
"Ini cek untuk mu. Ini hanya 50 juta, kalau kurang kamu bisa minta saya lagi, dan tentunya dengan pelayanan yang bagus."
Ucapnya dan kemudian pergi meninggalkan kamar hotel beserta Risah.
"Pak, tunggu."
Pak Darma menoleh.
"Lalu saya pulang naik apa?"
"Yaudah, ayo sama saya. Tapi saya mengantar sampai persimpangan, tidak sempat lagi jika harus mengantar kamu ke rumah."
Risah pun hanya mengangguk pasrah. Di ambil cek yang nilainya cukup tinggi itu, lalu bersiap untuk pulang.
...***...
"Yah, hari ini kan terakhir ayah libur, kita kerumah kak Mita mau?"
"Kalau sayang aja gimana? Biar ayah dirumah aja?"
"Yaudah deh yah, lebih baik enggak usah."
"Hehe, iya sayang ayah becanda. Yaudah ayo bersiap?"
Pagi menjelang siang itu mereka pergi ke rumah kakaknya. Sudah jadi kebiasaan tersendiri untuk selalu mengunjungi kakaknya.
Mereka sampai dan memasuki area pekarangan rumah. Enggak biasanya gerbang terbuka, pikir Diana.
Diana langsung mengetuk pintu yang tertutup dan tak lupa mengucapkan salam.
Tak lama pintu terbuka tampak sang tuan rumah membuka pintu, dengan wajah yang di penuhi keringat.
"Kamu na, kabarin lah kalau kemari apalagi sama Bagas, kakak kan bisa masak."
"Alah kak repot-repot segala, sekali-sekali Ana suru masak biar enggak ngerepotin." Jawab Bagas.
"Yaudah masuk, Alif enggak kangen sama bude nak?"
Mereka berbincang sembari berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Kak, kok enggak biasanya pintu gerbang kebuka aja. Lagian kakak juga kenapa kok sampai berkeringat begitu. Mas Anton mana kak?"
"Na, bisa enggak sih kalau ngasih pertanyaan satu-satu dulu."
Ucap Mita dan menghela nafas.
Diana hanya tersenyum menanggapi.
"Mas Anton lagi mandi, tadi tuh kakak baru aja latihan senam kesuburan. Nah sebelum kamu sampai, baru aja guru senam kakak pulang, jadi pintu gerbang belum kakak tutup. Mungkin kalian juga sempat berpapasan di jalan."
"Wah ada ya kak, senam kesuburan. Kirain hanya senam untuk kurus aja, hehe."
"Ya adalah na, kirain kamu aja senam yang buat langsing."
Jawab Anton yang baru selesai mandi.
Mereka serempak menoleh ke arah suara.
"Apa?" Jawabnya tanpa merasa berdosa.
"Alif, pakde kangen. Kenapa enggak datang kesini lagi?"
"Bunda enggak ajak Alif pakde."
Jawab Alif polos.
"Iya bunda kamu sibuk dengan urusan berat badan, supaya ayah kamu enggak lari tuh."
Alif nampak bingung dengan jawaban Anton yang sembarangan.
"Mas, Alif enggak tau lah yang begituan."
Sahut Mita.
Mereka berbincang hangat. Sesekali Anton nampak menyindir Bagas yang pergi keluar kota bersama Risah. Diana hanya tersenyum kecut, karena pasalnya ia sendiri tau. Sebenarnya yang Diana tunggu adalah kerjujuran Bagas prihal hubungannya dengan wanita itu. Namun ia tak kunjung membuka mulut, selalu menutupi dengan berbagai alasan.
Sore hari mereka pulang ke rumah, wajah Bagas nampak kusut. Karena ia tau sewaktu berada di rumah kakak iparnya Anton nampak terus-menerus menyindir dirinya. Hingga ia merasa tersudut kan.
"Kenapa yah? Mukanya di tekuk terus."
"Enggak apa sayang."
"Tapi tadi enggak begitu."
"Pasti prihal perkataan mas Anton ya?"
Bagas tidak menjawab dan memilih masuk ke dalam kamar. Diana mengikutinya begitu juga dengan Alif.
"Yah?"
__ADS_1
Panggilnya pelan.
"Ada apa?"
"Kalau ayah enggak merasa kenapa ayah tersinggung dengan candaan mas Anton?"
"Ayah enggak suka aja di tuduh seperti itu."
"Hanya bercanda yah, bukan menuduh."
"Terserah lah, intinya ayah enggak suka. Lain kali kalau mau datang kesana, kamu datang sendiri aja. enggak usah ajak ayah!"
Bentaknya.
"Oh yaudah, kalau gitu sekalian aja kalau mau kemana-mana Ana sendiri, ayah enggak perlu ikut."
"Oh jadi kamu senang pergi enggak sama ayah?"
"Kan ayah sendiri yang minta."
"Haha, iyalah kamu kan udah cantik sekarang, bahkan siapapun juga mau sama kamu."
"Yah, Ana bukan wanita seperti itu."
"Semua wanita sama aja."
"Begitu juga lelaki!!!"
Kali ini Diana membentak, karena ia tak terima dengan ucapan Bagas yang merendahkan dirinya.
"Yah, Ana ingin merubah fisik, mempercantik diri Ana hanya untuk suami, bukan orang lain. Jangan bilang ayah terima dengan tubuh Ana yang gempal, kalau nyatanya ayah masih terpikat oleh wanita lain!!"
Ucapnya dengan berapi-api dan pergi meninggalkan Bagas.
"Maksud kamu apa bicara begitu Ana!! Kalian memang sama aja, tukang menuduh!!"
Diana yang mendengar perkataan Bagas lalu berbalik.
"Menuduh? Bukan kah semua itu memang faktanya? Ha? Yah, jangan anggap orang yang diam itu bodoh!!"
Bagas terdiam mendengarkan.
"Kamu yah, sekarang Ana tanya. Apa hubungan kamu dengan Risah? Udah sejauh apa yah?"
"Risah? Risah siapa?"
"Kamu enggak tau, atau pura-pura tidak tau?"
Kali ini Diana memancing supaya Bagas jujur.
"Jangan ngawur kalau biacara sayang."
"Haha, yah. Sewaktu kamu tidur mengigau nama Risah Ana udah curiga! Dan, dan waktu kita menolong Risah waktu itu, jangan kira Ana enggak mendengar percakapan ayah sama dia, Ana dengar semua. Tapi Ana diam hanya untuk mempertahankan rumah tangga kita. Lalu kamu menginap di hotel, ada beberapa tanda kissmark di tubuh kamu, ayah kira Ana ini segitu bodohnya? Haha, Ana tau, tau yah!!!"
"Dan kamu juga pergi ke luar kota bersama Risah Ana juga tau, dan sejauh apa hubungan kalian Ana tau."
Kali ini air mata sudah membanjiri wajahnya.
Bagas terdiam, terpaku bagai patung. Karena semuanya memang benar.
"Sayang, maafin ayah."
"Cukup, cukup sudah. Untuk hal ini Ana hanya butuh ke jujuran bukan alasan yang harusnya sudah di jelaskan sejak awal, cukup yah."
Ia lalu pergi ke kamar mandi, mengunci diri seperti hal yang ia lakukan sebelumnya.
Untuk mengejar pun rasanya Bagas sudah tidak sanggup lagi.
Bagas memandang Alif yang masih asyik dengan mainannya. Untung ia tidak terlalu memperhatikan jadi tidak tau kalau orang tuanya sedang bertengkar.
Bagas berjalan menuju kamar mandi, ketika ia akan mengetuk pintu ia kembali urungkan niatnya.
Bagas kembali mempersiapkan kata-kata yang pas untuk meluluhkan hati istrinya.
...Yang aku takutkan terjadi, oh ya Allah ternyata Diana tau sejak awal dan memilih diam. Kenapa aku terlalu bodoh. Aahh!!...
...***...
Diana.
Rasanya untuk menutupi rasa sakit ini aku sudah tidak sanggup. Bahkan malah suamiku seperti membalikan fakta bahwa seakan-akan aku yang ingin selingkuh.
Apa sih salah wanita sebenarnya, kenapa lelaki enggak bisa melihat mana wanita yang baik-baik dan mana wanita yang tidak baik.
Aku bukan wanita murahan yang rela mempercantik diri hanya untuk di akui oleh orang lain. Bukan, bukan sama sekali niatnya untuk itu. Aku hanya ingin suamiku terkesan oleh perubahan ku.
Ternyata kenyataan pahit ini harus aku telan demi mempertahankan rumah tangga ku. Aku harus apa kali ini? Apa aku juga akan terima penjelasan dari mu yah?
Bahkan jika kau menjelaskan pasti akan membenarkan dirimu sendiri, dan menyalahkan wanita yang menggoda mu duluan, itu pasti.
__ADS_1
Aku tau kali ini kau ada di depan kamar mandi. Tapi kau masih bingung harus memulai perkataan dari mana. Oke akan aku tunggu omongan seperti apa yang akan aku dengar dari mulutmu. Aku akan mencoba berdamai dengan hatiku untuk sekali lagi, dan mencoba mendengarkan apa yang kau katakan, bismillah.
Diana end.
...***...
"Sayang, maaf. Ayah akan jelaskan, keluar lah."
Pintu kamar mandi terbuka. Tampak Diana yang berwajah berantakan. Tapi tak mengurangi sinar cantik di wajahnya.
"Sayang."
Bagas memegang bahu Diana dengan kedua tangannya. Dan menatap lurus mata istrinya itu.
"Sayang, maaf, ayah salah. Ayah khilaf, maaf."
Aku tau sayang, beribu maaf takkan mengurangi rasa sakit mu. Batinnya.
"Katakan, katakan ayah harus apa sekarang? Ayah bodoh sayang, maaf. Ayah enggak bisa jaga hati ayah untukmu, dan untuk anak kita. Semua terjadi begitu saja."
"Khilaf? Sekarang kamu bilang khilaf? Bahkan setelah melakukan berulang kali. Dan kalau itu yang ku lakukan bersama lelaki lain, apakah kamu terima? Untuk kembali di sentuh olehmu rasanya aku sudah jijik!!"
Plak, perkataan Diana seakan menampar tanpa menyentuh. Bagas tertunduk dengan sejuta kesalahan.
"Tapi, saat ini aku benar-benar sudah tidak berhubungan lagi dengannya."
Ucapnya lirih.
"Yah, saat ini kamu memang tidak berhubungan dengan wanita itu, karena kamu masih menjalani cuti. Dan ketika masuk kembali ke kantor bukankah semuanya akan berlanjut? Untuk saat ini insyaallah aku masih bisa bertahan, namun aku enggak tau apa terjadi ke depannya."
Ketika Bagas hendak menjawab tiba-tiba datang Alif langsung memeluk Diana.
"Bunda, bunda kenapa? Bunda kenapa nangis? Bunda sakit?"
"Iya sayang bunda sakit, sakit sekali."
"Bunda ayo kembali ke kamar, sama Alif."
Diana mengangguk dan berjalan menuntun anaknya, dan lagi-lagi meninggalkan Bagas sendiri.
Apapun akan ku lakukan demi kamu sayang, meskipun itu aku harus risigne dari kantor.
...***...
Malam larut dengan di temani detik jam dinding dan seorang manusia yang masih terduduk di sofa sendirian. Bagas sengaja menunggu Alif tertidur untuk kembali mengajak bicara istrinya.
Ia bangkit dan berjalan menuju kamar, mengetuk pintu.
Ia masuk melihat Diana berbaring dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ia langsung mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Terkadang, seorang istri terlihat bodoh. Terkadang karena ke bodohannya ia mampu memaafkan kesalahan suaminya, walau sebesar dan sefatal apapun itu. Dan mungkin itulah aku."
Ucapnya tanpa menoleh, dan tetap melihat langit-langit kamarnya.
"Sayang, ayah janji, ayah janji akan berubah. Maafkan ayah."
"Aku tau kok yah siapa kamu, aku tau. Aku mengenal kamu bukan sehari dua hari."
"Kamu maafin ayah kan?"
Diana diam tidak menjawab. Bagas memeluknya dengan erat dan mengelus puncak kepalanya. Diana tidak menolak dan hanya diam, ada sedikit kenyamanan di dirinya.
"Besok ayah enggak masuk kantor."
"Kenapa?"
"Ayah risigne."
Diana terlonjak kaget dan terduduk.
"Ayah akan mencari pekerjaan lain, dan besok ayah akan datang hanya untuk mengundurkan diri."
"Kenapa?"
Tanya Diana lagi.
"Karena ayah udah janji untuk berubah, ayah enggak mau kamu masih terus merasa di bohongi, masih terus curiga. Walupun ayah benar-benar tidak akan mengulanginya lagi, tapi perasaan kamu akan terus was-was. Ayah enggak mau itu."
"Bukankah semua itu tergantung kamu yah? Walaupun kamu satu kantor, satu bagian bahkan satu meja dengannya. Kalau enggak ada niatan kamu lagi, pasti enggak akan terjadi."
Diana menjeda sebentar kalimatnya.
"Lagian, sekarang nyari kerjaan susah. Posisi kamu disana sudah nyaman. Kalau kamu udah risigne, iya kita masih bisa hidup satu dua bulan dengan uang tabungan yang kita punya. Lalu jika itu terjadi sampai satu atau dua tahun kamu belum mempunyai kerjaan yang lain, bagaimana? Bukankah seorang wanita di uji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa? Aku tidak mau berjanji, karena aku takut melanggar."
Bagas terdiam, lagi-lagi yang Diana katakan adalah benar. Bagas nampak menimang memikirkan perkataan istrinya.
Aku harus bagaimana ya Allah.
Bersambung..
__ADS_1