
Diana berlari ke kamar mandi yang ada di dapur.
Dia terus meneteskan air matanya, Diana merasa kaget bukan main karna selama ini, semarah apapun Bagas tidak pernah sampai membentak sekeras itu, apalagi sampai menunjuk-nunjuk dirinya.
Keterlaluan kamu yah! keterlaluan kamu.
Bagas mengetuk pintu kamar mandi dan terus berusaha meminta maaf.
"Sayang maaf, ayah bener khilaf karena ada masalah di kantor, ayah sungguh minta maaf sayang." Bagas memohon didepan pintu kamar mandi.
"Sayang kamu bilang mau apa? Bakal ayah turutin sayang? Tapi ayah mohon keluar lah."
Tidak juga ada jawaban. Hanya ada suara Isak tangis dari dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian.
Kriet.. Suara pintu kamar mandi terbuka.
Bagas yang terduduk langsung berdiri. Dan melihat wajah Diana yang memucat juga matanya yang sembab. Mungkin karena terlalu banyak menangis.
"Sayang?" Diana tidak bergeming.
"Sayang? Ayah mohon maafin ayah." Bagas mulai mendekat. Diana tidak bergerak dan ini memungkinkan adanya kesempatan untuk Bagas.
Saat akan memeluk.
"Berhentilah berpura-pura baik terhadap ku. Berhentilah berpura-pura seolah kamu sangat menyayangi ku, dan berhentilah untuk menyembunyikan kemunafikan mu!!" Bagas kaget dan berhenti tepat di depan Diana. Awalnya akan memeluk tapi kali ini dia urungkan niatnya.
"Makasih banyak karena telah berhasil mengubah sifat ku yang keras menjadi lunak. Makasih juga udah bimbing aku jadi istri yang patuh. Tapi karena kamu adalah guru untukku. Maka setiap apa yang kau ajarkan akan selalu aku contoh."
Diana menjeda sebentar kalimatnya.
"Dan ini juga salah satunya. Semoga aku akan terbiasa dengan sifatmu yang sekarang. Dan aku harap kamu juga akan terbiasa dengan sifat ku yang dulu sebelum kamu tuntun menjadi lebih baik lagi. Karena kali ini aku merasa ada terlalu banyak kebohongan yang kamu tutupi tanpa aku harus tau."
Pandangan Bagas kosong, dia mencerna kalimat yang di katakan Diana.
Diana berlalu begitu saja tanpa menatap atau melihat sedikit pun ke arah Bagas.
Dia langsung pergi ke kamar naik keatas ranjang dan memeluk putranya yang rewel sedari tadi, hanya karena menunggu ayahnya pulang. Ada rasa rindu mungkin karena jarang ketemu dan kemarin dibawa kerumah budenya. Sangat jarang sekarang Alif bertemu ayahnya.
Kasian kamu nak, kamu pasti rindu sekali ya dengan ayahmu. Padahal satu rumah tapi setiap ayah pergi kamu belum bangun. Dan setiap ayah pulang kamu udah tidur.
Sambil mengelus puncak kepala anaknya.
Diana pun tertidur karena kelelahan menangis. Sebelum tidur dia tidak melihat Bagas dikamar. Mungkin lagi ngeratapi kesalahannya pikir Diana.
Keesokan paginya Diana terbangun mendengar bacaan ayat suci Al-Quran yang berkumandang di masjid.
Dan tidak mendapati suaminya dikamar. Diana berjalan keluar kamar dan akan masak setelah itu barulah melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Dan betapa kagetnya dia setelah melihat tangan menjuntai kebawah dekat sofa. Diana mendekat dan melihat ternyata suaminya tertidur di sofa tanpa selimut, meringkuk kedinginan.
Tapi Diana tidak ada inisiatif membangunkan apalagi membawakan selimut. Biarlah biar jadi pelajaran buat Bagas, pikirnya dan lalu pergi ke dapur.
...***...
Bagas terbangun karena mencium aroma masakkan yang menyeruak ke hidung. Wangi sih tapi yang mencium bisa bersin karena terlalu sensitif bila ke hirup.
Orang tua dulu bilang biasanya kalau ada yang masak tapi selalu buat orang bersin-bersin itu tanda masakkannya enak, tapi orangnya pasti judes(cerewet).
Dan itu memang terbukti.
Bagas bangun langsung masuk ke kamar mandi. Setelah itu ia melaksanakan sholat subuh tanpa mengajak Diana. Sampai ia selesai pun Diana juga tidak tau kalau suami udah bangun.
Saat Diana berjalan melewati sofa ruang tamu sudah tidak mendapati Bagas yang tertidur.
Diana masuk ke kamar ternyata suaminya sudah rapi, wangi, dan udah maskulin lah. Diana diam tak ada menyapa, hanya melirik sekilas lalu pergi lagi untuk menunaikan sholat subuhnya.
Selesai sholat ia kembali lagi ke dapur, dan melihat pintu rumah udah dibuka sedikit, dia tak merespon mungkin suaminya tadi yang buka begitu lah kira-kira.
Setelah menyiapkan makanan di atas meja dia kembali lagi ke kamar, tapi Bagas sudah tidak ada. Tas kerjanya pun juga sudah tidak ada.
Apa mungkin kamu sudah pergi yah?
__ADS_1
Dia kembali lagi kebelakang , mengechek tapi tidak ada. Keluar melihat garasi ternyata kosong. Ya Bagas sudah pergi sedari Diana sholat tadi. Pukul 05:40 Bagas sudah berangkat.
Jelas Diana tidak mendengar selain garasi yang terletak agak jauh dari kamar, Diana pun melaksanakan sholat dengan khusyuk. Jadi tidak tau ada suara mesin mobil menyala.
Oh jadi udah kamu yang salah, kamu yang mau diemin aku? kemana kamu yah kalau jam segini udah pergi ke kantor? Bahkan kantor mu pun belum buka! kamu pergi tanpa menyentuh makanan yang aku masak.
Diana kembali menangis tanpa suara, hanya ada suara hidung mampet dan air mata yang jatuh.
...***...
"Alif bangun nak, udah siang. Mandi terus sarapan sayang."
Sambil menepuk pipi anaknya dengan lembut.
"Ayo bangun, nanti kita main kerumahnya nenek salmah, mau enggak Alif."
"ehmm Alif masih ngantuk bunda." Jawabnya dan mengucek mata.
"Ayo sini bunda gendong."
Sampainya di kamar mandi.
"Bunda ayah mana? dari semalam Alif enggak ada jumpa ayah, apa ayah enggak pulang bunda? Apa ayah enggak kangen sama alif?"
Diana tersenyum menatap anaknya.
"Tadi malam ayah pulang Alif udah tidur sayang, terus tadi ayah perginya pagi banget, takut Alif di bangunkan enggak mau. Buktinya aja udah siang bunda bangunin Alif bilang masih ngantuk kan?"
"Iya bunda, yaudah nanti malam Alif enggak akan tidur dulu sebelum ayah pulang bunda." Sambil memainkan sabun di tubuhnya.
...***...
"Assalamualaikum Bu Salmah."
"Walaikumsalam. Eh kebetulan kalian main kesini, sini Alif nenek ada buat bolu kukus ini." Tawarnya dan tersenyum ramah.
Bu Salmah tetangga Diana satu-satunya yang akrab dengannya. Kalau yang lain mah acuh saja. Mungkin karena merasa orang kaya kali ya.
"Makasih nek " Jawab Alif tak kalah ramah.
"Kok Bagas pergi pagi sekali na?" Tanya Bu Salmah.
"Ada meeting Bu, tapi berkasnya yang harus dipresentasikan tertinggal disana mana belum di chek ulang. Jadi dia pergi cepat supaya masih sempat menghafal sedikit." Ucapnya berbohong.
"Oh. Kirain lagi bertengkar dengan kamu na."
"Enggak Bu, Ohiya Bu Diana mau tanya."
"Tanya apa na? Tanya aja selagi ibu tau pasti dijawab."
Alif asik bermain dengan kucing Bu Salmah sambil memakan bolu kukus yang diberikan Bu Salmah. Untunglah tidak rewel, jadi tak mengganggu orang tua berbicara.
"Diana tadi malam mimpi kalau baju Diana di ambil orang Bu. Dan Diana keinget dulu waktu ngobrol sama emak katanya kalau kita mimpi baju atau apapun yang berharga milik kita di ambil orang itu tandanya suami kita selingkuh.
Diana enggak percaya sih, tapi juga butuh keyakinan yang kuat. Makannya Diana kesini mau tanya sama ibu, soalnya ibu kan pengalamannya lebih banyak jadi pasti tau." Tuturnya.
Wajah Bu Salmah berumah sendu dan menatap kearah depan lalu membuang nafas.
Apa sebaiknya aku bilang kalau suaminya semalam pulang boncengan dengan wanita dan pegangan erat? Ah aku takut sekali gara-gara aku bisa runtuh rumah tangga orang lain. Yaallah aku bingung. Kasian kamu nak. Batinnya.
Bu Salmah tampak menimang akan menjawab apa.
"Bu kok melamun? Gimana Bu? Apa itu benar?"
Tanyanya lagi.
"Sebenarnya kadang kita sepele ya hanya karna itu mimpi. Mimpi itu hanya sebatas bunga tidur, tapi kadang ada yang mengandung makna tersendiri bagi orang-orang yang tau apa arti mimpi itu.
Mimpi kamu emang bener artinya begitu, Tapi jika sekali lagi ibu tegaskan, apakah kamu akan mendunuh suamimu selingkuh?" Tanya balik Bu Salmah dan Diana hanya terdiam.
"Apa selama ini suami mu berubah?" Tanyanya lagi sambil menatap ke depan.
Yaallah hamba mohon ampun, jika hamba berkata jujur janganlah kau berikan kehancuran di keluarga mereka.
__ADS_1
Bu Salmah sudah mantap akan memberi tahu Diana tapi secara pelan-pelan supaya dia enggak syok.
"Sebenarnya semalam ibu melihat Bagas boncengan dengan wanita, cantik kayak masih muda, mungkin juga belum menikah" Diana membulatkan matanya seakan tidak percaya apa yang di katakan Bu Salmah.
"Mereka berhenti di daerah blok B. Terus wanita itu turun dan berjalan ke arah ruko Olshop yang ada disana. Bagas tidak ikut tapi dia menunggu di sisi jalan. Ibu melihat jelas dan terus memandang dari arah jauh. Rambutnya pendek sebahu memakai rok layaknya pekerja kantoran.
Ibu ingat jelas itu. Tapi karena paklek mu udah ngajak pulang yaudah ibu enggak lihat lagi. Ibu pun enggak bilang paklek kalau ibu melihat Bagas sama wanita lain. Takutnya malah di datengin, kayak enggak tau paklek mu aja." Dia berhenti berbicara melihat respon Diana.
"Bu. Memang kemarin dia pamit akan menjenguk temannya yang sakit di daerah blok B. Tapi dia enggak bilang kalau mau pergi bersama wanita apalagi sampai boncengan." Terangnya dengan sedikit suara bergetar menahan tangis.
Bu Salmah mengelus tangannya seolah memberi kekuatan.
"Makannya tadi ibu bilang kan apa suami mu ada berubah? Kalau tidak lupakan saja mimpi mu na, bisa jadi itu hanya peringatan. Ibu mohon jangan bilang apa pun ke Bagas soal ibu melihat dia, karna ibu enggak mau Bagas sampai tau kalau ibu yang memberi tau." Tegasnya.
"Iya Bu. makasih ya." Mencoba tersenyum.
"Na, percantik diri kamu. Kamu langsingkan sedikit badan kamu, kamu Uda putih cantik, hanya sedikit berlebih berat badan, coba kamu rajin berolahraga biar tubuh ideal sebelum melahirkan kembali lagi. Memang ibu sudah tua, tapi ibu pun tau laki-laki maunya seperti apa.
Suami kamu ganteng jadi kamu harus lebih ketat menjaga, dengan cara percantik diri kamu supaya dia tidak tertarik melihat wanita lain" Diana tampak terus mendengar kan.
"Ibu bilang gini bukan berarti kamu enggak cantik ya na. Kamu jangan tersinggung, kamu kan tau ibu gimana orangnya."
Iya Bu Salmah kalau bilang lebih langsung ke INTINYA. Bisa dibilang lembut tapi kalau ngomong ceplas-ceplos nyelekit lagi.
"Tapi Bu masalahnya, setiap kali Diana mau melakukan diet Bagas selalu ngelarang. Katanya begitu saja juga enggak apa-apa."
"Kamu ingat enggak sama anak ibu yang pertama? Yang sekarang ikut suaminya tugas di Jakarta?"
"Iya Bu, kak Rani ya? Kenapa emang Bu?"
"Dia dulu begitu na, kayak kamu. Kalau mau kesalon dilarang, mau keluar dilarang, mau diet dilarang. Suaminya bilang mau cantik biar dilihat orang gitu? Mau cantik biar banyak di sukai orang gitu? Terus kak Rani nurut aja.
Taunya apa suaminya selingkuh sama orang lain yang lebih muda, dan kak Rani enggak langsung marah tapi kak Rani buktikan, dia diet ketat jaga makanan, olahraga, rajin kesalon, enggak perlu nunggu persetujuan suaminya.
Dan sekarang suaminya yang takut kalau Rani di ambil orang. Jadi sebenarnya gini na, kalau kita enggak menarik suami kita bakalan sepele kayak anggep gaakan ada yang maulah sama kita.
Tapi kalau kita udah berubah jauh lebih menarik pasti suami kita sendiri yang kalang kabut, bahkan mau bandingin sama wanita lain kalau istrinya lebih cantik" Jelas Bu Salmah panjang lebar.
"Diana akan coba saran ibu, terimakasih banyak ya Bu, Diana jadi lega udah bisa ungkapin isi hati ke Ibu." Ucapnya tulus sambil memeluk Bu Salmah.
Diana bertekat memperbaiki penampilan karena pada umumnya lelaki lebih tertarik pada penampilan ketimbang hati. Ada juga sih yang enggak Mandang fisik tapi bisa hitung jari lah di dunia ini.
Lagian coba pikir baik-baik, dulu sebelum menikah suami kita mau itu karena apa? Karena sebagian besar melihat fisik kita menarik di pandang oleh mata. Zaman sekarang itu dari fisik turun ke hati, ingat.
Diana merasa amat lega mendapat nasehat dan saran dari Bu Salmah. Sedikit merasakan beban yang ia pikul itu hilang. Ya walaupun melihat suaminya masih saja merasa emosi.
Apalagi baru aja denger Bu Salmah bilang kalau dia berani pergi dengan wanita lain, pelukkan pula. Tapi kunci dari ini sabar. Harus banyak belajar seperti kak Mita. Biarkan saja dulu pura-pura saja tidak tau.
...***...
Dikantornya Bagas nampak tidak fokus berkerja apalagi ada Risah yang sedari menatapnya. Belum lagi masalahnya dengan istri dirumah. Aaah pusing batinnya.
Risah mendekat karena sedari pagi Bagas tidak ada melihat atau menegurnya.
"Mas kenapa? Apa kamu ada masalah?" Tanyanya.
"Nanti pulang kamu ikut aku ya."
Risah tersenyum bersemangat.
"Kita mau kemana mas?"
"Kehotel." Singkat, padat, jelas dan tepat.
Risah membulatkan matanya tidak percaya.
"Kamu yang benar lah mas kalau bicara. Jangan buat spot jantung!"
"Terserah. Begitu jam pulang aku tunggu kamu di parkiran. Aku bawa mobil kok enggak bawa motor." Bagas pun meninggalkan Risah yang masih terdiam. Dia mengantarkan berkas ke ruangan bosnya.
Gilaaaa. Ini gila. Mau apa dia ngajak aku kehotel? Apa segitu nafsunya mas Bagas sama aku? Ah tapi tak apalah lagian juga udah sering.
Ya Risah memang anak yang liar, karena kurang kasih sayang orang tua. Orang tuanya bercerai sejak dia masih SD.
__ADS_1
Ibunya membuka warung kopi untuk menghidupi anak-anaknya. Sehingga dia tumbuh menjadi anak yang berambisi, ingin memiliki sesuatu walaupun itu bukan miliknya. Contoh nya saja seperti Bagas.
Bersambung..