
Sudah lima hari lamanya Bagas cuti dari kantor. Ia memanfaatkan waktunya dengan terus mengajak anak dan istrinya jalan-jalan. Walau hanya di sekitar mall dan bermain Timezone, tetapi itu mempunyai kebahagian tersendiri menurut mereka.
Seseorang yang berada di kantor terus saja mencari tau, kenapa Bagas tidak masuk, apa dia sakit? Atau pindah kantor, atau apa? Begitulah yang di pikirkan Risah saat ini. Ia merasa bahwa kali ini Bagas benar-benar akan meninggalkannya tanpa pengecualian.
Apa sebaiknya aku tanyakan saja ya sama kepala bagian, ah tapi nanti mereka curiga. Aku harus mempunyai alasan dong berarti.
Di kursi kebesaran di lantai 4 duduk seorang pria berambut ikal, di bagian depan berwarna kuning (di warnai). Tubuh tegap, kulit putih berwajah tegas tetapi ramah.
"Silahkan masuk."
"Permisi pak, maaf sebelumnya saya menganggu."
Ucap Risah hati-hati.
Pak Darma namanya. Ia adalah kepala bagian Bagas di kantor.
"Iya ada apa?"
"Saya Risah pak, saya kesini ingin bertanya."
"Langsung saja."
Ucapnya dan kali ini menatap Risah dengan intens. Seperti menerawang tubuh milik Risah.
Sementara Risah yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah.
"Begini pak, Hem. Bagas yang kemarin keluar kota bersama saya kenapa tidak ada masuk kantor ya pak, semenjak kami pulang dari luar kota."
"Memangnya itu urusan kamu?"
"Eh, enggak pak. Hanya saja ada file saya yang terbawa olehnya."
"Bagas mendapat cuti satu Minggu, karena proyek yang ia pantau dan tangani berhasil."
"Lah pak lalu saya kenapa tidak mendapat cuti? Bukankah saya juga ikut ke luar kota?"
Pak Darma menatap Risah tidak suka karena perkataan nya barusan.
"Maaf pak, saya lancang. Kalau begitu saya permisi pak."
"Tunggu."
Risah berhenti dan berbalik badan.
"Iya pak."
"Temani saya malam ini, kamu bisa?"
"Ma, maksud bapak apa ya?"
"Jangan berlagak polos kamu Risah. Saya tau siapa kamu, kamu bisa bekerja disini karena siapa juga saya tau. Saya juga perhatikan setiap bekerja kamu selalu mengganggu Bagas."
Risah tertunduk diam.
"Jadi gimana, kamu mau? Sebutkan nominal yang kamu minta, temani saya hingga saya puas."
"Tapi pak."
"Tinggalkan nomor HP kamu, tenang saya akan bermain cantik. Saya juga mempunyai istri dan anak dirumah."
Risah yang awalnya ragu pun goyah. Lagian juga lumayan tampan, berduit juga. Pikirnya.
Risah mengambil pulpen di kantong dan mencatat nomornya, di hadapan atasannya, dengan gaya yang ia buat semakin menggoda.
"Ini pak."
"Oke, sekarang kamu kembali bekerja dan tunggu saya menelfon. Akan saya kabari kita berjumpa dimana."
"Baik pak, saya permisi."
Risah kembali berjalan menuju ruangannya. Hatinya senang dan juga sedih. Sedih tidak bisa berjumpa Bagas namun senang karena mendapat job dari atasannya, tampan pula.
Kalau masih single, aku bakal move on dari kamu mas, salahnya yang satu ini juga memiliki istri.
...***...
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Semua yang berkutat dengan pekerjaan nampak tersenyum kala mendengar aba-aba pekerjaan telah selesai. Sorot mata jenuh berubah tampak bersinar akan kembali pulang ke rumah. Ada ke bahagian yang akan di hampiri oleh setiap umat manusianya masing-masing.
Risah menunggu di halte akan menaiki taxi. Sembari memegang HP, menunggu telfon dari pak Darma.
Satu jam lamanya ia menunggu, tapi tak kunjung ada kabar.
Ah bodohnya aku, apa aku hanya di permainkan olehnya. Lebih baik aku pulang! Mana mungkin seleranya rendah seperti ku, aku saja yang terlalu baper.
Risah menghentikan taxi yang melintas, dan kemudian masuk. Tanpa ia tau ternyata sedari tadi orang yang ia tunggu memperhatikan gerak geriknya dari atas gedung. Ternyata pak Darma lembur dan belum pulang.
__ADS_1
di tengah perjalanan barulah HP miliknya bergetar tanda ada panggilan yang masuk.
"Hallo, siapa ini?"
"(Kenapa kamu pulang, tidak bisa menunggu sebentar ya?)"
"Pak Darma?"
"Saya sudah menunggu satu jam pak, tapi bapak tidak menghubungi jadi saya pulang saja."
"(Kalau begitu turunlah dari taxi itu, mobil saya ada di belakang taxi yang kamu naiki)."
Risah menoleh ke belakang melihat dari dalam taxi, memastikan benar atau tidaknya yang di katakan pak Darma.
"Iya pak, baik."
"Mas berhenti disini aja ya."
"Tapi belum sampai tujuan mbak."
Ucap sang supir taxi heran.
"Enggak apa mas, akan tetap saya bayar sesuai rute yang tadi kok. Ini ambil."
"Makasih banyak ya mbak, semoga urusan mbak akan lancar."
Urusan berjumpa suami orang bahkan di doakan. haha.
"Iya mas, sama-sama."
Ia kemudian turun dan berdiri di pinggir jalan raya, menunggu pak Darma menghampirinya.
Benar saja tak lama ia berdiri menunggu, pak Darma sudah memberi klakson.
Risah menunduk melihat dari kaca mobil benar atau tidaknya itu orang yang ia tunggu.
"Masuklah."
"Iya pak."
Risah di dalam mobil hanya diam, ketika di tanya baru menjawab. Rasanya masih malu untuk memulai berbicara. Apalagi kesannya yang pergi bersamanya kali ini adalah atasannya.
"Kamu belum punya pacar?"
"Lalu?"
"Saya menolak."
"Alasannya."
"Enggak cinta pak."
"Jadi?"
"Jadi ya enggak jadi lah pak, hehe."
"Yasudah, nikah sama saya aja mau."
Risah membulatkan matanya tidak percaya. Bahkan sampai menatap ke arah pak Darma.
"Saya hanya bercanda."
Ah ya ampun pak. Ternyata bapak tampan Jika tersenyum begini.
Risah kembali diam setelah melalui beberapa sesi tanya jawab.
Mobil pun memasuki area hotel berbintang.
Wah enggak salah nih di bawa ke hotel ini, woow. Batinnya.
"Kamu turun dulu, saya akan memarkirkan mobil."
Risah pun mengangguk dan turun, menunggu di loby hotel. Sementara pak Darma langsung ke meja resepsionis untuk menyewa hotel selama satu malam.
Mereka pun memasuki kamar hotel yang di sewa.
Wow mewah banget, jauh sama yang kemarin waktu di luar kota juga waktu bermalam dengan Bagas. Risah.
"Saya mau bersihkan badan dulu ya, kamu kalau lapar bisa langsung telfon pihak hotel untuk mengantar makanan ke dalam. Nanti kita makan sama-sama."
"Iya pak."
Setelah melakukan ritual membersihkan diri masing-masing. Kini tiba menyantap makanan mewah yang terhidang dimeja kamar hotel. Risah menatap makanan ini sungguh menggugah seleranya. Jarang sekali bisa memakan steak nomor satu seperti ini, paling bisa makan steak biasa yang ada di mall tempat biasa nongkrong, pikirnya.
"Makanlah, kamu pasti sudah sangat lapar sampai menelan air liur berkali-kali."
__ADS_1
"Eh, iya pak, maaf hehe, kelihatannya makanannya enak-enak."
"Makanlah, saya enggak bisa makan banyak karena sehabis ini saya akan makan kamu."
"Ah bapak."
"Jangan bicara lagi, membuat saya langsung ingin makan kamu."
Risah terdiam antara senang di puji, juga deg-degan. Pasalnya baru kali ini melayani bosnya sendiri. Biasa sering, cuma bukan atasannya sendiri.
...***...
Matahari tampak bersinar cerah menyelip di antara gorden yang sedikit tersibak. Risah menggeliat dengan tubuh polosnya, dan hanya tertutup selimut. Ia melirik ke sebelah ada seorang lelaki tertidur dengan pulas.
Mungkin lelah setelah melakukannya berkali-kali.
Risah melihat jam, dan ia terlonjak kaget. Pasalnya hari ini kan bekerja bukan weekend.
Ah bodoh, seharusnya aku tidak usah menginap. Bagaimana ini kalau aku enggak masuk, untuk di buru pun emang dasarnya udah telat. aahh!!!
Ia frustasi dan memukul kepalanya sendiri.
"Ada apa?" Tanya manusia yang merasa terganggu tidurnya.
"Pak, saya telat masuk kantor."
Darma nampak berpikir.
"Nanti saya yang urus, kamu lupa ya saya kan kepala bagian kamu."
"Tapi pak, gimana caranya? Bukankah nanti ada yang curiga."
"Saya bilang kan saya yang urus. Apa saya harus mengulangi perkataan saya yang tadi?"
"Iya pak, maaf."
Darma pun kembali tertidur. Ia adalah atasannya jadi jika telat sedikit tak masalah, lagian juga jam masuk dengan karyawan biasa sudah berbeda.
Risah membersihkan diri, mengguyurkan kepalanya di bawah keran air. Yang ia pikirkan saat ini tak lain hanya Bagas, karena dari sekian banyak lelaki yang pernah dekat dan menidurinya, hanya dengan Bagas lah ia merasa sangat nyaman.
Tiba-tiba ia terkesiap dan bersandar di dinding kamar mandi.
Ya ampun aku lupa, bukankah tadi malam pak Darma tidak pakai pengaman? Lalu? Aku juga tidak mengonsumsi pil KB ku. Ah ya ampun bagaimana ini?
Risah kembali terduduk lemas di bath up. Ada setetes air mata yang jatuh. Ia gemetar takut, takut kalau benih yang jatuh di dalam rahimnya akan tumbuh. Jika ini benih Bagas ia mungkin masih bisa ikhlas, tapi ini bukan dari Bagas melainkan dari pak Darma. Yang baru kali ini ia gauli.
Risah mempercepat mandinya, ia akan membicarakan ini pada atasannya itu.
Risah memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh pihak hotel. Mungkin sudah di pesan oleh pak Darma, pikirnya lagi.
"Pak, pak bangun, saya mau bicara penting."
"Iya ada apa."
Jawab darma dengan suara yang masih bergumam.
"Pak, ini penting."
Kali ini Darma bangun duduk di tepi ranjang, dan Risah berdiri tepat di hadapannya.
"Pak, Hem begini, tadi malam bapak mengeluarkan itu di dalam ya pak?"
Ia nampak berpikir, pasalnya ia pun lupa karena sangking nikmatnya.
"Memangnya kenapa?"
Ia balik bertanya.
"Pak, saya serius. Saya dan bapak sama-sama tidak pakai pengaman, kalau saya , Hem kalau saya hamil gimana pak?"
Suaranya tampak bergetar, menahan tumpahnya air mata.
"Akan saya biayai hidup kamu dan anak saya, itu pun jika terbukti anak saya, bukan kah kamu udah sering tidur dengan lelaki lain?"
Brengsek!!!
"Tanpa menikah?"
Darma hanya mengangguk.
Kemudian berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Risah yang terduduk lemas di lantai.
Bagaimana ini? Oh ya Allah, aku takut sekali.
Bersambung..
__ADS_1