
Malam itu pikir Diana akan berlalu dengan cepat, tapi ia salah. Matanya terasa ada kayu besar yang mengganjal sehingga sulit untuk di penjamkan.
Sementara Bagas sudah terlelap terlebih dahulu bersama Alif. Bahkan sudah mimpi bertemu Risah.
Diana memutuskan untuk keluar menonton tv, karena masih jam 10 malam.
Diana melihat Eva juga masih ada disana, dengan gaya kaki nya di naikan ke atas senderan sofa, dan kepalanya ada di bawah, sambil terus senyum-senyum main Hp.
"Va, kok belum tidur?"
Duduk di sebelah Eva.
"Biasa Eva kak, kalau tidur malam. Baca novel dulu hehe, kalau udah baca bisa lanjut hampir pagi kak." Jawabnya tak mengalihkan pandangannya dari touchscreen yang terus ia geser perlahan.
"Jadi guna tv di nyalain apa?" Tanya Diana lagi.
"Ya supaya tidak terlalu horor kak, jadi kalau ada suara apapun enggak denger."
Diana berpikir "ya juga ya."
Mereka saling diam, Diana fokus menonton tv tayangan barat fast and furious.
Tayangan kesukaannya, walaupun udah berkali ulang episode tetap di lihat.
Sedangkan Eva yang tidak memandang ke arah tv, dan masih serius membaca novel.
"Kak?"
"Heemm." Jawab Diana singkat.
"Mas Bagas enggak pernah macem-macem kan?"
Berbagai macam pun sudah va, bukan satu macam lagi. Tentu dalam hati.
"Nanti kamu tau sendiri va."
"Maksudnya kak?"
Tanyanya, kali ini ia mengalihkan pandangan menatap Diana.
"Udah ah, kakak lagi serius liat film ini. Liat tuh Letty nya mau di tabrak oleh anak buah suruhan Braga." Cerocosnya.
"Au ah, enggak ngerti, enggak suka gelay." Kembali melihat Hp.
Tak lama samar-samar mereka mendengar dering HP.
Mereka saling pandang. Dan kembali lagi fokus melihat tontonan masing-masing.
Hingga dering bunyi terdengar lagi.
"Kak, kayaknya itu HP mas Bagas deh."
Belum sempat mengucapkan kalimat berikutnya Diana sudah hilang dari pandangan Eva.
Iya Diana berlari secepat kilat.
Siapa malam-malam begini menelfon suamiku.
Diana melihat, ternyata bos nya.
Masih bimbang akan angkat atau membangunkan suaminya.
Ah angkat ajalah ya, pikirnya.
"Hallo selamat malam."
"(Ada Bagas nya Bu?"
Tanya seseorang di seberang telfon.
"Ada pak, tapi suami saya sudah tidur. Apa ada pesan yang bisa di sampaikan pak? Atau harus langsung sama Bagas? Biar saya bangunkan."
"(Oh gitu, yaudah enggak usah. Bilang aja kalau senin ia harus pergi ke kantor cabang ya, di luar kota. Soal dengan siapa dia akan pergi, Bagas bisa ajak teman satu bagian ya terserah siapa yang mau ia bawa pergi ke sana. Dan kalau kurang jelas besok pagi Bagas suruh nelfon saya aja)."
"Oh iya pak, nanti saya sampaikan."
"(Maaf menganggu malam-malam begini, soalnya supaya senin langsung berangkat aja enggak usah ke kantor lagi)."
"Iya pak enggak apa-apa."
Sambungan sudah di matikan.
Ah bakal di tinggal lagi nih.
Diana kembali meletakkan HPnya. Saat akan pergi dering telfon kembali berbunyi.
Diana berjalan mendekat, dan melihat siapa yang menelfon.
Risah?? mau apa dia?
Diana tidak mengangkat.
Hingga telfon kembali berdering. Tidak juga Diana angkat. Dan akhirnya wanita duyung mengirimkan pesan.
#Isi pesan#
__ADS_1
"Mas? Katanya bakal ada yang di utus kan untuk keluar kota buat nemenin kamu. Nanti pilih aku aja ya mas? Lagian enggak enak juga di kantor kalau kamu enggak ada. Ya mas? Bisakan? Lagian semenjak nenek aku meninggal, aku belum pernah keluar jadi jenuh."
Oh jadi kemarin neneknya yang meninggal, kenapa bukan dia aja ya, dan sekarang apa Uda sehat, huffh.
Diana membolak-balik HP dan tampak berpikir.
"lEh kenapa aku enggak cemburu ya? Kok biasa aja? Apa karena aku udah niat dan Allah ijabah doa aku? Ah lagian Risah bukan saingan aku lah, kalau aku Uda langsing mah dia lewat!! Batinnya.
...***...
Diana
Entah kenapa aku sekarang, semenjak aku tau bahwa yang terus menggoda adalah perempuan itu aku jadi merasa sedikit lega, ya walaupun tetap tersakiti.
Aku merasa bahwa suamiku sudah sekuat iman menjaga hatinya untukku, hanya saja terus di goda.
Manusia kan tidak ada yang sempurna jadi sedikit banyak pasti mempunyai kehilafan.
Jangan tanya sakit atau tidak, dan jangan bilang aku bodoh.
Aku Uda punya dan susun rencana ke depannya gimana. Aku bakal atur untuk jalan mereka berdua dengan seolah aku tidak tau apa-apa. Terserah kalian mau bilang apa, toh aku juga enggak pernah cerita masalah rumah tangga aku ke orang-orang.
Biarkan saja dulu mereka terhanyut.
Anggap saja saat ini aku pembunuh berdarah dingin, bisa tau tanpa mencari tau, bisa melihat tanpa harus mengikuti, dan bisa menghancurkan keduanya tanpa harus nyentuh.
Orang yang terlihat bodoh kadang malah lebih pintar.
Anggap saja saat ini aku begitu.
Tapi bukan berarti aku merelakan suami ku, oh tentu saja tidak.
Aku yang tau gimana suamiku, aku yang mengerti sifat dan sikapnya dia. Sayang lah kalau di sumbangkan ke orang lain.
Intinya saat ini, aku fokus dengan tubuh ideal yang aku
inginkan. Dan mempercantik penampilan ku.
Jadi kalau mau ngelabrak ya setidaknya enggak malu-maluin lah.
Apa kata orang nanti kalau begini, bukan kasian pasti malah bilang 'iyalah suaminya selingkuh orang istrinya bentuknya begitu' itu malah lebih sakit lagi kalau di dengar.
Aku ingin orang lain yang nantinya tau dan melihat akan bilang 'bodoh istri cantik di sia-siakan.' Nah kalau itu kan bisa tersanjung aku.
Mari ceritakan saja aku dari segala hal dalam diriku. Aku tidak masalah. Yang penting saat ini aku ingin suamiku mengerti tanpa aku harus menjelaskannya.
Diana end.
...***...
Tentu Diana tidak diam saja, ia membantu dan mengingatkan untuk sholat subuh berjamaah.
Dan Diana kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya yang tertidur pulas.
Ya mungkin karena ini dulunya adalah rumah dimana ia tinggal dan juga beserta kasurnya yang ia tiduri, menjadi alasan tersendiri untuknya hingga tidur sangat nyaman.
"Ayah bangun, kita sholat subuh berjamaah bareng sama ibu."
Sambil terus mengguncang lengan suaminya.
"Hooamm. Iya sayang."
Bagas duduk dan mengucek mata, agar kembali sadar ke alam nyata.
"Ana tunggu diluar ya, ayah segera bersih-bersih dan langsung nyusul." Tegasnya dan pergi ke belakang.
Sampai saat ini, Diana masih terus berdoa memohon kepada Allah. Untuk selalu di beri kesabaran dan kekuatan hati yang tidak mudah bersedih.
Sampai saat ini aku masih yakin kalau engkau adalah imam yang terbaik untukku dan anakku. Hanya saja Allah mengujimu dengan mendatangkan makmum lain di kehidupanmu yah. Diana.
...***...
Mereka sarapan dengan tenang. Ibu terus tersenyum karena masakkannya di sukai oleh Alif cucunya.
Hingga tiba waktunya kami akan pulang raut wajahnya nampak sedih.
Diana pamit dan memeluk mertuanya, juga berpesan terus jaga kesehatan. Begitu juga yang di lakukan oleh Bagas.
"Ibu, Diana mau tanya." Ucapnya dan menatap mata mertuanya yang sendu.
"Tanya lah na, ibu yakin itu pasti penting."
"Bisa ibu kasih tau Ana dimana alamat rumah yang ibu kontrakan di desa?"
Tanyanya hati-hati. Dan pastilah Diana menanyakan hal ini di saat Bagas sudah keluar menuju mobil.
"Untuk apa na?"
"Ana hanya mau tau Bu, kan bisa main kesana."
Mertuanya menyebutkan alamatnya tersebut, dan Diana mencatat dari HP miliknya.
"makasih Bu, Diana sama Alif pamit."
"Pergilah kesana jika pikiranmu kalut, dan terus memberi kabar ibu jika kalian tidak bisa datang kesini bulan depan."
__ADS_1
Ucapnya sebelum Diana melangkah pergi ke arah mobil.
...***...
Di perjalanan pulang ke rumah.
"Yah, Diana lupa bilang. Tadi malam bos di kantor ayah nelfon. Dia bilang Senin ayah harus pergi ke kantor cabang yang ada di luar kota. Dan bebas memilih teman untuk pergi kesana, hanya saja yang masih satu bagian. Jika ayah kurang jelas ayah harus menghubunginya lagi."
Bagas belum menjawab.
"Terus besok ayah juga enggak perlu datang ke kantor lagi, langsung aja berangkat ke tujuannya."
"huuh." Bagas membuang nafas kasar.
"Kenapa yah?"
"Paling malas aja, belum tau jugakan berapa hari. Lagian pasti enggak jumpa sayang sama Alif."
"Kan enak yah, malah bisa cuci mata. Liat yang bening-bening." Goda Diana.
"Sayang. Mulut di jaga." Ucapnya dingin dan fokus menyetir.
"Kan emang bener yah. Bilang aja malah seneng. Apalagi fartner nya cewek. Wah bisa tinggal satu hotel yakkan yah." Kali ini Diana bicara dengan nada mengejek.
"Sayang, kalau kamu bicara lagi lebih baik ayah turun aja."
"Terserah." Jawab Diana cuek.
Apa mungkin Diana baca pesan dari Risah yang menawarkan diri untuk di ajak keluar kota?
Diana diam tidak bicara lagi.
Bagas melirik istrinya yang kembali diam.
Dan ia melihat Alif yang tertidur.
"Sayang."
"Heemm " Jawabnya.
"Enggak sopan."
Diana diam tidak menjawab.
"Kalau sayang keberatan, ayah bakal telfon untuk bilang kalau bisa jangan ayah yang pergi keluar kota."
Ucapnya lembut.
"Emang bisa?" Tanyanya dan terlihat sedikit sinar di matanya.
"Enggak."
"Huh!!!"
"Percaya sama ayah sayang, ayah kerja enggak macam-macam. Cukup satu macam aja. Doakan saja rezeki terus mengalir di keluarga kecil kita ini sayang."
Iya insyaallah aku percaya kalau kamu bakal pergi sama dia. Diana.
"Iya."
"Udah nanti pulang bakal ayah kasih hadiah."
"promise?"
"Tentu!"
Diana merasa bosan di mobil yang masih lumayan jauh untuk menuju ke rumahnya. Ia memutar lagu di mobil.
lagu Astrid ~ Medua.
*Kau putuskan tuk mendua dengan dia di belakang ku..
padahal ku pilih kamu jadi cinta terakhir*...
Bagas merasa tersindir dan mengganti lagunya dengan lagu yang ia pilih.
"Kenapa di ganti?" Tanya Diana ketus.
"Ayah enggak suka lagu itu sayang."
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
"Apa ayah selingkuh! Enggak kan?"
"Apasih na, cuma gara-gara lagu kok jadi nuduh."
Bagas bicara dingin.
Diana lebih baik diam tidak menanggapi, dan memilih mematikan lagu yang di putar.
Ia terus memandang keluar jendela yang banyak Wira Wiri orang di pinggir jalan.
Bener kata Eva , baperan!!!
Bersambung..
__ADS_1