
"Sayang ayah udah siap!" Ini adalah hari dimana Bagas akan kembali bekerja, dan tentu dengan di antar jemput oleh istri tercinta. Makannya ia tak bisa menemani ibunya yang datang ke pemakaman ibunya Rama.
"Ngapain sih? Sisiran aja rapi banget!" Protes liat suaminya berkaca dan menyisir rambut. "Enggak usah tebar pesona lah yah, biasa aja udah ganteng, udah jangan pakai Pomade, pakai minyak goreng aja!" Melipat kedua tangannya di dada. "Setengah jam loh di depan kaca, tadi katanya udah siap."
"Sayang ya ampun, kalau enggak pakai Pomade rambut ayah enggak bakal rapi sayang." Lembut, sangat lembut berbicara dengan istrinya, agar istrinya bisa mengerti.
"Iya tau." Masih memandang suami yang mengambil tas lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
"Ya ampun yah, pantas aja parfum cepat habis orang ayah pakenya banyak sekali." Bagas langsung meletakan botol parfum.
"Udah ayo berangkat."
Waktunya ibu mengantar anaknya, eh salah suaminya.
Alif pun ikut mengantar ayahnya, Bahkan ia sangat senang hari ini, dan juga seterusnya. Walaupun hanya ikut pergi mengantar jemput ayahnya saat ini, tapi baginya itu sudah bisa dikatakan dengan jalan-jalan.
"Ayah pergi ya sayang, dah." Mengecup kening sang istri dengan lembut, dan terakhir Alif.
"Nanti kabari ana yah satu jam sebelum pulang."
"Iya sayang."
"Jangan ngulang kesalahan yang sama, kalau enggak mau kehilangan peliharaan sedari kecil. Semangat."
Diana langsung menutup kaca jendela mobilnya dan segera melajukan mobilnya, memasuki jalanan kota.
Tentu ia tidak langsung pulang ke rumah, iya tujuannya ke rumah kakaknya lah.
"Kita pulang bunda?" Tanya Alif.
"Enggak sayang, kita kerumah bude ya."
"Iya bunda, Alif mau."
Mengangguk kegirangan.
Diana mampir ke toko roti sebelum pergi ke rumah kakaknya, bukan niatan membawa buah tangan, tapi karena memang ini ia sendiri yang ingin makan cake. Diana meninggalkan Alif sebentar di dalam mobil. Kembali setelah beberapa menit, dan langsung menuju rumah Mita.
Sampai di gerbang, Diana membunyikan klakson berkali-kali, karena saat ini gerbang terkunci.
Tak lama, gerbang terbuka. Menampakkan wajah Anton.
"Hallo mas ganteng." Melambaikan tangan dari dalam mobil.
"Mobil mas tuh ya!!!" Diana hanya mengejek dan menjulurkan lidahnya.
"Dasar, setelah hamil makin aneh." Gerutu Anton.
"Kak Mita mana mas." Turun dari mobil dan berjalan masuk.
"Kak Mita pergi." Menjawab dan terus berjalan membawa Alif bersamanya.
"Lah, serius?"
"Iya tadi sih bilangnya mau pergi ke dapur, masak mungkin."
"Jadi nyesel nanya." Sekarang gantian Diana yang menggerutu.
"Assalamualaikum. Kakak." Berjalan langsung ke arah dapur.
"Eh na, ya ampun kaget kakak. Kamu sama siapa?" Tak mengalihkan pandangannya dari masakannya.
"Sama Alif kak, Bagas udah kerja. Dia masuk lagi ke kantor, karena direktur langsung yang memintanya."
"Rezeki anak kamu tuh na. Bantu kakak bawa masakan ke meja, baru masak belum sarapan. Kamu udah makan belum?"
"Belum yang kedua kalinya sih kak."
"His, itu kamu bawa apa?" Menunjuk plastik yang sejak tadi di tenteng Diana, bahkan tidak ia letakkan.
"Ini cake kak, kakak jangan minta ya."
Mita langsung geleng-geleng mendengar perkataan adiknya.
"Sebentar, kakak panggil mas Anton."
Berjalan ke ruang tamu untuk mengajak suaminya sarapan.
"Mas, ayo udah matang, kita sarapan ya."
"Iya sayang, ayo Alif." Menggendong Alif.
Saat ini mereka sudah ada di meja makan, Diana bahkan sama sekali tidak melepas cake dari tangannya. Ternyata ia serius dengan perkataan 'jangan minta' wah pelit sekali.
"Kamu enggak makan lagi na?" Mita menawarkan.
"Enggak kak. Ana makan ini aja." Mengeluarkan potongan cake.
"Bunda, Alif mau itu." Berpikir dulu sebelum memberi anaknya.
"Nih, jangan banyak-banyak ya Alif makannya, nanti giginya sakit sayang." Anaknya loh yang minta, di batasi juga. Luar biasa ngidamnya.
"Iya bunda." Untungnya anaknya penurut, jadi tidak masalah, asal sudah makan walau sedikit pasti puas.
"Enak tuh, coba mas minta na?"
Tidak menjawab hanya mengunyah.
"Na, pelit banget sih!"
"Mas, nanti ana belikan lagi aja lah ya. Ini punya ana mas." Masih dengan pendiriannya, tidak ada yang boleh minta!!
"Ya udah kalau gitu." Anton segera menuangkan nasi ke piringnya.
Mita mengerutkan keningnya, entah apa yang dirasakannya saat ini, tapi ia menghentikan aktivitas makannya. Anton belum menyadari, tetapi ana yang tau, karena Mita tampak pucat.
__ADS_1
"Kakak kenapa?"
Tanpa menjawab Mita berlari ke wastafel. Ia memuntahkan semua makanan yang baru beberapa suap masuk ke dalam perutnya. Anton segera menyusulnya ke belakang.
"Sayang kenapa, kamu sakit? Kenapa enggak bilang sayang, harusnya kan enggak usah masak." Anton panik, dan dengan lembut ia memijat leher istrinya.
Mita segera membersihkan mulutnya setelah mengeluarkan semua.
"Enggak tau mas. Tiba-tiba mual pas diisi tadi, kepala Mita juga pusing." Memegang kepalanya yang saat ini memang benar-benar terasa sangat pusing.
"Ah ya ampun, ini pasti gara-gara kemarin kamu telat makan kan. Ya udah, sekarang kita ke dokter aja atau gimana?"
Mita menggeleng.
"Enggak mas, ambilkan aja obat lambung Mita di kamar, ada di dalam laci lemari."
Mita dan Anton kembali ke meja makan. Setelah Mita duduk, Anton langsung bergegas menuju kamarnya, mengambil obat sesuai permintaan istrinya.
"Kakak sakit?"
"Bude sakit?" Pertanyaan yang sama di lontarkan oleh ibu dan anaknya.
"Enggak, tadi baik-baik aja. Cuma tadi tiba-tiba mual, kemarin memang kakak telat makan, mungkin asam lambungnya naik."
"Naik kemana bude?" Tanya Alif polos.
"Naik ke puncak gunung sayang." Tertawa. "Itu namanya bude sakit perut nak, makannya Alif kalau waktunya makan harus makan, kalau enggak mau Alif sakit kayak bude tadi?" Diana coba menjelaskannya.
"Enggak mau bunda." Menggelengkan kepalanya.
"Sayang, ini ada dua. Yang mana?" Membawa dua botol kecil obat lambung.
"Yang kiri mas."
"Tunggu kak, biar ana ambilkan air hangat." Menghentikan langkahnya. "Mas jangan di ambil ya cake ku." Dan kembali berjalan ke dapur setelah mengingatkan Anton.
"Alif bunda kamu pelit." Bisik Anton.
Alif hanya nyengir.
Diana kembali membawa dua gelas air hangat, loh kok dua?
"Nih kak, di minum. Ini buat mas, mas juga harus minum air hangat, biar enggak sakit perut."
Oh buat Anton toh ternyata.
"Makasih dek." Mita segera meminum obatnya.
Dan Anton pun sudah enggak berselera buat makan.
"Sini kak biar aku pijitin." Mendekat ke arah kakaknya dan memijat lembut tengkuk leher Mita.
"Jangan di cekik istriku na." Melirik kearah Diana.
"Ih, jadi mas di kasih bekas kamu."
Protes!
"Ya udah kalau enggak mau."
"Iya mau lah." Langsung mengambil cake dan memasukan kedalam mulutnya.
Setelah selesai memijat kakaknya, Diana pamit pulang. Dan menyuruh Mita untuk istirahat. Sebenarnya Anton sangat ingin Alif untuk tetap dirumahnya dulu, tapi mengingat istrinya masih dalam keadaan tidak sehat, terpaksa ia merelakan Alif pulang. Kasih sayang Anton kepada ponakannya memang benar-benar tulus. Mungkin juga karena saat ini ia belum dikaruniai seorang anak.
...***...
Bagas menelfon Diana berkali-kali, tetapi tak kunjung ada jawaban. Pesan juga sudah ia kirimkan, tapi juga tak kunjung di baca apa lagi di balas. Bagas kembali keruangan setelah memberi kabar kalau satu jam lagi ia pulang.
Mungkin lagi tidur, nanti juga di baca. pikirnya, dan kembali fokus dengan pekerjanya. Hingga sampai waktunya pulang, Bagas mengechek HP miliknya, tapi juga belum ada balasan dari Diana. Bagas segera berjalan menuju keluar kantor, ia menunggu di halte. Namun tak kunjung datang jemputan nya.
Akhirnya pasrah dan menghentikan taxi yang lewat. Sampai di rumah Bagas berjalan dengan wajah yang lesu. Kecewa pulang tidak di jemput istrinya.
"Assalamualaikum." Ucapnya, Bagas langsung membuka dasi miliknya, meletakkan tasnya.
"Ayah udah pulang." Alif sangat ceria melihat ayahnya pulang.
"Iya sayang, bunda mana." Mencium pipi kanan dan kiri anaknya.
"Bunda ada di kamar yah."
"Ngapain? Apa bunda tidur?"
Alif menggeleng.
"Bunda main game yah."
Main game? Jadi dari tadi hanya main game dan enggak jawab telfon?
Bagas langsung berjalan menuju kamarnya, dan benar ia mendapati istrinya yang tengah asik bermain game, dengan posisi telentang kaki ia tekuk, dan tentu dengan HP di tangannya.
"Ih, kok kalah terus sih." Gerutunya, bahkan Diana tidak menyadari Bagas yang sudah berdiri di depan pintu sejak tadi. Menatap tajam ke arahnya.
"Sayang." Panggilnya lembut, tetapi dengan gigi yang ia geratkan.
Diana menoleh, mengalihkan pandangannya dari layar HP.
"Ayah udah pulang?" Masih bersikap santai seolah-olah tak menyadari kesalahannya.
"Iya. Ayah pulang jalan kaki." Tersenyum terpaksa.
"Kok jalan sih yah? Mobilnya kemana?" Lah, ini Diana pikun ya.
"Sayang, apa kamu enggak baca pesan ayah?"
"Iya baca kok yah, kan ayah bilang pulang satu jam lagi kan, ya udah. Lagian ya, ayah nelfon berkali-kali ganggu ana lagi main game, jadinya ana kalah mulu." Malah Diana yang menggerutu.
__ADS_1
Bagas mendekat dan duduk di samping istrinya, dengan lembut Bagas mengelus puncak kepala istrinya.
"Sayang, sekarang ayah tanya, lebih penting mana ayah atau game yang kamu mainkan?" Berbicara dengan lembut dan selembut-lembutnya.
"Ya game lah yah! Eh, ayah maksudnya, hehe."
Bagas membuang nafasnya kasar.
Duhai istriku, apa ngidam mu kali benar-benar karena anak kita ingin balas dendam sama ayahnya, karena waktu itu bundanya di sakiti.
"Kenapa yah? Ana salah ya? Maaf, lebih penting ayah kok, bukan game ini, liat ana udah matikan." Wajahnya sendu, dan menunjukkan layar HP yang sudah tak menyala.
Bukan itu sayang, tapi kamu lupain ayah! Bahkan enggak jemput ayah, aaahhh aku bisa gilaaaa, mana wajahnya imut lagi. Jadi gemes liatnya bukan marah. Bagas menjerit dalam hati.
"Enggak, kamu enggak salah sayang, ayah sayang, ayah kok yang salah. Ya udah, ayah mandi dulu ya." Bagas berjalan ke kamar mandi. Ia ingin mendinginkan kepalanya saat ini, yang mulai panas karena stres menghadapi Diana yang sifat dan mood nya berubah-ubah.
Selesai mandi.
"Yah, kita beli makanan aja ya. Ana lagi malas masak." Berteriak dari dalam kamar.
Bagas kembali ke kamar hanya dengan handuk yang ia lilitkan di pinggang. Diana menatapnya seperti menatap cake miliknya tadi, penuh dengan selera.
"Kenapa sayang?" Tanya Bagas.
"Ayah sexy sekali kalau seperti itu." Mendekat ke arah Bagas. Kini bahkan Diana yang menggoda. Bagas sudah merasa ada yang bangun di bawah sana. Tapi, jika ia melakukannya, bagaimana dengan Alif? Walupun saat ini ia sedang menonton kartun kesukaannya, bukan berarti Alif tidak akan masuk kamar secara tiba-tiba.
"Ayah kunci pintu dulu." Terserah lah, biar anaknya di kunci di luar, toh masih asik liat TV, pikirnya.
"Sini." Bagas menepuk tempat tidur, mempersilahkan Diana untuk berbaring di sampingnya.
Dengan cepat Diana bergegas naik, dan duduk di atas pangkuan Bagas. Wah, ini sangat diluar ekspektasi suaminya.
Bagas dengan senang hati melakukannya, iya. Setelah berbulan-bulan tidak melakukan penyatuan, dan kini berhasil di sore hari. Suara ******* pelan terdengar di telinga mereka masing-masing. Bagas mengatur ritmenya dengan baik, karena ia tau saat ini ada janin yang tumbuh di rahim istrinya.
Hingga mencapai puncaknya, Diana berbaring di samping suaminya. Alhasil, Bagas harus mandi lagi. Saat membuka pintu kamarnya, Bagas terkejut karena Alif sudah berdiri tepat di depan pintu. Dengan wajah yang bingung tentunya.
Apa, apa dari tadi Alif disini? Apa dia mendengar?
"Alif ngagetin ayah nak. Alif ngapain berdiri disitu?"
"Alif tadi panggil ayah enggak denger."
"Apa Alif dari tadi ada disini?" Alif mengangguk. Dan untungnya saat ini Diana sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Oh ya ampun, pasti Alif mendengarkan, untungnya pintu aku kunci sebelum aku terbang melayang.
"Ya udah, Alif liat TV aja lagi, Alif udah mandi kan?" Mengangguk lagi.
Bagas langsung membawa Alif menjauh dari kamarnya, yang masih ada pakaian istrinya berserakan di lantai.
Adzan Maghrib berkumandang, Bagas kembali menjadi imam untuk keluarga kecilnya. Setelah itu, mereka pergi keluar untuk membeli makanan, karena Diana tidak masak.
"Ayah, tadi Alif dengar bunda nangis, apa bunda sakit?" Diana dan Bagas sontak saling pandang.
"Bunda sakit ya?" Bertanya untuk yang kedua kalinya.
"Enggak sayang, tadi ayah cuma pijitin kaki bunda yang sakit, tadi bunda keseleo soalnya." Berbohong, itu jalan satu-satunya, enggak mungkin jujur kan, pikirnya.
"Ayah enggak jahat sama bunda kan?"
"Enggak." Bagas.
"Iya!" Diana.
Alif sungguh bingung.
"Enggak sayang. Ayah janji enggak akan jahat lagi sama bunda."
"Janji ayah?" Mengulurkan jari kelingkingnya ke arah ayahnya, ini tanda janji menurut Alif.
"Iya sayang." Bagas juga menyambut uluran kelingking dari anaknya.
"Yah?" Panggil Diana yang tiba-tiba seperti orang kaget dan melihat sesuatu.
Bagas langsung mengerem mobilnya.
"Kenapa sayang, ada apa?"
"Yah, bukannya tadi pagi ayah pergi ana antar ya? Jadi tadi, ayah pulang beneran jalan kaki? Yah, sumpah ana lupa yah!" Menepuk keningnya sendiri.
Ya ampun istriku.
Bagas mencoba tersenyum.
"Jadi dari tadi benar-benar enggak nyadar?" Sindirnya.
Diana menggelengkan kepalanya.
"Tapi kan yang penting sekarang ayah udah pulang, lagian enggak apa juga lah yah kalau jalan kaki, kan lebih sehat." Wah, benar-benar ini mah Diana.
Bagas nyengir menapakkan deretan giginya, sudah di iyakan saja kalau istrinya ngomong, pikirnya.
"Tapi kalau setiap hari kamu lupa, ya mungkin seminggu aja ayah bisa turun 10kg sayang."
"Ya udah enggak apa yah, nanti bisa ana sumbangkan lemak yang ada di tubuh ana." Berbicara dengan wajah serius tanpa tertawa juga.
Ya ampun, enggak apa sayang enggak apa kok. Walau hari ini kamu lupa, tapi sampai di rumah kamu kasih hadiah sama ayah, okelah enggak masalah.
Bagas senyum-senyum sendiri, dan mencubit pipi istrinya dengan satu tangan dan satunya memegang kemudi.
...***...
Hai, jangan lupa mampir dong di novel baru "Dia Bimaku" udah up beberapa bab kok. Bakal baperrr nantinya, kasian tuh si Bima udah nungguin, hehe
Novel hasil kehaluan author, yok2 disini ada Bagas disana ada Bima. Jangan lupa mampir ya, author tungguuu🙏🙏🙏🙏
__ADS_1