
Hari ini adalah hari terakhir Bagas dan Risah bekerja di luar kota. Ternyata walaupun kemarin sudah disiapkan oleh Bagas untuk berbicara masih saja tidak bisa, ia masih memikirkan kesehatan Risah. Rasanya tidak enak bicara dengan keadaan yang belum pulih.
Hingga di hari terakhir pekerjaannya tidak memiliki kendala, jadi bisa di pastikan besok pagi mereka bisa kembali ke rumah. Keadaan Risah sudah jauh lebih baik setelah Bagas membawa ia periksa ke dokter. Jadi juga sudah tidak masalah bila harus melakukan perjalanan jauh.
Pagi sekali Bagas sudah mengemas barang-barang miliknya yang akan di bawa pulang besok. Agar ketika pulang dari proyek hari ini bisa rebahan sampai puas tanpa memikirkan apapun lagi, rasanya sudah sangat lelah tidak ada yang melayani selama di luar kota, pikirnya.
Berbeda dengan Risah yang saat ini pemikirannya kalut. Iya dia sangat kecewa terhadap Bagas yang tidak peduli lagi dengannya. Bahkan biacara pun sudah terdengar sangat ketus, ia masih berpikir kenapa Bagas bisa berubah.
Risah terus mengingat kesalahan yang ia perbuat. Setelah berpikir cukup lama barulah ia paham.
Ia teringat terkahir kali Bagas masuk ke kamarnya dan bicara seolah telah mengetahui sesuatu. Risah kembali mengechek HP miliknya.
Ha jadi mas Bagas baca pesan dari Rendy, kenapa tidak terpikirkan olehku dari kemarin. haa bodohhh. Batinnya.
Ia menghentakkan kakinya ke lantai, seolah menyesali semuanya. Bahkan jika saat ini harus memilih, Risah lebih memilih Bagas yang notabennya adalah suami orang, ketimbang Rendy yang masih lajang tetapi sering berganti wanita di atas ranjang.
Ia bertekad akan bicara kepada Bagas setelah pulang dari bekerja hari ini, yang termasuk hari terakhir untuknya dan Bagas bisa berdua.
...***...
Sore hari yang di nanti kedua manusia dengan pemikiran masing-masing pun tiba. Bagas yang sudah berencana akan rebahan hingga esok, dan Risah yang siap akan menanyakan segalanya dengan Bagas.
Risah berniat membersihkan diri dulu baru lah akan datang ke kamar milik Bagas.
Dan Bagas memilih untuk rebahan sejenak sembari menunggu Maghrib tiba.
Saat Risah mengetuk pintu tidak ada jawaban, ia pun memencet tombol bel kamar hotel yang diinap oleh Bagas. Hari sudah Maghrib, Bagas yang sedang menunaikan sholatnya tidak mungkin menjawab panggilan dari orang lain.
Namun itu tak terpikir oleh Risah, ia terus saja tak henti memencet tombol tersebut. Beberapa menit setelahnya Bagas yang sudah siap dengan kewajibannya pun keluar. Dengan menggerutu di setiap langkah yang ia pijak menuju pintu.
Dasar wanita enggak ada sopan santun, enggak ngerti Maghrib. Oh ya ampun kenapa aku bisa tergoda dengan setan yang berjenis seperti ini, bentuknya saja manusia tapi didalam dirinya setan.
Klek. Suara pintu terbuka.
Risah menoleh dan melihat Bagas, tetapi dengan wajah yang penuh dengan kemarahan. Risah jadi sedikit takut, karena ia juga tau seperti apa Bagas kalau sudah marah.
"Mas maaf."
"Sah, kamu tau kan ini Maghrib, dimana orang akan menunaikan sholatnya. Apa kamu enggak berpikir? Kamu memencet bel tiada henti, bukankah kamu sudah menggangu namanya?"
Risah kikuk, senyum tak mungkin, marah apalagi.
"Maaf mas, aku lupa."
"Kamu seperti tidak punya agama."
Risah tercekat, karena apa yang di katakan Bagas ada benarnya. Bahkan setelah meninggalnya neneknya, ia juga tidak pernah mendoakan.
"Iya mas maaf, aku tau aku salah. Aku kesini hanya ingin mengatakan sesuatu."
"Katakanlah."
Ucapnya ketus.
"Di dalam aja mas, aku masuk ya? Enggak enak di dengar tamu hotel yang lain."
Sambil melirik ke kanan dan kiri.
Bagas nampak mempertimbangkan apa yang di katakan oleh Risah. Dan kemudian ia mengangguk setuju.
Saat Risah akan memulai pembicaraan, HP Bagas berdering. Dan tentu saja itu dari istrinya. Diana saja yang sedang berada jauh tau, ia tau kapan menghubungi suaminya, yakni setelah selesai melaksanakan kewajibannya. Beda jauh dengan Risah yang saat ini dekat tapi tidak bisa memahami.
"Tunggu sebentar, aku mau angkat telfon dari istriku. Jangan biacara ataupun melakukan hal yang membuat istriku curiga, kalau kau nekat. Aku enggak segan-segan ngelempar kamu dari atas sini."
Risah langsung beringsut lemas.
Apakah itu hanya ancaman?
"Hallo sayang, assalamualaikum."
"(Walaikumsalam ayah, udah sholat?)"
"Udah sayang, baru selesai. Alif mana?"
"(Ini ada disamping Ana, mau bicara sama Alif yah?)"
__ADS_1
Diana merubah panggilan menjadi Videocall. Tetapi Diana hanya menampakkan wajah anaknya saja, jadi Bagas tidak tau perubahan pada istrinya.
Mereka berbicara sampai lupa waktu dan bahkan melupakan jika ada makhluk lain di dalam kamar Bagas.
Risah berdecak kesal lalu pergi, dan Bagas tidak menyadarinya.
Hingga panggilan di telfon berakhir, dan Bagas juga tidak menyadarinya jika sedari tadi Risah menunggu, bahkan sudah pergi lagi.
...***...
Sebegitu cintanya kamu ya mas sama istri kamu yang uda enggak seksi lagi. Aku harus buat rencana supaya kamu enggak bisa ninggalin aku.
Tekad Risah sudah bulat, untuk membuat rumah tangga Bagas hancur, dan dialah yang akan menang.
Pagi menjelang, dan kedua manusia ini di sibukkan dengan kembali untuk mengechek barang agar tidak ada yang tertinggal. Supir sudah standby menunggu di loby hotel. Bagas turun duluan dengan koper besarnya.
Sementara Risah selalu saja telat, belum menampakkan batang hidungnya.
Ternyata Risah masih mengemas barang-barang nya. Karena ia terlalu sibuk dengan pemikiran sehingga tidak mempersiapkan segalanya dari awal.
Tut.. Suara dering telfon menyambung.
"(Hallo mas, ada apa?)"
"Ada apa kamu bilang? Kamu bisa ontime enggak sih sah? Udah jam berapa ini? Kita harus berangkat sekarang supaya tidak malam sampai rumah! Kamu selalu aja buat aku nunggu. Kalau masih lama aku pulang duluan aja ya, kamu naik mobil travel aja."
"(Iya sebentar mas, ini juga Uda siap. Kenapa harus marah-marah sih mas!! Yauda kamu tinggal aja aku mas)."
Bagas langsung mematikan telfonnya.
Lagian mana mungkin juga seorang Bagas tega ninggalin orang yang menjadi fartner kerjanya disini. Dan akhirnya Bagas pun rela menunggu hingga setengah jam.
Ia hanya duduk di dalam mobil dan memeriksa kembali laporan kerjanya yang terakhir. Setelah selesai dering HP nya kembali berbunyi, ternyata atasannya yang menelfon.
"Iya Hallo pak selamat pagi."
"(Ya pagi kembali. Selamat ya gas kamu bisa berhasil selesaikan proyeknya, walaupun sempat ada kendala sehingga menunda ke pulanganmu)."
Ucapnya ramah.
"Iya pak enggak apa-apa, terima kasih pak."
"Wah serius pak, terima kasih banyak pak sekali lagi."
"(Iya sama-sama. Saya hampir lupa gas, setelah ini kamu mendapat cuti ya satu Minggu. Karena selama disana kamu lembur dan enggak ada libur)."
Bagas yang mendengar pun langsung menampakkan senyum di wajahnya. Sungguh ini diluar dugaan dengan adanya cuti seminggu. Ia tidak berniat untuk mengabari istrinya bahwa hari ini ia jadi pulang. Dan langsung mematikan HP miliknya. Agar menjadi surprise pikirnya.
Namun cuti ini hanya berlaku untuk Bagas tapi tidak dengan Risah. Karena disini Bagas yang bertanggungjawab sepenuhnya, Risah hanya asisten yang membantu di kala ia membutuhkan kan.
Risah masuk ke dalam mobil dengan membawa tasnya dan setengah berlari karena takut Bagas akan ngamuk seperti kemarin.
Dan apa? Lagi-lagi Risah harus duduk di belakang sendiri, karena Bagas duduk disamping kemudi. Wajahnya yang cemberut hanya di lirik dari kaca spion mobil oleh Bagas.
Aku tak peduli.
Dan entah kenapa, sekarang Bagas melihat Risah seperti melihat orang yang paling ia benci. Dengan menatap dan berbicara padanya, Bagas akan terus merasakan kesalahan, dan itu nyata ia rasakan.
Juga akhir-akhir ini perasaan Bagas ke Risah seolah luntur karena tau Risah sudah memiliki hubungan dengan laki-laki lain.
Mungkin inilah jawaban atas doa yang terus menerus Diana panjatkan di sepertiga malamnya. Allah adil, Allah maha mengerti dan segalanya.
di dalam perjalanan yang melalui kemacetan panjang ada manusia yang tertidur di dalam mobil. Terkecuali sang supir yang harus terus membuka mata menatap jalanan kota yang silih berganti suasana tersebut.
Mereka tiba di kota tempat tinggal mereka, tetapi sudah larut malam. Perjalanan tidak secepat sewaktu mereka berangkat, di karenakan kemacetan panjang yang di lalui setiap daerah di kabupaten.
Mobil berhenti di daerah rumah Risah, karena memang lebih dulu rumah Risah barulah rumah Bagas.
Risah turun dengan tas besarnya dan di ikuti oleh Bagas. Risah heran kenapa Bagas juga ikut turun.
"Sah tunggu, aku mau bicara."
"Iya mas ada apa?"
Ia pun menatap Bagas dengan intens.
__ADS_1
"Mulai hari ini dan detik ini, aku mohon jangan pernah hubungin aku lagi, jangan ganggu dan usik ketenangan keluargaku. Aku mohon, pergilah dariku. Aku anggap ini sebagai kekhilafan terbesar selama hidupku. Dan jangan pernah hubungi aku apapun alasannya, kecuali di kantor untuk urusan pekerjaan."
Bagas merebut HP yang di genggam Risah. Risah kaget dan tercengang bahkan tidak mampu berkata apa-apa. Ia menghapus nomornya yang ada di HP Risah, lengkap beserta pesan dan histori panggilan yang tertinggal. Kemudian mengembalikannya ke Risah.
"Lanjutkan lah hidupmu bersama lelaki yang pantas untukmu. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita, dan aku yakin kau bisa melupakannya. Karena bukan hanya aku yang pernah tidur denganmu, bahkan sudah tidak terhitung jumlahnya." Ucapnya dengan nada penekanan.
Membuat Risah tercekat, jangankan untuk menjawab rasanya untuk bernafas pun sesak, udara terasa sempit padahal ini di alam terbuka. Pandangannya kosong tidak lagi menatap Bagas. Rasanya sudah seperti kehilangan sesuatu yang bukan miliknya. Ingin berontak pun tidak berhak.
Bagas kembali ke mobil, dan meninggalkan Risah yang terdiam. Bahkan sampai mobil melaju menghilang dari pandangannya pun ia tetap masih berdiri melamun.
Di dalam mobil sang supir sesekali melirik Bagas yang juga terdiam membisu.
Aku yakin dengan ini aku yakin, aku harus menjauhinya sebelum terlambat, sebelum keluarga ku hancur dengan ulahku sendiri.
"Mas?"
Panggil sang supir yang mengantar jemput Bagas pulang dan pergi keluar kota.
"Eh iya pak."
Bagas menoleh.
"Kasian istri mas dirumah, pertahanan kan lah keluarga yang mas punya. Keputusan mas sudah benar."
Ia memang sangat ingin mengutarakan itu dari sewaktu mereka pergi. Hanya saja tidak ingin ikut campur. Kali ini ia mendengar perkataan Bagas dengan Risah tadi walau hanya sekilas semilir angin. Tapi ia tau maksud Bagas tidak ingin lagi berhubungan.
Bagas masih diam tidak menjawab.
"Enggak selamanya kebohongan bisa ditutupi mas, bangkai yang sudah membusuk dan menjadi tulang sekalipun masih bisa di temukan orang lain. Saran saya mas juga harus hati-hati dengan wanita seperti dia, karena saya lihat dia wanita yang nekat."
"Iya pak, terima kasih atas sarannya."
Bagas merasa kalau berbicara kepada orang yang lebih tua akan nyaman. Dan ia pun menceritakan kejadian awalnya bersama Risah, hingga sang supir memberi nasehat secara hati-hati.
Pembicaraan mereka terhenti karena memang sudah sampai tujuan, yakni rumah Bagas sendiri. Bagas mengucapkan banyak terima kasih, dan memberikan sejumlah uang yang menurutnya masih sedikit, awalnya pak supir menolak tapi Bagas menjadikan alasan karena ia pun juga mendapat bonus. Sehingga tangan pak supir terbuka dan menerima pemberiannya.
Bagas juga berpesan untuk merahasiakan hal yang ia ceritakan dan ia ketahui kepada semua orang, terutama orang kantor.
Rumah tampak sepi, bahkan lampu pun sudah di matikan. Pertanda jika tuan rumah sudah terlelap. Iya juga sudah jam 12 malam pikirnya.
Bagas berjalan menuju pintu, dan sialnya pintu dikunci, bahkan ia pun tidak membawa kunci cadangan.
Ah bodohnya aku, mau buat surprise malah ke kunci di luar.
Ia duduk frustasi di kursi teras, dan berpikir bagaimana cara ia masuk. Kalau menelfon sudah pasti tidak bisa, karena Diana juga pasti menonaktifkan HP miliknya. Salah sendiri tidak mengabari.
Hanya ada satu cara yaitu masuk melalui jendela dapur yang muatnya pas untuk tubuhnya. Dan hanya itu satu-satunya jendela yang tidak memakai jerjak, karena letaknya lumayan tinggi.
Bagas berjalan ke belakang rumah tanpa menghiraukan gelap dan sunyi. Tidak ada rasa takut, yang ada hanya panik karena tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Bagas mulai mencongkel jendela dengan besi yang ia temukan di samping rumah.
Ketika sudah berhasil terbuka, ia melompat dan menggapai kusen jendela. Perlahan ia masuk dan berhasil. Namun tidak berjalan mulus, ia mendarat dan menampik wajan sehingga terdengar bunyi kerasnya jatuh ke lantai.
Ah aku sudah seperti maling saja di rumahku sendiri.
Bagas langsung masuk ke kamar. Melihat istri dan anaknya tertidur pulas. Ia tersenyum dan mendekat ke arah istri yang ia rindukan dan juga ia khianati. Ia mengelus pipi dan menyelipkan rambut ke belakang telinga Diana.
Ia ikut berbaring dan memeluk Diana. Memeluk bak guling, ia merasakan seperti ada yang beda.
Biasanya kalau di peluk tangan aku enggak mencakup semua sisi di tubuhnya. Kenapa sekarang bisa.
Tapi pikiran itu ia hilangkan dari otaknya karena merasa tidak penting untuk di pikirkan saat ini. Ia ikut tertidur hanya dengan hitungan menit, dan meninggalkan koper besarnya yang berada di luar rumah. Mungkin karena sangking lelah dan paniknya.
...***...
Diana menggeliat, seperti ada yang mengganjal di belakang tubuhnya. Ia meraba, dan benda keras apa ini batinnya. Juga ada tangan yang memeluknya.
Diana tidak berani bergerak.
Apa mungkin ini kamu yah, ah enggak mungkin. Kalau kamu pulang pasti kan ngabarin dulu. Lagian kalau iya mau masuk dari mana.
Diana berpikir ini hanya mimpi. Namun lagi-lagi ia jelas nyata bisa merasakan sentuhan. Ia kalang kabut berpikir ini maling yang tertidur dan akan berniat jahat padanya.
Perlahan ia menggeser tubuhnya dan duduk. Detik berikutnya.
"Aaaaaaahhhhhh." Diana berteriak sangat kencang hingga membangunkan suami yang di kira maling dan juga anaknya ikut terbangun.
__ADS_1
Suaranya melengking dan nyaris terdengar hingga kerumahnya Bu Salmah.
Bersambung..