
Risah berjalan dengan lunglai. Bahkan sudah tak memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Kemudian seorang lelaki yang menjemputnya untuk datang kesini, menegur lalu bersiap untuk mengantarnya pulang.
Awalnya Risah menolak, karena saat ini ia sangat ingin sendiri. Tapi lelaki itu berkata bahwa ia sudah berjanji akan kembali mengantar kan pulang, bahkan ini juga perintah dari atasannya, yakni papanya Luna.
"Baiklah, silahkan masuk."
Ucapnya sopan.
Di dalam mobil Risah tak lagi segan mengeluarkan Isak suara tangisnya.
Aku wanita tidak berguna, sungguh lebih baik aku mati.
Hal itu terus menerus Risah tanamkan dalam pikirannya.
"Sudah sampai nona."
Mengembalikan kesadaran Risah.
"Terima kasih." Turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras.
Lah marah sama siapa yang jadi pelampiasan siapa. Batin lelaki itu.
"Risah? Kamu dari mana?"
Tegur ibunya yang melihat anaknya sudah sampai pekarangan rumah. Risah tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Saya tinggal sebentar ya."
Berkata dengan pelanggan yang sedang makan di warung.
"Sah, Risah." Teriaknya, tapi belum mendapat jawaban.
"Sah?" Membuka pintu kamar, dan melihat anaknya yang duduk di lantai kamar dengan frustrasi.
"Ya Allah, kenapa nak? Kamu diapakan sama mereka?" Risah hanya menangis. "Jawab ibu sah." Kembali mengguncang bahu anaknya.
"Aku sangat hina bu. Sangat hina. Aku sangat hina dan menjijikan di mata orang. Bahkan mungkin saat ini, lalat pun tak sudi untuk mendekat."
"Itu salahmu. Kenapa dulu tidak menerima saja perjodohan dengan Rendy? Bukan kah dia juga berasal dari keluarga berada? Malah kamu lebih memilih untuk menjual diri!!"
"Bu cukup!! Jangan lebih merendahkan aku, ibu juga enggak tau kan siapa Rendy sebenernya? Dia juga sama saja denganku, sama-sama breng**k! Ibu pikir Rendy anak yang baik? Justru aku tau siapa dia, makannya aku menolak. Kalau dia lelaki baik-baik, mungkin aku mau, karena aku yakin dia bisa bimbing aku bu."
"Maksud kamu, apa kamu juga sudah pernah tidur dengannya?"
Risah mengangguk.
plak..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Risah.
Risah memegang pipinya yang memanas bekas tamparan ibunya yang sangat keras. Kalau tadi aku merasa di tampar oleh mamanya mbak Luna dengan kata-kata. Tapi, kali ini ibu langsung menamparku.
"Dasar kamu wanita ja**ng. Ibu menyesal melahirkan kamu Risah ya Allah." Langsung pergi meninggalkan Risah yang teramat hancur saat ini.
Ya Allah, mungkin ini karma ku yang dulu kawin lari oleh ayahnya, tanpa persetujuan orang tua. Ku kira dengan aku yang tersakiti dan di tinggal oleh suamiku, karma ku sudah berakhir. Ternyata tidak, sumpah orang tua suamiku masih berlaku sampai saat ini. Hidupku akan terus sengsara.
Ibu yang menangis membayangkan masa lalunya, ia segera keluar akan kembali ke warungnya, dengan cepat ia menghapus air matanya.
...***...
Tak terasa pagi tiba, hari dimana Diana akan kembali ke rumahnya. Bersama suami dan anaknya. Ada rasa bahagia, dan juga ada rasa sedih yang timbul, rasanya sudah nyaman berada di desa ini, walaupun belum ada tiga bulan.
"Sudah sayang?" Diana mengangguk.
"Jangan kabarin mas Anton kalau ana akan pulang hari ini, biarlah besok kita datang memberi kejutan."
"Siap bundanya Alif."
Bagas mengunci pintu rumahnya itu. Barang yang mereka bawa hanya pakaian, biarlah perabot rumah di tinggal. Nanti akan di tawarkan kepada tetangga terdekat jika berminat akan mereka jual, tentu dengan persetujuan Anton dulu. Karena semua dia yang beli. (yang mau ambil sana, sayang loh Diana kan baru beli, hanya di pakai belum genap tiga bulan, Author juga mau wkwk).
"Sudah ayo, Kita ke mobil sekarang."
Mengangkat tas besar milik istrinya, membuka kan pintu dan memberi isyarat untuk istrinya masuk.
"Makasih." Terdengar lembut.
Bagas memutari mobil untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Bang, mau kemana?"
Tegur Rama yang saat ini sudah berada di belakang Bagas.
Diana mengintip dari dalam mobilnya bersama Alif duduk di pangkuannya.
"Iya." Masih acuh.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin, aku salah paham. Terima kasih sudah menolong istriku. Kami akan kembali ke kota, dan tidak lagi disini."
"Aku juga minta maaf bang. Jujur, awalnya aku tertarik oleh Diana." Menarik nafas untuk kembali melanjutkan kata-katanya. Bagas sudah menatapnya dengan tajam. "Tapi aku sadar dia milik orang lain, dan aku juga sudah punya tunangan yang saat ini berada jauh di negeri orang. Untuk itu, maaf telah menggangu sebelumnya."
"Iya aku maafkan. Aku juga seorang pendosa berat. Baik lah, kami permisi."
"Bang, bolehkan aku bertemu Alif sebelum kalian pergi?"
Bagas menoleh ke arah dalam mobilnya. Kemudian mengangguk.
"Alif sini turun dulu, ada yang mau berjumpa." Berbicara melalui kaca jendela mobil yang terbuka.
Rama memeluk Alif dengan erat.
Kenapa aku merasa ada ikatan pada Alif ya. Aku merasa tulus menyayanginya.
"Alif, om Rama pasti akan rindu Alif, Alif jangan bandel ya."
"Iya om. Alif juga pasti rindu Om Rama."
Bagas hanya menatap tidak ingin berkomentar.
Setelah Alif kembali masuk ke mobil Bagas kembali bertanya.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"
"Ada bang." Rama tampak ragu untuk mengucapkannya.
"Soal keluarga kalian yang selalu menyebutku dengan sebutan anak pembawa si*l. Aku harus tau itu."
Bagas hanya membuang pandangan.
"Untuk itu aku tidak ingin menjelaskannya sekarang. Aku tidak ingin masa lalu keluarga ku kembali terngiang di pikiranku. Jika kamu siap mendengar, biar ibu ku yang menjelaskan. Kamu bisa cari alamat kami di kota." Kemudian Bagas menyebutkan alamat ibunya tinggal. "Kamu bisa datang kesana, tapi jangan saat ini, ibuku masih dalam masa pemulihan. Kami permisi."
__ADS_1
Rama terdiam.
Biar lah memang sudah saatnya dia tau, aku akan mencoba menerima takdir. Seperti Diana yang masih mau menerima ku.
Batinnya lalu masuk dan menjalankan mobilnya.
"Kenapa?"
Tanya Diana yang sejak tadi sudah penasaran di dalam mobil.
"Nanti kamu bakal tau, dia cuma bilang kalau dia suka sama kamu sayang."
Diana membulatkan matanya merasa tidak percaya. Menatap tajam suaminya. Bagas hanya melirik sekilas dan tersenyum.
"Sudah jangan tanya lagi."
Kembali hening.
Diana dan Alif tertidur di mobil, dan tak terasa sudah sampai di kota, daerah rumahnya.
"Sayang, bangun."
Menyentuh lembut pipi istrinya.
"Eum.." Mengucek mata dan mengembalikan kesadarannya.
"Sudah sampai?"
Bagas mengangguk.
"Ayo turun."
Diana melangkah turun bersama Alif.
Tampak bu salmah yang sudah berdiri di depan teras rumahnya, memandang Diana dengan tersenyum. Diana juga membalas dengan senyuman hangat, banyak hal yang akan ia ceritakan setelah ini, pikirnya.
"Yah, boleh kah ana menghampiri bu salmah dulu?"
"Silahkan sayang. Bu Salmah tampak begitu merindukan mu."
Diana lebih memilih untuk melepas rindu dengan tetangganya dari pada masuk ke dalam rumahnya.
"Bu, apa kabar? Ibu sehat kan?"
"Seharusnya ibu yang bicara begitu na." Tersenyum ramah.
"Duduk dulu. Ibu ambilkan cemilan."
"Udah bu jangan repot-repot."
"Untuk Alif na. Kalau kamu jangan makan banyak-banyak, nanti gendut lagi."
"Emang bakal gendut lagi bu." Ucapnya mengentikan langkah bu Salmah.
"Lah, jangan sampai na."
Diana hanya tertawa dan tidak berkata lagi. Karena bu Salmah memang belum tau kalau saat ini Diana sedang mengandung.
Kembali dengan membawa nampan berisi air dan beberapa makanan yang ia buat sendiri.
"Silahkan di makan. Enggak rindu apa sama makanan yang sering ibu buat?"
"Iya rindu lah Bu."
Tanpa segan Alif langsung mengambil salah satu makanan itu, dan dirasanya enak hingga beberapa kali ia mengambil dan memakannya. Diana dan bu Salmah hanya tertawa melihat Alif yang tak jaim memakan semuanya.
"Jadi, apakah kamu baik selama pergi?"
"Baik bu. Tapi tidak dengan pikiran."
"Sudah, ibu mengerti yang kamu rasakan. Jadi, mulai sekarang hiduplah tanpa beban, dan jangan menyembunyikan sesuatu yang harusnya kamu ungkapkan."
"Iya bu. Oh iya, ibu belum tau kan kalau ana hamil saat ini?"
"Serius kamu na? Apa sejak kamu pergi waktu itu?"
Diana mengangguk cepat.
"Iya bu. Saat itu harusnya Bagas pergi untuk mengantar ana periksa ke dokter, tapi malapetaka datang di hari dan jam itu juga." Menunduk mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Sudah lah na. Semua yang menimpa kamu, cukup kamu ambil hikmahnya. Ibu yakin, kamu juga sebenarnya tidak ingin bercerai kan?"
Diana mengangguk lagi.
"Semoga kamu dan janin mu sehat selalu, sampai tiba waktunya melahirkan."
"Terima kasih banyak ya bu."
Ucapnya tulus.
"Bu, ana masuk dulu ke rumah ya. Nanti kalau senggang waktu, kita bicara lagi. Banyak hal yang harus ana pelajari dari ibu."
"Baiklah na. Kapan pun ibu siap mendengarnya."
"Ayo Alif kita pulang nak." Menggandeng tangan anaknya, dan kembali memasuki rumahnya.
Diana menatap sekeliling, masih sama ketika terakhir meninggalkan rumah ini. Ada yang berbeda, ya ada beberapa barang miliknya yang tidak ada.
Kemana guci besar ku, apakah di pindah oleh Bagas.
"Yah." Panggilnya setengah berteriak.
"Iya sayang. Sudah selesai bicaranya sama bu Salmah?"
Diana tidak menghiraukan pernyataan Bagas, ia hanya terfokus pada letak guci miliknya.
"Kemana guci besar yang ada disini? Apa di pindahkan?"
Bagas menggaruk kepalanya.
Ya ampun aku sudah memecahkannya.
"Nanti beli lagi aja ya sayang."
"Kenapa?" Masih ngotot ingin penjelasan.
"Pecah waktu itu, waktu ayah frustasi di tinggal kamu."
"Apa????"
"Maaf sayang, nanti kalau ayah udah bekerja, ayah janji bakal ganti."
__ADS_1
"Bekerja? Apa memang benar kalau kamu risigne dari kantor?"
"Mau bagaimana lagi sayang. Semua karena keadaan, ayah enggak bisa lagi bekerja dengan si pengkhianat. Yang penting uang tabungan kita masih cukup sampai satu tahun kedepan. Dan sebelum itu juga ayah akan terus mencari pekerjaan yang tetap."
"Bukan, bukan itu masalahnya. Ana mau guci itu, titik."
"Tapi sayang?"
"Enggak, pokoknya harus di ganti sekarang, beli sekarang." Mencak-mencak seperti anak kecil. "Cepat beli, yang sama persis seperti itu. Sekarang!!!" Teriaknya.
Bagas gelagapan. Langsung mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar. Ia segera pergi mencari toko yang menjual guci seperti milik istrinya. Dan untungnya Bagas masih ingat dimana toko itu berada. Hari ini keberuntungan masih berpihak padanya, tapi tidak tau besok-besok.
dua jam kemudian, Bagas pulang dengan membawakan guci sesuai dengan milik istrinya yang pecah. Ia melihat tak ada suara di dalam rumah, ternyata Diana dan Alif sudah tertidur di dalam kamar.
Huh ternyata.
Bagas mengatur posisi guci sama seperti yang kemarin. Setelah itu ia juga menyusul istri dan anaknya yang tidur di kamar, memeluk Diana dari belakang.
Sungguh ya Allah aku sangat rindu hal ini.
...***...
Keesokan paginya Diana bangun dan bersiap untuk memasak. Ketika sampai di dapur, ia baru mengingat kalau ia bahkan belum belanja. Isi kulkas hanya es yang menjadi batu dan satu buah tomat yang sudah siap membusuk.
Kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
Terbangun kembali setelah pukul delapan lewat.
"Yah bangun." Mengucek matanya.
"Iya sayang." Bagas juga bangun dan melihat gorden jendela sudah menampakan sinar matahari yang cerah.
"Jam berapa sekarang sayang?"
Diana hanya menunjuk jam yang berada di dinding kamarnya.
"Ya ampun."
"Kenapa?"
"Enggak sayang. Ya udah kita bersiap sekarang ya? Nanti beli sarapan di luar, kita harus ke rumah mas Anton sekarang, ayah juga ada perlu, soalnya besok harus ke pengadilan."
"Ya sudah."
Bagas turun lebih dulu dan masuk ke kamar mandi, bersiap membersihkan dirinya. Diana pun segera membangunkan Alif.
Setelah beberapa menit Bagas keluar kamar mandi, dan masuk ke kamar. Melihat istrinya kembali tertidur. Bagas menggelengkan kepalanya.
"Alif bisa mandi sendiri enggak?"
"Bisa ayah."
"Ya udah sekarang Alif mandi, jangan lupa gosok gigi ya. Biar ayah bangunkan bunda."
Menurut dan berjalan ke kamar mandi.
"Sayang, ya ampun bangun. Liat udah jam berapa sekarang?"
Menggeliat dan masih memejamkan matanya.
"Sayang." Masih terpejam.
Bagas langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
"Yah apaan sih ah."
Meronta setelah sadar ia sudah berada di gendongan Bagas.
"Mandi sayang mandi, bukan tidur."
Berhenti tepat di depan kamar mandi.
Diana melengos dan masuk.
"Alif udah selesai ayah."
"Ya udah ayo ikut ayah pakai baju."
Bagas mengurus Alif sementara Diana sibuk dengan dirinya sendiri.
"Ayo kita berangkat sekarang."
Berjalan keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu.
Diana yang memang baru sehari kembali ke rumah belum sempat melihat tanamannya.
Saat berjalan melewati teras rumah, dan melihat tanamannya banyak yang mati dan kering. Ia membulatkan matanya, segera mendekat.
"Yah."
"Iya sayang."
"Apa selama ini tanamanku tidak pernah di siram?"
"Tidak sayang. Enggak sempat lagi mikirkan tanaman, yang ayah pikirkan hanya kamu dan Alif."
"Tega sekali sih ya ampun. Sudah menyakiti hati, menyakiti tanaman pula. Jadi bagaimana ini?"
Ia merasa sangat terpukul hanya karena tanaman.
"Iya nanti kita beli lagi."
"Enggak, enggak mau. Harusnya tuh di rawat, apa sih susahnya tinggal menyiram aja. Tinggal menyiram loh yah. Air enggak beli."
Masih terus mengomel, Bagas menarik Alif untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Sayang ayo masuk."
Teriak Bagas ketika sudah memanaskan mesin mobilnya.
Dengan cemberut Diana masuk ke dalam mobil.
"Maaf sayang maaf. Iya nanti pulang dari rumah mas Anton akan ayah belikan lagi."
"Terserah!!" Masih acuh.
"Bunda kenapa marah-marah terus?" Tanya Alif.
"Enggak apa sayang. Bunda hanya marah sama ayah kok." Ucap Diana tersenyum, dan langsung merubah ekspresi wajahnya ketika melihat Bagas.
"Udah tau beli pakai uang, tapi di biarkan begitu saja."
__ADS_1
Masih berlanjut ketika mobil sudah berjalan. Alif dan Bagas kompak diam mendengarkan Diana sepanjang perjalanan hanya mengomel soal tanaman.
Bersambung...