
"Na? Ibu pamit pulang ya, kamu jaga diri baik-baik. Ibu akan sering kesini selama kamu masih ada disini. Ingat pesan ibu ya."
Ketika momen yang hangat kita rasakan, pasti waktu akan berasa berputar lebih cepat dari biasanya. Entah lah, padahal semua sudah diatur oleh yang maha kuasa. Hanya saja manusia tidak pernah puas.
"Bu, Diana mohon ya jangan kasih tau ke Bagas dulu."
"Kamu dengar Alif bilang kemarin kan? Di ajak kerumah nenek ayahnya enggak mau. Apalagi untuk bertanya kamu dimana, ibu rasa itu tidak mungkin."
"Iya Diana percaya sama ibu."
Mereka memeluk satu sama lain. Eva mencium pipi kakak iparnya. Dengan lembut Ana mengusap puncak kepala adik iparnya itu.
"Kamu harus belajar dari semua yang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang ya va. Ambil sisi positif nya, jangan pernah berpikir semua juga akan terjadi sama kamu. Walaupun saat ini bukan kamu orang yang di sakiti, tapi kamu adalah orang yang ikut merasakan kekecewaan. Dan itu sudah kamu rasakan sejak dulu, jadi kakak yakin, ke depannya kamu akan lebih kuat dan dewasa."
Matanya berkaca-kaca mendengar semua perkataan Diana.
"Makasih ya kak. Kakak wanita baik, Eva yakin bahagia sudah menunggu kakak."
Diana tersenyum hangat.
"Alif jaga bunda ya sayang, enty sama nenek mau pulang dulu."
Kini ia mengalihkan perhatiannya ke Alif. Dengan lembut ia mengelus pipi Alif, dan mengecup setiap inti di wajah Alif.
Sore ini Diana kembali menjalani aktivitasnya. Serta kewajiban umat muslim tak ia lupakan.
Aku harus menelfon mas Anton prihal Alif dengan ayahnya.
Tutt.. Dering pertama hingga akhir tidak dijawab.
Diana kembali menghubungi. Hingga panggilan ke empat, barulah Anton menjawab.
"Hallo mas, Assalamualaikum."
"(Walaikumsalam. Iya na, ada apa?)"
"Mas, Diana mau tanya. Apa benar Alif kemarin di bawa Bagas jalan-jalan? Waktu Alif ikut mas pulang kerumah?"
"(Siapa yang bilang ke kamu na?)"
"Alif mas, Alif sendiri yang cerita. Alif enggak mungkin bohong mas. Mas jawab, iya atau tidak."
"(Maaf na, iya memang benar. Mas sengaja enggak bilang karena takut kamu marah. Tapi na, kamu juga harus mengerti posisi Alif. Bagas itu ayahnya, tentu ia rindu. Yang tidak ingin bertemu Bagas kan kamu na, bukan Alif. Kamu boleh benci Bagas, tapi mau bagaimana pun Bagas tetap ayahnya Alif. Dia belum mengerti apa-apa)."
"Mas, kenapa mas sekarang seolah-olah membela Bagas?"
"(Na, kurangi egois kamu kan mas bilang. Lagian juga Bagas udah buktikan kalau itu memang bukan anaknya. Mas mau jelasin, tapi mas saat ini benar-benar sibuk, belum sempat kesana)."
"Bukti? Maksud mas?"
"(Iya Bagas udah punya bukti kalau Risah tidak mengandung anaknya. Hanya saja menurut mas belum kuat, jadi tetap harus melakukan Test DNA)."
"Ana mau lihat bukti itu mas. Ana mau tau."
"(Iya kamu berdoa aja Minggu depan mas bisa kesana supaya kamu bisa lihat, nanti mas bakal suru Bagas kirim video itu)."
"Sekarang aja kan bisa mas di kirim."
"(Kamu lupa ya HP kamu cuma bisa buat nelfon dan SMS aja?)"
"Hehe iya mas ana lupa. Ya udah Ana tunggu mas datang kesini."
"(Baiklah, mas tutup dulu. Mau lanjut kerja)."
Diana berdiri dan menggenggam HP jadul di tangannya.
Bukti seperti apa yang mas Anton maksud. Ah aku jadi sangat ingin melihatnya sekarang! Tapi bagaimana, disini sangat susah sinyal. Aku coba aja lah aktifkan HP ku, siapa tau bisa beruntung.
Diana berjalan ke kamarnya. Membongkar isi tasnya dan mengambil HP ANDROID miliknya.
Bismillah, semoga aja bisa.
Ia mengaktifkan HPnya, dan menunggu beberapa menit, hanya menunggu notifikasi apa saja yang masuk. Ternyata nihil, memang benar-benar tidak berfungsi di daerah desa ini. Ia hanya menghela nafas berat, dan kembali meletakkan HPnya. Namun tidak ia matikan kembali.
__ADS_1
Kemana Alif tadi, aku sampai lupa.
Ia berjalan keluar rumah mencari anaknya, karena sibuk dengan pikirannya sendiri bahkan sampai melupakan anaknya.
Ternyata Alif sedang bermain dengan teman sebayanya, yakni tetangga sebelah. Diana tersenyum lega, karena ia berpikir Alif akan bermain di sawah lagi.
"Alif."
Berjalan mendekat.
"Iya bunda."
"Alif masuk rumah ya nak, udah mau Maghrib. Jaka pulang dulu ya, nanti dicari mama kamu, udah sore. Besok lagi ya mainnya."
Anak itu mengangguk patuh. Dan berjalan pulang ke rumahnya.
"Alif."
Suara seorang lelaki mengalihkan pandangan Diana dan Alif.
"Iya pakde."
Ternyata yang memanggil adalah orang tua Jaka. Anak yang bermain dengan Alif tadi.
"Sini pakde kasih Ice cream."
Alif yang memang suka langsung berjalan mendekat.
"Makasih pakde."
Mengambil bungkusan dari tangan orang tua itu.
"Ini untuk bunda mu ya."
"Eh enggak usah bang, makasih. Jangan repot-repot."
"Udah enggak apa-apa. Ambil aja, itu makanan ringan buat kamu ngemil di rumah."
Diana tampak ragu mengambilnya.
Suara lantang dari seorang perempuan. Ternyata adalah istrinya, Diana langsung mengurungkan niatnya untuk mengambil bungkusan itu.
"Enggak ma, papa cuma ngasih jajan ke Alif."
"Mama dengar sendiri ya kalau papa ngasih sesuatu ke Diana."
"Ah enggak kok ma."
"Maaf mbak, bang. Saya permisi."
Diana langsung berjalan masuk ke rumah dan menggandeng Alif yang kini memegang bungkusan berisi Ice cream.
"Pulang sekarang pa. Enggak usah cari muka di depan orang lain! Istri sama anak sendiri aja jarang dibelikan makanan."
Keributan terus berlanjut, sang istri pun menjewer telinga suaminya sembari menyeret untuk pulang ke rumahnya.
Diana yang mengintip dari jendela hanya bisa tertawa geli.
Rasain, udah ada istri masih aja ganjen sama wanita lain.
"Bunda kenapa mamanya Jaka marah-marah?"
"Enggak apa sayang. Udah kita ngaji yuk? Udah mau Maghrib sayang."
"Iya bunda."
...***...
Epilog.
Di sebuah cafe mewah.
"Kenapa kamu tugaskan dia keluar kota? Bukan kah itu akan membuat aku semakin jauh?"
__ADS_1
"Itu semua aku lakukan supaya kebohongan kamu enggak kebongkar Risha!" Bentaknya tak kalah keras.
Untungnya mereka menyewa tempat VVIP, jadi tidak bisa di dengar orang lain.
"Maksudnya? Kenapa aku?"
"Kamu bilang kan, kalau Bagas curiga sama kita? Dan aku rasa, dia bukan hanya curiga tapi sudah tau."
"Jadi maksud kamu? Enggak mungkin!! Aku harus bagaimana sekarang? Kalau dia menuntut ku bagaimana? Aku harus berakhir di penjara!!"
"Tenanglah, kamu bisa pergi jauh setelah ini. Bulan depan kamu udah harus risigne dari kantor. Kandungamu semakin membesar, orang lain akan curiga. Mereka tidak ada yang tau kamu sedang hamil kan?"
Risah menggeleng.
"Makannya aku tugaskan dia keluar kota. Dan saat dia pulang, kamu harus pergi jauh sebelum dia menuntut. Aku akan biayain semua keperluan kamu."
"Tapi aku enggak bisa!!"
"Terserah kamu."
"Kamu egois!!"
Bentaknya lagi, dan menunjuk wajah Darma.
"Ikuti saja permainan ini."
"Biarkan aku mendekam di penjara. Aku akan bongkar semua kebusukan kamu. Aku permisi."
Risah kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Darma sendirian, dengan memendam emosi yang tinggi.
Susah sekali bed*bah ini di atur.
Risah.
Aku sadar sekarang, semua yang aku lakukan udah salah, sangat salah. Ini karma ku.
Bod*hnya aku mau denganya. Bahkan aku merusak rumah tangga Bagas hanya karena keserakahan ku.
Aku sangat berharap waktu bisa di putar. Aku enggak bisa bayangkan gimana nanti kalau Bagas tau ini bukan anaknya. Aku harus apa.
Sudah cukup ibuku menahan malu karena ulahku. Aku tidak ingin lagi membuat ia kecewa. Sekarang aja ibuku Uda sakit-sakitan karena mikirkan aku dan anak yang aku kandung. Rasanya ingin aku gugurkan saja anak ini. Dan seharusnya aku mau waktu Darma menyuruhku untuk menggugurkannya.
Saat ini hanya rasa bersalah yang ada di lingkup pikiranku. Aku bahkan tidak lagi memikirkan rasa cintaku terhadap Bagas, tidak lagi. Semua sudah berganti rasa takut.
Ya Allah lebih baik aku mati saja kalau begini. Dari pada anakku akan hidup lebih sengsara nantinya. Tanpa kasih sayang seorang ayah.
Saat ini aku bertekad. Kalau aku hancur Darma juga akan hancur, iya aku akan bongkar semuanya.
Risah end.
...***...
Pukul 9 malam Darma ke kantor. Ia berniat akan mengechek CCTV kantor di bagian gudang. Ia beralasan akan mengambil berkas penting yang tertinggal ketika di tanya oleh security penjaga malam.
Ia mencari tanggal dan jam tepat dimana ia dan Risah berjumpa disana. Ia klik bagian paling sudut, yang akan menampakkan semua sisi dari luar gudang.
Awalnya tidak ada yang aneh ketika ia melihat. Hanya ada seorang OB yang pergi setelah Risah datang. Dan di akhir, Darma langsung memukul meja dengan keras. Benar dugaannya, Bagas melihat dan mendengar kalau ia lagi berdebat dengan Risah.
"Si*lan!!! Ternyata benar dugaan ku kalau dia sudah tau. Aku harus bereskan ini dengan cepat. Tapi bagaimana caranya, argh!!"
darma frustasi sendiri. Ia bahkan menendang semua kursi yang ada di ruangan itu.
Suaranya terdengar ketika security jaga keliling area kantor.
"Pak ada apa? Kenapa bapak disini? Bukankah bapak bilang hanya mengambil berkas di ruangan bapak?" Tanyanya dengan sedikit curiga.
"Saya hanya melihat karyawan bawahan saya, karena ada yang mencurigakan."
"Oh begitu, baik lah pak, lanjutkan."
Security itu pun berlalu pergi setelah mendengar alasan Darma. Toh ia juga hanya bawahan jadi tidak ada wewenangnya untuk mengatur, pikirnya.
"Apa aku kasih uang aja ya ke Bagas dan aku ajak dia berdamai sebelum dia menuntut? Bukankah uang bisa mengatur segalanya?"
__ADS_1
Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya yang kini dipenuhi dengan rasa takut.
Bersambung..