
Beberapa tahun kemudian.
"Yang ini letak aja dulu, kamu lanjutin kerja kamu. Tolong panggilkan Rani kesini ya, soalnya bahan-bahan masakan udah tinggal sedikit."
Sibuk, saat ini memang sibuk dengan usahanya.
"Sayang, kamu istirahat aja dulu. Biar gantian ayah yang mantau karyawan."
Akhirnya, keinginan Diana tercapai. Ia membuka sebuah restoran besar, ya walau pun awalnya masih cafe biasa. Kini mereka mampu merubah menjadi restoran terfavorit di kotanya. Dan segera membuka cabang baru. Ini semua juga bantuan saudara iparnya, dan juga Rama. Tapi Bagas dan Diana sepakat mengembalikan semua pinjaman mereka. Dan Alhamdulillah, mereka mampu melunasinya.
Saat ini Hawa sudah berumur 3 tahun, semenjak Diana sibuk mengurus usahanya, Hawa ia titipkan pada Bu Salmah. untungnya Hawa juga betah dan tidak rewel. Sementara Alif selalu datang ke restoran setelah pulang sekolah. Karena sekarang Alif sudah duduk di bangku sekolah dasar. Soal antar jemput Bagas dan Diana tidak mempercayai orang lain, mereka selalu bergantian untuk antar jemput anaknya.
"Dek, kamu sibuk?" Mita datang membawa anaknya. Dan saat ini ia juga tengah hamil muda. Setiap hari Mita selalu ingin memakan masakan yang ada di resto.
"Ini udah hampir selesai kok kak, kenapa? Kakak datang sama siapa?" Sambil terus mencatat bahan makanan yang stoknya sudah menipis.
"Kakak sama mas Anton. Tapi dia lagi keluar sebentar, kakak pengen makan rujak soalnya." Kini Diana ikut duduk. Lelah, iya itu yang ia rasakan. Tapi semua terbayar lunas dengan pelanggan yang selalu datang untuk makan di tempatnya.
"Mau makan apa kak?" Diana tau, pasti kakaknya kesini hanya ingin mengisi perutnya.
"Deon, kamu mau makan apa sayang?" Bertanya lebih dulu dengan anaknya. Iya, Deon adalah anak pertama Mita. Dan akan segera hadir anak keduanya.
Dengan bahasa bayi Deon menyebutkan selera makannya saat ini, yang mengerti hanya Mita. Karena anaknya masih berusia 2 tahun, jadi wajar jika bicaranya masih cadel.
Diana segera membuatkan menu yang ingin kakak dan keponakan nya saat ini makan. Setelah kembali membawa pesanan, Anton sudah duduk memangku jagoan kecilnya.
"Minggu nanti kita ke taman X ya na, ada acara pameran disana. Ada artis juga sih katanya yang datang." Ucap Anton setelah Diana ikut duduk dengan keluarga kecilnya.
"Minggu?" Diana tampak menimang. Karena itu hari dimana resto lagi ramai-ramainya.
"Jangan terlalu sibuk mencari uang, kan ada karyawan kamu. Sesekali kita keluar juga nggak masalah kali na. Lagian nggak jauh juga." Sambil menuangkan nasi ke piring istrinya.
"Ya udah. Nanti aku ajak Bagas." Akhirnya keputusan telah ia ambil. Memang semenjak membuka usaha, Diana dan keluarganya jarang sekali pergi liburan, itu semua karena mereka tidak ingin meninggalkan tempat dimana mereka mencari rupiah.
Malam menjelang, saatnya resto tutup. Diana mengehla nafasnya, ketika sudah ada di dalam mobil.
"Bunda capek ya?" Tanya Alif.
"Iya sayang. Nanti Alif pijitin bunda ya?" Mencubit pipi anaknya yang mulai tumbuh besar. Alif menjadi anak yang penurut, apapun yang di larang orang tuanya ia selalu patuh. Tidak pernah membantah setiap perkataan orang tuanya.
"Assalamualaikum. Bu Salmah?" Saat sampai Diana langsung turun dari mobilnya dan segera mengambil anaknya yang ia titipkan. Ini yang Diana takutkan kalau membuka resto yang jaraknya jauh dari rumah. Karena awalnya kan ia meminta membuka usaha di rumah, tapi kendala tempat. Walau pun cukup untuk membangun, tapi tidak seramai di tengah kota.
Dan akhirnya, mereka membeli tanah di pinggir jalan raya, membangun usahanya disana.
"Walaikumsalam. Na, Hawa udah tidur, biar tidur disini aja ya?" Bu Salmah merasa kasian jika Hawa harus di gendong dalam keadaan ia sudah tertidur pulas.
"Ya udah Bu. Titip Hawa ya bu." Kembali masuk kedalam rumahnya, segera membersihkan diri dan membaringkan tubuhnya di kasur. Hal itu adalah sesuatu keinginannya ketika sudah sampai rumah, memeluk guling dan masuk ke alam mimpi sebelum pagi datang dan harus kembali memulai semuanya.
"Sayang, udah tidur?" Bagas datang setelah ia membersihkan diri.
"Hm, kenapa yah?" Menjawab dengan mata tertutup.
"Ayah rasa sudah saatnya kamu di rumah sayang, biar ayah yang urus resto. Kasian Hawa sayang, dia jarang sekali bertemu kamu." Diana langsung duduk mendengar suaminya berbicara.
"Ayah yakin? Sebenarnya Diana juga maunya gitu yah, kasian Hawa, harus dititipkan sama orang lain. Andai ibu masih ada, pasti ia lebih nyaman sama neneknya sendiri." Wajahnya sendu.
"Ibu udah tenang disana." Bagas kembali menghela nafas berat mengingat kepergian ibunya 2 tahun lalu. Tepat dimana dirayakan ulang tahun Hawa yang berumur satu tahun. Ibunya ijin akan melaksanakan sholat ashar, tapi ternyata ibu Ramini pergi selamanya saat tengah dalam keadaan sujud. Sungguh meninggal dalam keadaan Islam. Karena itu juga Eva sekarang ikut suaminya di luar kota mengurus pesantren. Sementara rumah ibunya di tinggali oleh Rama. Itu juga dengan persetujuan semua anak-anaknya.
"Kita tidur ya yah. Soal itu nanti kita bahas besok aja, ana udah ngantuk banget."
"Olahraga sebentar ya sayang?" Mengedipkan matanya.
Bebas mah bebas sekarang, Alif udah tidur sendiri di kamar nya, sementara Hawa tidur di rumah bu Salmah.
Tanpa bisa menolak, dan Bagas sudah memulai aksinya.
Nolak juga aku berdosa!
Pasrah tetapi juga menikmati, itu lah wanita.
***
Minggu yang di tunggu tiba. Bagas juga setuju, karena ia juga merasa lelah setiap harinya berjibaku mencari rupiah. Dan kemarin adalah hari terakhir Diana membantu di resto, ia sudah memutuskan untuk kembali menjadi ibu rumah tangga, tapi ia akan sesekali datang untuk melihat perkembangannya.
"Sayang? Sudah selesai belum?" Berteriak dari luar rumah menunggu dua tuan putri berdandan. Sekarang juga Diana sudah berhijab, semenjak melahirkan anak keduanya ia memutuskan untuk menutup auratnya.
Tak lama keluar Diana dengan membawa Hawa, Hawa kecil yang memakai hijab untuk bayi. Dengan pipinya yang cabi dan mata bulatnya, Uh gemesnya.
__ADS_1
"Cantiknya putri ayah." Mencium pipi kiri anaknya.
"Apa Hawa aja yang cantik?" Iri ternyata nih bundanya.
"Kalau kamu lebih cantik sayang, makannya bisa lahir anak kita seperti kamu." Menoel hidung Diana.
"Banyak gombal, ayo ah berangkat. Mas Anton udah nunggu tuh."
Perjalanan menuju taman X. Hawa terus saja berdiri di atas pangkuan bundanya, melihat jalanan yang penuh dengan pengendara mobil dan motor.
"Nda?" Panggilnya girang dan menunjuk mobil truk besar yang melintas.
"Besal banget nda." Tertawa. Entah lah, mungkin karena jarang sekali ia di bawa pergi, jadi melihat truk saja Hawa sudah senang.
"Sayang HP kamu berdering." Bagas mengingatkan.
"Hallo, Assalamualaikum."
"Kak, hari ini aku pulang, mau ziarah ke makam ibu. Kakak dimana? Apa di resto?"
Ternyata Eva yang menelfonnya.
"Kakak sama mas mu lagi mau ke taman X. Liat pameran disana."
"Ih kok nggak ngajak sih. Aku nyusul ya? Ini aku lagi di rumah bang Rama kak. Nanti aku ajak dia sekalian ya."
"Iya iya. Nanti kamu kabari kalau udah disana. Kita jumpa disana aja ya?"
Sambungan telah di matikan.
"Siapa sayang?" Tanya Bagas.
"Eva yah. Dia pulang ternyata, sekarang lagi di rumah Rama. Nanti dia nyusul."
Saat sampai, tampak parkiran sudah ramai. Tanda bahwa banyak peminatnya, bukan karena melihat pameran, tapi banyak yang antusias melihat artis yang datang.
"Na, gas." Teriak Anton sambil melambaikan tangan. Ternyata ia lebih dulu sampai, dan sudah duduk di di salah satu bangku yang ada di taman.
Mereka langsung berkumpul, dan belum memutuskan untuk masuk. Karena memang belum di mulai acaranya.
Suara riuh dari orang-orang yang hadir mengalahkan suara kata sambutan dari walikota. Ternyata ini perayaan resmi yang di adakan.
"Nggak nyesel datang kesini." Ucap Diana yang memandang kagum ke arah panggung.
Mereka sudah duduk di kursi yang disediakan oleh pihak panitia. Dengan masing-masing memangku anaknya.
Baru melihat setengah acara, Hawa mulai rewel. Mungkin juga karena panas.
"Yah, Hawa nangis minta kesana." Menunjuk daerah taman yang sepi pengunjung.
"Ya udah. Kita kesana aja kalau nggak bang. Dimas juga minta beli ice cream. Dari sana juga masih bisa lihat kan." Rama memberi saran.
Begini lah resiko jika pergi membawa anak-anak. Suka nggak betah, apa lagi panas.
Duduk berkumpul, berbincang hangat. Itu adalah bentuk keluarga yang sesungguhnya. Diana yang sibuk sendiri, karena Hawa tidak bisa tenang. Karena lelah mengejar Diana membiarkan anaknya bermain.
Baru beberapa menit Hawa sudah tidak ada di pandangan mata Diana. Tapi mereka belum menyadari. Sampai Hawa datang bersama wanita bercadar.
"Mana bunda kamu sayang?" Seorang wanita bercadar bertanya kepada Hawa. Mungkin ia melihat Hawa yang berlari sendiri dan menangis ketika tau tidak ada bundanya disana.
"Itu." Tunjuknya ke arah dimana keluarganya berkumpul.
Melangkah dan menuntun Hawa ke arah bundanya.
"Bunda." Teriak Hawa girang.
Wanita bercadar ini langsung diam dan membeku. Ia bahkan mengusap matanya sendiri, kalau yang ia lihat tidak salah.
"Hawa sama siapa?" Bertanya dan mendekat ke arah anaknya.
"Cama Tante." Menunjuk ke arah wanita yang menolongnya.
"Oh, makasih ya mbak. Tadi nggak ngelihat kalau anak saya udah jauh mainnya."
Menjawab hanya dengan anggukan.
"Mbak." Panggilnya pelan ketika Diana sudah berbalik badan.
__ADS_1
"Iya?"
"Mbak, apa kabar?" Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa di kontrol.
"Saya?" Menunjuk dirinya sendiri. "Saya sehat? Mbak kenal ya sama saya?"
"Sayang, kamu disini? Katanya mau beli cemilan?" Belum sempat menjawab suaminya datang menghampiri dengan menggendong anaknya.
"Ah iya, tadi ngantar anaknya mbak ini, kasian dia nangis nyari bundanya."
Diana melihat lelaki yang berstatus suami wanita di hadapannya ini, ia memutar kembali ingatannya. Sepertinya tak asing, pikirnya.
Ah aku ingat, dia kan, dia ah. Aku tidak tau namanya, tapi kalau tidak salah, diakan lelaki yang mengantar Risah ke pengadilan dulu.
"Kamu yang dulu kan?" Diana bingung sendiri dengan pertanyaan nya.
Aku bilang apa sih.
"Maksudnya?"
"Iya kamu yang dulu nemani Risah waktu di pengadilan beberapa tahun lalu kan? Ini istri kamu?"
Sontak seluruh keluarganya melihat ke arahnya yang dengan terang-terangan menyebut nama Risah. Jelas mereka mendengarnya, karena saat ini Diana hanya berdiri berjarak 2 meter dari keluarganya duduk.
"Iya itu memang saya. Dan ini istri saya, dia Risah." Menekan di akhir kalimat. "Oh anda istrinya Bagas ya?" Tersenyum kecut.
Sontak Diana membulatkan matanya tidak percaya, Jadi ini Risah? Hanya itu yang ada dibenaknya sekarang. Tak percaya, dan itu yang ia tanamkan di hatinya. Diana langsung menatapnya dengan serius, mencari kebenaran disana, benar atau tidaknya wanita ini adalah Risah.
Ya, wanita bercadar yang ada di hadapan mereka sekarang adalah Risah. Wanita yang menolong anaknya Diana beberapa menit lalu.
Saat ini Risah sudah menundukan wajahnya, ia sudah menggenggam erat tangan suaminya, yaitu Rendy. Rasa malunya masih saja tidak bisa dihilangkan. Walau wajahnya tertutup cadar sekalipun, ia masih tidak bisa berhadapan dengan orang-orang di masa lalunya.
"Siapa kak? Teman kakak? Ayo di ajak gabung aja." Ucap Rama yang sudah berbalik badan melihat orang-orang asing, itu menurutnya. Tapi tidak dengan Bagas. Sekali saja menatap ia tau kalau itu memang Risah. Bagas hanya menundukkan wajahnya. Berpura-pura tidak tau dan tidak melihat. Ia takut kalau Diana akan marah nantinya.
"Hem, bukan, eh iya." Diana jadi bingung sendiri. "Maksudnya dia ini yang tadi nganter Hawa kesini."
Risah tercekat, kali ini bahkan tubuhnya terasa lemas.
Rama? Iya itu Rama? Kenapa, kenapa masa lalu ku semua bisa ada disini sekarang? Apa hubungan mereka sebenarnya? Dan, apa mungkin Bagas memang saudaranya, wajah nya begitu mirip.
"Permisi mbak. Ayo kita balik kesana." Menarik tangan suaminya. Rendy juga tau kalau saat ini Risah tidak suka dengan keadaan yang sekarang.
Jadi, sekarang wanita itu udah tobat? Luar biasa, sesuatu perubahan yang sangat baik.
Diana kembali duduk bersama keluarganya. Ia melirik suaminya yang menunduk.
"Tadi siapa na? Kamu kenal?" Tanya Mita.
"Oh itu Risah ternyata kak, udah pakai cadar sekarang dia kak, semenjak keluar dari penjara tobat rupanya."
Risah? Jadi tadi itu Risah? Rama memutar kepalanya, melihat ke belakang. Mencari jejak Risah masih ada atau tidak.
"Kenapa?" Tanya istrinya yang melihat Rama tampak bingung.
"Ah enggak sayang."
"Apa kamu nggak salah orang na?" Ternyata Mita juga masih penasaran, tidak hilang ternyata sifatnya itu walaupun udah jadi seorang ibu.
"Nggak lah kak. Suaminya sendiri juga bilang. Udah ah jangan bahas, ada yang nunduk kalau masa lalunya di ungkit." Menyindir suaminya sendiri dengan halus, tapi menusuk.
Eva juga hanya diam tidak menanggapi, karena baginya semua hanya masa lalu. Begitu juga dengan Rama, semenjak kejadian barusan, ia lebih banyak diam. Mungkin banyak hal dan opsi yang ia pikirkan saat ini. Rama juga tidak akan menceritakan masa lalunya itu kepada siapapun, termasuk saudaranya sendiri. Karena, semuanya saling berkaitan. Lebih baik ia membawa rahasia memalukan itu sampai Keliang lahat, biarlah aku yang meminta ampun kepada Allah atas semua dosaku dulu, batinnya.
Hingga matahari mulai tenggelam, mereka berpisah dan akan kembali ke rumah masing-masing.
Biar lah, semua manusia memiliki masa lalu, baik ataupun buruk. Kini semuanya sudah damai. Meskipun kita menghindari orang-orang dari masa lalu, tapi jika kita masih bernafas, pasti akan tetap bertemu, di tempat lain, atau di tempat dimana kita tidak akan mengira kalau akan bertemu kembali. Karena apa? Allah menguji, agar kita bisa tetap pada pendirian, tidak jatuh ke lubang yang sama.
Dan yang saat ini Diana tanamkan di benaknya adalah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, termasuk suamiku selingkuh. Aku akan percaya semua kejadian yang menurutku tidak mungkin, mulai dari sekarang.
TAMAT.
***
Terima kasih Diana, terimakasih Anton, Mita, Risah. Sudah menemani kami, hehe. Semoga yang baca rumah tangganya baik-baik aja ya, amin. Makasih udah mau mampir baca kisah kehidupan yang sering terjadi di sekeliling kita. Makasih udah dukung author. Makasih buat semuanya, ilope yuπ Nantikan give away berupa pertanyaan ya, aku juga lagi baca ulang, mau nyari pertanyaan apa yang cocok hehe.
Buat kalian semua, aku juga udah ada novel baru kok, udah up beberapa bab "Dia Bimaku" itu judulnya. Cerita jelas jauh berbeda dengan "Mana mungkin suamiku selingkuh" Jangan lupa mampir yaππ Soalnya aku nulis ini sambil nangis, bayangin kejadian di masa lalu, hehehe. aku juga nggak rela pisah sama kalian, jadi aku harap kalian masih mau baca karya aku yang lain.
Salam hangat dari sellaππ
__ADS_1