
"Alif jangan di pinggir parit, nanti kamu jatuh."
Ucap lelaki tampan yang kini sedang mengajak bermain di pinggir sawah.
"Alif suka disini Om."
"Iya tapi kamu hati-hati. Ayo sini, kaki kamu kotor tuh kena lumpur. Kita pulang ya nanti bunda kamu marah kalau kelamaan main di sawah."
"Tapi nanti kita main disini lagi Om."
Lelaki tampan yang kini bermain dengan Alif adalah Rama. Saat ini mereka sudah akrab, namun Diana masih memberi jarak. Karena ia juga tidak mau mendapat gunjingan dari tetangga.
"Alif kenapa kakinya kotor sekali nak?"
"Tadi Alif aku ajak main di sawah na, maafya."
"Ya udah enggak apa-apa. Ayo Alif kita mandi."
Alif yang memang penurut pun tidak membantah perkataan bundanya.
"Aku permisi pulang ya na."
"Iya, makasih ya bang udah ajak Alif main."
Diana lebih bersikap sopan, apalagi sudah tau kalau umur Rama lebih tua darinya. Setidaknya melalui panggilan itu sudah menjadi tindakan sopan untuknya.
...***...
Seminggu berlalu dengan cepat, hari-hari yang Diana jalani kembali berat. Ia tidak munafik, bahkan ia sangat merindukan Bagas. Apalagi saat ini ia tengah hamil, rasanya tidur ingin di peluk suami. Namun rasa kecewa itu masih memberi tembok tinggi untuk ia bertemu dengan suaminya.
Bahkan kamu tidak berusaha mencari ku. Apa benar kamu sudah bahagia bersama wanita itu yah. Kalau iya aku mencoba berdamai dengan hatiku, untuk selalu ikhlas.
"Bunda."
Suara Alif membuyarkan lamunannya.
"Iya sayang, ada apa?"
"Bunda dari tadi ada yang ketuk pintu, bunda kenapa enggak buka pintunya?"
Astagfirullah aku sampai tidak mendengar sama sekali.
"Iya sayang, ayo kita buka."
"Iya, sebentar. Siapa ya?"
Ceklek.. Suara pintu terbuka.
"Ibu..."
Diana tertegun, ia seperti mimpi dengan kedatangan Ibu mertuanya. Dari mana ibu bisa tau aku disini, dan ini mimpi atau bukan, pikirnya.
"Na."
Mata mertuanya sudah berkaca.
"Na, kamu baik-baik aja disini nak?"
Diana tidak menjawab. Ia langsung menghambur ke pelukan Ibunya. Isak tangisnya tak dapat ia tahan, begitu juga dengan ibu Ramini.
Ibu Ramini melepas pelukannya, dan beringsut ingin bersujud. Diana dengan keras menahannya.
"Ibu jangan lakukan, Ana mohon Bu."
"Maafkan semua perlakuan Bagas na."
"Sudah Bu. Ayo kita masuk bicara di dalam. Ibu sendiri?"
"Ibu sama Eva. Cuma ia lagi mampir ke rumah teman lamanya."
Diana berjalan ke dapur, membuatkan teh untuk mertuanya. Dan membawa beberapa cemilan.
Kini mereka sudah duduk di dalam rumah. Ibu terus menatap Diana dengan sendu, rasanya kasian sekali dengan menantunya ini. Pasalnya ia pernah merasakan semuanya yang dirasakan oleh Diana.
"Bu, apakah Ana boleh tidur di pangkuan ibu?"
Mertuanya mengangguk dan memberi ruang untuknya.
"Na, ibu tau ini sakit. Bagas lelaki yang tak baik. Kamu boleh pergi meninggalkannya. Bahkan jika ada lelaki yang jauh lebih baik darinya kamu boleh untuk melanjutkan hidupmu bersama orang lain."
Ucapnya sambil terus mengelus rambut menantunya.
__ADS_1
"Itulah hidup na, enggak ada yang sempurna. Kalau mertuanya menerima menantu dengan baik, kadang anaknya yang mengulah. Ada suami yang baik, tapi istrinya yang bertingkah. Ada juga suami dan istri yang hidupnya rukun dan damai, namun terkadang mertua lah yang merusak dan ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Cerita di sinetron itu memang benar dan nyata ada na. Semua sudah di atur oleh Allah. Rumah tangga pasti ada cobaannya. Tapi semua kembali ke kamu. Kuat atau tidaknya kamu."
Diana diam mendengarkan.
"Ibu juga dulu di buat seperti ini oleh ayahnya Bagas. Tapi ibu mencoba sabar, ibu tau ini ujian rumah tangga. Namun ibu berhasil melewatinya. Bahkan ayahnya Bagas juga sampai mempunyai anak dari wanita lain, sama sepertinya. Yang lebih parahnya itu tetangga ibu sendiri dulu disini."
Diana sebenarnya sudah tau, namun ia hanya mendengar itu dari Eva. Jadi tidak tau kalau mertuanya sampai mempunyai anak dari orang lain.
"Makannya ibu lebih memilih pindah dari desa ini. Untuk memulai hidup baru setelah ayah mertuamu meninggal." Ia kembali meneteskan air matanya, mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Apakah wanita itu masih ada disini Bu?"
"Dua tahun setelah ibu pindah ke kota, ibu mendengar kabar kalau dia meninggal."
Diana memeluk mertuanya dengan erat. Sangat nyaman rasanya mengaduh kepada orang tua, walaupun hanya sebatas mertua. Tapi dia merasa beruntung memiliki mertua yang bisa mengerti posisi dan keadaannya sekarang.
"Ibu bersumpah na, tidak pernah ibu sekalipun berniat membalas sakit hati ibu waktu itu pada ayah mertuamu. Tapi kenapa, kenapa anak ibu malah ikut menyakiti hati wanita, wanita yang mereka cintai."
"Ibu." Diana terisak.
"Ibu rela na, jika kamu harus bahagia dengan orang lain ibu rela. Biarlah ini menjadi pelajaran untuknya."
"Bu, Diana tidak pernah berpikir kesitu."
"Jadilah wanita yang kuat nak, insyaallah surga tempat kita karena bisa memaafkan lelaki yang berdusta pada kita."
"Ibu tapi Diana mohon, untuk saat ini Diana belum mau bertemu Bagas. Jangan beri tau dia kalau Diana disini Bu."
"Iya na, ibu paham."
Mereka kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak lama terdengar suara Eva berteriak memanggil.
"Bunda ada enty."
Ucap Alif semangat.
Eva melihat Diana dan ibunya yang masih melepas rindu layaknya seorang anak dan ibu kandung merasa terharu. Iya berlari langsung memeluk keduanya, dan apa? Ia juga menangis.
"Sudah va, kakak baik-baik aja."
"Enty, Alif kangen." Langsung bergelayut manja ke Eva.
"Udah kok. Kemarin Alif jalan-jalan sama ayah, Alif ajak ayah ke rumah nenek, tapi ayah enggak mau."
Mereka yang berada disana langsung serempak menoleh. Apalagi Diana kagetnya bukan main, karena Alif jika berkata tidak pernah berbohong.
Eva menatap Diana dengan banyak pertanyaan, namun Diana hanya menggelengkan kepalanya.
"Alif kapan jalan-jalan sama ayah nak?"
Tanya Diana lembut.
"Kemarin waktu Alif ikut pakde."
Kenapa mas Anton dan kak Mita enggak ngasih tau aku. Apa jangan-jangan mereka udah ngasih tau kalau aku ada disini. Batinnya.
"Terus Alif di ajak kemana aja sama ayah?"
Alif pun bercerita dengan ceria, kemana dan apa saja yang ia lakukan sewaktu pergi bersama ayahnya.
"Bu kita makan ya, Diana udah masak kok."
Mertuanya mengangguk setuju. Dan malam ini mereka juga akan menginap disini. Rasanya lelah untuk menuju kesini belum hilang, jadi memutuskan untuk menginap.
...***...
Ke esokan harinya, mereka duduk di teras dan berbincang hangat. Sedikit melupakan masalah yang membuat mereka semua berada di tempat ini.
"Bu, Diana lupa mau kasih tau."
"Apa itu na?"
"Diana mengandung saat ini Bu."
Diana mengucapkan dengan nada sedih, seharusnya ini menjadi momen yang bahagia namun keadaan yang memaksa hati untuk selalu kuat.
"Benarkah? Ya Allah, di balik susahmu Allah masih memberi rezeki."
"Bakal dapet ponakan lagi nih." Ucap Eva.
__ADS_1
Diana tersenyum. Ketika Diana hendak bersuara lagi mereka serempak menoleh karena ada yang datang.
"Assalamualaikum, selamat siang." Ucap Rama sopan.
"Walaikumsalam. Bang silahkan duduk."
Wajah ibu memucat, memandang Rama dengan tidak suka. Ibu berdiri dan masuk ke dalam, tanpa pamit pada mereka yang ada disana.
Diana heran, tapi saat ini ia enggan bertanya. Mungkin ibu lagi ada urusan, pikirnya.
"Ini Eva kan? Adik Bagas?"
Eva tersenyum.
"Iya bang."
"Jadi Diana ini keluarga mu ya va?"
"Iya bang." Eva seperti tidak suka ditanya dengan Rama. Tampak wajah tidak sukanya melihat kehadiran Rama.
"Kak Eva masuk dulu ya, kalian berbincang aja disini."
Ia lalu masuk kedalam rumah menyusul ibunya.
"Eva itu sepupu kamu ya na?"
"Bukan bang."
"Lalu?"
"Dia adik ipar ku." Ucap Diana.
Rama yang kaget sampai membulatkan matanya.
"Jadi, jadi kamu istri dari Andre atau Bagas?"
"Aku istri dari Bagas bang."
Sambil tersenyum kecut.
"Oh. Diana aku pamit pulang dulu ya, aku kira enggak ada keluarga kamu yang datang, aku jadi segan. Aku permisi dulu ya."
Ucapnya dan lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Kenapa semua orang pada aneh?
Diana berjalan masuk ke dalam rumah. Dan mendapati Eva juga ibu mertuanya tengah menonton tv. Namun tatapan mereka saat melihat Diana datang menjadi aneh, seperti tatapan mengintimidasi.
"Ibu kenapa? Maaf Bu, dia hanya tetangga, Diana juga enggak terlalu dekat kok Bu. Diana masih menghargai status Diana yang masih istri sah Bagas."
Eva memilih berpura-pura tidak tau dan hanya melihat tv yang siarannya ia ganti berulang-ulang.
"Iya na, ibu mengerti. Duduklah, mungkin ada yang harus kamu tau."
Diana menurut dan duduk di samping mertuanya.
Akhirnya Eva mengalah untuk pergi membawa Alif keluar rumah, rasanya untuk berpura-pura tidak tau pun percuma, ia juga pasti tetap akan mendengarnya. Hal yang membuat ia sakit dan sudah malas untuk di dengarkan lagi.
"Na, sebaiknya kamu menjauhi lelaki itu. Dengan alasan berteman pun rasanya juga tidak pantas, jika lelaki lain yang notabennya jauh lebih baik dari Bagas ibu masih bisa ikhlas, asal jangan dia."
"Maksudnya Bu? Diana enggak ngerti arah pembicaraan ibu."
"Dia adalah anak dari wanita yang menyakiti hati ibu beberapa tahun silam. Dan dia juga adalah anak dari hasil perselingkuhan ayah mertuamu."
"Bu enggak mungkin." Diana sangat syok mendengar kenyataan ini.
Berarti kalau ini benar, bukankah dia dan Bagas adalah kakak beradik? Lalu kenapa reaksinya biasa saja sewaktu berjumpa Eva?
"Apakah dia tau Bu?"
"Entah lah na, ibu tidak tau pasti soal itu. Orang tuanya memberi tau atau tidak ibu tidak tau, yang terpenting anak-anak ibu semuanya tau, dan memang harus tau. Supaya tidak mencontoh sifat ayahnya, tapi ternyata ibu salah. Mereka malah mengulang semua perlakuan buruk ayahnya."
"Bu, maaf. Karena Diana ibu jadi mengulang dan membuka lama ibu."
"Kamu tidak salah, kamu hanya korban."
Ibu mertuanya menjeda kalimatnya sebentar.
"Na ingat pesan ibu. Bertahan lah jika kamu masih mampu dan yakin, jangan bertahan hanya karena keterpaksaan. Karena hal apapun yang dilakukan dengan terpaksa ujungnya akan tidak baik."
"Makasih Bu, ibu selalu mengerti Diana."
__ADS_1
Pelukan hangat pun ia berikan.
Bersambung..