
Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Kini tiba hari Diana akan melahirkan buah hati kedua yang mereka tunggu. Pagi hari setelah melaksanakan sholat subuh Diana merasakan sakit yang teramat di bagian pinggangnya. Sebenarnya sejak dari malam ia sudah merasakan, tapi masih bisa ia tahan. Dan, ia tetap melaksanakan kewajibannya berdoa agar ia dapat melahirkan dengan lancar dan bayi juga sehat, ia berharap anaknya yang lahir kali ini tidak seperti Alif yang memiliki kekurangan berat badan (premature).
"Sayang, istighfar terus ya. Ayah disini, di samping kamu." Menggenggam erat tangan Diana yang sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
Keluarga juga sudah menunggu di luar ruangan. Ada Mita yang perutnya juga sudah membuncit, karena memang jarak kehamilannya dengan adiknya hanya berbeda tiga bulan saja. Dan, Rama juga hadir membawa Bila yang kini tengah hamil muda. Lalu Eva datang dengan ibunya, tidak di temani suaminya. Saat ini ia juga sudah mengandung, tapi baru berumur tiga Minggu.
Jadi, ibu hamil sedang menunggu wanita hamil melahirkan, begitu sebutan yang cocok untuk mereka.
"Udah lahir belum?" Anton yang ikut mengantar pagi tadi.
"Belum lah mas."
Siapa yang melahirkan, dan siapa yang tidak tenang. Ya, Rama tampak bolak-balik dengan raut wajah yang khawatir. Entah apa yang membuatnya sangat takut kali ini.
"Sayang, kenapa?" Tanya Bila yang melihat suaminya tidak bisa duduk dengan tenang.
"Aku lagi bayangkan sayang, kalau kamu di dalam sekarang, apa aku tega liat kamu kesakitan?"
Dengan lembut istrinya menggenggam tangannya.
"Sakitnya sebentar kok, semua bakal terbayar dengan suara tangis anak yang aku lahirkan nanti."
Rama memeluknya dengan erat.
"Eh, ini judulnya Diana lagi melahirkan, bukan lagi syuting film India. Malah pelukan disini." Anton langsung protes.
"Iya mas, hehe." Rama tersenyum kikuk, karena tak bisa mengendalikan diri, ujungnya malu sendiri.
Selama menikah, Rama memperlakukan Bila sangat istimewa. Apa lagi ketika tau istrinya sudah mengandung, Rama lebih over takut bayi dalam kandungannya kenapa-napa.
Di dalam ruangan, Diana mulai mengejan, karena memang sudah waktunya, dokter mengatakan kalau pembukaan jalan bayi sudah total, tinggal Diana yang harus berjuang.
"Ayo, tarik nafas lalu mengejan." Sambil terus memantau area jalannya untuk lahir.
"Kepalanya udah kelihatan ya bu."
"Kepala bayi saya ya dok?" Bagas tampak girang. Senang juga terharu.
"Iya, ayo lagi bu." Terus berulang-ulang. Hingga terdengar suara tangis bayi yang begitu kencang.
Sontak keluarga yang menunggu di depan pintu mengucap syukur secara bersamaan.
"Selamat ya bu, pak. Jenis kelaminnya perempuan, dengan berat badan 3kg dan panjang 48cm."
Bayi Diana langsung di ambil dan segera di mandikan. Tak lama, suster kembali dengan bayi yang sudah di lilitkan kain bedongan.
"Ini bu. Silahkan di beri ASI, kalau memang sudah keluar. Tapi kalau belum, diminumkan susu formula juga tidak apa-apa." Menyerahkan bayinya ke pangkuan Diana.
Karena memang ASI nya belum keluar, jadi mereka memberikan susu formula terlebih dahulu. Bayi Diana dan juga Bagas tampak mengeluarkan lidahnya, mungkin memang ia tau, kalau sudah waktunya untuk minum susu.
"Pak, maaf. Bayinya belum di adzan kan." Dokter mengingatkan. Sebelum bayi akan di bawa ke ruangan lain, untuk di letakkan di box bayi.
Sangking senangnya mereka juga melupakan itu, ya bayi harus di adzan kan.
__ADS_1
Bagas mulai melantunkan suara lembutnya di telinga anaknya. Dengan setetes air mata yang jatuh, mengingat semua kesalahannya. Dan kali ini, Allah malah memberikannya rezeki, sesuai dengan keinginannya. Bayi perempuan, iya Bagas sangat menginginkan itu. Kalau Diana, jelas dia tidak kaget, karena ia sendiri sudah tau jenis kelamin anaknya, bahkan sebelum lahir.
Bagas kembali menyerahkan anaknya kepada perawat, setelah selesai di adzan kan.
"Jadi, waktu itu dokter memang bilang kalau bayi kita perempuan ya sayang?"
Diana mengangguk.
"Makasih sayang." Mengecup tangan istrinya yang ia genggam dengan erat.
"Yah, maaf kalau selama ini ana banyak salah. Banyak nyusahin ayah selama mengandung. Maaf, maafkan ana ya yah."
"Sayang jangan bicara begitu, ayah takut kalau kamu pergi." Bagas melow lagi dan menangis.
"Jadi maksud ayah, ana ngomong gitu karena tanda-tanda orang yang mau meninggal gitu?"
Bagas malah mengangguk.
"Ih, itu doa lah yah. Ana tarik lagi ah ucapannya. Malah di kirain mau meninggal lagi."
"Sayang, iya ayah yang harusnya minta maaf. Maaf buat semuanya, kejadian dulu. Ayah selingkuh, ayah minta maaf. Maafkan ayah. Diana, cukup sekali ayah melakukan kesalahan itu, dan ayah pastikan tidak ada lagi kesalahan lainnya."
"Untuk itu, ana udah maafin ayah. Ana berhak ngasih ayah kesempatan kedua. Karena ada anak kita. Tapi ingat, ayah harus jujur. Dalam hal apapun, jujur dalam bentuk apapun. Yah, lebih baik di sakiti dengan kejujuran, dari pada di bahagia kan dengan kebohongan."
"Iya sayang. Udah ah, ini hari bahagia kita. Jangan mengingat kejadian yang menyedihkan. Lebih baik pikirkan, siapa nama anak kita ini?" Usul yang sangat bagus. Bahkan Diana juga lupa akan hal itu. Eh tapi Diana sudah mempersiapkan nama untuk putrinya kok.
"Hawa Putri Bana."
"Namanya bagus sayang. Bana, itu apa?"
"Iya sayang. Ya ampun, bahkan kamu sudah menyiapkan nama ya. Tapi kenapa enggak ngasih tau ayah?"
"Itu, adalah rahasia, hehe. Oh iya yah. Kenapa belum ada yang masuk buat liat ana?" Melihat ke arah pintu yang sepi, tidak ada lagi suara disana.
Di tempat lain.
"Wah, imutnya anak Diana mas. Coba lihat." Menunjukan kepada suaminya.
Ya, mereka langsung mengikuti perawat yang membawa bayinya Diana, dan meminta ijin untuk melihatnya. Dengan antrian mereka menunggu, yang pertama masuk ibu Ramini, Eva dan juga Alif. Lalu, di susul Anton dan Mita. Dan yang terakhir adalah Rama dan Bila.
"Masuk sana, cepat sebelum dokter berubah pikiran." Anton sudah mulai dengan tingkahnya.
Dengan cepat Rama masuk ke dalam bersama Bila. Anton mengajak yang lain untuk segera melihat kondisi Diana saat ini. Dan meninggalkan Rama beserta istrinya. Ah jahat Anton mah.
"Na." Ibu Ramini masuk langsung mengelus puncak kepala menantunya.
"Bunda, tadi Alif udah liat Dede bayinya." Alif tak bisa menutupi kegembiraan nya. Ia sangat senang ketika neneknya bilang kalau ia akan mempunyai adik. Selama Diana hamil, Alif juga sering bertanya, dan Diana juga sudah menjelaskan. Tapi hari ini, ia bisa melihat langsung tanpa harus berbicara lagi melalui perut bundanya.
Diana menatap mertuanya, ibu Ramini tau Diana pasti menanyakan maksud perkataan Alif. Dan ibu Ramini pun mengangguk dan tersenyum.
"Jadi tadi kalian lihat bayi aku dulu?" Protes.
"Lah, kan memang kesini, nunggu disini dari subuh juga karena mau lihat bayinya na. Kalau lihat kamu mah, setiap hari." Kalau saja Diana sudah bisa berjalan dengan cepat, atau setidaknya turun. Pasti ia sudah siap menghajar Anton saat ini.
__ADS_1
"Sudah-sudah. Dek, selamat ya. Akhirnya kesampaian yang pengen anak perempuan." Ucap Mita.
"Apa dokter ada bilang kalau kamu hari ini juga boleh pulang na?" Tanya ibu Ramini.
"Belum ada bilang bu. Kenapa memangnya Bu?"
"Enggak apa. Kayaknya lebih nyaman kalau liat cucu ibu di rumah. Bisa bebas tanpa batas waktu."
Memang biasanya jika pasien melahirkan, bayi dan ibunya sama-sama sehat pasti akan di perbolehkan pulang hari itu juga. Tapi entahlah apa keputusan dokter nantinya.
"Bu, apa ibu sudah makan?" Tanya Bagas. Karena memang ini sudah jam 9 pagi, waktu sarapan juga sudah lewat. Bagas khawatir karena menunggu istrinya melahirkan, ibunya tidak sempat untuk makan.
"Belum gas."
"Ayo, belikan sekarang gas. Mas titip ya, hehe." Mita langsung mencubit lengan suaminya. Kebiasaan deh kalau ada yang bicara nyambung aja, begitu yang ia bisikan ke telinga Anton.
"Mas, aku titip nasi uduk ya. Tapi jangan pakai telur, pakai kerupuk aja." Bagas menghentikan langkahnya.
"Jadi gimana? Pakai nasi sama kerupuk aja?" Eva mengangguk.
Satu ruangan menertawakannya, memang kalau ngidam aneh-aneh ya.
"Va, anak kamu sayang tuh sama ibunya, bahkan soal makan pun ia tidak ingin menyusahkan ibunya."
Ibu Ramini hanya tersenyum, karena memang seminggu ini Eva selalu sarapan dengan nasi uduk dan kerupuk merah putih. Katanya gurih bu, enak bu. Ya ibu Ramini tidak keberatan, selagi itu wajar dan tentu keinginan sang bayi.
Dokter kembali datang dan memberi kabar, kalau saat ini, kondisi Diana baik. Dan di perbolehkan pulang kerumah sekitar jam 2 nanti. Untungnya Diana tidak mendapat jahitan di area jalannya bayi keluar. Dan itu memang sudah Diana pelajari sebelum melakukan persalinan. Bagaimana caranya supaya tidak mendapat jahitan. Karena sewaktu melahirkan Alif juga ia tidak ada di jahit, bukan karena Diana mempelajarinya waktu itu. Tapi memang Alif lahir dengan berat badan yang tidak normal untuk bayi. Sehingga dua kali mengejan Alif sudah di lahirkan ke dunia.
Ibu dan Eva lebih dulu pulang, setelah selesai sarapan. Alif juga ikut dengan mereka. Anton dan Mita juga ikut, dan Rama? Lagi-lagi mereka di tinggal, saat memasuki ruangan Diana, ibu dan yang lain sudah bersiap untuk pulang. Tapi bukan pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah anaknya, Bagas. Untuk mempersiapkan semua keperluan Diana dan cucunya nanti.
Jam dua tepat. Diana sudah duduk di kursi roda dengan memangku bayinya, yang sudah siap untuk masuk ke dalam mobil. Dengan hati-hati Bagas memapah istrinya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Bagas kembali ke dalam untuk mengurus segala administrasi. Dan Diana hanya menunggu di dalam mobilnya.
"Maaf pak. Tapi semua administrasi sudah di selesaikan?" Bagas bingung, tapi ia sudah menebak. Pasti mas Anton yang bayar, batinnya.
"Baik lah, kalau begitu terima kasih ya." Bagas kembali masuk ke mobil, dan memberi tau ke istrinya kalau hari ini anaknya yang baru lahir mendapatkan rezeki.
Flashback.
"Berapa semua biaya tagihan untuk pasien atas nama Diana?" Bertanya ke bagaian administrasi rumah sakit.
"Sebentar ya pak." Perawat yang berjaga kemudian menyerahkan tagihannya.
"Ini suster." Menyerahkan uang sesuai dengan jumlah yang di tagih.
"Terima kasih pak." Kemudian kembali berjalan memasuki ruangan.
"Sudah sayang?" Tanya istrinya yang menunggu di bangku tunggu.
"Sudah. Aku lega bisa bantu abang ku, semua juga karena kamu yang mengingatkan?"
Rama dan Bila kembali berjalan ke ruangan dimana tempat Diana di rawat. Pantas saja mereka lama sekali, ternyata mampir terlebih dahulu untuk melunasi biaya rumah sakit kakak iparnya. Semua di lakukan Rama karena ia tau, saat ini Abang nya masih belum bekerja. Jadi, karena rezekinya juga ada, tidak salah jika membantu. Dan itu juga istrinya yang memberi saran.
__ADS_1
***
Jangan lupa mampir ya "Dia Bimaku."