Mana Mungkin Suamiku Selingkuh

Mana Mungkin Suamiku Selingkuh
BAB 42


__ADS_3

Bagas menunggu di dalam mobil dengan perutnya yang keroncongan tanda minta di isi. Bahkan dari pagi ia tidak sarapan. Ingin sekali makan masakan istrinya yang sudah lama tidak tersentuh lidah, namun apa daya berjumpa saja tidak mau apa lagi sampai datang langsung dan minta makan.


Ia mengeluarkan HP dan berniat akan menelepon Anton. Tapi nihil sinyal jelas tidak ada, jadi Bagas hanya mengirim pesan kalau dia menunggu di tempat tadi mereka berpisah. Itu pun beberapa kali gagal untuk mengirim pesan, sekali bisa eh masih centang satu.


berasa menyedihkan sekali disini.


Enak kak Mita dan mas Anton bisa makan sampai kenyang. Lah aku, sangat miris.


Bagas merebahkan tubuhnya di atas mobil, kursi ia setel tidur supaya bisa merebahkan dirinya. Dan jendela mobil sedikit ia buka, agar angin semilir masuk dan membawanya ke alam mimpi di siang hari.


Ia benar-benar terlelap dengan cacing yang terus meronta di perutnya. Terlalu banyak gengsi untuk beli di warung sekitar sini, takut juga ada yang mengenalinya dan banyak pertanyaan, lebih baik tidur dengan perut lapar.


Tak terasa dua jam lamanya ia tertidur dengan pulasnya. Bagas terbangun karena mendengar suara ketukan kaca mobilnya yang terus menerus berdenting.


Hooamm..


Menguap dengan puasnya. Mengucek mata dan melihat siapa yang menganggu tidurnya.


"Bangun gas, kamu mau disini sampai malam!!"


Teriak Anton.


Membuka pintu mobil dan kembali mengubah posisi kursi dengan semula.


"Mas, lama sekali aku lapar."


"Ini."


Menyerahkan bungkusan nasi dan sayur.


"Beli dimana mas?"


"Warung Diana."


Santai ia menjawab.


"Kok seperti nama istriku, emang dimana warungnya mas?"


"Banyak tanya, makan aja lah. Cepetan, mas beralasan cuma mau cari makanan ringan disini. Kalau lama banyak pertanyaan nantinya dari istrimu."


Bagas mengambil bungkusan itu dan melihatnya.


"Itu Diana yang masak."


"Serius mas? Beneran? Kok bisa mas? Tapi mas bilang cuma mau cari makanan ringan?"


Anton hanya mendelik dan tidak menjawab.


"Makan aja, sebentar lagi kita pulang, kamu mau nunggu atau mau pulang duluan?"


Bagas menimbang dan berpikir keras.


Kalau menunggu pasti akan lama. Tapi kalau pulang aku enggak akan dapat informasi dari mas Anton, bakalan nunggu besok-besok lagi pastinya. Keburu aku mati penasaran.


"Udah tunggu aja lah. Nanti kamu nyasar pulang sendiri."


Tertawa mengejek.


"Ya udah mas. Jangan lama-lama mas, entar keburu malam sampai rumah."


Anton hanya menjawab dengan jari membentuk OK.


"Eh mas tunggu, mas belum jawab bagaimana bisa bawa nasi kesini? Apa Diana tau kalau aku ada disini?"


Anton tak menghiraukan pertanyaan Bagas dan terus berjalan kembali ke rumah dimana Diana tinggal.


Flashback.


Diana bangkit dari duduknya setelah selesai makan, ia bermaksud akan membereskan piring di meja makan dan segera mencucinya.


"Na? Biar kakak bantu, nanti kakak yang cuci piringnya."


"Enggak usah kak, kakak tamu disini, biar Diana aja."


Berjalan memasuki kamar mandi.


"Sstt.. Sayang Bagas pasti lapar belum makan, mumpung Diana lagi di kamar mandi kamu cepat bungkusan nasi dan sayurnya, biar mas yang antar kesana."


Mita melirik ke arah kamar mandi dan mengangguk, secepat kilat ia membungkus itu semua.


Terdengar dari kamar mandi kalau Diana memuntahkan makanan.


Mita dan Anton panik dan menggedor pintu kamar mandi.


"Na, kamu kenapa dek?"


Tak lama Diana keluar dengan wajah pucat.


"Mual kak, padahal di awal-awal enggak pernah begini."


Kasian kamu na, enggak ada suami yang harusnya ada di samping kamu saat seperti ini.


"Biar mas belikan obat ya, sekalian beli cemilan untuk mengganti makanan yang kamu muntah kan."

__ADS_1


Sambil mengedipkan mata memberi kode istrinya.


"Ya udah mas."


"Ana ayo kakak antar kamu ke kamar, kamu istirahat aja, nanti biar kakak yang bereskan ini semua."


Diana hanya mengangguk pasrah. Menolak pun percuma, karena memang saat ini ia sangat merasa pusing dan mual.


Anton berjalan keluar membawa bungkusan nasi yang di siapkan untuk Bagas.


"Pakde mau kemana? Alif ikut?"


Waduh, bisa gawat ini kalau Alif ikut, pasti dia bakal ngoceh nantinya.


"Jangan sayang, Alif di rumah aja ya. Di luar panas, pakde mau beli obat buat bunda, Alif jaga bunda aja ya. Nanti pakde belikan jajan."


"Bunda sakit pakde?"


"Iya sayang. Sana jagain bunda."


Alif masuk meninggalkan Anton yang juga berjalan keluar.


Huh serumit ini ternyata menolong orang ya.


Flashback end.


...***...


Berjam-jam Bagas menunggu di mobil, dan akhirnya nampak lah mobil Anton yang datang mendekat.


Bagas langsung keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Aku hampir pasrah hingga besok menunggu Disni mas."


"Udah ayo kita pulang."


Jawab Anton.


"Lah mas, jadi bagaimana?"


"Apanya?"


Tanyanya polos.


"Diana mas, bagaimana? Aku disini rela menunggu hanya ingin tau informasi loh mas."


"Diana belum siap untuk kembali gas, sebelum kamu selesaikan urusan kamu dengan wanita itu."


Akhirnya Mita yang menjawab.


Dengan nada lirih dan sedih.


"Nanti mas bakal bantu, mas bakal hubungi teman mas yang pengacara, yang terpenting bukti sudah ada. Kalau dia bilang bisa tanpa melakukan Test DNA kita akan ajukan tuntutan."


Terang Anton.


"Tapi Diana baik-baik aja kan mas?"


"Setahu kamu, apa kalau orang yang hamil muda akan baik tanpa suami? Apa lagi menghadapi bagaimana ngidamnya."


Bagas hanya tertunduk, tak tau harus menjawab apa. Dan juga tidak bisa bertindak.


"Ya udah gas, ayo kita pulang. Kamu berdoa aja supaya semua bisa cepat selesai."


Mereka melajukan mobilnya menuju rumah masing-masing. Tapi niat Bagas kali ini ada lah pulang ke rumah ibunya. Ia sudah tidak sabar untuk menanyakan perihal mereka yang tau kalau Diana ada disini. Bahkan mereka juga sudah datang kesini melihat keadaanya. Ada untungnya juga anak pembawa si*l itu mengoceh, batinnya.


Saat sudah sampai kota Bagas mengklakson panjang sebagai kode untuk Anton mengurangi kecepatannya. Bagas mensejajarkan laju mobil nya. Untungnya sudah malam, jalanan tidak terlalu ramai.


"Mas aku belok kiri nanti, mau pulang ke rumah Ibu."


Teriak dari mobil ke mobil.


"Ya udah hati-hati, mas duluan ya."


"Ok."


Kali ini gantian Bagas yang menjawab hanya menggunakan jari tangan, membuat Anton hanya geleng-geleng kepala.


...***...


Jam 10 malam Bagas sampai di rumah ibunya. Ia mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Kembali ia ketuk dan mengucap salam, tampak suara langkah mendekat dan jegleg. Suara pintu rumah di buka.


"Ada apa? Ibu sudah tidur."


Bagas hanya menghela nafas, ia sudah memprediksi kalau sampai disini ibunya pasti sudah tidur. Tapi rasa penasaran itu tidak akan pernah hilang dari pikirannya kalau belum mendapat jawaban.


"Udah dari tadi ibu tidurnya?"


"Udah."


Eva berdiri di depan pintu, seperti tidak memberi ijin untuk Bagas masuk ke dalam rumah. Bahkan wajahnya tampak tidak senang dengan kedatangan Bagas kerumahnya.


Masih sama-sama terdiam di depan pintu.

__ADS_1


"Aku ngantuk mas mau tidur, kalau enggak ada urusan pulang aja, udah malam. Aku mohon jangan ganggu ibu dulu, kasian ibu."


"Sebenarnya ada yang sangat ingin mas tanyakan sama ibu va, penting."


"Masalah mas sama kak Diana lagi?"


Bagas mengangguk.


Eva menghela nafas, dan membuangnya dengan kasar. Seperti orang yang sudah muak untuk membahas hal ini lagi.


"Kamu pasti tau juga kan? Tapi lebih baik ibu saja yang menjelaskan dari pada kamu."


"Terserah."


Masih tetap cuek, melipat kedua tangannya di dada dan menatap lurus ke depan.


Akhirnya Bagas mengalah dan pergi tanpa berkata apapun lagi, ia berniat akan kembali esok pagi. Bicara terhadap orang yang lebih tua lebih baik, dari pada bicara terhadap anak muda yang masih mengutamakan emosi.


...***...


Malam ini Diana tidur dengan di selimuti pikiran yang menyerang di kepalanya. Ke kanan salah, ke kiri salah. Bahkan mau ia jungkir balik sekalipun pikiran itu tidak akan hilang.


Kenapa aku sangat yakin kalau memang tadi siang itu Bagas ada disini. Tapi kan tidak mungkin mas Anton dan kak Mita bohong sama aku, itu sangat tidak mungkin. Apa jangan-jangan memang Bagas yang mengikuti mereka kesini secara diam-diam?


Diana yang takut langsung bangkit dari tidurnya, dan berjalan keluar, mengintip ke jendela depan. Memastikan sudah tidak ada orang di luar.


Jangan-jangan dia masih disini. Ah mana mungkin juga sih.


Diana berjalan ke dapur memastikan pintu belakang sudah terkunci dengan benar. Juga jendela, takut Bagas masuk dari sana seperti yang ia lakukan dulu di rumahnya. Lalu kembali ke depan lagi, memastikan pintu depan sudah terkunci. Padahal sebelum ia berjalan ke dapur tadi, ia sudah mengunci pintunya.


Kenapa aku yang jadi seperti orang gila begini.


Ia menggaruk kepalanya sendiri, dan memutuskan kembali ke kamar lalu tidur. Tapi semua tidak berjalan lancar, mata tidak bisa di ajak kompromi. Diana hanya rebahan di samping anaknya yang sudah mimpi entah sampai mana, sambil menatap langit kamar. Ia berkhayal mengenang masa lalunya. Dimana pertama kali bertemu Bagas. Dan saat Bagas datang untuk melamar nya.


Flashback.


"Hari ini aku enggak boleh telat lagi ke sekolah. Hari ini ujian akhir sekolah, bisa remedial aku kalau terlambat."


Diana berjalan ke pinggir pasar menunggu angkutan umum yang lewat, tak lama terlihat angkutan umum yang masih kosong. Hanya ada satu penumpang di belakang. Yakni seorang lelaki memakai pakaian rapi seperti pekerja kantoran, juga membawa tas berisi laptop.


Diana duduk di ujung sementara lelaki itu duduk di tengah dan tubuhnya menyerong ke depan.


Diana menatapnya, tetapi lelaki itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Diana. Jangan kan menegur melirik pun tidak.


Hanya satu kata yang Diana ucapkan dalam hati.


Tampan.


Hingga angkutan umum yang ia naikin berhenti tepat di depan sekolahnya, ia pun turun melewati lelaki itu dengan sopan. Diana mencoba menyapa lewat senyum.


"Duluan ya bang."


Lelaki itu hanya menjawab dengan senyuman.


Sungguh manis sekali senyumnya. Batin Diana.


Dan seminggu ini Diana terus saja satu angkutan umum dengan lelaki itu, anehnya angkutan umum yang mereka naiki tidak pernah penuh dan desak-desakan. Paling hanya dua dan tiga orang saja. Seperti skenario ini sudah di rencanakan Tuhan.


Lama kelamaan Diana bertanya tentang ia bekerja atau kuliah, dan mereka pun akhirnya mengenal satu sama lain. Dari sini Diana bisa mengerti, kalau Bagas bukan sombong, tetapi memang tipikal orang yang pendiam.


Berlanjut ke tingkat dua yaitu setelah mengenal, lalu pacaran. Dan beberapa tahun kemudian Bagas melamar Diana di hadapan orang tuanya, yang waktu itu masih ada.


Dengan janji dan ikrar Bagas dengan lantang mengucap ijab qobul di depan keluarga dan para saksi lainnya. Senyum bahagia terpancar di wajah sepasang pengantin baru.


Namun tidak lama mereka menikah Diana mulai mengandung dan orang tuanya meninggal, dengan jarak yang tidak lama. Pertama bapaknya, lalu ibunya.


Tetapi karena kasih sayang Bagas yang setiap harinya diberikan membuat Diana sedikit demi sedikit mampu mengikhlaskan kepergian orang tuanya. Dan disitulah Diana yakin kalau suaminya orang baik dan tidak akan pernah mengkhianati cinta dan rumah tangganya.


Flashback end.


...***...


Diana masih saja tersenyum mengingat itu semua, terutama pada malam pertama mereka, Diana tidak menyangka kalau orang selugu dan pendiam sepertinya mempunyai pikiran yang sangat mes*m.


Di akhir khayalannya yang mampu mengukir senyumnya di malam ini, ada air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Teringat akan orang tuanya.


Semua anak yang telah kehilangan orang tuanya, pasti dan akan tetap meneteskan air mata ketika mengingatnya. Walau pun itu sudah bertahun-tahun lamanya, tapi tetap saja akan terasa sedih. Karena apa? Sebanyak apa pun kenangan kita pada orang lain, akan tetap lebih banyak kenangan kepada orang tua.


Setelah lelah berkhayal dan menangis akhirnya Diana bisa terlelap dan memasuki alam mimpi. Entahlah apa yang ia impikan malam ini, yang penting ia sempat tersenyum walaupun hanya sebatas mengenang masa lalunya.


Subuh Diana terbangun dengan suara adzan yang menggema, yang mampu membuat hati para umatnya tenang, karena sudah waktunya kembali melaksanakan ibadah dan mengadu seluruh keluh kesah kepada Allah.


Ya Allah, jika masih engkau ijinkan aku untuk kembali memperbaiki rumah tanggaku, maka permudah lah langkah ku untuk menerima kembali dan menyambut suamiku. Dan jauhkan lah kami dari segala sesuatu yang bersifat menghancurkan kebahagiaan kami. Ya Allah sehat kan lah kami, jauh kan dari segala marabahaya, selalu dalam lindungan mu. Amin.


Doa yang di panjatkan Diana pagi ini.


Di tempat lain.


Ya Allah, ampuni segala dosa hamba, dosa istri hamba, dosa kedua orang tua kami, dan juga dosa orang-orang yang telah memfitnah kami. Ya Allah terima kasih engkau masih mengijinkan hamba untuk bertemu istri hamba, melihatnya tersenyum. Ya Allah sehatkan lah selalu istri dan anak hamba di saat mereka jauh dari hamba, dan berikanlah hamba jalan untuk kembali padanya, kembali memeluk anak dan istri hamba. Amin.


Doa Bagas di subuh ini, dengan deraian air mata mengiringi di setiap doanya.


Bersambung..

__ADS_1


Author nulis tentang ibunya sambil nangis loh ya, hehe sedih memang kalau udah enggak ada mamak, enggak ada tempat pengaduan lagi, semoga kalian yang sudah enggak ada orang tua, selalu diberikan kebahagian dalam hal rumah tangga, dan beliau yang sudah tenang disana di tempatkan di surganya Allah. aminn


__ADS_2