Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 49


__ADS_3

"Na."


Suara parau dan lirih terdengar dari ranjang dimana ibu mertuanya berbaring lemah, mereka yang sedang berpelukan pun spontan menoleh.


"Ibu." Mereka serempak kaget melihat ibunya meneteskan air mata, tetapi sambil tersenyum.


Senyum hangat yang sejak lama sudah tidak Bagas lihat.


Mendekat dan memeluk ibunya.


"Ibu sudah sadar?"


"Panggil dokter sekarang." Ucap Diana.


Bagas berlari keluar ruangan dan segera memanggil dokter. Beberapa menit kemudian, ia kembali bersama dokter yang sudah siap siaga memeriksa keadaan ibu Ramini.


"Apa yang anda rasakan saat ini bu?"


"Saya senang dokter, saya bahagia."


Wajahnya yang pucat menampakkan aura yang cerah.


Bahagia? Sakit bahagia? Apa saya salah mendiagnosa pasien? Saya kira ibu hanya pecah pembuluh darah, apa ada penyakit lain yang tidak saya tau?


Batin dokter dengan heran.


"Maksud saya, bagian mana yang terasa sakit?"


"Tidak ada, saya tidak merasakan apa pun, saya sudah sehat dokter."


Ibu tetap saja menjawab dengan seenaknya.


Sungguh mukjizat.


"Baiklah, kalau begitu saya akan periksa guna memastikan. Setelah itu, kita akan kembali melakukan CT SCAN di bagian kepala ibu."


Dokter memeriksa keadaan ibu dengan sangat teliti. Sementara Bagas dan Diana berdiri bersebelahan, tanpa Bagas sadari ia menggenggam erat tangan Diana. Diana hanya diam dan memandang tangannya yang sedang di genggam erat.


"Sepertinya yang ibu katakan benar, semuanya kembali normal dan baik. Hanya luka di kepala setelah operasi saja yang belum kering, mungkin masih terasa nyeri, tetapi tidak di buat rasa. Baik lah satu jam lagi kita akan melakukan tindakan CT SCAN. Agar mencegah hal-hal lain yang membahayakan nyawa anda. Saya permisi. Jika ada keluhan lain sebelum jadwal yang saya jelaskan tadi, mohon segera panggil saya di ruangan."


"Terima kasih banyak dokter."


Ucap Bagas yang memang tulus.


"Ibu."


Diana mendekat.


"Na, maaf karena ibu kamu harus sampai disini."


"Enggak bu. Diana yang harusnya minta maaf karena tidak tau kalau ibu di rumah sakit, bahkan sampai melakukan operasi."


"Sudah tak apa. Melihat kalian berbaikan sudah membuat keadaan ibu jauh lebih baik."


Berbaikan? Apakah memang sudah waktunya? Batin Diana.


"Alif ke mana na?"


"Alif keluar sama Eva bu. Sebentar ya, aku panggil sekalian ngasih kabar ke mas Andre kalau ibu sudah siuman."


Bagas yang menjawab, padahal yang di tanya Diana. Ia hanya menghela nafas saja.


Bagas meninggalkan ruangan ibunya dan mencari kemana Alif juga Eva. Karena sudah setengah jam tidak kembali.


Sementara Diana menemani mertuanya di ruangan. Dan kembali berbincang hangat.


"Bu, maafkan Diana."


"Maaf? Kenapa, kamu tidak salah."


"Tadi Ana datang kesini, tetapi sungguh ana tidak tau kalau Rama mengikuti mobil yang menjemput ana kesini."


"Lalu? Bagaimana? Apakah dia bertemu Andre disini na?" Ibu nampak kembali syok.


"Bu, maaf. Seharusnya ana enggak bilang sekarang sama ibu."


"Baik lah, katakan."


Diana berusaha menjelaskan semuanya dengan pelan. Ia sangat takut mertuanya kembali syok, tapi Diana tidak bisa menyembunyikan ini, ia takut akan menjadi Boomerang untuknya sendiri. Seperti hal nya pada Bagas, mencoba menyembunyikan dan menunda untuk menegur padahal jelas-jelas ia tau bahwa suaminya selingkuh, dan akhirnya semua terlambat. Begitulah yang ia simpulkan saat ini, jadi selagi masih bisa ia perjelas, maka dengan cepat ia sampaikan.


"Ana benar-benar enggak tau bu. Ana takut semua akan salah paham."


"Ya sudah tidak apa-apa. Soal itu biarkan ia menjumpai ibu nantinya, karena Rama juga berhak tau siapa dia sebenarnya. Karena seorang anak tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di masa lalu yang dilakukan oleh orang tuanya. Ibu akan menunggunya datang dan meminta penjelasan."


Diana mengangguk.


"Ibu."


Teriak Eva yang baru saja memasuki ruangan.


"Ibu. Ibu maaf kan Eva. Semua karena Eva kan?"


Menangis memeluk dan mencium kaki ibunya.

__ADS_1


"Bukan, ibu aja yang sok kuat menolak tawaran kamu untuk di antar ke kamar mandi. Sudah semua ada hikmahnya. Semua yang ibu rasakan akan ada bahagia di akhir cerita."


"Maksudnya ibu?"


Ibunya memberi kode dengan mata, menatap Diana lalu menatap Bagas.


Iya aku paham sekarang maksud ibu.


"Bu, sekarang ibu makan ya. Biar Diana suapin? Bukan kah ibu belum makan sejak kemarin?"


"Iya na. Ibu mau."


Menyuapkan ibu mertuanya dengan sangat lembut, rasa ikhlas bisa di rasakan oleh ibu Ramini atas perlakuan menantunya.


"Nenek, nenek cepat sembuh. Nanti kita jalan-jalan ke pantai lagi ya nek."


"Iya nak, sini duduk di sebelah nenek. Nenek rindu sekali sama Alif."


"Alif juga rindu nenek, rindu ayah juga. Tapi sekarang ada ayah, jadi Alif senang nek."


Senyum hangat terpancar dari setiap umat yang berada disana. Terutama Diana, ia sangat senang, akhirnya bisa mewujudkan keinginan anaknya untuk berjumpa dengan ayahnya.


"Bu, besok Diana pamit pulang ya? Malam ini ana akan menginap disini menunggu ibu. Alif biar ikut ayahnya pulang, kasian dia jika harus menginap disini juga."


"Aku disini juga kak, sama kakak."


Sahut Eva.


"Besok kamu pulang kemana?"


Tanya ibu mertuanya.


"Ke desa bu."


"Biar aku yang antar. Sekalian membawa semua barang-barang kamu."


"Maksudnya?"


Diana tidak mengerti dengan maksud Bagas.


Bagas tidak menjawab lagi dan kembali diam. Membuat Diana semakin penasaran. Ia sangat ingin menolak, tapi masih ada mertuanya, tidak ingin menambah beban pikirannya lagi.


"Ibu."


Asal suara dari pintu masuk, ternyata Andre yang datang. Tapi ia tidak sendiri. Melainkan bersama istrinya.


Mas Andre? Apa dia kembali lagi bersama istrinya?


"Ibu."


"Dira. Kamu nak? Dimana cucu ibu, ibu rindu. Ini benar kamu kan nak?"


Eva dan Diana kembali duduk, memberi jarak. Saat ini sudah waktunya ibu berbincang dengan Dira menantu tertuanya. Ia adalah istri Andre.


"Ibu baik-baik aja kan sekarang? Apa yang sakit, maaf bu, aku tidak tau kalau ibu sakit."


Dira sangat berbeda dengan Diana, Dira tidak selembut Diana, makannya Eva lebih akrab dengan Diana dari pada iparnya yang ini.


"Anak-anak aku tinggal bu dirumah neneknya."


"Dira, bagaimana keadaan keluarga kamu."


"Bu, jangan bebankan pikiran ibu lagi. Sudah cukup untuk fokus pemulihan ibu saja. Masalah ku biar aku yang urus."


Sebelum Dira memberi jawaban, Andre sudah lebih dulu menyahut.


Huh, kakak sama adik sama saja. Suka seenaknya menjawab pernyataan orang lain. Diana menggerutu dalam hati.


Mata Dira tampak berkaca, namun segera ia cegah supaya tidak tumpah. Dan tidak terlihat sedih di depan orang lain.


Maaf bu, mungkin semua tidak seperti yang ibu harapkan. Perceraian ku dengan mas Andre akan tetap berlanjut. Aku sangat tidak ingin kembali padanya, maaf bu. Batin Dira.


"Bu, aku doakan semoga ibu cepat sembuh, dan kembali sehat seperti sedia kala. Bu maaf ya, aku enggak bisa lama-lama ninggalin anak-anak. Aku pamit ya bu. Kalau ada waktu senggang, aku pasti bakal main ke rumah ibu."


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya."


Ibu kecewa, saat ini ia tau kalau Dira dan Andre pasti tetap akan bercerai. Namun itu semua mereka sembunyikan, perasaan seorang ibu tidak dapat di bohongin. Ia mengerti dari setiap ucapan dan tindakan anaknya saat ini.


"Diana, Eva, Bagas kakak pamit ya. Alif bude pulang ya nak."


"Iya kak, hati-hati. Jawab mereka serempak."


Berjalan ke arah pintu, dan menoleh.


"Mas aku duluan ya, jaga kesehatan. Dan jangan lupa untuk selalu mengunjungi anakmu."


Pergi meninggalkan Andre yang terdiam.


"Mas, apa kamu enggak antar kak Dira? Lalu dia naik apa?"


Tanya Bagas yang melihat mas nya hanya diam melihat iparnya pergi.


"Dia bawa mobil sendiri kok."

__ADS_1


"Tapi kan, setidaknya mas antar lah sampai ke depan."


"Sudah, jangan berisik. Aku tidak meminta kalian memberi saran."


Dasar keras kepala. Bagas.


"Sudah-sudah. Bagas, kamu pulang lah bersama Alif. Andre kamu juga pulang, biar Diana dan Eva yang menunggu ibu disini. Kalian hanya menunggu kabar saja nanti tentang perkembangan ibu."


Andre dan Bagas mencium kening dan pipi sang ibu sebelum mereka meninggalkan ruangan. Andre lebih dulu keluar, dan Bagas menunggu Diana yang memberi pesan kepada anaknya.


Saat ini Bagas dan Diana beserta Alif, berada di luar ruangan. Tepatnya di depan pintu ruangan rawat inap ibunya.


"Alif, jangan bandel ya. Pulang langsung tidur, ingat pesan bunda kan?"


"Iya siap bunda." Bagas yang menjawab. Sementara Alif hanya mengangguk dan tersenyum melihat ayahnya bisa menyamai suara anak kecil.


"Aku berpesan kepada Alif, bukan sama kamu."


Setelah mencium kening anaknya, Diana berbalik dan akan kembali ke ruangan.


Dengan singkat Bagas menarik tangannya dan mengecup puncak kepalanya. Lalu berjalan pergi dengan santainya sambil menggendong Alif. Bagas tersenyum penuh kemenangan, sementara Diana diam dan hanya menggerutu dalam hati.


Kalau saja tidak ada Alif, pasti aku akan menolak. Tapi anak di perutku malah merasa senang.


...***...


"Mas, katanya Diana ada dirumah sakit sekarang ya?"


Tanya Mita yang duduk di depan kaca rias miliknya.


"Iya sayang, kenapa?"


Sambil berbaring di tempat tidur.


"Kok kenapa sih mas? Pasti dia bertemu dengan Bagas lah."


"Iya kenapa sayang? Kan itu suaminya. Diana sok nolak padahal rindu berat tuh."


"Mas, wajarlah kalau dia menolak, sakit yang ia rasa jelas masih besar."


"Sebesar rasa cinta mas ke kamu."


Tertawa geli.


"Enggak pernah serius!!"


Mita sewot dan melempar sisir yang ia pegang.


"Sakit sayang. Nanti kalau mas buat sakit, baru tau."


"Enggak mau bahas, nanti beneran kamu buat mas."


Anton hanya tertawa mendengar jawaban istrinya.


"Mas, kali ini serius ya."


Menatap suaminya yang kali ini memandangnya dengan menopang kepala memakai kedua tangannya.


"Kapan masalah Bagas akan diproses? Yang pasti mas."


"Senin sayang, Senin sudah bisa. Mas udah ketemu Bagas kok semalam, sebelum ia ke rumah sakit. Berkas sudah mas serahkan. Pengajuan tuntunan bisa di ajukan hari Senin."


"Alhamdulillah. Semoga semua cepat selesai ya mas."


"Oiya mas, gimana kabar teman mas itu? Apa istrinya tau?"


"Mereka akan bercerai, setelah masalah dengan Bagas selesai."


"Mas kok bisa tau?"


"Sayang, tadi kamu bertanya, setelah di jawab kamu nanya lagi sayang. Jadi mas harus gimana?"


"Ya enggak, maksudnya mas bisa tau dari mana? Apa Darma yang cerita?"


"Liat akun sosmed nya Darma. Hihi, lucu jaman sekarang, masalah pribadi di unggah di sosmed. Padahal itu aibnya sendiri, malah di sebar luaskan. Ada-ada aja sekarang manusia mah."


"Wah, kamu jangan gitu ya mas."


"Ya enggak lah sayang. Apa sih enggak ada untungnya, lebih baik kalau ada masalah berat kita mengaduh dengan yang memberi cobaan, biar lebih diringankan dan di beri jalan keluar atas semua masalah yang kita hadapi. Hal itu akan jauh lebih baik dari pada mengumbar kesana-kemari. Makin banyak aja dosa orang yang baca."


"Kenapa gitu mas? Kalau baca kan enggak salah."


Protes Mita.


"Lah iya lah. Coba kamu sayang, ada orang lain yang mengunggah Video sambil nangis-nangis. Terus kamu pasti bilang, 'Ngapain lah begitu, malah jelek lagi suaminya, lebih baik tinggalin aja' Pasti ada saja hal yang kamu ucapkan, meski pun kamu tidak berkomentar, iya kan? Bukan kah itu dosa, padahal akar masalahnya saja kita tidak tau."


"Ya ampun, suamiku. Kenapa pikiranmu sangat jenius sekali. Sekarang Mita sadar mas, sudah berapa kali Mita melakukan itu kepada orang lain, meskipun kadang tanpa Mita sadari, hehe."


"Lain kali jangan begitu sayang, lihat boleh lihat. Tapi jangan ikut berkomentar, biarkan yang berbuat dan mengunggah puas akan menyebar aibnya sendiri."


Mita mengangguk setuju. Dan hari ini ia mendapat pelajaran penting dari suaminya. Terkadang hal sepele itu dapat membuat dosa kita bertambah di setiap harinya. Maka dari itu, dari sekarang sedikit kurangi ghibah ya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2