Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 35


__ADS_3

Bagas kembali ke rumah, mengepak pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa keluar kota. Kali ini tidak ada staf lain yang menemani dan membantunya selama di luar kota. Karena hal ini sudah direncanakan oleh Darma, dengan begitu Bagas akan lebih lama berada di luar kota. Sebab ia harus mengerjakan semuanya sendiri.


Darma akan mudah saat ini membuat peraturan, pasalnya ialah atasan Bagas sekarang. Berontak pun percuma, karena Bagas juga masih membutuhkan pekerjaannya, ya walaupun saat ini ia tidak memberi nafkah untuk istrinya. Bukan tidak mau, tapi Diana sendiri yang berusaha menghindar, dan tidak bisa di jangkau oleh Bagas.


Dalam perjalanan Bagas hanya diam dan memikirkan segala cara untuk bisa bertemu langsung dengan Diana. Kalau hanya mengirim video ini ke Anton juga mudah, namun rasanya jika tidak bertemu langsung pasti akan sulit.


"Mas, kenapa ada masalah ya?"


Tanya sang supir. Ya supir ini adalah supir yang sama, yang waktu itu mengantar Bagas keluar kota sebelumnya.


"Iya pak." Bagas membuang pandangannya ke arah luar jendela.


"Yang bapak bilang waktu itu benar. Wanita itu nekat."


"Jadi bagaimana rumah tangga mas nya?"


Tanyanya dengan nada khawatir.


"Iya istri dan anak saya pergi pak ninggalin saya. Tapi saya sudah ada buktinya kalau wanita itu hamil bukan anak saya pak."


"Kan sudah bagus mas."


"Masalahnya saya tidak tau dia dimana, dan juga saya tiba-tiba di tugaskan keluar kota. Makin puyeng urusannya pak. Seolah-olah ini semua udah di atur sama ayah si bayi."


"Jadi masnya tau siapa ayah calon anak itu?"


Bagas membuang nafasnya kasar.


"Tau pak, dia atasan kita."


Pak supir kaget dan mengerem mendadak. Ia menatap Bagas dengan serius. Wajahnya seperti kaget juga emosi.


"Kenapa pak? Saya bicara faktanya saja. Biarlah orang lain tau."


"Siapa mas orangnya?"


"Bapak pasti tau, siapa yang saya maksud. Atasan kita bukan yang punya perusahaan ya pak."


"Ya Allah."


"Mas, mas bilang udah ada bukti kan?"


"Iya pak, kenapa?"


"Apakah tidak ada orang lain yang bisa membantu mas dalam hal ini?"


"Ada pak, kakak ipar saya. Tapi sulit kalau di luar kota begini."


"Telfon aja mas, sekarang. Langsung beri kabar. Saya yakin dia pasti segera memberi tau istri mas."


Tanpa berpikir Bagas menjawab.


"Baik pak."


Bagas meminta berhenti di SPBU tempat mengisi bensin. Ia tidak mau berbicara di dalam mobil. Kemudian ia turun dan memasuki kamar mandi disana, agar percakapan mereka tidak di dengar orang lain.


"(Hallo gas, Assalamualaikum)."


"Mas, Walaikumsalam."


"(Iya ada apa gas? Kok kayak orang lagi ketakutan ngomongnya)."


"Mas, begini aku udah punya bukti video, kalau Risah memang bukan mengandung anakku."


"(Kamu serius?)"


Anton sedikit kaget. Sebenarnya ia juga menyelidiki, demi keutuhan rumah tangga adiknya. Ternyata kalah cepat dengan Bagas.


"Iya mas, aku serius. Aku bersumpah."


"(Baiklah kita ketemu sekarang)."


"Mas tunggu, masalahnya aku di tugaskan keluar kota, secara mendadak!!"


Ucapannya sedikit emosi mengingat kejadian hari ini.


"(Di kota mana?)"

__ADS_1


"Di kota X mas, sama seperti waktu itu. Hanya beda tempat aja."


"(Mas juga ada jalur kesana malam ini, mas juga lagi di luar kota. Share lock aja kamu di hotel mana. Nanti malam mas usahakan untuk kesana)."


"Iya ya. Makasih banyak mas."


"(Tetap tenang, jangan gegabah)."


Bagas keluar kamar mandi, ternyata supir menunggunya tak jauh dari pintu. Dengan wajah yang sedikit cemas.


"Sudah mas?"


"Sudah kok pak."


"Syukurlah, jadi bagaimana?"


Bagas kemudian menceritakan prihal di telfon tadi dengan iparnya. Dan ia pun berdoa semoga kali ini tidak ada halangan lagi untuk menuju bahagianya.


"Semoga segera selesai masalahnya ya mas. Dan keluarga mas kembali utuh, walaupun memang awalnya itu kesalahan mas sendiri, tapi setidaknya mas sudah jujur."


Semoga keluargamu baik-baik ya nak. Tidak seperti anak bapak. Batin sang supir.


Sampai di hotel tempat untuknya tinggal sementara di luar kota pun sudah jam 8 malam. Ini karena mereka tadi sempat berhenti sebentar, untungnya tidak ada kemacetan yang terjadi. Bisa sampai larut malam kalau terkena macet, bahkan bisa gagal bertemu Anton malam ini.


Bagas berpikir untuk segera melaksanakan sholat isya. Tak lupa membersihkan diri dulu, setelah itu barulah melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Selesai sholat ia kembali melihat HP. Ternyata Anton sudah menanyakan dimana tempat ia menginap. Bagas dengan cepat mengirim lokasinya saat ini. Ia pun duduk di kursi dekat jendela kamar hotel. Memandang ke arah langit yang di hiasi beribu bintang.


Diana, semoga ini hanya perpisahan kita sementara. Aku harap kamu masih berpegang teguh dengan kata-kata mu, yaitu menikah cukup sekali seumur hidupmu. Aku yakin Diana, kau takkan meninggalkan ku selamanya. Tunggulah aku datang.


Air mata kembali menetes. Dan tidak ia hapus, sengaja ia biarkan jatuh terus menerus.


Bel berbunyi tanda Anton sudah ada di depan pintu kamarnya.


Bagas berjalan cepat dan membukakan pintu.


"Mas, Alhamdulillah udah sampai?"


"Udah, ni mas bawa makanan. Mas lapar belum makan. Kamu udah makan belum?"


"Belum mas, sampai tadi langsung mandi terus sholat, sekalian nunggu mas datang."


"Aku rindu Diana mas, bukan mas. Cuma melalui mas itu akan mempercepat pertemuan kami, hehe."


"Mas masih enggak nyangka kadang sama kamu gas. Kayaknya aja pendiam, bicara sama orang lain aja kalau yang udah kenal. Masak sekarang udah bisa selingkuh, ah enggak nyangka mas. Bahaya nih yang diam-diam ternyata."


"Iya mas, aku khilaf. Bukan kah udah aku ceritakan sama mas. Kalau wanita itu terus menerus mendekati. Ya awalnya aku kira dia mau berteman, ternyata aku salah."


"Ya udah, kita makan sekarang ya. Setelah itu baru mas liat video yang kamu maksud."


Bagas mengangguk tanda mengiyakan perkataan Anton.


Setelah selesai dengan urusan perut, Bagas segera menyerahkan HPnya ke Anton.


"Putar langsung mas."


"Enggak ada video yang lain gas? Yang adegan 21+ gitu?"


"Ada mas, tapi sama Diana. Makannya jangan di geser ya."


"Ternyata kamu bisa bercanda ya gas, haha."


Mereka pun tertawa bersama. Memang benar ya, jika ada Anton pikiran yang kalut sekalipun tetap bisa tertawa. Bukan hanya Bagas, Diana juga begitu kalau sudah ada Anton.


Anton kembali dengan mode seriusnya, melihat dan mendengarkan rekaman video itu. Kemudian dahinya berkerut, setelah mengetahui lelaki yang awalnya hanya terdengar suaranya saja. Namun di akhir video tampak jelas wajahnya.


Ternyata benar dugaan ku kalau kamu Darma. Sudah yang ke berapa kali kamu lakukan ini pada wanita di luar sana. Namun kali ini yang kamu jebak adik iparku.


"Gimana mas? Apa itu sudah cukup?"


"Belum."


"Tapi bukankah semua pengakuan mereka itu sudah cukup?"


"Jika kita menuntut, pengadilan pasti meminta bukti yang lebih kuat dan memberatkan mereka."


"Apa lagi itu mas?"

__ADS_1


"Iya Test DNA."


"Tapi mas, itu menunggu delapan bulan lagi, bukankah sampai bayi itu lahir?"


"Kamu pintarnya hanya masalah pekerjaannya saja ya? Usia kandungan lima bulan sudah bisa melakukan Test DNA. Cuma itu memiliki resiko pada janin tentunya. Kalau mas sarankan, iya lebih baik menunggu bayi itu lahir."


"Mas, mau sampai kapan aku dan Diana begini? Aku takut rasa cinta Diana sama aku keburu memudar dan hilang mas, tolonglah."


"Jadi keputusan mu bagaimana?"


"Aku akan tetap melakukan test DNA saat usia kandungannya lima bulan."


"Ya udah kalau begitu. Mas pamit ya, soalnya mas langsung lanjut pulang ke rumah. Enggak nginap, takut khilaf kayak kamu."


"Ya ampun mas, jangan di ulang-ulang lah mas. Aku jadi di hantui rasa bersalah setiap detiknya."


Anton hanya nyengir bak kuda. Kemudian langsung pamit keluar untuk pulang.


"Eh mas tunggu dulu."


"Apa lagi?" Ia menoleh sebelum keluar pintu.


"Jadi apakah aku bisa bertemu dengan Diana?"


"Kamu mau kapan? Besok, sekarang atau lusa?"


"Kalau bisa besok, ya besok mas."


"Ya udah mas enggak masalah, palingan kamu di pecat."


Bagas menepuk dahinya sendiri, ia lupa kalau sekarang ini masih berada di luar kota. Kalau saja tidak tugas disini, pastilah ia nekat meminta ijin cuti dengan berbagai alasan.


"Udah, kamu fokus sama kerja kamu dulu. Semakin cepat kamu disini maka semakin bagus. Mas pulang dulu."


"Iya mas."


Dan Anton pun menghilang di balik pintu yang kini di tatap Bagas. Ia senang karena jalur untuknya semakin terlihat, namun hanya satu kendala yaitu, soal waktu dan tempat.


Aku harap jam dinding akan berputar lebih cepat dari biasanya.


Bagas mencoba membuka email kerjanya. Untuk melihat apa saja yang akan ia kerjakan besok. Namun HPnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia melirik ternyata Risah yang menelfon. Bagas langsung mematikan HP nya dan kembali fokus memeriksa email.


Hingga malam menjelang, rasanya otaknya sangat lelah karena hari-hari berat yang ia jalani. Bagas memejamkan mata dan terlelap.


...***...


"Gimana Bu? Di angkat enggak?"


"Enggak aktif."


Ucap wanita paruh baya ini, dan wajahnya terkesan lesu.


Ternyata setelah Risah yang menelfon, Ibunya juga menelfon, namun karena HP Bagas di nonaktifkan maka panggilannya tidak tersambung.


"Ibu sangat khawatir dengan Diana va."


"Iya Bu, Eva juga. Dimana kak Diana sekarang ya Bu. Kasian dia, bukankah Ibu dan bapaknya sudah tidak ada, lalu kalau begini ia akan mengaduh kemana?"


Tiba-tiba Bu Ramini teringat sesuatu.


"Ibu tau dia dimana."


"Dimana Bu?"


"Temani Ibu minggu depan ke desa."


"Maksud Ibu, kak Diana ada disana? Enggak mungkin lah Bu."


"Eva, kamu ingat enggak waktu yang ngontrak terakhir kali ngasih kabar ke Ibu kalau dia enggak nyambung kontraknya lagi, karena ada saudara ibu yang ingin menempati rumah itu?"


Eva mengangguk.


"Kenapa kita tidak berpikir kesana? Bukan kah saudara Ibu semuanya sudah memiliki rumah masing-masing, bahkan mewah."


"Ya ampun, iya ya Bu. Mungkin karena kemarin kita masih bingung, emosi juga jadi tidak bisa berpikir."


Bersambung..

__ADS_1


Jangan bilang masalahnya berbelit-belit ya, kadang di kehidupan nyata juga masalah kecil bisa jadi rumit. Kalau langsung ke pemecahan masalah bukan cerita namanya. Intinya author bakal buat happy ending. Terimakasih yang udah like, komentar, juga jangan lupa vote nya ya


Dukungan kalian sangat author butuhkan๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ ilvyuuu๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_2