikan hidupku. Urus saja semuanya sesuai kemauan ibu." Melangkah pergi meninggalkan ibunya.


Saat ayahnya pergi, ibunya juga memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya, yaitu nenek Risah. Di sana lah mereka hidup, tumbuh, dan menghilangkan beban di masa lalu. Risah kecil sangat berat meninggal kan rumahnya, karena ia tau pasti tidak akan lagi bisa bertemu ayahnya jika ia sudah pindah. Tetapi, jika ia bertahan, apa mungkin anak seusianya mampu hidup sendiri. Itu yang ia pikirkan dulu.


Risah tumbuh menjadi anak yang liar, ia bahkan jarang pulang kerumah setelah ikut bersama temannya ke club. Ia hanya ingat orang yang pertama mengajak nya tidur, yaitu Rama mantan pacarnya, pacar pertamanya.


Risah berpikir bahwa kehidupannya memang sudah begini, terlanjur. Jadi ia berpikir akan menggunakan kecantikannya untuk mendapatkan yang ia inginkan, termasuk Bagas. Wajahnya yang juga hampir mirip dengan mantan pacar pertamanya itu.


Semua ia lakukan hanya untuk kesenangannya sendiri. Dibutakan oleh kebencian. Dan sekarang, semua yang ia tanamkan bahkan memporak porandakan kehidupannya.


Flashback end.


Risah menjerit histeris, setelah mengingat semua masa lalunya. Jelas itu menggangu penghuni yang lain, yang berada satu kamar dengannya.


"Aku benci, aku benci kalian semua!!" Berteriak sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Aku benci!!" Berteriak lagi.


Salah satu napi datang dan menamparnya.


"Hei!! Dasar gila! Kamu bisa diam tidak!!"


"Pergi!!" Teriaknya lagi.


Salah satu sipir datang untuk melihat, karena jeritannya mampu terdengar hingga ke pintu masuk.


"Ada apa ini? Neni kamu apakan dia?" Bertanya pada salah satu penguasa kamar.


"Saya diam aja disini, memang dasar dianya aja gila, tiba-tiba teriak, kadang juga nangis. Lagian, ngapain sih dia disini, harusnya dia tuh masuk rumah sakit jiwa." Sambil menggigit kuku jarinya.


"Aku benci!!!" Risah masih saja terus berteriak, menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Siram dia pakai air." Ucap sipir lalu pergi meninggalkan kamar tahanan.


Salah satu di antara mereka langsung bergegas ke kamar mandi mengambil air satu ember. Bersiap untuk menyiram Risah.


"Udah siram." Salah satu mengompori.

__ADS_1


byur..


Risah langsung gelagapan menerima guyuran air.


"Apa-apaan kalian!" Teriaknya.


"Wah, melawan! Udah bikin ribut nyolot lagi."


"Hajar!!"


"Hantam!!"


"Hempaskan!!"


"Kasih pelajaran dia, biar enggak terlalu bodoh."


Risah diseret dari tempatnya, dan mendapat cacian juga hinaan dari para napi lainnya.


"Ampun." Ucapnya lirih.


"Udah cukup, biarkan dia." Ucap Neni sang kepala kamar. Kemudian ia mendekat ke Risah.


"Diamlah, jangan buat keributan disini jika ingin aman dan selamat." Terdengar lembut, sepertinya hati nuraninya bangkit. Melihat Risah seperti melihat anaknya sendiri. Itu yang ia pikirkan saat ini.


"Sudah, bubar!" Mereka langsung kembali ke posisinya, ada yang tidur kakinya ke atas dinding, ada yang merokok, ada juga yang menatap Risah dengan tajam.


Risah kembali termenung, baju yang ia kenakan awalnya basah, kini sampai kering di badan. Semua sudah tidak lagi ia pedulikan, hanya satu, jika ia mati maka ia akan terima.


"Bu, maafkan aku, aku rindu ibu." Ucapnya lirih dengan bibir yang pucat.


Risah menutup matanya, keadaannya saat ini sungguh memprihatinkan, apa lagi ia baru saja keguguran, seharusnya saat ini ia menjalani masa pemulihan yang totalitas. Tetapi keadaan memaksanya harus kuat.


...***...


prak..


Suara piring jatuh yang kedua kalinya.


"Kenapa Mpok?"


"Perasaan Mpok sungguh tidak enak."


Melamun, dan tentu mengingat Risah saat ini.


"Ya udah Mpok, di lihat aja lah anaknya. Udah dua kali loh Mpok jatuhkan piring."


Suasana warung ramai saat ini, bagaimana kalau di tinggal, pikirnya.


"Besok aja lah, lagian ini udah sore, jam besuk ke sel tahanan juga di batasi." Menunduk menahan air mata yang hampir tumpah.


"Ya sudah, besok tutup aja warungnya Mpok." Salah satu pembeli mengingatkan.


Terlihat sangat jelas raut wajah tua sang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Lelahnya sudah ia tidak buat rasa, hanya memikirkan Risah saat ini. Kerasnya hidup di bui sudah banyak terdengar di telinga ibunya, sehingga rasa takut selalu melingkupinya.


Setiap ibu, pasti akan sama. Sebesar apapun salah anaknya, pasti tetap akan memaafkan, pasti akan tetap selalu merasa khawatir. Meskipun Risah tak pernah menganggap ku selama ini, tapi aku yakin, Risah anakku pasti menyayangiku sebagai seorang ibu. Aku yakin itu, dan bukan hanya aku yang akan selalu memaafkan kesalahan anakku, tapi juga dengan ibu lainnya yang ada di dunia ini. Aku berharap, dan sangat berharap, setelah ini Risah akan berubah.


Ibu melihat keadaan warung sudah sepi pembeli. Dan dagangannya sudah habis juga. Segera ia menutup warungnya. Sunyi sepi kembali ia rasakan saat ini, andai Bian adiknya Risah ada disini, pasti tidak akan terlalu sepi, pikirnya.


Dan tentang masalah yang menimpa Risah saat ini juga tentu adiknya itu tidak tau, karena selama di pesantren tidak boleh memakai telepon. Hanya jika ada keperluan semata baru lah bisa mengabari, itu pun melalui kepala pesantren langsung.


"Bu, udah tutup ya?" Salah seorang pembeli datang.


"Udah, maaf ya. Semua habis."


"Iya bu."


"Besok aku tutup akan menjenguk Risah. Dan di hari Minggu jika tidak ada halangan, aku akan menjenguk Bian di pesantren."


Karena pesantren yang jaraknya jauh dari pusat kota, jadi ibu juga harus berangkat pagi-pagi.


Kembali membereskan warungnya, menyapu dan mengelap stelling, semua ia lakukan sendiri.

__ADS_1


Bersambung..


Hayo, pasti pada penasaran ya? Rama, apakah Rama yang sama? Nantikan aja ya cerita rumit ini, hehe


__ADS_2